
Cukup melelahkan baginya lebih dari 7 jam penerbangan. Kaki panjangnya tidak dapat leluasa, ditambah dengan dua orang makhluk berisik, benar-benar berisik. Akhirnya mereka tiba di bandara Aguni, prefektur Okinawa, Jepang.
"Haikal!! Cepat foto aku!!" ucap Hana ditengah ramainya orang-orang yang berlalu lalang.
"Iya!!" Haikal segera mengeluarkan kamera digital milik Hana mengambil beberapa fotonya.
Shin mengenyitkan keningnya, dua orang yang terlihat tidak memikirkan cuaca dingin di tengah musim salju yang turun. Dua orang yang terlalu sibuk berfoto, tidak menyadari Shin yang pergi meninggalkan mereka.
Pemuda kaku itu berjalan memasuki beberapa toko di area sekitar bandara, membeli beberapa pakaian hangat serta syal. Kenapa dirinya harus repot-repot? Ini karena dia Hana, cucu dari kakek Fu, orang yang mengadopsi dirinya dari panti asuhan.
Dua paperbag dibawanya, kembali berjalan ke tempat dirinya meninggalkan Hana dan Haikal. Namun nihil, kedua penjahat tengil itu menghilang entah kemana. Dua orang yang pastinya tidak fasih berbahasa Jepang. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Dengan cepat Shin menghampiri pusat informasi bandara. Melakukan panggilan, tapi tidak membawakan hasil.
Panik? Dirinya benar-benar panik saat ini, berjalan cepat mengelilingi bandara tanpa hasil sama sekali.
"Bagaimana ini?" gumamnya saat sudah berada dalam taksi hendak kembali ke rumah meminta bantuan sang kakek.
Earphone mulai terpasang di telinganya, menghubungi pengawal, peretas, polisi, dalam kepanikan. Apa mungkin mereka diculik? Mengingat status sosial Hana.
Banyak yang ada di fikiran Shin saat itu, mengacak-acak rambutnya frustasi. Hingga taksi berhenti di kediaman besar dengan dua orang penjaga gerbang yang memberi hormat padanya. Tidak peduli apapun lagi, hanya ingin mengatakan tentang keteledoran pada sang kakek kemudian meminta instruksi selanjutnya.
Dengan cepat melewati pintu utama, tidak mengindahkan beberapa pelayan yang tertunduk memberi hormat padanya saat tidak sengaja berpapasan. Dirinya benar-benar panik saat ini.
Brak...
Pintu besar dibukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Bersiap untuk berlutut meminta maaf.
"Ini aku sendiri yang buat..." ucap Hana tertawa, menyuapi kakeknya, dengan kue kering buatannya.
"Hanya syaraf yang tegang, kakek lain kali harus hati-hati ketika berolahraga," sedangkan Haikal nampak fokus memeriksa kaki sang kakek.
__ADS_1
"Kalian pulang sendiri!?" tanya Shin duduk di lantai, kakinya terasa lemas tidak memiliki pijakan.
"Tentu saja, apa yang aneh? Hana bisa bahasa Jepang dari kecil, diajari oleh almarhum ibu dan neneknya. Sedangkan aku menggunakan google translate," ucap Haikal tersenyum secerah mungkin.
Aku berfikir terlalu banyak, dua orang tahan banting, tidak tau malu ini akan diculik persaing bisnis... batinnya, dengan perasaan lega.
***
Satu jam yang lalu...
Kedua orang yang keluar negeri untuk pertama kalinya itu entah sudah mengambil berapa foto. Mata mereka menelisik tidak menemukan keberadaan Shin.
"Aku ingin buang air besar," ucap Haikal kebingungan.
"Disana ada toilet!!" Hana menunjuk ke arah lorong di dekat mereka. Dengan cepat Haikal berlari ke toilet pria, tapi selang beberapa waktu kemudian pemuda itu kembali.
"Toiletnya ada banyak tombol! Aku bingung! Perutku sakit!!" keluhnya dengan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Memasuki toilet pria? Tidak mungkin Hana lakukan kan? Jadi hanya ada satu pilihan,"Tahan sebentar!! Kita ke rumah kakekku sekarang!!" ucapnya dalam kepanikan.
"Hirup napas dalam-dalam, tahan, keluarkan lewat mulut. Hirup napas dalam-dalam, tahan, keluarkan lewat mulut..." ucapnya memberikan instruksi pada pemuda yang tengah mengeluarkan keringat dingin.
Haikal mengikutinya, menggenggam erat pegangan koper miliknya.
"Kenapa aku seperti ibu hamil yang akan bersalin!?" gumamnya menoleh pada Hana. Bersamaan dengan gas beracun keluar membuat taksi seketika dihentikan di pinggir jalan. Hana dan sang pengemudi segera keluar dari mobil.
"Maaf..." ucap Haikal tersenyum canggung, walaupun perutnya masih sakit, namun sudah terasa sedikit lebih baik akibat gas mematikan yang keluar.
"Kamu ingin membunuhku ya?" teriak Hana yang hampir muntah di buatnya.
***
__ADS_1
Perjalanan mereka kembali dilanjutkan, cemas? Begitulah Hana saat ini mengingat kondisi kakeknya, yang terlihat ketika video call. Mobil taksi mulai berhenti, beberapa lembar uang dengan mata uang Yen dikeluarkannya.
Rumah yang benar-benar besar, memasukinya pun harus memeriksa kartu identitas. Hal pertama yang dilakukan Haikal adalah pergi ke toilet diantar seorang pelayan. Sedangkan Hana mengikuti seseorang yang mengaku sebagai kepala pelayan. Orang yang sudah mengetahui tentang kedatangannya, melalui kartu pemeriksaan identitas oleh penjaga keamanan depan rumah.
Apa yang terjadi dengan kakeknya? Apa sang kakek ada dalam kondisi kritis? Begitulah yang ada dalam fikirannya. Jemari tangannya mengepal, berharap dapat menatap wajah pucat dari sang kakek, mengingat usia kakeknya saat ini, yang sudah lanjut. Satu-satunya anggota keluarganya yang masih hidup selain ayahnya.
"Tuan..." sang kepala pelayan mengetuk pintu.
"Masuk!!" suaranya terdengar dari dalam.
Perlahan pintu mulai terbuka, bukan seorang pria kritis dengan berbagai alat medis yang terlihat. Namun seorang pria tua dengan tubuh segar bugar, tengah melakukan olahraga Wushu. Bergerak lambat mengatur pernapasan.
"Kakek sehat-sehat saja?" Hana mengenyitkan keningnya.
Seketika pria tua itu menoleh, dengan cepat memegangi dinding. Terbatuk-batuk, lebih tepatnya berpura-pura batuk."Hana? Kakek hanya ingin bergerak sedikit saja, karena itu turun dari tempat tidur pasien," ucapnya, berubah menjadi lemah tidak berdaya."Kamu datang sendiri? Dimana Shin?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan.
"Tidak tau," Hana menggeleng kemudian tersenyum. Memegang tangan kakeknya, hendak membimbingnya untuk beristirahat."Aku membawa beberapa oleh-oleh kakek akan menyukainya," ucapnya tersenyum, membimbing sang kakek ke atas tempat tidur. Menyuapinya dengan berbagai oleh-oleh yang dibawanya.
Beberapa saat kemudian Haikal datang, ikut-ikutan sebagai seorang dokter memeriksa kondisi sang kakek.
***
Malam itu hujan salju kembali turun. Suasana yang berbeda, lingkungan yang berbeda, disini lebih dingin. Hana mulai bangkit dari tempat tidurnya, mengenakan pakaian hangat. Berjalan menuju balkon kamarnya.
"Jonathan Northan..." gumamnya tersenyum dengan air mata mengalir. Menadahkan tangan ditengah derasnya hujan salju.
Masih merindukannya? Entahlah, Nathan telah bahagia bersama Angel. Apa dirinya juga harus berusaha untuk bahagia? Menemukan kebahagiaan sendiri.
Perasaan sesak itu masih ada, senyumannya dan tingkah anehnya masih terasa jelas. Pria humoris, dengan tingkah laku aneh. Jonathan Northan, nama yang akan dikenangnya sebagai orang asing. Mungkin suaminya tengah berada di tempat tidur yang hangat bersama dengan Angel, menyentuh tubuh menggodanya, bersama menjerit merasakan kepuasaan.
Saat sang kakek sembuh, maka, dirinya akan kembali ke desa tinggal dengan ayahnya. Mungkin akan bertemu dengan pria baik suatu hari ini, hanya seorang pria sederhana yang menghargainya. Hanya itu...
__ADS_1
Butiran salju terjatuh di tangannya, perlahan mencair. Hana menghapus air matanya, mulai tersenyum merelakan segalanya."Aku tidak bisa mencintaimu lagi..."
Bersambung