
Salju perlahan telah mencair, masih sedikit terasa dingin. Namun perlahan mulai menghangat, air di sungai yang permukaannya membeku mulai mencair.
"Apa aku sudah tampan?" tanya Nathan berusaha menunjukkan pesonanya sedominan mungkin. Guna untuk mendapatkan istrinya kembali.
"Dia menyukaimu, bukan karena kamu kaya dan tampan. Tapi karena kamu lucu dan ceroboh saat menjadi Jono. Berhentilah menjadi presiden direktur mendominasi," Kelvin menghela napas kasar, menatap majikannya, yang bahkan bersikap lebih royal dan gila lagi.
Potongan rambut yang berbeda, pakaian terbaik yang dimilikinya. Setelah jas bergaya kasual, membawa beberapa paperbag, yang isinya perhiasan entah berapa set berlian dengan kwalitas terbaik.
"Aku membaca di forum diskusi, wanita paling menyukai pria tampan, mapan dan royal. Dengan begini, begitu turun dari mobil, menunjukkan perhiasan. Hana akan langsung mencabut gugatan perceraiannya," jawabannya percaya diri.
"Dan pada dasarnya hal yang paling dibenci wanita, tidak dapat dimaafkan olehnya adalah diduakan. Aku benar-benar serius, mungkin Hana menolak untuk kamu mandikan, karena saat kalian hampir berhubungan ketika mabuk, kamu menyebut nama Angel," cibir Kelvin berjalan meninggalkan majikannya, yang masih memperhatikan penampilannya di cermin.
Nathan seketika menoleh padanya, berjalan mengikutinya,"Tidak mungkin!! Aku hanya menginginkan Hana kali ini. Berusaha untuk kesembuhannya, jika tidak sembuh aku akan merawatnya seumur hidupku,"
Kelvin menghentikan langkahnya,"Merawatnya seumur hidupmu? Bilang saja otak mesummu itu ingin bercinta dengan istrimu saat memandikannya. Mengangkatnya ke tempat tidur setiap malam setelah mengantarkannya buang air kecil, kemudian melucuti pakaiannya,"
Nathan menghela napas kasar,"Benar, tapi diluar dari itu aku menyadari tidak dapat menyentuh wanita lain, selain dirinya. Hanya dapat menyainginya,"
Kevin kembali melangkah di area kedatangan penumpang dengan Nathan, bibirnya tersenyum. Jika Nathan sudah menyadari perasaannya ini akan lebih mudah.
Namun apa benar?
Kedua orang itu menatap dari dalam mobil sewaan mereka. Telah meletakkan barang-barangnya dalam hotel. Dan kini ada di hadapan rumah yang berdiri megah.
"I...ini tidak salah kan?" tanya Kelvin memastikan alamat yang diberikan Dirga.
Nathan terdiam sejenak, menghela napas kasar, kemudian tertawa,"Dia ternyata cucu tuan Fu, sama kayanya denganku. Pesaing bisnis yang sering menantangku. Jadi yang ingin merebut istriku, Shin!?"
"Tunjukkan identitas," penjaga gerbang, menadahkan tangannya. Nathan dan Kelvin, menunjukkan paspor mereka dari dalam mobil. Kembali melajukan mobilnya memasuki kediaman yang cukup luas, setelah diijinkan masuk.
Seorang pelayan profesional membimbing mereka memasuki ruang tamu. Duduk diam sejenak di sofa dengan raut wajah tegang.
Hingga pemuda itu turun dengan rambutnya yang setengah kering, memakai jubah mandi, menampakkan sebagian otot perut dan dadanya, membawa secangkir coklat panas ditangannya. Duduk dihadapan mereka, bersamaan dengan pelayan yang menyajikan teh hangat untuk Kelvin dan Nathan.
__ADS_1
"Kalian sudah berhasil mengambil alih kerjasama proyek pembangunan tower, lalu kenapa kemari?" tanyanya to the points.
"Mengambil istriku, dia disini bukan?" tanya Nathan menebar aura permusuhan.
"Istri? Tidak ada wanita bayaran disini. Untuk menjadi pelayan perlu seleksi ketat. Entah dimana kamu mendapatkan informasi itu, tapi semuanya palsu. Jika tidak ada urusan lain, pergilah, aku sibuk," jawaban dari mulut Shin terlihat tenang.
Nathan tertawa kecil, kesal,"Wanita bayaran?"
Kelvin menghela napas kasar,"Kamu memang memiliki citra itu kan? Berteman dengan pergaulan bebas ala barat," cibirnya pada Nathan.
Sedangkan Nathan menoleh padanya menatap tajam. Kesal? Tentu saja sekretarisnya sendiri tidak berpihak padanya samasekali.
"Aku memang benar! Hampir semua wanita yang dekat denganmu hampir telanjang. Tidak pernah meniduri salah satu dari mereka? Aku pernah sempat mengira senjatamu tidak berfungsi," cibir Kelvin, dapat mengolok-olok bos-nya dengan bebas kali ini, mengingat dirinya ada dalam perlindungan Joseph.
Nathan terdiam sejenak, memang hampir semua teman-temannya akrab dengan minuman keras dan bercinta tanpa ikatan. Dirinya tidak dapat membantah, yang dikatakan Kelvin juga tidak salah sama sekali, senjatanya juga tidak pernah difungsikan untuk wanita-wanita yang menyukainya.
Alasannya? Entahlah, tidak ada yang terasa benar-benar menarik perhatiannya. Melihat salah satu dari mereka tidak mengenakan sehelai benangpun menari dalam keadaan mabuk dirinya hanya tertawa tidak bereaksi sama sekali.
Mulut cerewet yang dirindukannya, wajah teduh yang benar-benar cantik.
"Sudah aku bilang istrimu tidak ada disini," Shin menatap jenuh, dapat dibayangkan wanita memakai gaun dengan belahan dada terbuka, pakaian setipis seminim mungkin, ala pergaulan seorang Jonathan Northan.
Nathan menghela napas kasar, jika mengatakan istrinya adalah Hana mungkin dirinya akan dihalangi untuk bertemu secara langsung.
Senyuman menyungging di wajahnya, bukan sifat mendominasi seorang presiden direktur, namun sifat tengil seorang menantu juragan Dirga yang akan digunakannya.
"Aku ingin pinjam toilet, boleh kan? Aku tidak terbiasa dengan kecanggihan toilet bandara," jawaban tidak masuk akal darinya.
"Siapa yang akan percaya, pergi!" hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulut Shin.
"Kamu mau aku membasahi sofamu? Bukankah aku terkenal menjalani pergaulan bebas? Bagaimana jika aku memiliki penyakit menular?" ucap Nathan tidak tahu malu.
"Iya!! Tapi setelah selesai langsung pergi!!" ucap Shin, terlihat jengkel.
__ADS_1
Nathan mengenyitkan keningnya, berjalan menuju toilet dibimbing seorang pelayan. Hingga, senyuman menyungging di wajahnya, memasuki toilet seorang diri.
Matanya menelisik, mengamati kamar mandi yang cukup luas, berpegangan pada tirai dekat bathtub, kemudian memanjat, menaiki fentilasi tempat tersebut.
Merangkak sedikit demi sedikit,"Sial!! Pakaianku jadi kotor!!" gumamnya, masih merangkak di saluran fentilasi udara. Hingga pada akhirnya berhasil turun ke salah satu kamar, membuka jendelanya. Menelusuri lorong demi lorong, mengendap-endap tidak ingin terlihat pelayan atau penjaga.
Tidak disangka rumah tuan Fu seluas ini, tidak simpel seperti rumahnya dan Joseph. Berjalan melewati beberapa lorong, foto muda sang kakek terlihat, sebuah foto hitam putih. Memakai pakaian prajurit, dengan senjata api ada di pinggangnya. Benar perkataan ayah mertuanya, kesini sama dengan mengantar nyawa.
Nathan menelan ludahnya, hendak kembali ke ruang tamu. Hanya kembali selangkah, kemudian berbalik, wajah cantik istrinya terbayang lagi. Apa yang sedang dilakukan Hana? Apa juga merindukannya?
Tidak dirinya tidak ingin kembali sebelum bertemu dengan Hana menjelaskan segalanya. Mengatakan perasaan yang baru disadarinya.
Pemuda itu mengepalkan tangannya tersenyum. Ini adalah kesalahannya? Apa yang harus dilakukannya jika Hana tidak mau menerimanya kembali?
Suara seruling terdengar, mengalihkan pandangannya ke area halaman rumah. Seorang wanita ada disana, duduk seorang diri, menatap hamparan bunga putih yang indah.
***
Sementara itu, Kelvin kini benar-benar terlihat cemas. Shin menatap tajam padanya, tidak bergeming sama sekali...
"Tuan, dia menghilang, memanjat melalui fentilasi ..." ucap sang pelayan yang telah lama menunggu Nathan di depan toilet.
Aku akan mati disini... batin Kelvin gemetaran.
Shin mulai bangkit,"Tangkap dia!" perintahnya pada pengawal.
"A...aku tidak tau apa-apa!!" ucap Kelvin yang kedua lengannya dipegangi dua penjaga.
Pemuda itu mendekat padanya, mencengkram kuat pipi Kelvin dengan satu tangannya,"Apa yang ingin kalian curi dari rumah ini? Data perusahaan? atau rencana bisnis?"
"Hana!! Istri Nathan bernama Hana, dia kemari untuk menjemputnya!!" ucapnya ketakutan, menatap wajah dingin dari Shin.
Bersambung
__ADS_1