
Beberapa jenis obat diberikannya menggunakan kantung keresek kecil. Dokter muda itu tersenyum, "Jika rasa sakit di persendiannya kambuh lagi. Minum obat ini, tiga kali sehari..."ucapnya pada nenek tua pemilik tempat kost kecil tempatnya mengontrak, dua tahun ini.
"Terimakasih, cucu-cucu nenek tinggal jauh, dua tahun ini kamu sudah menemani nenek. Berapa lama kamu pulang?" tanya sang wanita tua.
"Sekitar sebulan, atau mungkin lebih..." jawab Haikal mulai mengunci pintu kamarnya, mengembalikan kuncinya pada sang nenek tua.
"Semoga hal baik menyertai perjalananmu," ucapnya, menepuk bahu sang pemuda.
Haikal mulai melangkah, membawa tas besar yang dijinjingnya. Matanya menatap sinar matahari yang menembus cahaya pepohonan siang itu.
Tidak ada apapun di kota. Dirinya kini menyadari itu, dalam perjalanannya menuju desa. Kendaraan travel dinaikinya, rambutnya terkena semilir angin, tidak menutupi wajah rupawannya dari jendela yang terbuka. Tidak ada yang didapatnya setelah tinggal di kota selain kehilangan.
Bagaimana dirinya dapat menjadi kekasih Hana dulu? Semua masih diingat olehnya, perasaan berdebar. Kala gadis cantik itu mencintainya dengan tulus...
"Maaf..." satu kata penyesalan yang tertahan. Seharusnya dirinya tidak terbuai dengan Zara. Menyelesaikan kuliahnya, kemudian menerima Hana apa adanya. Gemerlapnya kehidupan kota membuatnya melupakan gadis tercerdas di SMU tempat mereka bersekolah dulu.
13 tahun lalu...
Gadis cantik itu tersenyum belum melepaskan seragam SMU-nya. Mendata keperluan di gudang ayahnya, pupuk, insektisida, semua tidak lolos dari pengamatannya.
Wajah yang benar-benar cantik, berkulit putih, rambutnya hitam panjang. Hana, gadis tercantik di desa tersebut dimatanya. Haikal hanya dapat menatap gadis impian itu dari jauh. Tidak memiliki keberanian mendekatinya.
Kulitnya yang hitam, tubuhnya yang kurus, menjadi kuli pengangkut pupuk dan gabah sepulang dirinya dari sekolah. Tidak menyadari, Hana tersenyum, melirik ke arahnya.
Tidak memiliki harta ataupun wajah rupawan, berpenampilan dekil. Tidak memiliki teman, berbeda dengan Hana yang dikagumi banyak orang.
Hingga hari itu tiba, sebuah permainan di kelompok pramuka sekolah SMU-nya, ketika berkemah. Dirinya mendapatkan hukuman menyatakan cinta pada wanita yang ditaksirnya.
Hingga dirinya mengepalkan tangannya memberanikan diri, menatap wanita dengan kulit yang berwarna kontras dengan kulitnya sendiri.
Memetik sebatang bunga Kamboja lengkap dengan daunnya, getah masih menempel di batangnya,"Hana aku menyukaimu!!" ucapnya memejamkan matanya. Menunggu tamparan yang akan didapatkan, diikuti sorak sorai orang-orang yang ada disana, mencibirnya.
__ADS_1
"Aku juga menyukaimu..." jawaban dari gadis impian penuh senyuman. Siswa-siswi lain bersorak tidak percaya, menatap diri dirinya yang berhasil mendapatkan Hana.
"Kenapa menyukaiku?" tanya Haikal ragu.
"Kamu menghargai dan menyayangi ayahmu. Kamu seperti ayahku, pekerja keras dan mencintai keluarganya..." jawaban dari mulut Hana, yang masih tersenyum padanya.
Haikal tertegun kemudian tersenyum, sebuah perasaan yang bersambut dari gadis yang dicintainya.
***
Hingga segalanya mulai berubah, kala Hana mulai selalu berada bersamanya di gudang. Memakan makanan siang besaama dengan Hana, cinta yang tidak hanya saling mengasihi, tanpa harus menyentuh, mengingat usia mereka.
Dirga selaku ayah mertua begitu menyayanginya mungkin menganggap Haikal sebagai putranya sendiri. Namun, dirinya yang masih remaja ingin sekali saja diberikan waktu berdua dengan Hana. Waktu yang tidak pernah didapatkannya. Kolot? Begitulah sosok Dirga dimatanya saat itu. Namun dirinya masih tetap mencintai Hana, putri berharga milik Dirga.
Hingga hari itu tiba, Hana adalah siswa terpintar, sedangkan dirinya selalu berada di peringkat kedua. Senyuman menyungging di wajahnya, mendaftarkan dirinya mengikuti beasiswa sekolah kedokteran di kota. Mengejar cita-cita mulia seorang pemuda desa. Hingga akhirnya, beasiswa berhasil diraihnya.
Namun, dirinya tidak memiliki uang sama sekali untuk bekal dan tempat tinggal di kota nantinya. Hana saat itu memecahkan salah satu celengan tembikarnya, tanpa sepengetahuan Dirga. Memberikan isinya pada Haikal,"Pergi, kemudian pulanglah sebagai seorang dokter..." kata-kata yang tulus dari seorang anak juragan.
Perlahan Dirga ikut turun tangan, membiayai keperluannya dikota. Ingin Haikal segera lulus, hingga dapat menikahi putrinya yang sudah cukup usia nanti. Dari sanalah kesalahannya, tidak ada wanita lain, atau apapun. Namun perlahan egonya menjadi terlalu tinggi.
Kata-kata teman-teman satu kampusnya yang mempengaruhinya. Kulit hitamnya telah perlahan menjadi putih, tubuh kurusnya juga tumbuh menjadi tubuh proporsional.
"Kamu dari desa? Jangan bilang kamu akan menikahi wanita desa,"
"Sebentar lagi jadi dokter, tapi masih kepikiran yang ada di kampung,"
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti terima wanita-wanita yang mengejarku. Untuk apa punya pacar dari desa, wanita kota lebih pintar dan modern..."
Kata-kata yang membuat egonya semakin tinggi, meninggikan harga dirinya sebagai seorang calon dokter. Kebodohan seorang Haikal, dirinya tidak pernah mencintai wanita maupun. Namun, mulai mengikuti kata-kata teman-temannya menjauhkan hatinya dari Hana.
Hari kecelakaan itu tiba juga, wajah Hana ditatapnya menangis terisak, menjerit di atas tempat tidur pasien. Air mata tulusnya sempat mengalir, menggengam jemari tangannya,"Aku akan menyembuhkanmu dengan menjadi dokter spesialis ortopedi..."
__ADS_1
Bodoh! Benar-benar bodoh, seharusnya dirinya menikahi Hana saat itu. Namun tetap saja, keserakahan menguasainya. Tidak mempedulikan sang ibu yang selalu meminta uang pada Hana. Perlahan hati dokter muda itu terjerat dusta.
Mendengarkan pendapat orang-orang disekitarnya...
"Kamu menjadi dokter spesialis demi seorang wanita cacat. Haikal, lihat pada cermin, kamu itu tampan, calon dokter spesialis, wanita-wanita kaya akan banyak yang tertarik menjadi istrimu,"
"Kamu akan kembali ke kampung, tinggal disana!? Internet susah, akses jalan rusak. Lebih baik terima saja Vera, dia berasal dari keluarga berada. Sudah beberapa kali menyatakan perasaannya padamu,"
"Punya pacar cacat!? Kamu mau seperti pekerja panti sosial, mengurusi pipisnya, apa lagi kalau buang air besar, tetap seperti itu hingga tua..."
Masih banyak lagi kata-kata lain yang membuatnya semakin menjauhi Hana. Merendahkannya, meninggikan dirinya sendiri. Membuatnya semakin jauh, apalagi dengan kehadiran Zara, yang menjanjikannya kehidupan lebih baik. Mulai berbohong, mulai menyakiti hatinya yang rapuh lebih dalam...
***
Saat ini...
"Hana..." lirihnya, menitikkan air matanya, kala mobil travel telah mencapai gerbang desa. Senyuman terukir di wajahnya, setidaknya Hana telah bahagia.
Ini kesalahannya murni kesalahannya, yang tertinggal hanya sebuah penyesalan.
Dirinya mulai turun di jalan pedesaan dekat rumahnya. Gio menyambut sang kakak, berlari memeluknya.
"Bapak dimana?" tanya Haikal pada adiknya.
"Kak Hana ingin bapak kembali kerja di tempat penggilingan. Kalau ibu sedang mencari rumput untuk kambing..." jawab Gio.
"Kakak punya oleh-oleh untukmu. Setelah kakak mandi temani kakak ke gudang ya!? Kakak ingin menemui Hana," ucapnya yang memang memiliki niat mengembalikan uang yang dianggap hutang.
"Kakak, Jono tidak menyukai kak Hana, ingin segera meninggalkan kak Hana..." Gio tertunduk.
Haikal berusaha tersenyum,"Itu urusan rumah tangga mereka. Yang dapat kita lakukan, hanya memberi dukungan pada Hana. Kakak akan tetap menjaganya, walaupun tidak bisa menebus segalanya..."
__ADS_1
Bersambung