Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Saat Yang Menyenangkan


__ADS_3

Nathan mengeratkan pelukannya, ini sungguh terasa nyaman. Kenapa satu tahun ini dirinya menahan diri? Memang benar-benar bodoh.


Matanya kembali terbuka, sudah berapa kali melakukannya? Yang pasti lebih dari sekali, perasaan yang membuatnya kecanduan. Ini lebih indah daripada dalam mimpi buruknya dua bulan lalu.


Waktu saat ini masih menunjukkan pukul 4 dini hari."Hana," ucapnya membangunkan istrinya.


"Sudah, aku lelah..." Hana menggulung dirinya dengan selimut. Nathan memang tidak pernah benar-benar dapat diam.


"Kamu ingin kita terlihat dalam keadaan seperti ini nanti? Setidaknya kita harus berada di meja makan terlebih dahulu agar tidak canggung..." bisiknya.


"Kamu yang canggung, bukan aku," jawaban enteng dari istrinya. Tapi Hana memang benar, dia cucu tunggal yang diabaikan oleh kakeknya. Sedangkan Shin, hanya merupakan cucu adopsi. Walau berbuat apapun Hana memiliki hak untuk tidak canggung sama sekali.


Tapi dirinya? Pria tidak tahu diri yang menyelinap ke kamar istri yang diabaikannya, meminta jatah malam pertama. Nathan menunduk mulai bangkit, masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan dirinya.


Bathtub yang cukup besar dengan pengaturan suhu air menjadi tempatnya berada saat ini. Memejamkan matanya, merasakan aroma terapi mawar dari sabun cair yang tertuang.


Hingga dirinya tidak menyadari dalam bathtub yang luas itu tubuh lain mulai masuk."Nyaman..." gumam Hana memejamkan matanya sejenak.


Nathan yang merasa ada sepasang jari kaki yang menyentuh pinggangnya, membuka matanya. Hana ada di sana tanpa canggung sedikitpun, entah dengan cara apa, wanita yang mengatakan terlalu perih saat berjalan bisa sampai.


Bulir busa menutupi tubuh indahnya, belahan dada itu masih terlihat, walaupun tertutup busa.


"Hana, aku ingin lagi apa..." kata-kata Nathan terhenti, Hana menyelanya.


"Tidak," kata-kata tegas darinya.


Nathan tiba-tiba menarik istrinya ke atas pangkuannya. Memeluk tubuh itu dari belakang."Hana aku mencintaimu..."


"Em..." hanya itulah jawabannya.


"Em?" Nathan tidak puas dengan jawaban istrinya.


"Jika aku membalas, aku juga mencintaimu. Kamu akan melakukannya lagi kan?" ucapnya sinis.


Ketahuan... batin Nathan, menghela napas kasar masih memeluk tubuh istrinya. Sepasang tubuh yang tidak berbalut sehelai benangpun.

__ADS_1


"Apa masih sakit?" tanyanya untuk kesekian kalinya.


"Masih sedikit perih, tapi jangan coba-coba melakukannya lagi!" peringatan keras dari istrinya.


Nathan mengangguk. mulai membersihkan tubuh Hana. Sama seperti dulu, namun kali ini dirinya juga ada dalam bathtub."Hana, apa kakekmu menyeramkan?"


Hana menggeleng,"Dia hanya terlihat galak padamu, katanya kamu benar-benar pria tidak beretika, tidak tau malu, setelah mengetahui semuanya dari Shin."


Wajah Nathan seketika pucat pasi, apa kakek Hana akan menebasnya nanti jika ketahuan diam-diam menyelinap ke dalam kamar Hana? Namun, semua ditepisnya, ini demi istri dan dan anak yang akan baru saja mulai ditanamnya dalam rahim istrinya.


"Aku akan membuat sarapan untuknya," ucapnya penuh rasa percaya diri, menuangkan sabun cair lagi ke atas bath sponge, menggosok sekujur tubuh Hana yang ada di pangkuannya.


"Kamu bisa menggoreng telur?" Hana mengenyitkan keningnya.


"Tinggal pecahkan saja telurnya! Apa susahnya..." jawaban darinya enteng.


"Aku pecahkan telurmu!" ucap Hana dengan penuh penekanan.


"Jangan! Ini aset untuk berkembang biak," ucapnya cepat.


"Benar-benar tidak akan melakukannya?" tanya Hana padanya.


Nathan mengangguk."Aku tidak akan melakukannya kalau istriku masih kelelahan. Menahan diri seperti ini sudah biasa, saat memandikanmu dulu, sehari dua kali."


Hana tersenyum menghela napas kasar."Hanya boleh sekali, jangan meminta lagi..." ucapnya berbalik, mencium bibir Nathan agresif. Pemuda yang tersenyum, memejamkan matanya, meletakkan bath sponge mulai membimbing, mengarahkan tubuh istrinya yang berada diatasnya, untuk melakukan penyatuan.


Membimbing tubuh Hana untuk bergerak di atas tubuhnya, seraya membuai dua buah benda yang ada di hadapannya menggunakan bibirnya.


Ini sulit di tahan, tubuh wanita ini hanya miliknya, bahkan hati dan fikirannya, semua dicintai olehnya. Cinta pertama? Tidak ada hal seperti itu baginya, dahulu sebuah cinta hanya kesenangan. Namun kini cinta adalah sebuah kebutuhan baginya, sulit untuk menjalani hidup dengan baik tanpa wanita ini.


Karena itu, mulai saat ini, Hana adalah kaca rapuh yang akan dijaganya. Tempatnya untuk berbagi keluh kesah di masa tua nanti.


Beberapa puluh menit berlalu, kedua tubuh itu saling memeluk dalam bathtub yang cukup besar. Merasakan akhir penyatuan mereka, kala, rahim itu kembali berusaha untuk dibuahi. Tubuh mereka gemetar saling mencengkram, merasakan rasa indah di akhir penyatuan.


"Terimakasih, dan maaf..." ucap Nathan pada istrinya. Hana hanya mengangguk, seraya tersenyum padanya, dua pasang mata yang saling menatap dalam senyuman.

__ADS_1


***


Hal yang terjadi setelahnya? Perbuatan yang paling nekat dan memalukan bagi Nathan. Kini dirinya masih memakai jubah mandi, kunci kamar berada di atas meja dalam keadaan basah, setelah dicuci olehnya. Tidak disangka dirinya nekat memasukkan kunci kamar ke dalam boxer.


Menjadi murahan di hadapan istrinya? Itulah seorang Nathan yang kehilangan kharismanya, dari pertama kali bertemu dengan Hana. Wanita yang tidak tergoda dengan wajah rupawannya, membuatnya selalu kehabisan kata-kata.


Jubah mandi yang dipakai Hana dilepaskan olehnya, memakaikan pakaian dalamnya."Biar aku sendiri..." ucap Hana.


Nathan menggeleng."Sudah lama aku ingin mengatakannya, tapi selalu tertahan karena egoku. Saat paling menyenangkan ketika di desa adalah saat mengurusmu, memandikanmu, memakaikan pakaian, bahkan ketika mengantarmu buang air."


"Memalukan, aku saat itu hanya berpura-pura belum bisa berjalan. Agar..." kata-kata Hana terhenti, menutup mulutnya sendiri.


"Agar apa? Kamu mendambakan cinta sejati yang tulus seperti putri negri dongeng?" Nathan tersenyum telah memakaikan Hana mini dress selutut, mulai melepaskan jubah mandinya sendiri memakai pakaiannya.


Wanita itu tidak menjawab, hanya membalas senyumannya.


"Aku bukan pangeran negeri dongeng, aku hanya Jonathan Northan. Kamu bukan wanita pertama yang berhasil menjadi pacarku. Tapi kamu adalah wanita terakhir yang aku cintai..." ucapnya memeluk Hana dari belakang, hanya dengan menggunakan boxernya saja. Menatap pantulan dirinya dan istrinya di hadapan cermin meja rias.


"Aku mencintaimu..." ucapnya mengecup pipi Hana, yang hanya dapat tersenyum padanya.


***


Perang kini dimulai, para pengawal sudah diberi perintah oleh Hana agar tidak mencegah Nathan melakukan apapun. Suara amunisi terdengar, cairan panas berhamburan. Ini mengerikan bahkan bagi seorang Nathan.


Helm dipakainya, lengkap mengunakan pakaian putih, topi koki tanda perjuangannya sudah dilepaskan olehnya.


Dapur adalah tempat yang benar-benar berbahaya, itu baru disadari olehnya, kala ikan mulai dimasukkannya ke dalam minyak panas.


"Mau aku bantu?" Hana mengenyitkan keningnya.


"Tidak, ini berbahaya dapat mempertaruhkan hidup! Sebuah perjuangan untuk mempertahankan anak dan istriku! Merdeka!!" ucapnya penuh semangat, namun kembali membawa bambu runcing, maaf salah spatula, ketakutan, menjaga jarak dari minyak panas yang terus berhamburan.


"Hana, kenapa orang ini disini?" ucap Fu yang baru saja terbangun, menatap tajam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2