Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Oleh-oleh


__ADS_3

Hana yang biasanya tegar menitikan air matanya."Kamu bisa hidup bahagia mulai hari ini," ucapnya.


Nathan terdiam, ini hanya ilusi yang akan menghilang, fikirannya limbung sulit membedakan ilusi dan kenyataan. Hingga bantahan terakhir diucapkannya,"Aku bahagia..." gumamnya dengan tubuh masih dipapah oleh Kelvin.


"Hana, dia ada dalam kondisi mabuk jadi..." kata-kata Kelvin terpotong, Hana menghela napas kasar.


"Aku tidak apa-apa, sudah terbiasa mendengarnya," wanita itu berusaha untuk tetap tersenyum, tertunduk sesaat, mungkin dari awal perasaannya memang tidak berbalas.


Joseph memijit pelipisnya sendiri,"Antar dia ke kamarnya!!" perintahnya, sudah tidak peduli dengan rumah tangga adiknya lagi. Terserah jika Nathan malam ini yang sekamar dengan Angel akan berhubungan atau melakukan apapun.


Seakan ingin adiknya yang sulit diatur tinggal terpisah dengannya. Cinta yang benar-benar tidak berdasar pada Angel, tidak menggunakan logikanya.


Matanya menelisik, mengamati Hana yang masih tertunduk. Joseph berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Hana yang duduk diatas kursi roda,"Aku minta maaf atas nama adikku,"


Hana menggeleng,"Ini salahku, bukan kesalahanmu. Aku yang memaksanya untuk bersedia menikah denganku. Gugatan ke pengadilan akan aku ajukan segera,"


"Pak Kirjo, ayo kita pulang," lanjutnya.


Kursi rodanya digerakkan oleh seorang pria paruh baya, wanita cantik itu hanya tersenyum, lebih tepatnya pura-pura tersenyum. Sudah menyiapkan hatinya dari awal pernikahannya untuk sebuah perpisahan.


Nathan yang dipapah menaiki tangga lantai dua sedikit melirik ke arah pintu utama. Hana ada disana, wanita yang cantik yang dirindukannya. Kursi roda istrinya tengah digerakkan untuk pergi,"Aku merindukanmu..." gumamnya menitikan air matanya, pada akhirnya mengakui segalanya. Pengakuan yang tidak didengar oleh Hana, wanita yang telah pergi meninggalkannya.


"Iya... iya...iya... aku tau kamu begitu merindukan Angel. Aku tau, karena itulah kamu akan menjadi duda, menikahlah dengan Angel setelah ini, aku tidak peduli lagi," komat-kamit mulut Kelvin yang memapah Nathan kesal.


***


Truk pengangkut beras melaju meninggalkan rumah besar di tengah pusat kota. Hana hanya terdiam menatap ke arah jalan raya, hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu lalang, terasa asing baginya. Mungkin Dirga benar, hanya di desa rumahnya. Satu-satunya tempat untuknya pulang.


Menyakitkan? Tentu saja ciuman itu masih terasa hingga kini, tawa dirinya kala Nathan selalu menghiburnya dengan status sahabat dulu. Namun, semua berubah setelah status mereka menjadi sepasang suami-istri.


Terasa lebih menyakitkan, tetap tertawa dan tersenyum di depan pria yang selalu mengatakan tidak mencintainya. Kini semuanya telah berakhir, Nathan mengatakan dirinya bahagia...


Itu sudah cukup, mengakhiri segalanya...


"Hana?" pak Kirjo mengalihkan pandangannya sejenak, kemudian kembali fokus ke jalan raya. Wajah wanita itu yang basah dengan air mata terlihat sekilas.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, boleh aku yang menyetir?" tanyanya menghapus air matanya sembari tersenyum.


Pak Kirjo mengganguk, menepikan kendaraannya di lapangan kosong. Membiarkan Hana yang sejatinya sudah dapat berjalan mengemudikan truk menuju kampung halaman mereka.


Mungkin dengan kesibukan, perasaan sakitnya akan dapat dilupakan perlahan. Mencari kebahagiaannya sendiri, seorang wanita mandiri yang cerdas.


Matahari perlahan mulai terbit, wajah Hana masih terlihat fokus pada jalanan di hadapannya.


"Lain kali kalau ingin menikah periksa dulu KTP-nya, orang desa atau orang kota..." sindir Kirjo memulai pembicaraan.


"Lain kali Hana periksa akte kelahirannya sekalian," suara tawanya terdengar, berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Hana, anak buah kakekmu yang katanya dari Jepang. Dia itu robot ya? Kenapa tidak banyak bicara, diberi makanan tidak mau. Lebih baik periksa baterainya, charge kalau sudah habis. Agar baterainya tidak kembung," pak Kirjo berusaha membuat lelucon.


"Lain kali saat mandi di sungai, pak Kirjo intip saja dimana letak beterainya ..."


Banyak hal menyakitkan terjadi dalam hidupnya, namun juga banyak orang-orang yang setia untuk menghiburnya. Rasa sakit yang dapat tertutup sementara oleh suara tawa.


***


Istrinya mengatakan untuk berpisah dengannya, pergi memalingkan wajah darinya dengan diantar pergi oleh pak Kirjo. Hanya sebuah mimpi, namun terasa nyata, menatap jemari tangannya sendiri yang gemetar ketakutan jika itu memang terjadi.


Namun tidak mungkin, Hana bahkan tidak mengetahui dimana rumahnya. Seakan melupakan istrinya pernah melihat alamat di KTP lamanya.


"Nathan, kenapa aku bisa sampai sini?" tanya Angel yang baru terbangun di tempat tidurnya.


"Pergi, aku sedang ingin sendiri," gumamnya.


"Kamu bilang apa?" Angel mengenyitkan keningnya memastikan pendengarannya.


"Pergi!! Aku sedang ingin sendiri!!" bentak Nathan dengan nada tinggi, sebuah mimpi yang benar-benar mempengaruhinya. Menginginkan ketenangan, berusaha melupakan mimpi terburuk baginya.


"Iya!! Iya!!" Angel menghela napas kasar, meraih phonecell dan tasnya yang ada diatas meja. Berjalan memegangi kepalanya yang masih pusing.


Nathan hanya terdiam berbaring di sofa hingga tengah hari. Haruskah dirinya kembali ke desa? Mungkin dirinya sudah menjadi gila, karena terlalu merindukan istrinya yang hanya duduk di kursi rodanya.

__ADS_1


"Hana..." lirihnya bahkan tidak memiliki satupun foto istrinya.


Mungkin perkataan Dicky benar, dirinya tidak boleh mengambil keputusan terburu-buru. Satu bulan lagi, hanya satu bulan lagi, dirinya akan kembali ke desa. Mengubur identitasnya sebagai seorang Nathan, jika memang kebahagiaannya tidak berada di sini. Hidup di desa bersama Hana, atau membawanya ke kota memperkenalkannya dengan bangga sebagai istri seorang Jonathan Northan, presiden direktur perusahaan terkemuka.


***


Beberapa minggu berlalu...


Joseph enggan bicara dengannya, bahkan terkesan menghindarinya entah kenapa. Sedangkan Kelvin bersikap lebih dingin lagi, bagaikan mesin yang dapat diberi perintah, entah apa yang terjadi dengan dua orang tersebut.


Satu minggu lagi, hanya tinggal satu minggu lagi, dirinya akan menemui Hana. Hari ini dirinya berjalan menuju toko perhiasan, sungguh miris bukan? Bahkan dirinya tidak pernah membelikan makanan yang disukai Hana. Namun kali ini, dirinya akan melakukannya dengan lebih baik.


"Ada set perhiasan dengan motif bunga sakura?" tanyanya.


Sang pelayan toko mengeluarkan beberapa koleksi mereka, dengan cermat Nathan memilihnya. Menatap set perhiasan dengan batu berlian putih menghiasinya, dirangkai bagaikan bunga sakura.


Putih dan mengeluarkan aura cerah seperti istrinya. Nathan tersenyum, tidak menyadari segalanya. Tidak mengetahui apapun tentang mimpi buruknya. Yang sejatinya bukan hanya sekedar mimpi.


Hari ini dirinya menghabiskan waktu istirahat siangnya, usai bertemu klien dengan membeli banyak barang. Bahkan sepatu dan topi kulit untuk Dirga.


Membawa banyak paperbag, membuka pintu ruangannya. Sebuah amplop ada disana dengan sepucuk surat di dalamnya. Nathan meletakkan barang-barangnya di atas sofa, kemudian membaca surat yang ada dalam amplop.


Tangannya gemetar, mencengkram erat surat gugatan perceraian, sekaligus panggilan sidang dari pengadilan.


"Kelvin... Kelvin!!" panggilnya dengan mata memerah menahan rasa sesak yang seakan menghujam dadanya.


"Iya... tuan..." pemuda itu melangkah masuk.


"Kita ke desa Kalasaka hari ini!! Hana ingin berpisah, dia tidak boleh melakukan ini..." ucapnya dengan nada suara bergetar, Nathan tertunduk, merasakan bagaikan kehilangan pijakan.


Kelvin tidak menjawab hanya mengenyitkan keningnya, terdiam sesaat, detik pertama masih diam, detik kedua, hingga detik ketiga.


Suara tawanya terdengar nyaring,"Mampus!!" ucapnya tertawa semakin lepas, lebih kencang lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2