Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Lumpuh


__ADS_3

Hana berusaha meronta namun tenaga Nathan jauh lebih besar darinya."Aku merindukanmu," ucapnya berbisik di telinganya.


Perlahan Nathan melepaskan tangannya dari bibir Hana."Pergi!" hanya satu kata itulah yang terucap.


"Kamu sudah dapat berjalan, aku ikut senang," air mata pemuda itu mengalir, bahagia? Tentu saja. Sekaligus menunduk, mengepalkan tangannya istrinya kini tidak memerlukan dirinya lagi.


"Pergilah, aku tidak mencintaimu lagi," jawaban dari Hana membuka pintu kamarnya. Agar Nathan segera pergi.


Pemuda itu berjalan mendekati pintu tertunduk kecewa. Namun...


Dengan cepat pintu kamar ditutupnya, dikuncinya, kemudian memasukkan kunci kebalik celana panjangnya. Tepatnya ke balik boxernya.


"Kita terkurung disini, kalau ingin aku keluar ambil kuncinya, dengan tanganmu di balik boxerku," ucapnya tersenyum penuh kemenangan.


Hana berjalan hendak mengambil phoncellnya yang ada diatas meja. Tapi kaki panjang Nathan bergerak lebih cepat, menyusulnya, melempar handphone dari balkon, menuju taman, hal terakhir yang dilakukannya, mengunci balkon. Melempar kuncinya dari jendela berteralis besi.


Sedangkan Hana kini meraih gagang telfon,"Halo penjaga..." baru satu kata, sambungannya sudah terputus. Kabelnya digunting oleh Nathan.


"A...aku akan teriak!!" ucap Hana gelagapan.


"Ada perendam suara di setiap ruangan rumah ini. Aku sudah sempat berkeliling, saat mencarimu kemarin," jawabnya kali ini tidak akan kalah taktik dari istrinya."Jika mau kuncinya, ambil saja!!" ucapnya lagi tidak tahu malu, memajukan pinggangnya.


Hana mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar. Dari dulu suaminya memang seperti ini bukan? Bertingkah aneh, Hana yang awalnya panik Nathan akan berbuat kasar atau melecehkannya, kini jauh lebih tenang.


"Apa maumu? Kembalilah, menikah dengan Angel," ucapnya menatap sinis, duduk di kursi meja riasnya.


Nathan mendekat, membungkuk menatap wajah Hana baik-baik."Tidak peduli kamu tidur dengan Shin, atau ada anaknya dalam rahimmu. Kamu tetap istri seorang Jonathan Northan,"


"Jono sebentar lagi kita bercerai sesuai keinginanmu. Biarkan aku bahagia ya?" pintanya, menunjukkan jari manisnya yang tanpa cincin."Kakekku bahkan sudah membuang cincin pernikahan kita, tidak akan ada jalan untuk kembali. Jadi pergilah ke kamar mandi, ambil kunci di boxermu, cuci bersih kunci kamarku. Silahkan keluar..."


"Hana tidak mencintai Jono lagi?" tanyanya memelas.

__ADS_1


Hana menggeleng."Sudah tidak lagi,"


Nathan memijit pelipisnya sendiri,"Aku sudah menyiapkan kediaman pribadi untuk kita di kota, lengkap dengan pelayan dan supir pribadi. Kamu bisa berbelanja sesuka hati..."ucapnya menunjukkan tiga kartu black card.


"Aku adalah anak juragan Dirga yang hidup di desa. Tidak bisa pakai kartu kalau untuk belanja di warung," Hana mengembalikan padanya.


Nathan menghela napas kasar, mendekati Hana."Tidak mencintaiku lagi?" tanyanya, menatap mata istrinya.


Wanita itu mengangguk."Pulanglah! Angel menunggumu," jawaban darinya.


Jemari tangannya mengepal, dirinya tidak akan menyerah begitu saja. Hanya ada satu cara, untuk mengikat istrinya, agar bergantung padanya.


"Kamu pernah melihatku mabuk saat di rumahku bukan. Aku terbiasa dengan pergaulan ala barat. Jadi untuk perpisahan, bagaimana jika kita minum. Aku janji, setelah minum akan mengembalikan kuncinya..." jawabnya tersenyum.


"Kita terkunci di sini, darimana mencari minuman? Lebih baik sekarang kamu keluar, pergi ke bandara, temui wanita yang kamu cintai, lalu menikah..." saran Hana.


Nathan tersenyum licik, disaat seperti ini Kelvin memang dapat diandalkannya."Aku sudah menyiapkannya..." jawaban dari mulutnya, menunjuk troli berisikan makanan, sebagai alasannya pada penjaga untuk ke kamar Hana. Sedangkan di rak paling bawahnya terdapat sekitar lima botol minuman keras, saran dari Kelvin jika permintaan maafnya tidak berhasil.


Hana menghela napas kasar, hanya minum sedikit tidak mungkin dirinya mabuk. Begitulah isi fikiran seseorang yang tidak pernah meminum minuman keras."Tapi hanya satu gelas, setelah itu buka pintunya,"


Minuman itu dituangkannya, hanya seperempat gelas."Ada yang ingin aku katakan padamu, sebelum kamu meminumnya. Aku dan Angel tidak pernah melakukan apapun, dulu saat aku masih menjadi pacarnya maupun saat ini,"


"Maaf, terlambat mengakuinya, aku mencintaimu..." lanjutnya, menyodorkan minuman ke hadapan istrinya.


Hana terdiam sesaat, bibirnya terasa kelu untuk berucap. Dengan cepat meminum seperempat gelas minuman yang diberikan Nathan."Aku tidak mencintaimu lagi. Setiap mengingat dan membayangkan kamu tidur dengannya! Aku sendiri...apa kamu pernah menyentuhku? Aku hanya gadis desa cacat di matamu," air mata Hana mengalir membasahi pipi putih pucatnya."Pergi!!" teriaknya.


Menyakitkan? Tentu saja, Nathan menyadarinya. Kata-kata buruk yang diucapkannya selama tiga tahun ini untuk menutupi perasaannya. Masih teringat jelas dibenaknya, pertama kali bertemu dengan Hana. Menganggapnya pelit? Bukan tipikal istri idaman? Memang benar, wanita mandiri yang tidak tergantung pada dirinya. Namun, inilah istrinya, Hana...


Pipi itu ditangkup kedua jemari tangannya saling menatap memejamkan dua pasang mata sayu mereka. Sejenak kerinduan kala dua bibir itu bertemu dirasakannya. Bergerak membuainya, ini benar-benar terasa berbeda. Debaran hati yang cepat. Tidak memiliki pijakan rasanya, memegang tubuh Hana erat.


Pangutan pelan yang terlepas."Maaf, aku akan pulang. Jangan menagis, kamu berhak untuk bahagia..." ucapnya berurai air mata.

__ADS_1


Merelakan Hana mungkin itulah yang terbaik, rencana Kelvin tidak ada artinya sama sekali. Hana benar, mungkin dirinya hanya dapat menjaga dan mencintainya dari jauh. Jika itu untuk kebahagiaannya.


"Hana, temukan pria yang baik untukmu. Aku mencintaimu, selalu, ketahuilah aku tidak mencintai Angel lagi. Aku bodoh karena sudah mengelak perasanku..." kata-kata terakhir yang diucapkannya berjalan pergi menuju pintu.


Tangan Hana mengepal, air matanya mengalir semakin deras, seharusnya dirinya bahagia. Tapi tidak, pemuda lucu pembuat masalah miliknya...


Dirinya belum benar-benar mabuk, tiba-tiba memeluk Nathan dari belakang. Entah kenapa dirinya yang egois kembali, tidak ingin Nathan pergi.


Pemuda itu berbalik, wajah istrinya terlihat jelas dalam kamar tanpa penerangan sama sekali. Hanya lampu tidur dan sinar bulan yang menembus pintu balkon dan jendela kamar.


"Jangan pergi..." ucapnya dalam kebodohan. Anggaplah dirinya bodoh dan egois masih mencintai Nathan hingga saat ini. Pemuda yang selalu menghiburnya.


Air mata Hana dihapus jemari tangannya."Kamu tidak cacat dari awal. Akulah yang cacat, sudah buta tidak dapat melihat betapa menawannya istriku. Akulah yang tuli, tidak pernah mau mendengar betapa baiknya hati istriku. Akulah yang lumpuh, karena tidak bisa menjauh darimu,"


"Aku merindukanmu, dua bulan ini selalu kamu yang ada di fikiranku. Hingga saat kamu mendatangi rumahku, aku menganggapnya sebagai halusinasi. Masih tidak mengakui aku mencintaimu, aku bukan lagi bodoh, panggillah aku idiot..." ucapnya menatap dalam mata istrinya yang hanya terdiam bimbang.


"Apa kamu mencintaiku?" tanyanya berbisik dengan mata mulai sayu, merelakan segalanya. Kepalanya sedikit dimiringkan, hendak mencapai bibir itu lagi.


Hana hanya terdiam, tidak menjawab. Perasaan sakit yang masih ada. Namun semuanya terasa lebih sulit lagi kala dirinya tidak ingin Nathan pergi. Satu-satunya pria yang bersamanya 3 tahun ini. Matanya terpejam dengan ragu, kala sepasang bibir kembali bersentuhan.


Bersambung


...Aku adalah pria paling bodoh di dunia ini, aku tahu itu......


...Aku bahkan tidak berhak untuk bahagia mendapatkanmu kembali. Namun aku ingin serakah......


...Mendapatkan hatimu kembali, menjadikanmu, ibu dari anak-anakku kelak......


...Aku lumpuh seumur hidupku, sebab kini, mata, hidung, telinga dan langkahku hanya tertuju padamu......


...Karena aku sudah menyadari...tidak mampu mencintai orang lain......

__ADS_1


...Hanya Hana......


Jonathan Northan...


__ADS_2