
Nathan mengangguk,"Aku sudah menikah, dan akan segera bercerai..." ucapnya menunjukkan cincin emas 24 karat di jari manisnya.
"Su... sudah menikah? Dengan siapa? Model? Artis? Anak pejabat? Anak pengusaha? Atau kamu dan Angel sudah menikah diam-diam di luar negeri," Dicky terlihat antusias, menunggu jawaban dari Nathan.
Nathan menggeleng,"Aku pernah bercerita tentang taruhanku dengan Joseph kan? Akhirnya aku mencari uang 100 juta berniat dengan menjadi petani di desa. Sayangnya, anak tuan tanah di desa itu menjeratku untuk menikahinya,"
"Lalu kenapa kamu berniat bercerai? Apa dia jelek?" tanyanya lebih antusias lagi.
"Dia cantik, lebih cantik dari Angel. Sayangnya lumpuh tidak dapat berjalan, satu lagi dia terlalu pintar. Seluruh desa itu bagaikan dikuasai olehnya dan ayahnya. Aku harus segera bercerai, sebelum dia mengetahui status sosialku. Meminta pembagian harta setelah perceraian..." jelas Nathan, matanya masih hanya tertuju pada Haikal.
Dicky mengenyitkan keningnya, tidak pernah melihat Nathan seperti ini. Mata Dicky beralih pada Haikal yang terlihat berbicara dengan orang lain. Sedangkan Nathan tidak ada hentinya menatap ke arah Haikal. Bagaikan harimau jantan yang waspada batas wilayahnya akan diganggu.
"Kamu mencintai istrimu?" ucapnya kembali, mengambil kesimpulan seorang diri.
"Tidak! Aku tidak mencintainya. Karena itu setelah ini aku akan menyewa pengacara, membawanya ke desa. Rencananya akan ingin secara baik-baik, berpisah dengan pembatalan pernikahan atau bercerai," jawab Nathan, kembali meraih segelas minuman lainnya dari pelayan.
Dicky mengenyitkan keningnya, kembali menghela napasnya. Ego orang ini sungguh sangat besar, hingga satu saran sebagai sahabat yang diberikannya."Jangan terburu-buru menyewa pengacara dan bercerai. Bagaimana jika kamu mencintainya? Lalu setelah palu diketuk tidak ada jalan untuk kembali lagi. Walaupun secara paksaan pernikahan bukan sebuah mainan,"
"Berikan waktu pada hatimu untuk memilih. Hanya 2 bulan, jangan menemui atau menghubungi istrimu yang tinggal di desa. Jangan pula mengajukan surat perceraian atau gugatan pembatalan pernikahan. Selama dua bulan tinggallah disini jalani kehidupanmu. Jika kamu merasa bahagia tanpanya, silahkan bercerai. Tapi jika tidak bahagia dan sudah terlanjur mencintainya, kamu masih memiliki jalan kembali..." lanjutnya, mengangkat jemari tangan Nathan yang masih tersemat cincin emas kuning.
"Aku benar-benar tidak..." kata-kata Nathan disela.
"Jangan mengambil keputusan terlalu cepat, cinta itu berbeda dengan bisnis atau membeli barang branded. Jika bisnis lakukan apa yang sesuai dengan logikamu, ambil keputusan dengan cepat. Membeli barang branded tinggal pilih yang bagus dan berkualitas,"
"Kalau cinta berbeda, terkadang hati berbeda dengan logika. Yang terlihat bagus dan berkualitas dalam cinta dapat tidak berarti. Bagaikan baju obralan di pinggir jalan, dapat terlihat lebih bagus dari pada barang di etalase butik, karena kamu mencintainya..." saran Dicky.
Nathan menghela napas, berfikir sejenak,"Aku akan menunda perceraian. Hanya untuk memastikannya saja,"
__ADS_1
Angel kembali menghampiri mereka, bersama beberapa temannya. "Ayo kita berangkat ke club..." ajakannya.
Dicky merangkul dua orang wanita sekaligus, menghela napas kasar, menatap Nathan yang tidak juga bangkit."Ayo bangun! Bandingkan kehidupan yang mana lebih menyenangkan,"
Playboy? Memang, walaupun dirinya hampir sama dengan Nathan tidak pernah hingga berhubungan badan dengan wanita. Namun Dicky melakukannya hanya untuk menghibur dirinya sendiri, setelah kehilangan kekasihnya, 10 tahun lalu hanya karena sebuah kesalahpahaman.
Wanita kurus yang kuat, dapat mengalahkannya dalam bela diri, bahkan dengan ajaibnya dapat mengangkat beban 50kg dengan mudah. Wanita unik yang dicintainya pergi tanpa satu patah katapun.
***
Tapi apa benar akan ada jalan kembali? Mereka melupakannya, jembatan memiliki dua sisi, begitu juga sebuah rumah tangga. Jika Nathan tidak akan memotong tali di sisi tempatnya berada, tapi apa Hana akan sama?
Hari ini Hana terdiam di gudang menonggakkan kepalanya menatap langit yang mendung dengan air hujan turun mengalir membasahi bumi.
Orang berkata ibu adalah bumi dan ayah adalah langit. Suami istri yang terlihat bahagia bukan? Ketika hujan turun, seakan langit berusaha meraih bumi. Seorang suami yang ingin menunduk untuk bersama istrinya walaupun sulit.
Tidak ada cinta seperti itu baginya, Nathan tidak pernah kembali walau sudah hampir minggu keempat. Sudah hampir tiba saat dimana dirinya melihat seorang Jonathan Northan bahagia.
Seruling bambu warisan neneknya dimainkannya. Memainkan melodi menyedihkan, dari seorang istri yang menunggu suaminya pulang dari medan perang. Kembali untuk menemui istrinya.
Mungkin neneknya lebih beruntung, memiliki suami yang mencintainya. Tidak seperti dirinya.
Dirga menghela napas kasar, "Sudah hampir sebulan,"
Hana berusaha tersenyum, menyimpan serulingnya,"Besok aku akan pergi ke kota bersama pak Krijo,"
"Dia tidak pulang selama sebulan, tidak ada yang bisa diharapkan..." kata-kata Dirga disela.
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya sendiri, setelah itu aku akan langsung pulang, setelah mengatakan kata-kata perpisahan. Ayah tidak malu memiliki anak seorang janda?" cibirnya berusaha tertawa, memendam luka hatinya seorang diri.
Dirga menggeleng,"Turutilah permintaan kakekmu setelah ini, dia sudah cukup tua. Menginap dan berlibur di sana, menghilangkan orang kota itu dari otakmu. Ayah akan meminta Haikal mengantarmu..."
Hana mengangguk, kemudian tersenyum,"Aku akan menemani kakek di Jepang hingga kakek sembuh,"
Kakek? Beberapa minggu yang lalu, seorang detektif swasta bersama seorang pemuda mencarinya dan Dirga. Pemuda yang menjadi pelayan sang kakek berusia 90 tahun.
Tujuannya? Mencari informasi tentang keberadaan Hana, cucu satu-satunya dari sang kakek. Walaupun hanya melalui video call, wajah renta itu terlihat lemah dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.
Bahkan pelayan sang kakek juga orang yang cukup keras. Menunggu Hana kembali bersamanya, mendirikan tenda di depan gudang. Pria kaku bagaikan batu, mandi dan membersihkan dirinya di sungai. Tidak ingin menyusahkan Hana dan Dirga, memakan mie instan dalam cup kemasan. Pengelola perusahaan milik kakeknya. Sekaligus cucu angkat sang kakek. Pelayan? Entah apa status orang ini.
Pemimpin perusahaan? Jabatannya saat ini Presiden Direktur salah satu perusahaan terkemuka di Jepang.
Dirga menghela napas kasar menatap pemuda yang keluar masuk tendanya, membuang air berkali-kali menggunakan ember kecil. Tubuhnya basah akibat tenda yang bocor.
"Orang yang benar-benar keras kepala..." gumam Hana, ikut-ikutan menghela napasnya, menggelengkan kepalanya heran.
"Bocah!! Lebih baik tutup tendamu!! Berteduh disini!! Minum teh hangat!!" teriak Dirga, masih memakai pakaian ala koboinya.
Tapi pria kaku yang hanya menggunakan celana panjang tanpa atasan, akibat pakaiannya yang basah itu hanya diam, masih keras kepala tidak ingin menyusahkan orang lain.
Hingga kesabaran Dirga habis...
"Bocah!! Kemari!! Atau aku akan menganggapmu merusak pemandangan kami!!" teriak Dirga, melempar sepatu bootsnya, melempar tepat mengenai kepala sang pemuda keras kepala.
Hingga pada akhirnya sang pemuda menurut, dengan kepala yang benjol duduk di samping Dirga dan Hana tubuh bagian atasnya yang basah berselimut handuk putih tebal. Dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
Tiga orang yang sama-sama menghela napasnya meminum teh menatap hujan.
Bersambung