Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Ayam Kecap


__ADS_3

Dirga mengenyitkan keningnya,"Aku tidak percaya..." ucapnya tersenyum mencemooh, mulai bangkit dari tempatnya duduk.


"Ayah!!" panggilnya putus asa.


"Nathan!! Bangun!! Kamu tidak berada di pihak yang salah. Kakak akan meratakan desa ini, jika istrimu berani berpisah denganmu," perintah Joseph mengepalkan tangannya. Ini bukanlah Jonathan, adiknya yang dulu, orang yang memiliki harga diri dan ego yang tinggi.


"Kakak diam! Hana tidak akan memaafkanku jika melakukannya," ucapnya masih tertunduk, pernikahannya benar-benar diambang kehancuran, saat ini.


Jepang? Dirinya tidak mengetahui Hana akan menghindarinya sejauh itu. Andaikan dirinya tidak menahan diri untuk mengakui perasaannya, mungkin Hana akan ada bersamanya saat ini. Menemaninya di kolam ikan, mungkin juga akan mengandung anaknya.


Seakan semua kenangan itu baru saja terjadi, dirinya yang tersenyum kala Hana menemukan suplayer baru untuk ikan-ikannya. Menaiki mobil Jeep bersamanya setiap pagi menuju gudang, memakan kotak bekal yang dibawakan istrinya. Tersenyum, seolah tidak pernah ada tangisan.


Apa Hana selama ini menyembunyikan perasaannya? Apa dirinya telah menyakitinya terlalu dalam? Mungkin iya, hingga surat gugatan bersedia ditandatangani istrinya pada akhirnya.


Joseph menghela napas kasar, tidak dapat membiarkan harga diri adiknya lebih rendah dari ini,"Kamu menang, aku yang kalah! Apa maumu, sebagai ganti alamat Hana?"


"Tidak ada!! Aku tidak peduli pada uang, etika dan sopan santun!! Hukum? Silahkan tuntut ke pengadilan..." Dirga melepaskan topinya, mengambil kunci motor bebek salah satu pekerja gudang. Membawanya pergi, tanpa menoleh sedikitpun.


Beberapa pekerja gudang kembali acuh, mengerjakan tugas mereka masing-masing. Tidak menganggap keberadaan, Nathan maupun Joseph di sana.


"Bangunlah! Kakak akan menekan perekonomian desa ini, dalam beberapa hari mertuamu akan menyerah, jangan permalukan dirimu," Joseph mengulurkan tangannya, menatap Nathan yang masih berlutut.


Pemuda itu menggeleng,"Kakak pulanglah! Aku akan tetap disini, sebagai menantu orang itu..."


Nathan mengepalkan tangannya, jika Dirga keras kepala, dirinya akan lebih keras kepala lagi. Pemuda itu bangkit, melepaskan outfit yang dipakainya, menggulung lengan kemejanya.


Mulai menaikkan jeans hitam yang dipakainya hingga setinggi lutut, berjalan ke area belakang gudang. Dan benar saja, sudah 2 bulan sejak kepergiannya, tempat itu tidak terurus sama sekali.


Beberapa sampah dedaunan menutupi kolam, lumut ada dimana-mana, bahkan beberapa ekor bangkai ikan mengambang, telah membusuk.


Nathan menghapus air matanya, dirinya akan tetap hidup sebagai menantu seorang Dirga. Keras kepala? Tidak apa-apa, Hana bahkan lebih keras kepala darinya, bersabar menerima dirinya yang tidak pernah mengakui perasaannya. Menghina istrinya yang cacat.

__ADS_1


Cangkul diraihnya, membuat lubang, guna mengubur bangkai ikan dan sampah yang berserakan. Berusaha membuat tempat itu kembali seperti dulu sebelum ditinggalkannya.


Joseph, mengenakan maskernya, mengenyitkan keningnya mendekati Kelvin."Dia dirasuki dedemit mana?" tanyanya, menatap adiknya yang elite, memiliki harga diri setinggi langit, menyentuh sendiri cangkul, bahkan melepaskan sepatu kulitnya, tidak mengenakan alas kaki. Masih menggali lubang.


"Dedemit? Tapi kamu menyukai perubahannya kan?" tanyanya pada Sengkuni yang melihat Duryudana menjadi lebih bertanggung jawab. Maaf, salah Joseph yang melihat Jonathan menjadi lebih bertanggung jawab.


Seakan beban di punggungnya yang harus menghadapi sang adik yang memiliki ego tinggi menghilang. Rasanya Joseph tindak perlu lagi, membantu adiknya mengakuisi perusahaan yang tidak disukainya. Hanya fokus mengembangkan perusahaan yang mereka rintis mungkin lebih baik.


***


Hingga sore menyingsing, Joseph dan Kelvin telah kembali ke penginapan. Meninggalkan Nathan yang baru saja selesai membersihkan kolam-kolamnya, masih mengatur sanitasi air.


"Tinggal diisi air," gumamnya menghela napas kasar, menatap matahari yang terbenam. Jika dulu entah kenapa saat inilah yang paling dinantikannya entah kenapa. Mungkin karena perasaan yang tidak disadarinya, ingin menghapus lelahnya dengan bertemu dengan istrinya. Menjemput Hana dari koperasi mengangkat tubuhnya ke dalam mobil Jeep.


Apa yang dikatakan Kelvin mungkin sebuah kebenaran, masa lalu akan terasa lebih indah jika sudah terlewat. Bagaimana caranya membandingkan letak kebahagiaannya? Dirinya lebih bahagia saat mengingat bersama dengan Hana, dari pada mengingat masa lalunya menjadi kekasih seorang Angel, bertemankan minuman keras, mendapatkan pujian dan dihormati semua orang. Duduk di kantor, menyusun strategi bisnis, seluruh karyawan yang tunduk padanya.


Terkadang ini terasa lebih indah, menatap matahari terbenam seorang diri. Mengingat istri dan mertuanya yang akan pulang bersamaan dengannya. Menikmati makanan yang hangat.


Tujuannya? Rumah mertuanya, dirinya tetap masih menantu juragan Dirga bukan. Ayah mertua yang keras kepala, begitu juga dengan menantunya.


Hingga...


Tok...tok...tok...


Dirga yang baru sampai ke rumahnya, membuka pintu. Menatap menantunya, tidak sekeren tadi pagi, membawa kantong kresek dan dua botol air minum.


"Ayah..." ucapnya, namun dengan cepat Dirga membanting pintu depan rumahnya.


Nathan menghela napas kasar, sudah diduga olehnya. Duduk di teras seorang diri membuka nasi bungkusnya, mencuci tangan menggunakan air mineral, kemudian mulai makan.


Dirga mengenyitkan keningnya kesal, mengintip dari tirai jendela,"Masih berani kemari juga!? Lebih baik kembali ke kota, mengiris steak, tinggal di hotel dengan selingkuhannya yang katanya super model," komat-kamit mulut itu kesal dengan kelakuan menantunya.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, suara tepukan nyamuk mulai terdengar. Nathan meringkuk dengan sarung yang entah dipinjamnya dari siapa. Membantai, setiap musuh yang datang, memukulnya hingga mengeluarkan darah segar dengan tubuh yang hancur. Sungguh nyamuk yang malang.


Siapa yang sangka malam itu akan terjadi hujan angin yang lebat. Nathan meringkuk kedinginan, hanya berselimutkan sarung, hampir seluruh tubuhnya basah.


Dirga yang terbangun, menghela napas kasar dengan hati yang sedikit melunak. Mengambil selimut dan perlak. Perlahan membuka pintu, menyelimuti menantu tengilnya, kembali melapisi dengan perlak hingga tidak terlalu kebasahan, bagaikan dadar gulung.


Dirinya masih memiliki rasa kemanusiaan, kembali memasuki rumahnya. Menghela napas kasar,"Aku adalah orang baik..." gumamnya, kembali memasuki kamarnya sendiri.


***


Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, Sari ART rumahnya yang bertubuh kurus pandai bela diri, memiliki tenaga mengalahkan pria pada umumnya, tengah memasak.


Dirga hampir tidak bisa tidur mencemaskan keadaan seseorang yang tidur di teras. Rasa kemanusiaannya benar-benar terketuk, mengingat hujan angin yang baru berakhir pukul 4 pagi tadi.


Perlahan Dirga berjalan, menengok ke teras rumahnya. Namun, nihil pemuda itu menghilang. Apa dia pingsan hingga harus dilarikan ke rumah sakit? Atau lebih buruk lagi, Jono mati karena kedinginan?


Dirinya bertambah cemas, tidak mengetahui Nathan tengah meringkuk, menyembunyikan dirinya di bawah selimut kamar Hana setelah masuk melalui pintu depan yang lupa dikunci sang juragan.


Hingga pukul 6 pagi, sarapan sudah siap terhidang. Dirga beberapa kali menghela napasnya, menikmati kopi hitam yang hangat. Penuh dengan kecemasan pada pemuda yang melewati hujan badai diluar semalaman.


Melewati hujan badai? Jangan bercanda, segera setelah Dirga menggulung tubuhnya, Nathan terbangun. Menyadari hujan yang turun, segera memasuki rumah tanpa permisi. Menggati pakaiannya yang ada di lemari, lalu tidur dengan nyenyak sembari sesekali mencium dan memeluk foto istrinya.


Kini, Nathan yang telah selesai membersihkan dirinya, keluar kamar Hana tanpa rasa bersalah. Duduk di samping Dirga,"Ayah apa menunya?" tanyanya.


"Ayam kecap..." jawab Dirga menjawab refleks, masih tidak menyadari dalam lamunan dan rasa bersalahnya.


Hingga satu menit kemudian...


"Sialan!! Kenapa kamu disini!? Pergi!!" teriak Dirga, bersamaan dengan Nathan yang bergerak cepat, keluar dari rumah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2