
Satu bulan yang lalu, desa Kalasaka...
Entah apa statusnya saat ini jika bercerai, janda? Tapi masih perawan? Tidak disangka olehnya, dirinya akan berakhir seperti ini. Berusaha tersenyum, mengemudikan truknya.
Beberapa kali singgah untuk membeli keperluan pertanian dan perkebunan. Hingga kembali ketika hari telah larut.
Wanita itu tidak tidur sama sekali, turun dari truk yang dikemudikannya.
"Hana..." panggil Dirga menatap ke arah putrinya yang pulang hanya bersama Kirjo.
Putrinya segera turun dari kursi pengemudi, memeluk Dirga erat,"Ayah, aku pulang..." ucapnya masih berusaha tersenyum.
Dirga menghela napasnya,"Statusmu adalah putri ayah. Putri dari juragan Dirga, tidak perlu mendengarkan omongan orang lain. Tidak perlu mengharapkan pria yang tidak mencintaimu. Mulai hari ini kamu sudah bebas seperti dulu," ucapnya mengelus punggung putrinya berusaha menenangkan.
Wanita yang biasanya tegar itu, pada akhirnya menitikan air matanya menyerah, menangis menjerit terisak,"Ayah...sakit..." lirihnya masih mengingat wanita cantik yang dibawa ke dalam kamar suaminya.
Kata-kata Nathan yang selalu menyakitinya, suami yang dipapah ke dalam kamar dengan seorang wanita cantik dalam keadaan mabuk. Mungkin, itulah sebuah kebahagiaan bagi Jono, bukan hidup dengannya di desa.
Bukan menemani dirinya dalam susah maupun senang. Sudah ada wanita lain yang mengisi hati suaminya."Jono...dia..." kata-kata Hana terhenti, Dirga melonggarkan pelukannya.
Mata memerah, dengan air mata yang membasahi pipi sang juragan jelas terlihat."Dia bukan Jono, anggap suamimu pergi bekerja di laut. Kemudian kapal yang ditumpanginya tenggelam, mayatnya tidak ditemukan. Orang yang kamu temui di kota adalah Jonathan Northan. Jono yang dulu menghiburmu sudah tidak ada lagi, berpisahlah! Lepaskan bocah angkuh itu," pintanya.
Hana mengangguk,"Ayah..." ucapnya kembali mendekap tubuh Dirga.
Ini mungkin terlalu sulit untuknya, bukan masalah lamanya waktu saling mengenal. Namun betapa dalam suaminya telah mengakar dalam lubuk hatinya.
Tidak ada satu detik pun yang dilupakannya, apakah Jono tidak bisa membuka hatinya sedikit saja? Terlalu melelahkan untuk menunggunya.
Mungkin ini titik terjenuh untuk meninggalkannya. Menghapus semua memori yang terlalu menyakitkan.
"Aku ingin menemui kakek, menemaninya hingga kakek sembuh," keputusan yang diambilnya. Ingin melupakan segalanya sejenak.
Menemani sang kakek setiap dihubungi olehnya selalu dalam kondisi tidak baik. Selang oksigen yang masih terpasang, jarum infus di pergelangan tangannya. Mungkin dengan bertemu dengan sang kakek dirinya dapat sepenuhnya melupakan Jono.
__ADS_1
"Temui kakekmu, hiburlah dirimu," ucapnya, mengelus punggung putrinya.
Ini mungkin lebih baik, terlalu banyak kenangan mereka disana.
***
Paspor, Visa, semua diurus Shin (anak angkat kakeknya) pria yang tidak banyak bicara namun memiliki cukup banyak koneksi. Tidak mempercayai Shin sepenuhnya mungkin membuat Dirga juga meminta Haikal menemani putrinya walaupun hanya tiga hari mengingat Haikal yang memiliki banyak pekerjaan di rumah sakit. Hanya untuk memastikan keadaan Hana disana saja.
Jadwal penerbangannya pukul tiga pagi. Semua barang-barang telah dipersiapkan olehnya. Kenangan yang terasa nyata, cinta sejati? Dirinya fikir itulah yang didapatkannya kala menemukan rasa nyaman, kala tertawa, kala merasakan jantungnya berdegup cepat.
Namun, itu bukanlah cinta sejati, Jono yang selalu mendorong kursi rodanya telah menghilang. Suami yang ikhlas merawatnya, hanya karena sebuah keterpaksaan. Dari awal pernikahan ini adalah kesalahannya.
Foto pernikahan diraihnya, Jono tidak tersenyum sama sekali. Berbeda dengan dirinya yang terlihat bahagia. Namun kini berbeda, sebuah spidol diraihnya.
Ekspresi sepasang pengantin dalam foto itu dirubahnya. Bibir Jono yang murung diganti dengan senyuman olehnya, sedangkan bibirnya yang tersenyum, berganti dengan murung. Karena itulah kenyataannya, kala selembar foto itu dirobeknya menjadi dua. Sebuah perpisahan, yang tertinggal.
Air matanya mengalir menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Menyangka pernikahan ini akan memiliki takdir bahagia pada akhirnya. Namun tidak sama sekali, surat gugatan perceraian di tandatanganinya. Meninggalkan foto pengantin yang telah robek menjadi dua dalam tempat sampah.
"Hana," Shin memanggil namanya, menatapnya yang masih tertunduk dalam tangisan. Tidak ada yang dapat dikatakan pemuda itu, hanya menunggu tangisan itu mereda, mencengkram erat pegangan koper miliknya.
"Kita berangkat..." Hana menghapus air matanya, berjalan pergi bersama Shin, meninggalkan kamar yang memiliki banyak kenangan bersama pria yang dicintainya.
***
Untuk pertama kalinya dirinya pergi ke bandara internasional. Matanya menelisik, mengamati orang-orang yang mungkin hanya dapat ditatapnya dari TV. Mata coklat, kulit putih pucat, badan tinggi besar, bahkan ada yang sekujur tubuhnya hitam, dengan rambut ikal.
Hanya mengikuti langkah Haikal dan Shin yang dilakukannya. Orang desa yang bahkan tidak pernah ke bandara. Siapa yang menyangka dirinya adalah istri dari pemilik J.O Corporation, tepatnya akan menjadi mantan istri, jika palu pengadilan telah diketuk.
"Hana, sejak kapan kamu bisa berjalan?" Haikal bertambah penasaran, namun sebelumnya enggan bertanya. Terlalu canggung rasanya, mengingat masa lalu mereka.
"Lebih dari satu tahun lalu, sebelum pernikahanku. Kakiku sempat dioperasi, ada dokter syaraf yang dapat menyembuhkannya. Lalu menjalani fisioterapi sedikit demi sedikit..." jawabnya tersenyum, dengan memakai celana jeans dan kaos biasa. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun Haikal melihat sosok Hana yang dulu sebelum kecelakaan terjadi.
Gadis tomboi yang ceria, selalu nampak bersinar, memiliki keanggunan tersendiri. Senyuman menyungging di wajah Haikal, Hana yang dulu sudah kembali. Ingin memilikinya pun tidak mungkin saat ini. Terlalu memalukan rasanya, mungkin jika sebuah keajaiban terjadi takdirnya akan kembali bersinggungan, itulah harapannya.
__ADS_1
"Kamu menyukainya? Kakek Fu, tidak akan senang," ucap Shin menarik koper Hana, agar berjalan lebih cepat guna menjauhi Haikal.
"Orang itu seperti robot..." gumam Haikal heran, ikut mempercepat langkahnya menuju area keberangkatan penumpang.
Beberapa puluh menit berlalu, pesawat telah landing. Burung besi perkasa yang terbang di angkasa membawa ratusan penumpang di dalamnya. Jemari tangan Hana meraba kaca jendela pesawat. Awan-awan terlihat bagaikan berada di bawahnya. Inikah rasanya menaiki pesawat?
Dirga yang tidak memiliki kerabat di luar pulau, tidak suka berlibur seperti putrinya. Membuat pasangan ayah dan anak itu sama sekali tidak pernah menaiki alat transportasi ini.
"Akhirnya aku naik pesawat!!" teriak Hana kegirangan dalam kursi kelas ekonomi.
"Shin tolong foto aku!!" pintanya memberikan kamera kecil miliknya, melakukan berbagai pose. Dengan Shin yang menggambil gambarnya.
Dia benar-benar cucu kandung kakek... batinnya menghela napas kasar.
"Jika ingin spot foto yang bagus sudah aku katakan gunakan jet pribadi," kata-kata yang keluar dari mulut Shin mengingat kaki panjangnya yang tidak leluasa di kursi kelas ekonomi.
Kedua makhluk yang menghimpitnya itu terdiam sejenak, kemudian tertawa kencang.
"Hana kamu dengar dia bilang jet pribadi!?" Haikal tertawa nyaring.
"Halusinasinya benar-benar parah, dia fikir kita ini crazy rich..." Hana menepuk pundak Shin sembari tertawa lebih kencang.
Hingga Haikal menghentikan tawanya,"Liburan dengan jet pribadi? Outfit seharga ratusan juta?"
"Murah banget!!" Hana menyahut kembali tertawa.
Sementara Shin yang duduk diantara mereka, mulai mengenakan earphonenya. Tidak tahan lagi rasanya melihat dua makhluk berisik ini.
Menyewa jet pribadi? Bukan menyewa lagi, kakek Fu bahkan mendatangkan salah satu jet pribadi miliknya yang biasanya disewakannya, khusus untuk menjemput cucunya tersayang.
Namun, yang terjadi, dua makhluk ini, langsung berjalan memesan tiket paling murah ke Jepang. Dan menertawakannya setiap mengatakan tentang jet pribadi. Sungguh ini sangat menyulitkan untuk Shin, menghadapi kedua orang ini.
Bersambung
__ADS_1