Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Snow Drop


__ADS_3

Hari ini masih tetap terasa dingin seperti sebelumnya. Tidak ada bunga yang mekar sama sekali selain snow drop, bunga kecil indah terdapat banyak di halaman rumah kakek Fu.


Perlahan sang kakek mengenakan syal hangat, hidung sedikit memerah karena udara yang dingin. Mengenakan topi rajutan, beberapa pakaian berlapis dan sarung tangan, mendekati cucunya yang tengah terdiam, berjongkok menatap bunga snow drop.


Cucunya benar-benar terlihat cantik, mirip dengan istrinya yang telah tiada. Hanya perbedaan warna kulit yang menurun dari dirinya. Jaket putih hangat dengan bulu halus di bagian penutup kepalanya yang terbuka, dengan celana panjang hitam, sarung tangan putih tebal, penghangat telinga berbulu putih, pakaian yang benar-benar tertutup melindungi dirinya dari cuaca dingin. Rambut panjang bergelombang terurai, sedikit kecoklatan, mata yang tidak sipit sama sekali, terlihat indah.


Bangga rasanya memiliki cucu sepertinya, sangat cantik."Hana kamu tidak berencana untuk kuliah?" tanyanya mendekati sang cucu.


"Nanti saja, jika kakek sudah baikan, aku akan kembali ke desa, mengambil jurusan pertanian," jawaban dari mulut wanita itu, bangkit membimbing sang kakek, duduk di gazebo.


"Kakek menghormati dan menghargai profesimu dan ayahmu sebagai petani, tapi apa kamu tidak ingin tinggal di sini membantu Shin? Kakek akan mengirimkan orang untuk membantu ayahmu," sudah cukup tua, namun untuk pria seusianya, kakek Fu termasuk cukup sehat. Bahkan aktif berlatih Wushu di usianya.


Sakit keras? Itu hanya menjadi alasan baginya untuk memanggil cucu tunggal yang baru diketahui keberadaannya ke Jepang. Dirinya dulu terpaksa harus meninggalkan wanita yang dinikahinya, wanita yang tengah mengandung anaknya. Selaku prajurit dengan pangkat rendah tidak memiliki hak untuk bicara.


Meninggalkannya dengan langkah berat, hanya dengan sebuah seruling pemberiannya. Wanita buta huruf yang sempat diajarinya bahasa negaranya, diajari menulis menggunakan huruf hiragana dan katakana. Cukup lama saling bersama, mungkin sekitar tiga tahun.


Seorang penjajah yang mencintai wanita desa biasa. Perasaan yang tidak seharusnya terjalin dari dua orang yang sulit untuk bersama. Pernikahan diam-diam yang membawa janin kecil yang harus ditinggalkannya.


Mencarinya? Fu sudah berusaha mencarinya, tepat setelah kondisi negaranya stabil, setelah dirinya dapat mengumpulkan cukup banyak uang. Namun, telah belasan tahun berlalu saat itu, mencarinya? Istrinya telah menghilang tidak ada jejak sama sekali. Yang dapat dilakukannya, hanya kembali ke negaranya dengan kekecewaan, tetap mengerahkan orang untuk mencarinya.


Kini setelah puluhan tahun, istrinya telah lama tiada, bahkan janin yang dikandung istrinya, telah tumbuh dewasa, memiliki seorang anak, juga telah pergi menghadap-Nya.


Kini yang tertinggal hanya anak itu, anak yang tumbuh dewasa dengan wajah secantik neneknya, kulit seputih dirinya.


Masih teringat jelas dibenaknya, kala dirinya yang dengan wajah yang lebih muda, memakai pakaian prajurit. Istri yang diam-diam dinikahinya datang membawa makanan sederhana yang dimasaknya sendiri, berbungkuskan daun jati.


Hanya ingin sang cucu menemaninya di sini, kala hari-hari indah itu telah lama berlalu. Istri dan putrinya telah tiada. Tapi, apa bisa?


Hana menggeleng,"Semenjak ibu meninggal ayah selalu sendiri. Bisa kakek tinggal bersama kami di desa?"


Fu mengenyitkan keningnya,"Aku akan meminta ayahmu untuk tinggal disini denganmu,"


Wanita itu tertawa kecil menghela napas kasar,"Silahkan berdebat kalian sama-sama keras kepala,"

__ADS_1


Sang kakek menatap kearah hujan salju yang turun. Udara yang terasa dingin menusuk, Hana meraih termos kecil di sakunya, menuangkan teh hangat, menggunakan tutup besi kecilnya,"Udaranya dingin," ucapnya pada sang kakek menyodorkan teh hangat.


Fu segera meraihnya, cucu yang baik tidak rakus pada kekayaan dan kekuasaan, dirinya tidak boleh melepaskan Hana dengan mudah. Hingga satu pemikiran gila terlintas,"Hana apa Shin tampan?"


Hana mengangguk,"Warga desa banyak yang kagum padanya,"


"Walaupun pendiam, dia baik, pintar, penurut, tipikal suami yang akan takluk pada istrinya," sang kakek tersenyum, masih memikirkan cara menahan cucunya.


"Lalu?" Hana mengenyitkan keningnya curiga.


"Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Fu, tidak percuma rasanya mengadopsi Shin di saat-saat seperti ini.


"Kakek ingin menjodohkanku? Aku sudah menikah..." Hana tertawa kecil, melepaskan sarung tangannya, menunjukkan cincin di jari manisnya.


Fu memijit pelipisnya sendiri, menghela napas kasar,"Dengan dokter?" tanyanya tertuju pada Haikal.


Hana menggeleng,"Namanya Jono, dia pemilik lahan kecil yang berhutang pada ayah. Karena menyukainya, aku meminta ayah untuk menikahkan kami," ucapnya tertunduk, jemarinya mengelus cincin pernikahan di jari manisnya.


"Lalu kenapa bukan dia yang menemanimu kemari?" tanyanya.


"Udara dingin tidak baik, ayo kita masuk," lanjutnya, hendak membimbing sang kakek.


Tapi tanpa diduga, dengan cepat sang kakek melepaskan cincin di jari manis cucunya. Melemparnya pada tumpukan salju."Kakek meninggalkan nenekmu dengan langkah berat, karena keadaan saat itu. Tapi suamimu meninggalkan cucuku yang cantik demi wanita lain. Jangan mengingatnya kembali!!" tegas sang kakek.


Hana menatap tumpukan salju diantara beberapa bunga snow drop yang mekar, air matanya mengalir, segera di seka olehnya."Kakek benar..." hanya dua kata yang terucap dari bibirnya. Kembali tersenyum, membimbing sang kakek melewati koridor.


"Tuan..." seorang pelayan memberi hormat padanya, pria yang berjalan masuk dengan sekretarisnya.


Tidak menunjukkan ekspresi apapun, menatap segalanya. Wajah pemuda berhati sedingin salju.


***


Hingga waktu makan malam telah tiba, Hana dan beberapa koki yang memasak hari ini menyajikan berbagai hidangan hangat.

__ADS_1


"Ini khusus untukku, besok aku akan pulang, jadi undangnya harus banyak..." ucap Haikal, yang mengambil lagi menggunakan sendok.


"Rakus..." Hana menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Kemudian mengambil beberapa sayuran dan daging ke mangkuk sang kakek,"Makan yang banyak, agar cepat sehat,"


Sedangkan Shin hanya tertunduk, tangannya diperban entah kenapa, mulai memakan sayuran. Hingga cucu dari sang kakek yang mengadopsinya mengambilkan daging untuknya meletakkan ke atas mangkuknya,"Kamu itu manusia bukan robot, kalau tidak menyukai masakanku katakan saja!!"


Pemuda itu menggeleng,"Aku menyukainya!!" ucapnya makan dengan lahap. Segera mengambil daging lebih banyak.


"Dasar..." Hana tertawa kecil, menatap mesin penurut itu.


Sedangkan Haikal, mengambil handycamnya, mulai merekamnya yang makan dengan cepat,"Juragan, Hana baik-baik saja disini, si robot sudah mulai menurut padanya. Dan kakek Fu, juga terlihat sehat. Jadi Hana bisa segera pulang," ucapnya masih merekam, mengingat besok dirinya harus kembali, karena tidak dapat mengambil cuti lebih lama di rumah sakit. Rekaman untuk menunjukkan pada sang juragan, putrinya baik-baik saja disini.


"Aku belum sehat!!" teriak Fu, menggebrak meja, tidak ingin cucunya segera pulang.


"Astaga..." Haikal terkejut, hampir menjatuhkan handycamnya.


***


Hari sudah mulai larut, Shin masih sibuk mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk. Melepaskan kacamata bacanya sejenak, melepas penat.


Laci kecil ruang kerjanya dibuka olehnya, jemari tangan yang berbalut perban itu meraih cincin pernikahan yang dipungutnya.


Cincin yang dicarinya diantara bunga snow drop, dibawah beberapa tumpukan salju. Perban di tangannya? Itu semua karena mencari sebuah cincin di tumpukan salju yang dingin, membuat jemari tangannya sempat mati rasa, memerah, dan sedikit bengkak.


Wajahnya tiba-tiba tersenyum, menyimpan kembali cincin milik Hana ke dalam laci. Kembali fokus mengerjakan tugasnya.


Bersambung


...Bunga kecil yang cantik tubuh di akhir musim salju, aku menyukainya......


...Karena bunga kecil itu, bagaikan memberi harapan, salju yang dingin akan mencair, musim semi yang hangat akan kembali......


Hana...

__ADS_1



__ADS_2