
"Mampus!?" Nathan mengenyitkan keningnya menoleh padanya.
"Maaf tuan..." mati-matian pemuda itu mencoba menetralkan dirinya, menahan tawanya.
"Ambil barang-barangmu! Kita berkemas, ke desa Kalasaka sekarang. Aku akan meminta Joseph menghendel pekerjaanku," ucapnya memijit pelipisnya sendiri, apa Hana mengambil keputusan, karena dirinya terlalu lama di sini? Entahlah...
"Aku tidak ikut," jawab Kelvin duduk di sofa, bagaikan berhenti menjadi asisten profesional.
"Kenapa!? Kita ke sana sekarang!! Sebelum Hana memutuskan untuk bercerai denganku!!" mata Nathan masih memerah, menahan air mata yang hendak keluar.
"Itulah intinya, juragan Dirga sudah seperti mafia kampung. Warga akan menunduk saat melewatinya, pekerja di gudangnya berbadan besar-besar. Belum lagi pekerja di kebun dan sawahnya yang membawa cangkul dan sabit. Bagaimana jika aku dipukuli, ditebas, kemudian dikubur oleh mereka..." jawabnya tenang.
"Ayah orang yang baik sebenarnya, hanya terlihat dingin di luar. Selain itu kesalahanku hanya tidak pulang selama 5 minggu, aku akan meminta maaf, menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi," ucap Nathan berusaha setenang mungkin.
Kelvin mengenyitkan keningnya,"Juragan Dirga tidak akan memaafkanmu. Mungkin mereka tidak akan menuntut apapun agar proses perceraian lebih cepat. Ada alasan, kenapa kamu akan kesulitan untuk meminta maaf kali ini tanpa perencanaan yang matang..." pemuda itu mulai bangkit dari sofa menghela napas kasar,"Jika sudah membuat perencanaan yang matang, katakan padaku. Akan aku pertimbangkan untuk ikut,"
"Kamu boleh memiliki salah satu dari mobil-mobiku!!" Nathan mencoba menghentikannya.
"Nyawa lebih penting, aku akan ikut kalau kamu sudah berdiskusi dengan Joseph," jawaban dari mulut Kelvin, berjalan berlalu meninggalkan ruangan majikannya.
"Kenapa bisa begini!?" gumamnya, terjerat dengan perasaannya sendiri, surat itu dibacanya berulang kali. Surat yang dulu selalu dinantikan olehnya. Namun kini hanya rasa sakit yang tertinggal, perlahan tinta printer diatas kertas sedikit luntur, oleh air matanya yang mengalir.
Menyadari perasaannya, kantung-kantung belanjaan diliriknya, hanya satu kata yang tertinggal 'Sesal.'
***
Sore mulai menyingsing, oleh-oleh berharga tinggi yang dibelinya dimasukan dalam tas jinjing besar. Sedangkan beberapa pakaian dimasukkan ke dalam ranselnya.
Air matanya mengalir sulit dikendalikan, berusaha bergerak secepat mungkin. Untuk menemui istrinya yang cacat, meminta maaf padanya. Ingin tetap bersamanya, hingga masa tua mereka nanti.
Joseph menghela napas kasar, berdiri di ambang pintu menatap adiknya."Tunggu! Kamu tau kesalahanmu apa? Hingga berani berangkat seorang diri menemui mertuamu," tanyanya.
"Ini kesalahanku, aku mencintainya tapi terus mengelak hanya karena dia cacat. Kalian semua benar! Dan aku salah...aku salah..." gumamnya, menghapus air matanya, kembali memasukkan barang-barangnya dengan cepat.
"Seharusnya aku memiliki keikhlasan seperti Han, mencintai istrinya bagaimana pun kondisinya. Mengobatinya menggunakan seluruh kekuasaan yang aku miliki. Jika tidak sembuh, tidak apa-apa, aku dapat memandikannya setiap hari, mengantarnya ke kamar mandi, itu juga menyenangkan. Asal bersamanya, aku bodoh..." gumamnya, tersenyum dalam tangisannya.
__ADS_1
Joseph berjalan mendekat, sedikit senyuman menyungging di bibirnya,"Hana tidak menuntut harta gono-gini. Aku sudah bertemu pengacaranya, kamu salah berfikir jika wanita pintar adalah tipikal istri yang buruk. Jika dia mencintaimu dengan tulus, tidak akan ada masalah, malah suatu keberuntungan untukmu memiliki istri yang cerdas,"
"Tau kenapa dulu aku tidak pernah menyetujui hubunganmu dengan Angel? Adikku terlalu berharga untuknya, sudah barang bekas, bodoh, ditambah dengan serakah. Kamu mau anak-anakmu belajar dari ibunya? Jika iya, yang mana lebih baik mempunyai istri seperti Hana atau Angel," sang kakak mulai menyemprotkan semprotan anti kuman di atas tempat tidur adiknya. Kemudian duduk di tepinya.
"A...aku akan minta maaf, tidak peduli apapun yang akan terjadi. Aku..." kata-kata Nathan terhenti.
"Hana kemari menemuimu saat ulang tahun Dicky. Apa kamu masih ingat, kamu mengatakan tidak mencintainya, dan bahagia tanpanya!? Dan sekarang, hanya dengan kata maaf?" Joseph, mengenyitkan keningnya.
"Hana benar-benar kemari?" tanyanya, menyakinkan pendengarannya.
Joseph mengangguk, membenarkan,"Dia bahkan melihatmu mabuk berat dengan Angel. Aku sendiri yang menyuruh supir meletakkan Angel di kamarmu, agar istrimu tidak terlalu banyak berharap lagi,"
"Kakak!! Kenapa?" kata-kata Nathan terhenti.
"Kamu mengatakan tidak mencintainya, tapi tidak rela melepaskannya. Jadi lebih baik membiarkannya menyerah melepaskanmu. Lagipula ini yang kamu nantikan kan? Tidur dengan Angel!?" tanyanya kembali menghela napas.
Nathan seketika terdiam duduk di lantai, tiba-tiba menatap tajam ke arah kakaknya."Sebelum kami putus Angel bahkan tidak mengenakan apapun, duduk di pangkuanku yang mabuk!! Aku tidak berminat menyentuhnya sama sekali!!"
Joseph menipiskan bibir menahan tawanya,"Body sebagus itu, wajah secantik itu. Apa kamu tidak berfungsi, maksudku kesulitan berkembang biak!?" tanyanya melirik ke arah celana panjang yang di pakai adiknya.
"Dia bangkit? Bisa bangun? Kenapa tidak dimasukkan saja? Sudah satu tahun kalian menikah, tapi sepertinya dari reaksimu, kamu masih perjaka..." mata Joseph menelisik, masih penasaran pernikahan macam apa yang dijalani adiknya.
Mungkin pernikahan yang membuat Nathan, menahan hasrat terpendam pada istrinya yang lumpuh.
Nathan menghela napas kasar, enggan menjawab kata-kata Joseph, kembali mengemasi barang-barangnya. Kemudian menghubungi Kelvin,"Aku sudah memiliki rencana, tolong ikut denganku ke desa Kalasaka..." perintahnya.
"Aku ikut, pekerjaan, biar dikirimkan asistenku ke sana..." Joseph tersenyum, ingin mengetahui desa tempat adiknya dapat merubah perilakunya.
***
Heboh? Tentu saja, tiga unit mobil berharga fantastis memasuki desa tersebut. Diikuti kendaraan besar, dengan mobil berhiaskan pita pink besar bertengger, terparkir di atasnya. Dua mobil pengawal juga ikut mengiringi, dan satu mobil lagi berisikan barang-barang Joseph yang anti bakteri, satu mobil lainnya berisikan hadiah bernilai tinggi.
Melewati jalur utama jalan pedesaan yang tidak begitu besar.
"Buk ada rombongan mobil mewah touring ya?" tanya seorang siswa SMU pada gurunya.
__ADS_1
"Sepertinya, atau mungkin kesasar cari jalur, karena Google map," jawab sang guru, menatap rombongan kendaraan mahal yang berlalu tidak sesuai jalurnya itu.
Nathan menatap ke arah jendela mobil, merindukan pemandangan yang sudah hampir dua bulan ini tidak dirasakannya. Bagaimana kabar Hana? Apa akan memaafkannya setelah menyakiti hatinya berkali-kali?
Entahlah, namun satu yang pasti, bagaimanapun caranya dirinya harus bertemu dengan istrinya.
Hingga mobil-mobil tersebut, terparkir di tepi jalan, dekat area gudang pupuk. Nathan merapikan penampilannya penuh semangat, membuat istrinya terpesona hingga memaafkannya menjadi tujuannya.
Dengan langkah cepat berjalan mendekati gudang, hingga...
"Jono!! Berani-beraninya kamu kemari lagi!! Pulang sana ke kota!! Tidur dengan wanita murahan!!" teriakan pak Kirjo terdengar melempar beberapa kelapa hasil panen yang baru sampai.
"Pak, bisa saya jelaskan..." ucap Nathan, tapi pria berkumis dengan badan besar itu lebih mengerikan lagi, mengambil balok kayu.
"Dasar orang kota!!" teriaknya mengejar Nathan yang melarikan diri masuk kedalam mobilnya, menginjak pedal gas-nya dalam-dalam ketakutan. Bergerak menuju rumah Hana.
Sedangkan Kelvin merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Keluar dari mobil, diikuti dengan Joseph yang masih sibuk mengenakan sarung tangan dan maskernya.
"Dia kenapa?" Joseph mengenyitkan keningnya.
"Biasa dilema seorang Jonathan Northan, lebih memilih menemui mertuanya terlebih dahulu. Aku ingin tau, bagaimana anak tidak berbakti itu dikutuk ayah mertuanya menjadi batu..." jawabnya tersenyum.
Sementara beberapa warga yang melintas terdengar berbicara kasak-kusuk.
"Sudah pernah lihat anak angkat kakek Hana yang katanya dari Jepang itu belum? Yang sering mandi di sungai, badannya bagus, roti sobek, bikin geregetan, pengen raba, pengen tidur dipeluk..." salah satu ibu-ibu bergosip.
"Iya, tapi jarang bicara. Hana pergi ke Jepang pasti karena perjodohan kakeknya. Jono juga tidak ada kabar, mana ada suami yang pergi tidak menelfon istrinya sama sekali," salah satu wanita paruh baya menimpali.
"Dengar-dengar Hana juga ingin bercerai, karena Jono berselingkuh di kota. Istri pak Kirjo yang cerita, bahkan sampai tidur satu kamar dengan wanita lain. Istri mana yang tidak sakit hati. Apa lagi anak juragan, sudah baik, pintar, cantik lagi, tidak bersyukur..."
Itulah kata-kata yang terucap dari para ibu-ibu yang melintas.
"Nathan, benar-benar akan diceraikan?" gumam Joseph mengenyitkan keningnya, tidak akan membiarkannya terjadi. Memberikan segala yang terbaik untuk Nathan adalah prioritasnya, walau menggunakan cara picik sekalipun.
"Sengkuni (Mahabarata)!! Jangan menolongnya kali ini..." Kelvin menepuk pundak Joseph yang bagaikan tengah menyusun strategi, sembari tersenyum picik.
__ADS_1
Bersambung