Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Menantu Juragan Dirga


__ADS_3

Pagi masih terasa dingin, Jono tertidur memunggungi istrinya yang cantik. Perlahan Hana bergerak, turun dari tempat tidurnya, mendorong kursi rodanya yang kosong, tidak ingin menimbulkan kecurigaan nantinya.


Wanita itu membersikan dirinya di kamar mandi dekat ruang tamu. Lengkap sudah memakai baju ganti.


"Ayah baru pulang?" tanyanya menatap kedatangan Dirga.


"Iya, ayah bergadang semalaman karenamu. Masakan ayah sarapan sebagai imbalannya. Sebelum Jono dan Sari (ART di rumah Dirga) bangun. Ayah mau tidur dulu..." ucapnya menguap beberapa kali.


"Beres!!" jawab Hana sembari tersenyum, mulai berjalan menuju dapur.


Beberapa jenis sayuran dicucinya, daging diirisnya, beberapa bumbu dihaluskannya. Hingga dalam waktu sekitar satu jam, nasi yang dimasak dengan dikukus matang, bersamaan dengan lauknya.


Kini tinggal membereskan dapur, kemudian kembali duduk di kursi roda sebagai gadis cacat dimata suaminya.


***


Pagi menjelang, Hana menggerakkan kursi rodanya di hadapan Jono yang masih tidur."Bagun sudah pagi..." ucapnya.


Jono membuka matanya, dengan keadaan setengah sadar,"Kamu mau pipis?" tanyanya, menguap beberapa kali.


Hana berusaha agar tidak tersenyum, walaupun mulut pedas Jono sering menghinanya, namun pemuda itu, dengan ikhlas merawatnya.


Hingga yang awalnya tidak mau pipis, jadi ingin pipis, "Iya tolong bantu aku..." ucapnya memelas.


Tubuh Hana diangkatnya ala bridal style, sampai ke toilet duduk, rok wanita itu dibantu untuk disingkapnya, bahkan pria yang masih mengantuk itu menurunkan dalamnya.


Berdiri, menunggu Hana selesai, buang air kecil, dan membersihkan dirinya."Sudah!? Dasar kursi roda menyusahkan..." keluhnya, berjalan mendekati Hana.


Sebenarnya memalukan, tapi mereka suami-istri jadi boleh-boleh saja kan? Sebenarnya sangat sulit bagi Jono menahan dirinya, namun ini tetaplah istrinya hingga mereka berpisah nanti. Bercerai dari Hana, sebelum Hana mengetahui kedudukan aslinya. Agar tidak ada perebutan harta gono-gini nantinya.


Menelan ludahnya, ingin rasanya melucuti pakaian Hana. Jantungnya berdegup cepat,"Kamu sudah mandi?" tanyanya mengangkat tubuh Hana, ingin menatap tubuh indah istrinya lebih banyak lagi.


"Sudah, Sari yang membantuku..." dustanya.

__ADS_1


Sial!! Aku ingin merasakan sensasinya lagi, tapi lebih menyenangkan jika di tempat tidur... apa yang aku fikirkan!? Sadarlah Nathan dia hanya si cacat yang mulutnya bagaikan pengacara...tapi bibir itu... batinnya. Menatap bibir Hana tiada henti.


Perlahan mendudukan Hana di tepi tempat tidur, sedikit menunduk menatap matanya. Menelan ludahnya berkali-kali, kala bibir menggoda itu tidak bergerak sedikitpun. Bibir yang hanya pernah dicicipi rasanya olehnya.


Jantungnya berdegup cepat,"Hana, apa kamu menyukai saat kita berciuman?" tanyanya.


Hana mengangguk, tersenyum padanya.


"Aku suka menciummu, tapi bukan berarti aku mencintaimu..." ucap Jono, menatap bibir itu lebih dekat.


Perlahan tertunduk, menempelkan bibirnya. Inilah perasaan berdebar yang membuatnya menginginkan lagi dan lagi. Bagaikan narkotika, mematikan fikiran dan logikanya. Sangat nyaman kala bibir itu menyambutnya pelan, tidak menuntut, saling merayap memuaskan.


Indah, ini benar-benar indah darahnya berdesir tidak pernah puas. Kenapa dapat hingga memasuki tahap ini? Entahlah, bahkan ketika dengan Angel mantan kekasihnya dulu, dirinya pernah mabuk. Kekasihnya telanjang di hadapannya, naik ke pangkuannya.


Tapi tidak ada yang terjadi setelahnya, dirinya menghubungi supir untuk mengantarnya pulang, walaupun Angel merayunya untuk berciuman, membimbing tangannya memegangi tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun menutupi. Tidak ada perasaan seindah ini, berciuman dengan Hana lebih memabukkan.


Sensasi yang tidak didapatkannya ketika melihat tubuh wanita manapun. Aneh bukan, Angel yang tidak memakai apapun, berbanding dengan Hana, berpakaian lengkap membuatnya gila hanya dengan sebuah ciuman.


Entahlah, ini mungkin efek dari jamu yang kemarin diminumnya. Atau mungkin karena perasaannya yang mulai tumbuh ingin memiliki Hana sepenuhnya.


Deru napas tidak teratur terdengar dari sepasang suami-istri. Tubuh Jono diselimuti keinginan untuk melakukan lebih. Tapi tetap saja, ini sulit.


"Hana..." panggilnya tergoda, dengan deru napas tidak teratur, hendak meminta ijin merenggut mahkota istrinya.


"Aku ingin lagi," kata-kata dengan nada ceria dari mulut Hana. "Apa ada yang lebih menyenangkan daripada ciuman? Bagaimana jika kita memakan permen dengan rasa yang berbeda, apa sensasinya juga akan berbeda?"


Seketika mood Jono menghilang, fikirannya dapat kembali mengendalikan tubuhnya,"Wanita menyebalkan tidak tau diri! Iya rasanya akan berbeda, manis! Asam! Asin! Kenapa tidak sekalian saja kita makan permen nano-nano!!" bentaknya penuh kekecewaan. Tidak jadi khilaf untuk membuat Hana menjerit mencakar punggungnya, yang sama-sama merasakan kenikmatan.


"Aku mau mandi!! Jangan ganggu aku lagi!!" bentaknya mengambil handuk, membanting pintu kamar mandi.


"Dia kenapa? Apa yang salah?" gumam Hana tidak mengerti.


***

__ADS_1


Kini Jono telah membersihkan dirinya, memakai pakaian santai. "Syukurlah aku tidak khilaf, masih ada kesempatan untuk bercerai..." gumamnya, entah hilang kemana kemarahannya tadi.


Hari yang cerah, dirinya mengendarai mobil Jeep bersama Hana. Angin menerpa rambutnya, senyuman menyungging di bibirnya, hari ini dirinya akan mempermalukan Dirga dan Hana. Membuat dirinya ditampar, kemudian perlahan diceraikan.


Hingga mobil Jeep berhenti di depan area gudang. Beberapa mobil yang mengangkut bibit ikan nan mungil ada di sana. Beberapa warga yang hendak lewat meladang menatap tidak mengerti.


20 juta? Tidak 35 juta! 20 juta hanya uang DP-nya saja.


"Maaf, kamu yang memesan bibit ikan kan? Tolong urus pembayarannya, masih kurang 15 juta," ucap seorang pegawai pembibitan ikan."Dan ikannya harus diletakkan dimana?"


"Hana, uang..." Jono menadahkan tangannya tanpa rasa bersalah. Warga desa mulai mencibir Jono yang hanya menjadi menantu bodoh, seorang benalu, tidak berguna. Bahkan ada yang membicarakan sawahnya yang sering gagal panen ketika belum menikahi Hana.


Hana mengambil uang di lacinya, masih tetap tersenyum, membayar uang 15 juta.


Sang pegawai pembibitan meraih uang yang diberikan Hana, kemudian menghitungnya,"Bibit ikannya diletakkan dimana?" tanyanya kemudian.


"Akan saya lepaskan di sunga..." kata-kata Jono dipotong.


"Dibelakang gudang sudah ada kolam untuk bibit ikan. Jika sudah besar rencananya Jono akan membuka tempat wisata pemancingan. Sekaligus pembiakan dan pembudidayaan ikan nantinya, suamiku memang pintar..." ucapnya memuji suaminya setinggi langit.


"Ada ko... kolam!?" Jono berjalan dengan wajah pucat ke area belakang gudang. Dan benar saja, sudah ada beberapa kolam yang tengah dialiri air.


Warga yang pergi meladang mendekatinya,"Nak Jono, memang pintar, jiwa usahanya seperti juragan Dirga. Memang pantas menjadi menantu juragan..." puji seorang warga.


"Benar, nanti bapak ingin ikut bekerja disini. Apa boleh?" tanya warga lainnya antusias.


"Hana tidak salah memilih suami, lepas dari Haikal dapat Jono yang pintar, mengembangkan usaha..."


Kata-kata pujian dari para warga tidak serta-merta membuat pemuda itu berbangga diri.


"Rencana sempurna yang aku susun..." gumamnya, tidak mengerti, dalam langkah bisnis dirinya selalu menang. Tapi kenapa selalu kalah melawan ketua mafia kampung (Dirga) dan anaknya CEO desa (Hana).


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2