Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Temulawak


__ADS_3

Menunggu matahari terbenam, seakan hal yang lama bagi seorang Jono. Ikan diberinya makan, pengairan diaturnya. Karena lapar? Ingin beristirahat? Bukan karena itu, dirinya ingin membantu membersihkan tubuh istrinya. Sesuatu yang selalu membuatnya menelan ludah. Membuat celananya sesak, sensasi yang tidak pernah didapatkannya bahkan dari seorang Angel yang pernah mencoba menggodanya dengan duduk di pangkuannya tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.


Otak pria itu benar-benar sudah diracuni Hana, gemas untuk mencium bibirnya. Terkadang kagum dan kesal dengan kecerdasan sang wanita desa yang cacat.


Satu yang masih diyakininya, dirinya tidak mungkin mencintai seorang Hana. Hingga bayangan mesum dalam otaknya menghilang."Aku harus segera bercerai dengannya, sebelum dia terlalu pintar untuk meminta harta gono-gini nantinya," gumamnya, yang katanya benar-benar tidak mencintai istrinya.


Rencana tahap kedua kini dijalinnya, dirinya melirik para pekerja gudang. Memberi miras pada mereka akan mempermalukan nama Dirga. Dengan cepat ayah dan anak itu akan mengurus surat perpisahan.


Jono tersenyum, berjalan mendekati salah satu pekerja. Mulai memberanikan dirinya bertanya,"Pak, disini yang jual minuman keras dimana ya?"


"Warung yang paling ujung, dekat jembatan. Kenapa nak Jono bertanya?" tanyanya.


"Mau traktir minum semua orang..." jawabnya, tersenyum.


Berbekal uang yang diberikan Hana setiap bulannya cukup banyak, dirinya mengendarai mobil Jeep. Berhenti di sebuah warung kecil, pinggir jalan dekat jembatan."Apa disini benar-benar menjual miras?" begitulah fikirnya melihat warung kumuh yang tidak begitu besar.


Penjaga warung tengah sibuk melayani pelanggan sambil menggoreng pisang. Jono menghela napas enggan mengganggu, matanya menelisik mengamati minuman dengan dengan botol kaca hijau berderet. Menyerupai botol bir berukuran kecil.


"Mungkin ini minuman kerasnya," gumamnya dapat mengira-ngira.


"Pak saya mau beli ini 100 botol. Sekalian es batunya. Untuk pegawai digudang dan lahan ..." ucapnya tersenyum, dapat mengira-ngira pekerja gudang yang akan mabuk karena ulahnya.


"Iya sebentar!!" penjaga warung segera berlari, mengambil motor. Guna membeli minuman lebih banyak lagi, menitipkan warung pada istrinya.


Pemuda rupawan itu kembali berjalan mengamati botol air mineral tanpa lebel, isinya terlihat bening. "Sekalian beli air mineral untuk nanti malam. Supaya jika diusir tidak kehausan tidur di luar," gumamnya mengambil tiga botol, cairan dalam botol air mineral bening tanpa lebel itu, serta beberapa cemilan berupa kacang dan kripik. Menemani dirinya yang pastinya akan dipaksa tidur diluar oleh Dirga.


Hingga pada akhirnya botol-botol minuman yang dipesannya tiba juga. Dinaikkan sang penjaga warung ke dalam mobil Jeep.


Tibalah waktunya menghitung, minuman keras yang cukup murah bagi Jono. Dan terakhir tiga botol cairan dalam botol air mineral tanpa lebel itu yang dihitung.


"Satu botol kecil air ini 50.000? Ini tidak salah hitung kan?" tanya Jono memastikan, terlihat kesal.

__ADS_1


"Ini kwalitas terbaik, bisa dicium dari baunya," kata-kata sang penjaga warung di sela.


"Terserah! Hitung semuanya," ucapnya enggan berdebat. Tapi air mineral harga sebotolnya 50.000? Mungkin sejatinya bagaikan sebuah pemerasan, tapi sekali lagi, yang digunakannya adalah uang Hana, bukan uangnya sendiri.


Semua sudah dinaikkan ke dalam mobil, seusai Jono membayar semuanya. Pemuda itu mulai melajukan mobil milik mertuanya pergi.


Istri sang pemilik warung menegur suaminya yang tengah menghitung uang. "Itu bukannya menantu juragan Dirga ya? Yang dibuatkan tempat pemeliharaan ikan?"


"Iya..." jawab sang suami, masih menghitung uang pemberian Jono.


"Juragan Dirga beruntung ya, punya menantu sudah ganteng, pintar, baik lagi. Beli 100 botol minuman temulawak untuk pekerja gudang," istri sang pemilik warung menatap kagum, pada pemuda rupawan yang menjadi menantu sang juragan.


Minuman temulawak? Jarang ditemui di toko atau supermarket membuat Jono asing dengan minuman tersebut, menyangka dari bentuk botol yang terbuat dari kaca menyerupai botol bir kecil, itu adalah minuman berakohol.


Tidak mengetahui itulah minuman pereda lelah yang menyehatkan bagi orang-orang kelas perekonomian menengah kebawah.


"Baik, sih baik, tapi arak kwalitas tinggi yang biasanya bapak jual 60.000, bapak jual 50.000 tapi dibilang mahal. Sudahlah yang penting hasil penjualan temulawak sudah lumayan..." ucapnya tersenyum.


Arak? Benar minuman bening dalam botol air mineral yang dibeli Jono adalah arak kwalitas terbaik dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi.


***


Senyuman merekah di wajahnya kala membagikan minuman yang segera dibuka pegawai gudang dan pekerja yang memanen padi. Semua dibuka, es batu diisi dalam gelas, semua orang terlihat meminumnya.


Suara mobil pick up terdengar, beriringan dengan suara motor bebek tua. Benar, Hana istrinya yang cantik baru datang dari koperasi dan Dirga mertuanya sendiri baru datang dari memantau ladang.


Wajahnya semakin tersenyum, sudah bersiap menerima angkara murka dari ketua mafia kampung dan putrinya sang CEO desa.


Namun, diluar dugaan, Hana tersenyum meraih sebotol minuman, menggunakan pembuka botol untuk membukanya. Menuangkan dalam gelas yang diberi es, lalu meminumnya tanpa ragu.


"Aku haus, terimakasih... suamiku memang yang paling baik," ucapnya.

__ADS_1


Mata Jono menelisik, Dirga juga meminumnya tidak terlihat murka sedikitpun.


Apa yang terjadi? Apa meminum minuman berakohol sudah menjadi budaya masyarakat desa. Tidak mungkin kan? Dengan cepat Jono meraih salah satu minuman, mencicipinya sedikit.


Terasa menyegarkan, memberikan sensasi bagaikan meminum minuman bersoda. "Ini minuman apa!?" gumamnya, tidak mengerti.


"Temulawak, bagus untuk kesehatan! Nak Jono memang cocok menjadi menantu juragan," ucap seorang warga desa, kagum.


"Temulawak?" Jono dapat membaca tulisannya temulawak. Tapi memang dirinya asing dengan nama tanaman itu. Menyangka inilah minuman keras tradisional dari bentuk botolnya.


Bukan mencemarkan nama baik, malah nama baiknya semakin melejit. Dengan kesal Jono kembali mencicipinya dan benar saja tidak terasa alkohol di dalam sana.


"Kenapa jadi begini?" gumamnya berjongkok menjambak rambutnya sendiri. Merutuki kebodohannya.


"Jono, kamu sudah bisa meberima takdir sebagai suamiku? Apa karena itu kamu berbuat baik pada pekerja gudang dan perkebunan?" tanya Hana mendekatinya.


"Ini adalah kesalahan, aku ingin menjadi orang yang paling dibenci. Tapi kenapa malah menjadi orang yang disukai," gumamnya, mengacak-acak rambutnya frustasi.


***


Malam semakin menjelang, Hana telah usai dibantunya untuk mandi, kini memakai daster tipis mengingat cuaca yang cukup panas, mungkin karena hujan akan segera turun, temperatur udara berubah drastis, padahal diluar sana masih mendung. Menyisir rambut panjangnya yang basah di hadapan cermin, sementara Jono hanya mengenakan sehelai handuk putih menutupi pinggang hingga lututnya, baru usai mandi, setelah Hana.


Tiga botol cairan bening dalam botol kemasan air mineral tanpa merek berada diatas menja, diraihnya yang memang sedang kehausan. Jono meminumnya tanpa ragu, hingga habis seperempat botol.


Aneh, rasanya benar-benar aneh."Kenapa rasanya begini?" gumamnya dengan wajah memerah, mulai mabuk, mengingat tingginya kadar alkohol dalam arak berkualitas tinggi itu, kemudian kembali minum lagi,"Tapi enak juga," ucapnya.


Hingga, dua botol telah di habiskannya. Tubuhnya terasa hangat, benar-benar limbung. Wanita menyebalkan itu terlihat masih duduk, membersihkan wajahnya menggunakan susu pembersih murah.


Tangannya bergerak, memeluk Hana dari belakang,"Aku selalu menginginkanmu..." ucapnya menjilati telinga Hana, bahkan membuat dua tanda keunguan di lehernya.


"Jono?" pekik Hana tidak mengerti, namun menikmati perbuatan suaminya. Tubuhnya gelisah tidak menentu karenanya.

__ADS_1


Bersambung


.


__ADS_2