
Nathan melangkah menuju kamarnya yang besar. Bagaikan kamar bangsawan, sesuai peraturan rumah, hal pertama yang dilakukan adalah mandi. Menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Aku tampan..." gumamnya narsis, mengedipkan sebelah matanya sendiri.
Hingga pada akhirnya telah usai membersihkan dirinya memakai setelan piama bersiap-siap untuk tidur.
Bug...
Tubuhnya jatuh diatas tempat tidur akibat perjalanan yang lumayan jauh, perlahan matanya terpejam. Menyambut mimpi indahnya...
Seorang gadis memeluknya, jantungnya berdegup cepat, darahnya berdesir."Aku mencintaimu, kita adalah suami istri. Tubuhmu adalah milikku, begitupun tubuhmu adalah milikmu..." ucapnya.
"Jangan pernah menyesal, karena aku juga mencintaimu..." mata Nathan menatap ketulusan yang ada disana.
Bagaikan tidak menahan segalanya lagi, bibir itu dibungkamnya, matanya terpejam. Sapuan lidah yang terasa manis, semuanya benar-benar berbalas.
Satu persatu pakaian mereka tanggal, ciuman Nathan juga sudah mulai turun ke lehernya. Menjalar lebih ke bawah menemukan dua benda sensitif disana."Akh... Jono...." pekiknya, memegang kain sprei dengan erat.
Sudah tidak tahan lagi suara laknat itu hanya keluar sekali tapi sudah membuatnya bagaikan menjadi gila, memaikan lidahnya bahkan mengisapnya, membuat suara laknat itu keluar lebih banyak dari mulut Hana.
Hingga dirinya mengatur posisi, menatap wajah memerah seakan takluk olehnya. Bibir mereka kembali menyatu seiring menyatunya tubuh mereka. Air mata wanita itu mengalir di tengah pangutannya menahan rasa sakit. Ini sungguh sempit namun memberikan kenikmatan padanya. Untuk pertama kalinya melakukannya, mengguncang tubuhnya tiada henti.
"Akh... Hana..." ucapnya, tidak dapat menahan diri lagi. Hingga mengeluarkan benihnya, memberikannya kesempatan berkembang di rahim istrinya.
Dirinya roboh diatas tubuh istri yang memeluknya."Aku mencintaimu..." ucapnya.
"Aku tidak, aku mencintai Haikal..." bisiknya.
"Hana ayo kita pergi, kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagai istrinya. Saatnya bercerai, kita menikah..." suara seseorang terdengar, entah dari mana makhluk itu muncul tersenyum mengenakan setelan tuxedo. Dan hal yang lebih aneh lagi Hana yang tidak mengenakan sehelai benang pun tiba-tiba mengenakan gaun.
__ADS_1
Haikal mendekat mengangkat tubuh Hana. Nathan yang hanya berbalut selimut mencoba menghentikannya. Tapi tangan dan kakinya tiba-tiba terikat. Haikal tersenyum, membawa tubuh Hana pergi. Sedangkan Kelvin tiba-tiba masuk membawa sebuah map."Tuan, selamat anda menyandang status sebagai duda!!" suara tawanya terdengar nyaring menunjukan akte perceraian Nathan dan Hana.
"Tidak...!!" teriak Nathan pada akhirnya terbangun dari mimpinya, menjambak rambutnya sendiri. Mimpi yang benar-benar indah, sekaligus mimpi terburuk yang pernah dialami olehnya.
Hingga Nathan menyadari sesuatu,"Sial basah!!" ucapnya berlari ke kamar mandi, kembali membersihkan dirinya, setelah mengalami mimpi basah.
Pakainya telah terlepas, memperlihatkan otot-otot perut dan dadanya dengan tubuh atletis namun proposional. Mengguyur dirinya di bawah derasnya shower. Cermin di hadapannya ditatap olehnya."Hana sedang apa sekarang? Apa dia sudah makan? Apa dia merindukanku?" gumamnya.
Sejenak kemudian menepuk-nepuk pipinya sendiri,"Sadar Nathan, kamu yang sekarang menginginkan wanita manapun tinggal tunjuk saja..."
Hati yang bertolak belakang dengan fikiran. Ada yang terasa kurang ingin kembali ke desa yang tidak memiliki akses internet itu. Satu-satunya akses internet hanya ada di koperasi.
Nathan menghela napas kasar, kembali menggati pakaiannya. Setelah ini dirinya akan menghadiri undangan pesta kelas atas, pembukaan perusahaan terkemuka.
Parfum dengan aroma maskulin disemprotkan pada tubuhnya. Mulai memakai setelan jas, disempurnakan dengan jam tangan berharga fantastis. Rambutnya tertata rapi, berjalan mengenakan sepatu kulit miliknya.
Matanya sedikit melirik menatap tempat tidurnya yang berantakan. Dengan cairan yang mengotori bagian tengah sprei."Kenapa bisa sebanyak itu?" gumamnya, menggulung sprei lengkap dengan selimutnya meletakkan pada tempat cucian kotor.
Apa kesalahanku, setelah 3 tahun kenapa setan ini kembali, terkadang aku ingin mengumpat semoga jika dia mempunyai istri, istrinya direbut pria lain... batin sang pelayan ketakutan.
"Ya tuan..." ucapnya cepat.
"Ganti sprei tempat tidurku," hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Nathan, meninggalkan pelayannya yang terduduk lemas di atas lantai. Masih teringat jelas di benak sang pelayan kala teman-temannya 3 tahun lalu sedikit saja berbuat kesalahan akan dipecat. Terkadang dibentak, direndahkan oleh Nathan.
Menggati sprei tempat tidur? Sungguh bagaikan suatu angin segar.
***
Hingar-bingar kehidupan kalangan atas pesta berkelas dengan alunan music jazz. Cocktail, anggur, Vodka, beberapa minuman kelas tinggi ada di sana. Nathan meraihnya, berjalan berlalu menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Yo... Nathan lama tidak bertemu, kamu kemana saja?" Dicky (salah satu pimpinan perusahaan terkemuka) datang menghampirinya, merangkul bahunya.
"Aku ikut taruhan dengan Joseph," ucapnya mulai duduk di sofa dalam ruangan setelah meninggalkan ramainya hiruk-pikuk orang-orang di dekat area kolam renang."Omong-ngomong dimana Han?"
"Dia baru datang..." ucap Dicky menunjuk seorang pemuda yang mendorong kursi roda dengan seorang wanita berwajah pucat duduk diatasnya.
Sang wanita tersenyum mengangguk, bagaikan mengijinkan suaminya untuk menemui teman-temannya. Sementara sang istri yang duduk di kursi roda mulai mencari teman bicara lain, ditemani seorang pelayan.
Sang suami mulai berjalan menemui kedua sahabatnya, mengambil minuman duduk tanpa ragu di dekat mereka. Menatap ke arah istrinya tanpa henti.
"Han, dia siapa?" tanya Nathan mengenyitkan keningnya, pasalnya untuk pertama kalinya dirinya melihat sahabatnya membawa seorang wanita ke pesta.
"Istriku, namanya Lola, dia mengalami kelumpuhan saat melahirkan anak kami," jawabnya tetap tersenyum, menatap istrinya dari jauh.
"Itulah sang Romeo, membawa istrinya kemana-mana. Omong-omong kamu tidak diam-diam selingkuh kan!? Aku janji tidak akan mengadu pada Lola," tanya Dicky penasaran.
"Tidak! Keinginanku pada wanita lain sudah menghilang!" geram Han kesal.
"Dia lumpuh, kamu tidak malu membawanya kemana-mana?" Jono mengenyitkan keningnya.
"Bocah seperti kalian tau apa, wanita cantik ada banyak di dunia ini, yang pintar juga ada banyak, walaupun Lola hasil perjodohan dari kedua orang tuaku. Tapi hanya akan ada satu wanita yang membuat seorang Han bertekuk lutut, istriku yang selalu setia menungguku," ucapnya penuh kebanggaan, membanggakan istrinya yang mengalami kelumpuhan,"Aku akan membawanya berobat ke Jerman, jika tidak sembuh dan dia tetap lumpuh, maka aku akan menjadi kakinya..."
"Dasar bucin sampai ke tulang-tulang!!" Dicky tertawa nyaring.
Sakit? Tentu saja hatinya sakit mendengarkan kata-kata dari mulut Han. Dirinya bahkan tidak berniat mengatakan jika sudah menikah, cincin di jari manisnya diraba olehnya. Apa ini tidak adil untuk Hana?
Hingga Angel tiba-tiba datang dengan seorang pria yang merangkul pinggangnya. Sedikit melirik pada Nathan, kemudian tersenyum menghampirinya, meninggalkan pria yang datang bersamanya.
"Nathan..." ucapnya dengan memakai dress terbuka, menunjukkan belahan dadanya dengan bagian punggung yang terlihat.
__ADS_1
Masa lalu ketika dikenang akan terasa indah bukan. Namun ketika kembali menjalani hal yang sama, akan terlihat jelas dimana terdapat ternyaman, bagi seorang Nathan...
Bersambung