
"Hah ...hhhh..." deru napas yang terasa menerpa wajah mereka, kala pangutan itu terlepas.
Kedua mata yang kembali saling menatap, kali ini Nathan mendekapnya lebih erat, kembali bersentuhan dengan bibir itu, dua lidah yang bermain, bergerak membelit mesra, dua tubuh yang limbung akibat ciuman yang memabukkan. Hana mencengkram kemeja yang dipakai Nathan seakan kehilangan pijakannya. Hanya bergantung padanya.
"Tolong, aku tidak ingin berpisah, apa bisa? Tidak akan ada nama wanita lain yang akan menggangu kita lagi," ucapnya menyentuh salah satu pipi Hana, menatap kulit putih yang terkena cahaya bulan.
Hana menggeleng pelan, masih terasa menyakitkan baginya. Ragu untuk kembali bersama pria yang dicintainya.
Nathan memeluknya erat."Apa yang kamu inginkan? Aku akan berusaha memenuhinya, tolong temani aku hingga tua nanti..." pintanya.
Air mata wanita itu mengalir, masih mencintainya? Mungkin itulah yang terasa, tapi wanita yang tidak ada harga diri, itulah dirinya. Hati dan fikiran yang benar-benar bertentangan.
"Jono..." panggilnya.
"Em? Jika kamu menginginkan aku pergi, aku akan pergi. Maaf... suamimu yang bodoh..." ucapnya masih mendekap tubuh Hana.
"Kamu bodoh..." suara tangisannya terdengar menjerit, untuk pertama kalinya benar-benar menangis di hadapan suaminya, dalam keadaan Nathan yang sadar. Membalas pelukannya erat, rapuh? Dirinya benar-benar rapuh saat ini."Jono benar-benar bodoh!!" teriaknya, membalas dekapannya.
"Maaf, tidak pernah menjadi suami yang sempurna, untuk istriku yang sempurna..." ucapnya melonggarkan pelukannya.
Dua pasang mata yang kembali bertemu,"Aku mencintaimu... bahkan kelemahanmu..."
Kata-kata yang keluar dari mulut Nathan, menatap Han sahabatnya dengan istrinya membuatnya menyadari, bukan harus fisik yang sempurna, namun hati yang harus sempurna untuk mengasihinya. Dan benar saja, kebahagiaan yang didapatkannya kala hatinya berdebar untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya.
Bahagia saat memilih barang-barang untuk istrinya, berharap Hana yang tinggal di desa akan tersenyum kala menggunakannya. Hanya dengan membayangkan senyumannya, kebahagiaan yang lebih terasa kala menatap wajah itu lagi.
Hana hanya terdiam dalam tangisannya.
"Apa tidak ada kesempatan lagi?" tanya Nathan."Hana...?"
__ADS_1
"A...aku masih mencintai orang bodoh sepertimu! Pria br*ngsek!" teriaknya, hanya itulah jawabannya yang merasa lebih rendah dari apapun."Aku bahkan lebih rendah dari wanita penghibur..."
Nathan menggeleng."Tidak, kamu wanita yang aku cintai. Jonathan Northan telah takluk padamu. Aku hanya menginginkan anak darimu, hanya menginginkanmu untuk menjadi ibu dari anak-anakku, bukan wanita lain. Aku yang terlalu bodoh, selalu mengingkari perasaanku dengan kata-kata kasar..."
"Kita ulangi dari awal, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku? Sebagai gantinya, aku akan menemanimu kala susah maupun senang, kala sakit maupun sehat. Hingga maut memisahkan kita. Tidak, maksudku bahkan kematianpun tidak akan dapat memisahkan kita..." lanjutnya.
"Mulut pedasmu kenapa jadi manis," jerit Hana menangis lebih kencang.
"Agar kamu selalu mencintaiku, seperti ayam kecap pedas manis yang selalu tersaji di rumah ayah mertua," jawaban dari Jono, menghapus air mata istrinya.
"Aku tidak pernah tidur dengan wanita lain sama sekali. Karena itu, terkadang aku melarikan diri saat memandikanmu, sambil berkata-kata kasar," lanjutnya menahan rasa malunya.
Entah kenapa tingkah konyol menantu dari juragan Dirga kembali, membuka kancing kemejanya sendiri, kemudian membuangnya asal. Menampakan otot-otot perut dan dadanya yang tercetak sempurna."Kamu boleh melakukan apapun padaku, aku pasrah! Aku lebih rendah dari gigolo saat ini! Menerima apapun tanpa dibayar, menjual keperjakaanku dengan gratis!"
Inilah kenapa Hana tidak bisa marah jika sudah berhadapan dengannya. Makhluk ini benar-benar lucu sekaligus tidak tahu malu. Wanita itu berusaha agar tidak tertawa menipiskan bibirnya.
"Sentuhlah..." Nathan mengarahkan tangan Hana pada otot-ototnya.
Otot-otot itu dielusnya, bersamaan dengan Nathan yang menutup matanya. Menikmati sekaligus menahan diri, dengan cepat area sensitif bagian bawahnya bereaksi, menegang. Ini sungguh benar-benar sulit untuk ditahan. Kala jemari tangan itu menari di tubuhnya.
"Kamu yang rugi?" tanya Hana lagi.
"I...iya...aku pasrah," jawab Nathan gelagapan.
"Kalau begitu jangan bergerak." Hana berbuat keusilan lebih banyak lagi, leher Nathan dikecupnya.
Napas dingin wanita itu terasa di leher Nathan...Agh...tahan, Nathan tahan, jika kamu agresif, mungkin Hana akan mengira dirimu sering bermain dengan wanita lain, tapi... agghh... batinnya merasakan darahnya berdesir hebat.
"Sshhhh..." desisnya, kemudian menghela napas kasar, bagaikan seorang pertapa yang tengah digoda siluman cantik, tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka. Walaupun aslinya masih berpakaian lengkap. Hanya Nathan yang melepaskan kemejanya.
__ADS_1
"Tidak mengaku juga? Siapa yang rugi?" tanya Hana lagi, lagipula ini suaminya, semua anggota tubuh Hana sudah pernah dilihat oleh Nathan. Otot dada Nathan dipermainkan tangannya, meraba tempat yang tercetak keras sempurna itu. Bahkan telunjuknya menyentuh-nyentuh ujung dadanya.
"Hana hentikan..." pintanya, dengan deru napas tidak teratur.
"Katanya kamu yang akan rugi, dan aku boleh berbuat apapun. Kamu hanya akan pasrah, apa Jono sudah jadi pembohong sekarang?" tanyanya manja.
"Tidak! Terserah kamu mau apa, aku hanya akan diam," ucapnya cepat, mulai membuka matanya. Ini benar-benar Hana, istrinya, wanita yang perlahan dicintainya. Jantungnya berdegup lebih cepat lagi, sesak rasanya.
Dengan wanita lain? Tidak pernah ada yang menarik perhatiannya. Walau banyak diantara mereka yang hampir tidak mengenakan busana ke club'malam. Tapi Hana? Pakainya benar-benar lengkap, sepasang mata yang indah, bibirnya yang cerewet ingin dibungkam olehnya.
"Kamu berani membuka mata?" Hana tertawa kecil, tidak memiliki maksud apapun. Hanya menggoda pemuda ini, melihat lebih banyak tingkah lucunya.
Nathan mengangguk, tapi kali ini pemuda itu tidak bicara hanya terdiam. Tangan Hana turun ke bagian otot perutnya, mempermainkan pusarnya.
"Hana, kesabaranmu saat menghadapiku ada batasnya. Begitu juga dengan aku yang walaupun tidak pernah terbangun oleh wanita lain, kini dapat terbangun olehmu. Ular yang selalu tidur tidak pernah terbangun, kecuali saat mimpi basah itupun juga karenamu,"
"Kamu tau berapa banyak bisa yang disimpannya? Pastinya sangat banyak saat menyembur nanti ..." ucap Nathan tersenyum miring. Tidak dapat mengontrol dirinya lagi.
"Kamu bilang apa?" tanya Hana tidak mengerti.
"Aku bilang, ambil kuncinya di boxerku, jangan ragu..." pinta Nathan, sudah kesulitan menahan dirinya. Ingin merasakan kenikmatan lebih banyak lagi.
Hana tidak menanggapinya dengan serius, mulai tertawa kecil. Kita anggap saja kelinci putih yang menertawakan serigala yang kelaparan, seekor serigala yang tidak pernah makan dari hari kelahirannya. Sungguh kelinci putih kecil tanpa kewaspadaan."Siapa yang rugi?" tanyanya lagi.
"Kamu yang rugi..." kali ini jawaban berbeda diucapkan Nathan. Mendekap tubuh Hana, mencium bibirnya lebih intens. Dekapan yang tidak mudah untuk dilepaskan.
Tang...tang...
Suara ikat pinggang yang terjatuh, membentur lantai dilepaskannya dengan terburu-buru.
__ADS_1
Bersambung