
Bahkan tidak diberikan sarapan? Nathan menghela napas kasar, dirinya diusir lagi. Berjalan menelusuri jalan pedesaan, menuju warung terdekat, satu piring nasi lengkap dengan lauknya dipesannya.
Makan satu suap demi satu suap, menghela napas kasar."Jepang?" gumamnya, berfikir sedang apa istrinya. Apa Hana mengerti bahasa Jepang? Apa sang kakek orang yang kaku? Entahlah, Nathan kembali menyendok nasi, asalkan mendapatkan alamatnya, dirinya akan melakukan apapun, menyusulnya ke Jepang.
Hingga beberapa warga desa yang tengah menikmati kopinya sebelum berangkat meladang, melirik ke arahnya. Mulai berbisik-bisik, menggunjingkan tentang Jono. Suara kecil yang sejatinya masih bisa didengar olehnya.
"Itu Jono kan? Menantu juragan yang pergi ke kota. Malah berselingkuh di sana..." tanya salah seorang warga desa memakai baju kaos merah kasak-kusuk tidak ingin pembicaraan mereka didengar oleh Nathan.
Warga lainnya yang berkumis, ikut berbisik,"Iya, masih punya nyali dia kemari!? Sudah punya hutang ke juragan, tidak pernah memberi nafkah ke istri, di tambah selingkuh. Kalau saya jadi juragan sudah saya pukul pipi kanan, pukul pipi kiri,"
Sabar Nathan, sabar... orang sabar perjakanya di ambil Hana... batinnya, mengelus dada, kembali makan.
Hingga seorang pria paruh baya yang botak mengambil pisang goreng, memesan segelas kopi, ikut duduk diantara mereka yang membicarakan menantu Dirga."Hana beruntung ya, suaminya gagah badannya seperti model majalah pakaian dalam pria. Kelihatan ulet, bertanggung jawab,"
Nathan mulai membenahi posisi duduknya, tersenyum-senyum sendiri menerima pujian. Bentuk badanku memang bagus, presiden direktur yang ulet bertanggung jawab jika sudah punya anak nanti... batinnya bangga.
Pria paruh baya berkumis, membenarkan,"Gagah seperti juragan, hanya kulitnya putih bersih. Sebentar lagi juragan pasti akan punya cucu! Gagah begitu terobos, bobol sekali langsung jadi,"
Nathan menghela napas kasar, apa benar sekali saja dirinya mengerjakan proyek yang dulu ditundanya, akan langsung jadi. Dirinya benar-benar merindukan Hana. Pemuda itu berseri-seri mengaduk-aduk makanannya.
Hingga sang pria berbaju merah menyesap kopinya, kemudian meletakkannya di atas meja."Calon menantu juragan yang baru bukan? Orang Jepang yang sering mandi di sungai. Iya, memang cocok menjadi menantu juragan setelah bercerai dengan Jono. Mungkin kakek Hana memang mengirimkannya untuk dijodohkan dengan Hana,"
Seketika sendok yang dipegang Nathan terjatuh, Hana akan dijodohkan? Dirinya dibuang? Dicampakkan?
"Gagah, mapan, kelihatan bertanggung jawab dan pintar. Memang pantas menjadi menantu juragan, mungkin karena itu juragan langsung ingin Hana bercerai setelah tau Jono berselingkuh," ucap sang pria botak.
"A...a...aku akan dibuang oleh ayah? Digantikan dengan anak penurut yang lebih baik," gumamnya dengan suara kecil.
Semua memori terbayang, Hana mungkin sudah akan dijodohkan, menerima perjodohan, apa juga sudah mulai berhubungan layaknya suami-istri, membalas dirinya yang dianggap berselingkuh. Bagaimana cara menjelaskannya sekaran? Jika Hana dihamili pria lain?
__ADS_1
Tidak, tidak boleh Hana hanya miliknya, walaupun telah dihamili pria lain, tetaplah istrinya. Walaupun anak hasil perselingkuhan, tetap anaknya. Tiga tahun dirinya saling mengenal, perlahan mencintainya tanpa disadarinya, kemudian kandas begitu saja? Tida boleh, benar-benar tidak boleh...
Nathan mulai bangkit, meminum es teh manis, mengeluarkan tiga lembar uang kertas seratus ribu rupiah."Sekalian yang dibeli mereka, kembaliannya ambil saja! Jonathan Northan, presiden direktur J.O Corporation yang membayar!!" ucapnya penuh penekanan, berjalan pergi dengan wajah angkuhnya, terlihat murka.
Orang-orang mulai berbisik-bisik...
"Presiden direktur? Presiden atau Direktur? Kalau direktur pimpinan perusahaan kan? Kalau Presiden kepala negara?" tanya salah seorang warga tidak mengerti. Diikuti dengan warga lainnya yang terdiam, tidak menjawab. Belum yakin atau benar-benar mengerti dengan status sosial/jabatan yang dikatakan Nathan.
***
Tidak terima tentu saja, Nathan melangkah dengan cepat. Berjalan kembali ke rumah mertuanya. Tepat disana didepan pintu gerbang pak Kirjo bersama dua pekerja lainnya, baru saja datang, tengah membawa catatan kedatangan dan pembelian pupuk.
"Berani-beraninya kamu datang lagi!!" bentak Kirjo, hendak melemparkan helm padanya. Dan kali ini dengan mudah Nathan menangkisnya.
Mendekati Krijo, merobohkannya dengan sekali gerakan membanting ke belakang. Merobohkan pria yang berbadan lebih besar darinya menggunakan berat badan pria itu sendiri.
Melangkah terlihat berkharisma saat ini, menatap sang mertua yang baru saja keluar. Bagaimana kaisar dari dua kerajaan yang saling berhadapan."Ada apa?" suara Dirga terdengar, mengenakan topi koboinya hendak pergi ke ladang, dengan posisi berdiri di tangga atas lebih tinggi dari tempat Nathan berdiri saat ini.
Sejenak Nathan terdiam, menatap tajam mengeluarkan aura dingin. Hingga...
"Ayah akan membuangku? Menggantikanku?" tanyanya memelas, bersamaan dengan air matanya yang mengalir segera diseka olehnya. Menatap ayah mertuanya, mengundang rasa simpati dan iba, berharap sang ayah mertua tidak benar-benar melakukannya.
"Iya, ayah akan menggantikan menantu tidak berbakti sepertimu," ucapnya dengan wajah serius, melewati Nathan.
"Ayah tega membuangku? Aku akan menjadi anak yang baik! Tidak akan nakal lagi! Akan menafkahi putrimu dengan seluruh asetku," Nathan berjalan mendekat, mendahului langkah Dirga, menghalangi kepergiannya."Jangan buang aku, aku masih menantumu,"
Dirga tersenyum, menghela napas kasar,"Aku akan memaafkanmu. Jika kakek Hana memaafkanmu," ucapnya, memberikan selembar kertas, berisikan alamat Hana di Jepang.
"Terimakasih ayah..." ucapnya menunduk, sembari tersenyum.
__ADS_1
"Jangan berterimakasih dulu, kakek Hana adalah feteran tentara Jepang. Dia mungkin akan menyuruh orang menembak kepalamu. Dor!!" ucapnya membentuk pistol dengan jarinya, menuding tepat di kepala Nathan. Kemudian menyalakan mesin mobil Jeep-nya.
Nathan membulatkan matanya, mengusap-usap dahinya, bagaikan benar-benar akan ditembak mati. Kali ini harus berhadapan dengan feteran tentara? Setelah mafia kampung, seorang feteran?
"Seharusnya aku tidak meninggalkan Hana. Jika saja, aku pergi ke kota membawanya, memperkenalkannya sebagai istriku, mungkin sekarang aku sedang malas berangkat ke kantor. Mengguncang tubuhnya, kemudian mengangkatnya, mandi bersamanya di bathtub..." gumamnya, menghela napas kasar.
"Jono!! Awas kamu!! Berani-beraninya pada orang tua!! Dimana sopan santunmu!!" teriak Kirjo, yang bangkit memegangi pinggangnya, diikuti dengan dua rekannya yang juga mulai bangkit.
"Maaf, aku tidak sengaja..." ucap Nathan melarikan diri dengan cepat. Dikejar oleh Kirjo dan dua pekerja gudang lainnya.
Dirga menghela kembali napasnya, masih duduk diatas mobil Jeep-nya."Benar-benar menantu pembuat masalah..." gumamnya, tidak menyangka akan mendapatkan menantu yang selalu mengacaukan hidup tenangnya.
***
Sementara itu, Kelvin menikmati teh serta cemilan jajanan pasar,"Hidup tenang ala pedesaan," gumamnya.
Joseph menatap baik-baik informasi dari informan di gadget miliknya,"Ini istri Nathan bukan?"
Kelvin melihatnya sekilas, kemudian mengangguk.
"Aku menyerah..." Joseph menghela napasnya, menyenderkan punggungnya di kursi kayu, kakek kandung Hana bukanlah orang yang bisa dihadapinya."Aku juga harus segera kembali ke perusahaan,"
"Menyerah? Jika istri Nathan berhasil kembali ke pelukannya, berikan aku salah satu villamu. Aku akan menemaninya dan membantunya pergi bersama ke Jepang," tawaran dari Kelvin.
"Plus mobil, jika kamu berhasil membuat Nathan menghamili istrinya," Joseph mengulurkan tangannya.
"Deal..."
Bersambung
__ADS_1