
Persawahan dengan padi yang menguning, udara yang masih segar jauh dari kata polusi. Nathan masih mengingatnya, sebagai keseharian yang dirindukannya, berangkat menuju gudang dengan Hana yang berada disampingnya.
Bergurau menertawakan banyak hal, wanita yang selalu memaafkan apapun kesalahannya. Bahkan berusaha memperbaikinya, hanya untuk mempertahankan rumah tangga yang sejatinya dibangun tanpa pondasi.
Persahabatan? Itulah yang dianggap Nathan dulu sebelum pernikahan mereka. Tidak menyadari perasaan itu sudah ada dari awal, kala melihat gadis desa cantik yang tidak terpesona olehnya.
Gadis yang menyebalkan, membuatnya kehilangan kata-kata. Namun tangan Nathan selalu ingin menyentuhnya. Cacat? Itu tidak penting lagi baginya, lagipula mengantarnya ke toilet dan memandikannya merupakan hal yang paling menyenangkan baginya.
Rumah terbesar di desa itu akhirnya terlihat juga, jantung Nathan berdegup cepat, menatap spion mobil, merapikan penampilannya. Berharap saat bertemu dengan Hana nanti dapat menjelaskan segalanya. Dapat meminta maaf padanya.
Perlahan pintu itu terbuka, sang pemuda turun dari mobilnya, membawa paperbag berisikan satu set perhiasan bertahtakan berlian satu lagi, sepasang sepatu boot kulit untuk ayahnya.
Dirga yang baru usai makan siang, berjalan keluar dari rumahnya. Baru saja memakai topi koboinya.
"Ayah!! Aku pulang..." ucap Nathan berjalan mendekatinya.
Namun Dirga hanya diam, berjalan mendekati mobil Jeep miliknya, menghidupkan mesinnya.
"Ayah?" ucapnya menatap Dirga yang hendak pergi.
"Minggirkan mobilnya!! Aku mau keluar!! Orang kota memang tidak tau aturan!!" cibirnya kesal, menatap mobil Nathan yang terparkir di depan rumahnya, menghalangi jalannya.
Nathan terdiam, sejenak tidak ada orang tua yang bagaikan mengayominya lagi."Ayah, Hana dimana?"
"Bukan urusanmu, memang kamu siapa? Pindahkan mobilmu! Atau aku akan menabraknya..." ancamnya, menatap sinis ke arah Nathan.
Wajah yang sama, orang tua yang selalu tersenyum hangat padanya dan Hana. Makan malam dan sarapan satu meja, seseorang yang dipanggilnya ayah, seperti tidak ada lagi.
Nathan mengepalkan tangannya,"Ayah..." panggilnya lagi tertunduk.
"Sialan!!" Dirga turun dari mobil Jeepnya, meraih motor bebek tuanya. Melajukan motornya meninggalkan rumah tanpa memandang dirinya sama sekali.
__ADS_1
Sedangkan Nathan masih tertunduk, air matanya mengalir, tidak disangka olehnya kasih sayang orang tua itu juga dirindukan olehnya.
***
Hari semakin sore tidak ada hotel berkelas disana hanya penginapan kecil. Dengan kamar berukuran tiga kali tiga.
Nathan menyewa beberapa kamar untuknya, Kelvin dan beberapa pengawal. Sedangkan sang kakak yang anti bakteri tidur dalam mobil mewahnya yang dilengkapi segala fasilitas. Kecuali toilet tentunya.
Malam ini mereka masuk ke dalam kamar Nathan, mulai berdiskusi menentukan langkah selanjutnya yang akan diambil.
"Jadi juragan tidak menganggapmu anaknya lagi?" tanya Kelvin memastikan menahan tawanya. Sedangkan Nathan tertunduk sembari mengangguk tidak menyangka situasi akan seburuk ini.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" ucap Joseph, telah berjanji tidak akan membantu adiknya untuk sementara waktu.
"Menemui Hana, dia yang tidak pernah marah dengan segala hal yang pernah aku lakukan. Menjadi suami yang tidak berguna, bahkan meminum minuman keras," gumamnya.
"Tapi mencintai wanita lain!? Sudah satu tahun kalian menikah, tapi ada saatnya Hana mulai menjaga jarak darimu. Mungkin ada alasannya, coba kamu ingat-ingat..." Kelvin mulai merogoh sakunya, akibat kantuk yang mulai terasa, membuka permen dengan kopi asli terkandung didalamnya. Membuat matanya yang awalnya ingin tertutup terbuka sempurna.
"Mabuk?" Kelvin tertawa kecil, menghela napas kasar. "Karena terlalu sering mabuk-mabukan dengan Angel. Saat mabuk, otakmu otomatis mengucapkan namanya. Mungkin saat diatas tubuh Hana, akan mencetak anak, kamu menyebutkan nama Angel... jika benar, maka aku angkat tangan. Kembalilah ke kota, terimalah statusmu sebagai duda. Biarkan Hana bahagia bersama Haikal,"
Makan tuh cinta!! Membagi harta gono-gini apanya. Istrimu sudah pergi jauh, menikah dengan pria lain, setelah ketok palu. Dulu aku ingin mengetok kepalamu. Kini aku ingin mengetok palu hakim pengadilan... batinnya, menahan tawa, mengingat nasehatnya yang berbunyi hingga mulut berbusa tidak didengarkan.
"Tidak boleh, aku akan meminta maaf padanya. Maka..." kata-kata Nathan yang belum mengetahui Hana tidak ada di desa ini disela.
"Intinya hal gila macam apa yang akan kamu lakukan malam ini?" tanya Joseph mengenyitkan keningnya.
"Aku akan masuk tanpa ijin ke kamar Hana. Memberikan perhiasan ini padanya. Mengatakan aku mencintainya, kemudian menciumnya. Menyelesaikan semua masalah di tempat tidur, membuktikan aku mencintainya dengan memberikan keperjakaanku," jawabnya tersenyum, ingin mencurahkan kerinduannya pada istrinya yang merajuk.
Kelvin dan Joseph saling melirik, menghela napas kasar. Nathan memang pandai mengurus perusahaan, tapi payah masalah perempuan.
"Apa kita beritahu saja, istrinya sudah dibawa pergi oleh Suneo (Doraemon) yang mengenakan baling-baling bambu?" bisik Joseph pada Kelvin.
__ADS_1
"Jangan! Aku punya firasat, kegaduhan yang lebih besar akan terjadi nanti..." jawab Kelvin ikut berbisik.
***
Namun apa benar demikian? Suara jangkrik terdengar di tengah keheningan malam. Sarung kotak-kotak yang dibelinya secara darurat entah dimana dikenakannya bagaikan ninja, menutup wajahnya kecuali bagian mata.
Pakaiannya branded berharga fantastis melekat di tubuhnya. Memakai parfum beraroma maskulin yang menyengat, ingin menggoda istrinya sekaligus minta maaf, atas kesalahannya beberapa tahun ini.
Mengendap-endap membuka gerbang, memasuki rumah lewat jalan samping. Beberapa pajangan antik menyeramkan ada disana. Ketakutan? Memang namun lebih ketakutan lagi jika kehilangan istrinya.
Jendela yang tidak terkunci, dibukanya tidak ingin menimbulkan suara. Sarung yang menutupi wajahnya mulai dibuka olehnya. Wajah rupawan seorang Jonathan Northan terlihat sempurna. Semakin terang kala wajah itu terkena terpaan cahaya bulan purnama.
"Hana, ini aku Jono, aku pulang..." ucapnya tulus, menatap gundukan selimut. Di tepi tempat tidur dengan kursi roda ada disampingnya.
Foto pernikahan mereka masih terpajang di sana. Benda-benda yang tersusun rapi sama seperti saat ditinggalkannya.
"Aku minta maaf, sudah terlalu sering menghinamu. Tidak menyadari aku mencintaimu dari awal," ucapnya mengepalkan tangannya tidak mendapatkan respon.
Sedangkan Dirga yang merindukan putrinya, dengan sengaja tidur di kamar Hana. Tidak menyangka akan kedatangan maling tengil tengah malam. Tetap bersembunyi diam dibalik selimutnya.
"Tentang Angel, dia mantan pacarku. Aku tidak pernah tidur dengannya. Malam saat kamu datang aku kembali mengelak perasaanmu, maaf..." Nathan mulai duduk di tepi tempat tidur yang bersebrangan. Air matanya mengalir, merasa diacuhkan, mungkin Hana benar-benar tidak akan memaafkannya.
"Aku mencintaimu..." lanjutnya.
Mulai berbaring menatap gundukan selimut yang masih memunggunginya. Perlahan tangannya terulur, memeluk tubuh itu dari belakang. Terasa lebih besar, apa Hana bertambah gemuk? Entahlah, Nathan tidak peduli.
"Hana, bagaimana aku membuktikannya padamu? Aku mencintaimu, jangan mengacuhkanku..."
Tidak tahan lagi, geli rasanya dipeluk oleh bocah pembuat masalah ini. Dirga menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Ayah!!" pekik Nathan dengan wajah pucat pasi, jatuh tersungkur ke lantai, terkejut.
__ADS_1
Bersambung