Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Lebah


__ADS_3

Suasana makan malam yang masih sama Hana sesekali tersenyum bahkan bercanda. Begitu juga dengan Dirga yang memuji ikan di kolam Jono yang mulai tumbuh. Hangat, begitulah suasana saat ini, tanpa disadarinya kedua orang ini sudah bagaikan keluarga di hatinya.


"Ini! Makan yang banyak," Dirga meletakkan daging ayam ke atas nasi di piring Jono,"Menjadi pria ini harus bertanggung jawab pada istrinya. Itu kewajiban utamamu, jadi makan yang banyak supaya bisa menjaga dan membahagiakan Hana,"


Inikah rasanya mempunyai seorang ayah? Mungkin iya, Jono mulai menyendok nasi di piringnya makan dengan lahap.


"Kalau Jono makannya terlalu banyak, jadi gemuk bagaimana. Ayam gorengnya untukku saja..." Hana memindahkan ayam di piring Jono ke dalam piringnya.


Plak...


Jemari tangan Hana dipukulnya pelan. "Ini punyaku!! Kamu ambil saja sendiri,"


"Tidak mau," Hana mengigit paha ayam milik Jono.


"Ini punyaku!!" Jono merebutnya balik, kemudian mengigit sisa gigitan Hana.


Meja makan yang tidak begitu besar dan mewah. Namun suasana hangat terasa disana.


***


Hari ini seperti beberapa malam sebelumnya, Sari yang mengangkat Hana dari kursi roda ke tempat tidur. Wanita bertubuh tidak begitu besar, bisa dibilang proposional, tapi makanan sebakul tenaga mengalahkan kuli. Itulah Sari ART di rumah milik Dirga.


Tidak ada yang tidak unik di desa ini. Desa Kalasaka, dirinya tidak menyesal untuk singgah. Hanya singgah, setelah semuanya dirinya akan segera kembali ke kota.


Wajah cantik Hana yang masih berbaring dengan mata tidak tertutup sedikit pun, di tatapnya.


Apa dirinya mencintai Hana? Seorang wanita desa yang hanya dapat duduk di kursi roda? Mungkin ini hanya karena terlalu sering bersama saja, perasaan yang akan menghilang seiring berjalannya waktu.


Tapi apa benar? Angel satu-satunya mantan kekasihnya tidak kalah cantik bukan? Benar, perasaan ini hanya karena terlalu sering bersama.


"Jono kalau aku tidak cacat apa kamu akan menyukaiku?" tanyanya menatap langit-langit kamar.


Bingung harus menjawab apa hingga kata-kata lain yang muncul,"Tidak, perasaan itu tumbuh dari hati. Aku tidak mencintaimu dari awal..." jawabnya.

__ADS_1


Hana diam terpaku, memejamkan matanya sejenak. Jono menatap ke arahnya menekan ludahnya, mulai mendekat, mulai mendekat, kemudian menempelkan bibirnya sesaat. Tapi diluar dugaan, Hana menahan tengkuk suaminya agar memperdalam ciumannya.


Gerakan bibir yang dirindukan Jono. Setelah beberapa hari ini, Hana tidak ingin disentuh sedikit pun olehnya. Ini benar-benar sangat indah. Darahnya berdesir hebat dalam waktu beberapa detik.


Namun, tiba-tiba Hana melepaskan tautannya. Menatap matanya lekat. "Tidak menyukaiku?" tanyanya.


Jono menggeleng,"Aku tidak menyukaimu," entah bagaimana posisinya saat ini berada di atas tubuh Hana. Hingga kesadarannya sebagai pria yang tidak mencintai istrinya kembali. Kembali membaringkan dirinya di samping Hana. Tidak ada pembicaraan lagi setelahnya, keduanya terdiam terlarut dalam pemikirannya masing-masing.


Tidak ada yang menyadari sepasang mata mengamati dari gorden jendela yang sedikit terbuka. "Bodoh! Tinggal cium, lempar pakaiannya. Masukkan, keluarkan, beres!" geramnya ingin memukul majikannya sendiri.


Hingga tiba-tiba sorot lampu terlihat samar-samar hampir mengarah padanya yang merangkak.


"Babi ngepet!! Ada babi ngepet yang mau mencuri di rumah juragan Dirga!!" teriak warga, yang hanya menatap bayangan Kelvin yang sempat membungkuk menengok ke kiri dan ke kanan.


"Babi ngepet!?" gumam Kelvin tidak mengerti, masih saja merangkak mengingat jendela yang memanjang tidak ingin ketahuan mengintip majikannya.


Hingga sampai di sudut jendela dirinya segera pergi mencari jalan tercepat ke gudang. Berjalan dengan cepat, hingga warga yang meronda menyapanya.


"Kelvin, kamu lihat besar b*bi yang bisa menengok jalan kesini tidak!?" tanya seorang warga desa.


"Tidak..." ucapnya tersenyum.


"Tidak mungkin tidak lihat!! B*binya tadi lari ke arah sini!!" salah seorang warga menyela.


Kelvin mencoba terlihat bagaikan orang yang tengah mengingat-ingat."Tadi ada b*bi tapi sudah lari jauh..."


"Entah dimana orang yang menjaga lilin dan daun nangka. Kalau ketemu kita pukul saja!! Sesat!! Meresahkan!!" geram salah satu warga berjalan bersama-sama mendekati rimbunnya pohon pisang.


Kelvin mengelus dadanya sendiri"Untung tidak ketahuan. Kalau ketahuan mau taruh dimana wajahku..." gumamnya segera pergi sebelum dicurigai.


***


Hari yang benar-benar baru dirinya kembali melajukan mobil Jeep milik mertuanya, hingga sampai ke area gudang pupuk. Perlahan membantu Hana naik ke kursi rodanya.

__ADS_1


Matanya menatap tidak suka, pemuda itu datang lagi hari ini, membawa sebuah proposal, hal yang dilakukannya, mengganggu Hana.


"Hana ini proposalnya," ucap Haikal tersenyum padanya.


"Terimakasih, nanti ayah akan mengirimkannya pada Bupati," Hana tersenyum padanya, seakan sudah maafkan dengan ikhlas. Isi proposal? Hanya tentang permintaan dibukanya puskesmas pembantu di wilayah mereka.


"Sampai kapan kamu disini, kenapa tidak kembali ke kota saja?" Jono mengenyitkan keningnya.


"Aku mengambil cuti sebulan penuh, tanggal satu aku akan kembali ke kota, mencari uang untuk Gio, ibu dan bapak..." jawabnya yang memang sudah belajar bersikap lebih dewasa.


"Cepat pulang ke kota sana!! Istrimu Zara menunggu..." cibirnya sinis.


"Aku sudah bercerai dia mengurusnya di hari pertama pernikahan kami. Awalnya aku ingin menunggu anak dalam kandungannya lahir. Tapi dia menggugurkannya..." gumamnya merasa gagal sebagai seorang calon ayah sekaligus dokter menyelamatkan anaknya.


Bercerai? Sudah bercerai? Apa kembali untuk menggoda Hana, tidak boleh... batin Jono tidak rela jika Hana yang nanti akan menjadi jandanya, menikah dengan Haikal.


"Sabar ya... aku doakan semoga anakmu tenang disana," Hana tersenyum tulus padanya.


Jemari tangan jono mengepal lebih kuat. Apa seorang Jonathan Northan bisa cemburu pada istri yang tidak dicintainya? Entahlah, tapi dirinya ingin rasanya tauran dengan Haikal.


"Hana, bagaimana jika memeriksakan kakimu di rumah sakit tempatku bekerja. Biar aku yang bayar biayanya, peralatan disana lengkap. Mungkin aku bisa menepati janjiku untuk membuatmu bisa berjalan lagi. Teknologi sekarang sudah lebih maju, bahkan bedah syaraf dapat dilakukan,"


"Aku memang tidak bisa menepati menikah denganmu, karena kamu sudah menemukan pria yang lebih mencintaimu dariku. Tapi aku akan berusaha menyembuhkanmu. Sebagai tanda pertemanan kita..." lanjut Haikal tulus.


Tidak tahan lagi, apa sebenarnya tujuan mantan ini? Apa cinta lama bersemi kembali? Tapi satu yang pasti dirinya tidak rela...


Aku bisa mengundang dokter dari luar negeri untuknya. Bahkan membawanya berobat ke Singapura sekalian! Dasar perebut istri orang... komat-kamit kekesalannya tertahan dalam hati.


"Ini aku lupa menitipkan untuk juragan saat membayar hutang. Isinya madu hutan, juragan Dirga menyukai madu kan!?" tanya Haikal, memberikan sebuah paperbag.


"Terimakasih..." Hana meraihnya kemudian tersenyum.


"Aku bahkan bisa membeli peternakan lebah!! Sampai sarang-sarangnya sekalian!! Jangan terima pemberiannya!!" tingkah posesif seorang Jonathan Northan mulai bangkit, pada istri yang katanya tidak dicintainya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2