Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Ilusi


__ADS_3

Satu bulan benar-benar telah berlalu, Nathan menatap deretan gedung pencakar langit di hadapannya. Semua berkas sudah selesai di dikerjakannya. Hal yang dilakukannya satu bulan ini? Menjalani hidupnya sebagaimana mestinya.


Dan benar saja ada yang terasa kurang. Semua orang mengelu-elukannya, banyak wanita yang mengejarnya, termasuk Angel yang semakin intens mendekatinya.


Tapi tetap saja, hidupnya tidak senyaman kala Dirga ada di meja makan yang sama dengannya. Mengayominya bagaikan seorang ayah. Kala Hana membawakan bekal untuknya, terkadang memainkan melodi yang indah dari serulingnya.


Bersembunyi di bawah meja prasmanan bersama seorang gadis cacat. Memakan makanannya sepiring berdua. Tertawa bersama, kagum dengan jalan fikirannya.


Kelvin juga jauh berubah seakan menjauhinya, tidak bersikap bagaikan sahabat lagi. Hanya seorang sekretaris profesional.


"Tuan, saya sudah mengurus tim dari kantor cabang," ucapnya menunduk memberi hormat.


"Kelvin apa aku tampan?" tanya Nathan ingin sedikit saja sikap Kelvin berubah seperti dulu.


"Anda tampan... permisi..." jawabnya menunduk hendak undur diri.


"Tunggu! Bersikaplah seperti biasa, seperti saat kita ada di desa," pinta Nathan.


"Disini aku sekretaris biasa yang bisa dipecat kapan saja. Jadi tidak berhak bicara," Kelvin menunduk undur diri, masih dendam hanya karena seorang Jonathan Northan, si cantik kuning tidak dapat masuk ke garasinya.


Dia akan menyesal... saat itu aku akan melempar akte cerai dirinya dan Hana. Tepat di wajahnya, hanya satu kata.... Mampus... batinnya, berjalan pergi.


Apa benar dirinya sudah mencintai Hana? Entahlah, namun mungkin perkataan Kelvin benar, kenangan akan terasa lebih indah daripada kehidupan saat ini. Dirinya merindukan Hana. Merindukan? Ini bukan rindu, hanya ingin bertemu dan memeluknya. Kita anggap saja kangen.


Pemuda itu mulai berjalan, menuju sofa, pagi ini dirinya meminta pelayan untuk membuatkan kotak bekal untuknya. Terlalu jenuh rasanya makan di restauran. Makanan ala kadarnya di desa terasa lebih menggugah seleranya.


Hingga, kontak bekal dibukanya, Nathan hanya makan beberapa suap kemudian berbaring di sofa. Memejamkan matanya sejenak, merasakan terpaan angin yang menggoyang pohon bambu. Dengan Hana yang ada disampingnya, tersenyum menatapnya makan dengan lahap.


Sejenak kemudian matanya terbuka, hanya ada suara mesin AC yang terdengar di ruangannya. Tempat itu benar-benar sepi.


Seorang wanita berpakaian minim datang, tanpa mengetuk pintu. Menutup mata Nathan dari belakang.


"Angel?" ucap Nathan seakan sudah mengetahui.


"Aku ketahuan, ayo kita makan siang bersama. Ada restauran Prancis yang baru buka," ucapnya mulai duduk memeluk Nathan dari samping, bahkan menggesek-gesek dua benda yang ada di bagian depannya pada lengan Nathan.


"Aku sedang tidak berselera..." jawabnya, melepaskan pelukan Angel.

__ADS_1


Wanita itu menghela napas kasar,"Nathan aku melihat tas keluaran terbaru, harganya sedang diskon. Tapi sayangnya bayaranku sebagai model belum turun..."


Nathan akan segera membelikannya? Itulah yang ada di fikirannya, mantannya memang begitu bukan? Orang yang benar-benar royal, seolah-olah uang dapat membeli kesetiaan dan cinta seseorang.


"Kalau begitu tunda pembeliannya, kamu menyimpan terlalu banyak tas. Jual salah satunya, untuk membeli yang terbaru," saran Nathan.


Pemuda ini sudah benar-benar jauh berbeda. Tapi tidak bisa terus begini, Nathan adalah miliknya dari awal, cadangan jika tidak mendapatkan seorang Joseph.


"Nanti malam ulang tahun Dicky, aku berencana mengadakan pesta kejutan di club'malam, jadi..." kata-kata Angel terhenti, menatap Nathan merogoh sakunya. Mengetikkan sesuatu di phonecellnya.


"Aku hanya ikut patungan jadi sudah mengirim setengah dari biaya sewa seluruh club'malam. Kamu sendiri yang membayar setengahnya..." ucapnya.


Angel tetap berusaha tersenyum, menghela napas kasar,"Nathan aku ada urusan, aku harus pulang dulu. Sampai jumpa di pesta nanti malam," ucapnya hendak mencium bibir Nathan.


Namun pemuda itu mendorongnya,"Aku sedang tidak berselera..."


Angel menghela napas kasar, kemudian berlalu pergi, dengan kesal.


Menjijikkan? Itulah yang terlihat saat ini, kala dirinya menatap Angel. Dulu bangga dan memujinya sebagai model cantik dengan karier yang cemerlang. Namun, tidak saat ini, mungkin karena sudah terbiasa dengan sesuatu yang tidak tersentuh sama pria lain sama sekali.


Ada saatnya dirinya pernah melihat Angel menari di club. Membiarkan ada pria yang mendekat, menari dengan intens bersamanya. Bahkan tangan yang mengelus paha pada awalnya. Merayap ke atas paha, membuat Angel membuka mulutnya, entah apa yang dilakukan jemari sang pria di pangkal paha Angel, dalam ramainya hiruk-pikuk orang-orang mabuk yang menari.


Kenangan tentang minuman keras, wanita, bahkan dihormati semua orang tidak seindah saat mengalaminya.


Nathan mengepalkan tangannya, hanya satu bulan lagi, untuk memastikan dirinya lebih bahagia hidup tanpa Hana.


***


Malam menjelang, malam ini sama seperti beberapa malam sebelumnya. Tapi bedanya Dicky hari ini berulang tahun. Sialnya, Han datang kembali dengan Lola, istrinya yang duduk diatas kursi roda.


Dengan bangganya mengelus rambut istrinya. Tidak ada perasaan canggung atau malu.


"Istriku jauh lebih cantik..." gumam Nathan minum terus menerus. Kali ini dirinya benar-benar menginginkan Hana, wanita yang terkadang acuh, terkadang pula begitu hangat.


"Hana..." racaunya kembali, sembari tertawa dalam tangisannya.


***

__ADS_1


Merindukan Hana? Sedangkan wanita itu telah datang untuk menemuinya. Duduk di ruang tamu, perlahan Joseph turun mengenakan masker, menutupi mulut dan hidungnya.


Matanya menelisik menatap wanita cantik yang duduk di kursi roda dengan seorang pria paruh baya. "Kamu siapa?" tanyanya mulai duduk.


"Namaku Hana, dan ini pak Kirjo. Apa Jonathan Northan ada?" Hana menghela napas kasar, menatap rumah yang memang lebih indah dari rumahnya sendiri. Dengan deretan mobil mewah ada di garasinya.


Mobil yang entah dapat membeli berapa puluh truk. Pantas saja, Jono tidak pernah mau menunduk untuk mencintainya. Apa yang dimiliki Hana tidak ada apa-apanya.


"Kamu istri Nathan?" Joseph mulai membuka maskernya.


Hana mengangguk,"Kami memang sudah menikah. Tapi Nathan tidak menyukaiku, karena itu aku ingin memperjelas semuanya,"


Joseph menghela napas kasar, akhirnya hari ini tiba juga. Sudah satu bulan meninggalkan istrinya seorang diri tanpa kabar, tidak pernah memberi nafkah lahir batin. Satu tahun pernikahan mereka, mungkin Hana sudah cukup tegar untuk menghadapi Nathan.


"Dia belum pulang, aku akan menghubunginya bisa kalian menunggu..." pintanya, bersamaan dengan minuman yang datang bersama beberapa kue kering.


***


Hari sudah semakin larut, beberapa kali Joseph menghubungi adiknya pun hasilnya sama. Nomor teleponnya tidak aktif.


Dua orang yang menunggu dengan sabar hingga suara mesin mobil terdengar. Kelvin memapah tubuh majikannya yang mabuk berat, sedangkan seorang sang supir menggedong tubuh Angel yang terlelap.


Menyangkal perasaannya? Itulah yang diungkapkan alam bawah sadarnya.


"Tuan, maaf saya tidak mengetahui nomor kode akses apartemen Angel, jadi saya membawanya kemari," ucap Kelvin pada Joseph, yang menang baru saja mengetahui kedatangan Hana disana.


Mata Hana menelisik, menatap seorang model cantik dengan tubuh indahnya tengah tertidur dengan tubuh yang diangkat sang supir.


"Jangan biarkan dia menyebarkan virus kemana-mana!! Dia temannya Nathan! Taruh saja di kamar Nathan..." perintah Joseph.


Air matanya mengalir segera diseka olehnya, berusaha untuk tersenyum, mungkin itulah hidup suaminya, terbiasa membawa wanita lain yang lebih cantik bersamanya. "Nathan..." Hana menggerakkan kursi rodanya mendekat.


Nathan yang setengah sadar memperhatikan baik-baik orang yang ada di hadapannya. Hanya ilusi mungkin Itulah yang ada difikirkannya.


"Kenapa mengikutiku bahkan ke kantor, bahkan seenaknya muncul di mimpiku... Aku tidak pernah mencintaimu," racaunya menitikan air matanya merindukan istrinya.


Kursi roda Hana terhenti,"Aku akan berhenti berusaha membuatmu mencintaiku. Kita berpisah saja..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2