
Sarah, istriku tercinta kini tengah mengandung buah cinta kami. Pengalaman baru bagiku menjadi seorang suami kini Tuhan menitipkan kembali amanah menambah peranku sebagai seorang ayah.
Bahagia bukan main rasanya, benar kata Sarah hidup kita sudah terasa lengkap. Kehadiran personal baru dalam keluarga semakin menambah semangatku dalam bekerja.
Pengalaman pertamaku menjadi seorang calon ayah adalah menuruti apapun keinginan istriku. Hormon wanita hamil cenderung ekstrem, emosi yang tidak stabil ditambah dengan perubahan mood yang begitu cepat. Aku sama sekali tidak merasa keberatan dengan perubahan hormon yang terjadi, jika banyak laki-laki diluar sana yang merasa sangat direpotkan aku justru merasa senang dan sangat menikmati.
Kandungan Sarah yang sedikit mengalami masalah membuat aku menjadi sedikit was-was. Mengingat Sarah mengandung di usia yang masih belia, aku mengkhawatirkannya baik dari kondisi fisik dan mentalnya belum lagi di usianya yang sekarang Sarah sedang mengalami masa-masa labil masih sulit untuk mengambil keputusan.
Semenjak Sarah hamil dirinya berubah yang tadinya kalem menjadi sedikit rewel dan banyak maunya. Belum lagi keinginan Sarah yang terkadang Aneh. Malam ini dirinya menginginkan martabak durian yang hanya di jual di depan pertigaan. Beruntung, Sarah tidak meminta martabak mesir yang harus dibeli langsung di negeri piramid itu atau bakso malang yang harus dibeli di Malang.
Sesampainya di pertigaan tempat kedai martabak Sarah mengurungkan niatnya untuk membeli.
“Mas, aku jadi mual yah nyium aroma durian? Gak jadi deh, kita cari yang lain saja yah!” pinta Sarah.
“Iya sayang, yaudah hayuk kita mau kemana?” Ku lirik istriku yang masih berfikir.
“Hmm, jalan saja dulu Mas, nanti kalo ada yang bikin laper baru kita melimpir.”
Aku segera tancap gas menyelusuri jalan yang sudah terlihat sepi. Mata Sarah memandang ke kiri dan kanan mencari-cari apa yang dirinya ingin. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya Sarah inginkan.
Tak terasa hampir satu jam lebih kami sudah berkeliling mencari kuliner yang Sarah ingin namun sepertinya tak ada yang menggugah selera Sarah.
“Mas, kita beli martabak durian saja deh yuk. Tiba-tiba aku jadi pingin.” Ucap Sarah membuatku melongo.
“Kamu yakin? Udah gak mual?” tanyaku.
Sarah menggeleng dengan senyuman manis yang dibuat-buat. Tak sedikit laki-laki lain mungkin akan merasa kesal dan tepok jidat dengan kelakuan istri yang nyeleneh saat ngidam berbeda dengan yang ku rasa saat ini, aku merasa tergelitik dengan ulah Sarah. Dengan semangat 45 aku menuruti keinginan Sarah, apapun yang Sarah ingin pasti aku akan turuti selagi aku mampu.
Ku lirik jam tangan hampir jam dua pagi, aku sendiri tidak yakin apakah kedai martabak itu masih buka.
Pantulan sinar lampu masih terang benderang. Alhamdulillah, rejeki anak soleh kedai martabak belum tutup.
“Sayang, kamu tunggu didalam mobil saja yah! biar Mas yang pesan martabak.” Ku usap pipi istriku yang mulai sedikit menirus.
__ADS_1
Aku menginstruksikan Sarah agar menunggu dimobil sementara aku yang akan memesan makanan karena rasa khawatirku terhadap angin malam yang tidak baik untuknya dan calon anak kami.
Aku sedikit berlari karena takut kedai akan segera tutup.
“Pak, pesan martabak durian ukuran medium satu loyang.” Aku menghampiri si pembuat martabak yang masih asyik berkutat dengan adonan di atas loyang.
“Maaf Mas, sudah habis martabak duriannya.” Jawab penjual martabak.
“Habis? Tolong deh Pak buatkan lagi satu porsi sebab istriku sedang ngidam,” ucapku dengan nada sedikit memelas.
“Ini sisa satu porsi Mas cuma sudah dipesan sama Mbaknya.”
Seorang gadis muda memandang ke arah kami. Wajahnya tak asing! Perempuan itu akhirnya mau mengalah dan memberikan satu porsi martabak durian yang telah ia pesan.
“Terima kasih,” ujarku.
Martabak durian untuk Sarah sudah aku dapatkan. Sarah sepertinya melihat aku berbincang dengan wanita yang memberikan martabak durian pesanannya untukku mungkin dirinya cemburu. Terbukti baru saja aku masuk ke dalam mobil, Sarah mulai menginterogasi.
"Siapa Mas?" tiba-tiba Sarah bertanya dengan mata menyelidik.
Bagiku tak ada yang perlu untuk aku ceritakan kepada Sarah. Yang terpenting adalah martabak durian berhasil aku dapatkan.
Dengan cepat aku melajukan mobilku dan pulang kerumah agar Sarah dapat segera menyantap martabak durian.
Aku menyiapkan martabak ke dalam piring. Sementara Sarah menunggu diruang tamu.
“Sayang, ini ayo dimakan.” Aku menyodorkan sepotong martabak kemulut Sarah.
Sarah melahap potongan martabak itu hingga tandas tak tersisa. Matanya sudah terpejam karena rasa kantuk. Sudah beberapa hari ini Sarah mengalami kesulitan untuk tidur.
Baru setengah jam terlelap tiba-tiba Sarah terbangun dan berlari terbirit-birit menuju kamar mandi, aku menyusulnya. Sepertinya mual-mualnya kembali lagi. Segala makan yang ia makan telah terkuras tak ada lagi energi. Ku lihat Sarah melemas. Tak lama tubuh Sarah terhuyung jatuh ke lantai, istriku pingsan!
Dengan panik aku membawa Sarah menuju klinik 24 jam terdekat. Setelah mendapat penangan setengah jam kemudian Sarah siuman, tubuhnya melemas karena terlalu banyak kehilangan cairan dalam tubuh.
__ADS_1
Tidak tega rasanya aku melihat jarum infus yang tertanam di lengan kirinya. Hari ini juga Sarah boleh pulang menunggu sampai cairan infusnya habis.
“Hallo, assalamualaikum. Bu, Sarah dirawat.” Aku menghubungi ibu dan mbakku, mereka sangat cemas akan kondisi istriku yang sedang mengandung.
“Sarah dirawat? Setelah pulih kamu ajak Sarah pulang kerumah ibu!" Suara ibu bergetar.
“Baik, Bu.”
Aku menutup panggilan karena Sarah mencariku. Dirinya merengek ingin pulang dan bekerja. Kali ini aku membiarkan ucapannya, kesehatannya bagiku adalah yang utama bukan perkara uang yang mudah dicari.
Setelah kondisi Sarah pulih aku langsung membawanya kerumah ibu.
“Mas, kita mau kemana?” tanya Sarah.
“Kerumah ibu, katanya ibu kangen sama menantunya.”
Sarah hanya mengangguk, tak ada rasa curiga bahwa dirinya akan ditahan untuk tinggal bersama ibu.
Ibu sudah menyambut kedatangan kami bersama Mbakku di depan rumah.
Sarah perlahan-lahan turun dari dalam mobil menghampiri ibu dan mbakku.
“Sarah, kamu baik-baik saja kan, nduk?”
Ibu memeluk Sarah, memastikan jika kondisi menantunya baik-baik saja.
“Baik Bu.” Sarah menjawab dengan sopan.
Aku hanya tersenyum melihat perhatian ibuku kepada Sarah. Meskipun ibuku adalah ibu sambung tetapi rasa sayang yang ia beri seperti tak pernah memiliki ujung.
Tak terasa usia kandungan Sarah akan memasuki awal trimester kedua. Kami dan keluarga berencana akan mengadakan acara tasyakuran 4 bulanan kehamilan meskipun acara ini tidaklah wajib namun tidak bagi ibuku.
“Kita tetap harus mengadakan tasyakuran dengan tujuan meminta doa agar bayi kalian selalu dalam lindungan-Nya, begitupun dengan Sarah sebab usia 4 bulan janin telah ditiupkan ruh. Meminta sehat dan selamat ibu serta anaknya sampai melahirkan.” Begitulah alasan ibu. Memang ada benarnya juga ucapan ibu, acara tasyakuran yang kami gelar semata-mata untuk mendoakan, mengucap rasa syukur atas amanah besar dan berbagi kebahagiaan kepada sanak saudara.
__ADS_1
Rencana sudah dipersiapkan, seperti biasa rangkaian acara sudah disusun oleh ibu dan Mbakku, kami hanya tinggal terima beres.