
Nathan mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menatap lebih jelas lagi, dan benar saja itulah wajah ayah mertuanya. Set perhiasan berlian yang dibawanya, bernilai milyaran rupiah jatuh keluar dari kotaknya berserakan di lantai.
Bersamaan dengan rencananya yang gagal total untuk menemui istrinya. Betapa malu dan canggungnya dirinya saat ini.
"Keluar..." ucap Dirga menatap tajam.
"Ayah, aku hanya ingin bertemu dengan Hana menjelaskan semuanya. Aku mencintainya, akan menjaganya dengan sungguh-sungguh kali ini," ucapnya di hadapan Dirga, berusaha bersikap gentleman. Mengakui semua kekeliruannya.
Dirga mengenyitkan keningnya. Meraih kotak set perhiasan berbetuk bunga sakura, mengembalikannya pada Nathan.
Melakukan drama yang lebih parah lagi, air matanya mengalir, mengepalkan tangannya,"Anak yang dilahirkan istriku ketika musim salju, terlahir prematur jemari kecilnya yang membiru kedinginan. Aku yang menungguinya di rumah sakit seorang diri. Melihat perjuangan wanita yang aku cintai untuk melahirkannya. Aku tidak dapat menjual putriku dengan harga berapapun,"
Nathan menghela napas kasar,"Di Indonesia tidak ada musim salju, ayah ..."
"Agar lebih dramatis!! Lagipula aku bukan ayahmu lagi!! Keluar!! Jika tidak aku akan menghubungi warga dan pekerja gudang!!" bentaknya dengan suara menggelegar, Nathan segera menaiki jendela, bahkan hampir terjatuh. Kemudian kembali menengok dari luar jendela.
"Ayah, aku hanya ingin memperbaiki segalanya, menjadi suami yang baik, menjadikan Hana sebagai nyonya presiden direktur, membuat keturunan dengan putrimu, penerus perusahaanku dan perkebunan milikmu. Aku mencintainya!!" kata-katanya tidak tahu malu keluar dari mulutnya, kembali menyodorkan kotak perhiasan dari luar jendela.
"Pergi!! Atau aku akan mengurungmu di gudang bersama Kirjo..." ancam Dirga geram.
"Ayah..." Nathan masih saja memelas, berusaha mengundang simpati.
"Pergi!!" bentaknya lagi.
Pemuda itu melangkah pergi, berjalan beberapa langkah. Hingga kembali lagi, berteriak dengan kencang,"Hana aku sudah pulang!! Besok suamimu ini akan kemari lagi menemuimu!! Dimanapun kamu bersembunyi!!"
Lampu depan yang padam kembali menyala, Dirga keluar membawa panci dan penggorengan. Melempar ke arah Nathan,"Pergi!!" teriaknya.
__ADS_1
"Cinta tidak akan kalah dengan mudah!! Besok aku akan kembali lagi! Bahkan kalau palu pengadilan sudah diketuk, aku tidak akan menyerah," teriaknya lagi, sembari pergi melarikan diri.
Dirga mengusap wajahnya kasar,"Benar-benar pembuat masalah, kenapa Hana dulu menyukainya? Sialan!! Masih berani kembali kemari lagi! Kalaupun putriku dihamilinya, aku akan menyembunyikan cucuku, mengatakan ayahnya sudah mati. Rumput di makam ayahnya sudah setinggi satu meter,"
"Untung saja, Hana belum disentuh, jika tidak bagaimana jika cucuku tengil sepertinya..." komat-kamit mulut Dirga mengomel, membayangkan jika putrinya tidak pergi ke Jepang. Dan terkena bujuk rayu sang suami yang menyusup bagaikan ninja ke kamarnya.
***
Sedangkan di tempat lain Nathan melangkah perlahan membawa kotak perhiasan. Rumah terbesar di desa itu dilihatnya dari jauh. Tertunduk, mengetahui betapa kecewanya Hana hingga tidak memiliki niatan keluar untuk menemuinya.
Wajar saja, sering dicibir cacat, membandingkan dengan wanita lain, bahkan menjadi suami pengecut yang selalu mengelak perasaannya. Matanya menatap ke arah ribuan bintang yang bersinar terang, berjalan melewati gelapnya malam dengan penerangan minim.
Apa sebenarnya arti Hana untuknya? Apa sebenarnya arti dari sebuah pernikahan? Entahlah, namun yang pasti, dirinya sudah menyadari hatinya hanya dimiliki istrinya yang cacat.
Cacat? Menjadi kakinya akan menyenangkan, dapat menjaganya, mencintainya dengan penuh kebanggaan.
"Hana..." ucapnya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, isi surat gugatan itu masih teringat jelas di benaknya. Hanya karena pertengkaran dan ketidak cocokan.
Nathan mengepalkan tangannya, mungkin sebaiknya Hana lebih materialistis. Agar dapat bertemu dengannya meminta separuh hartanya, agar dirinya memiliki kesempatan melihat wajahnya lagi. Meminta maaf pada istri yang dicintainya. Gadis yang hanya dapat disakitinya.
***
Nathan melangkah, tertunduk bagaikan kehilangan gairah hidupnya, melewati mobil, tempat Joseph tidur. Sang kakak menghela napas kasar, untuk pertama kalinya menatap adiknya si keji pembuat masalah terpuruk.
Tidak bisa terus-menerus begini, Nathan adalah satu-satunya peninggalan sang ibu padanya. Pesan yang ditujukan sang ibu, sebelum meregang nyawa dalam rumah kecil yang bagaikan gubuk. Agar saling menjaga dengan adiknya. Dan itulah kenyataannya, Nathan yang lebih muda dua tahun darinya selalu melindunginya yang kerap mendapatkan pembullyan di masa sekolah mereka.
Dirinya lah yang selalu memasak untuk adiknya, sama-sama bekerja sepulang sekolah. Sepasang anak yatim-piatu yang tidak ingin diserahkan ke panti, tidak ingin diadopsi dan berakhir terpisah.
__ADS_1
Karena itulah seburuk apapun prilaku Nathan, Joseph akan selalu melindunginya. Walau dengan cara picik sekalipun.
Pemuda rupawan itu turun dari mobilnya, mendekati sang adik yang berwajah sama rupawannya dengannya. Mungkin bagaikan selebriti Asia Timur? Entahlah. Namun, jika menelisik dari sifat mereka, mungkin yang terlihat bukan dua orang pemuda rupawan lagi. Tapi Sengkuni (Mahabarata) yang melangkah dengan kaki pincangnya mendekati Duryudana (Mahabarata).
Duryudana, maaf salah Nathan yang berkulit putih rupawan tanpa mahkota dan janggut atau kumis, menghentikan langkahnya, menyadari kedatangan Sengkuni, maaf salah lagi Joseph yang sama rupawan dengan adiknya.
"Bagaimana?" tanyanya memulai pembicaraan.
Nathan menggeleng, pertanda tidak mendapatkan hasil. Tidak dapat bertemu dengan istrinya sama sekali.
Joseph berjalan mendekat, masih menggunakan sarung tangan, menepuk pundak Nathan, berbisik sembari tersenyum. "Besok kakak akan bicara dengan Dirga. Kamu masih berstatus suaminya, kakak akan menggunakannya sebagai senjata yang berbalik menyerang mereka,"
Nathan ikut tersenyum, menghapus air matanya, menatap ke arah kakaknya. Pria cerdas yang bagaikan ular berbisa, mengadu domba, membuat orang-orang tidak bisa menang berdebat dengannya. Salah adalah kebenaran, dan benar adalah kesalahan. Semua dapat terjadi, bila mulut berbisa seorang Joseph yang sudah bersungguh-sungguh.
Kelvin yang melihat dari jauh mengenyitkan keningnya."Sengkuni, aku sudah bilang jangan membantunya!!" geramnya ingin melihat tontonan lebih banyak lagi.
Hingga kembali menghela napas kasar, berjalan mendekati mereka."Nathan, bagaimana? Sudah bertemu dengan Hana?" tanyanya senormal mungkin, tidak ingin Nathan mengetahui tentang istrinya yang telah pergi menggunakan baling-baling bambu.
Nathan menggeleng,"Aku masuk ke kamarnya, mengatakan semuanya dengan tulus, kemudian memeluknya dari belakang. Tapi sialnya yang aku peluk malah ayah yang tidur di kamar Hana,"
Kelvin berusaha untuk tidak tertawa, namun pada akhirnya tawa itu tidak dapat ditahannya juga."Kamu memeluk juragan Dirga?"
"Iya aku memeluknya, bahkan berakhir dilempari panci olehnya!! Puas!?" kesalnya.
"Belum," jawaban dari Kelvin kembali tertawa, seakan masih dendam kerena semua rencananya untuk membuat Nathan menghamili Hana dulu selalu gagal.
***
__ADS_1
Suara berbagai burung terdengar di pagi hari yang dingin para pengawal sudah siap sedia mengikuti mobil Joseph, Nathan dan Kelvin. Tujuan mereka? Tempat yang lebih berbahaya lagi, gudang... untuk menemui Durga. Entah apa yang akan dilakukan si pemutar balik fakta yang anti bakteri.
Bersambung