Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Perpisahan


__ADS_3

"Kenapa tidak sekalian kamu yang jadi lebahnya saja? Buat sarang sendiri," ucap Haikal berusaha tersenyum.


"Setelah aku pulang ke kota, aku akan membuat pabrik madu..." jawaban dari bibir Jono.


Haikal berusaha untuk lebih bersabar lagi menghela napas kasar,"Buatlah pabrik madu sebanyak-banyaknya. Tapi jika kamu mencoba mencarikan madu (istri kedua) untuk Hana. Aku akan kembali kemari untuk berselingkuh dan menikahi Hana,"


Gio mengadu? Tentu saja walaupun Haikal tidak ingin menggagu kehidupan rumah tangga Hana. Namun adiknya itu mengikutinya, setiap saat mengoceh tentang Jono yang akan pergi ke kota, menceraikan Hana. Bahkan ketika Haikal tengah buang air besar di sungai akibat, hanya satu kamar mandi yang dipakai bersama di rumahnya. Sang adik bersembunyi di belakang daun talas, kembali mengoceh mengganggu konsentrasi kakaknya.


Siapa yang akan tahan, mendapatkan gangguan dari sang dedemit yang masih iba pada Hana. Sekaligus ingin menjadikan Hana kakak ipar yang menyayanginya dengan tulus. Namun kata-kata akan 'Kembali ke kota' dari bibir Jono seakan membuktikan kata-kata Gio.


Tidak senang? Tentu saja, pria ini akan pergi ke kota, menceraikan Hana, kemudian menikah dengan supermodel. Itulah kata-kata yang selalu diucapkan Gio, beberapa hari ini, berulang-ulang bagaikan burung beo.


Jono mengepalkan tangannya, bingung harus menjawab apa. Jika dirinya membantah saat bercerai dengan Hana nanti, berarti dirinya menjilat ludahnya sendiri.


Hingga Hana menghela napas kasar, sudah mengetahui semuanya. Namun hanya diam berpura-pura tidak mengetahui apapun."Tenang saja, Jono orang yang setia dia akan menemaniku hingga menjadi kakek nenek..."


Jono menoleh pada sang wanita yang duduk di kursi roda, menatap Hana yang hanya tersenyum. Seakan pernikahan mereka tidak memiliki masalah. Tapi mengapa?


Wanita ini benar-benar aneh, sesuatu yang semakin lama semakin menarik dirinya. Bagaikan pohon kecil yang memiliki akar besar bercabang, menerobos setiap sudut hatinya tanpa disadarinya. Pohon kecil dengan akar yang kokoh sudah ada disana.


Perasaan sepele yang akan dibabat habis olehnya. Tidak menyadari, setelah matinya pohon kecil yang tersisa hanya lubang besar bekas akar yang layu. Lubang besar, bercabang yang akan menghancurkan hatinya saat Hana sudah tidak mencintainya lagi. Kala dirinya sudah terlambat menyadari sang pohon kecil telah memiliki separuh hatinya.


"Aku akan menemani Hana!!" ucapnya penuh kepercayadirian, dirinya memang akan menemani Hana, hanya hingga perceraian.


Kelvin menyaksikan semuanya, menghela napas kasar. Satu kata untuk menggambarkan semuanya, setelah Jono kehilangan Hana 'Mampus,'


Dirinya sudah menyerah, suami yang menghina istrinya, menolak menyentuh istrinya, jika istrinya seperti Angel itu malah bagus. Tapi ini wanita sebaik Hana, walaupun lumpuh tapi wanita sepertinya jarang ditemui. Kita anggap saja, bosnya sedang mencabuti tanaman buah jeruk (Hana), agar nanti rumput liar (Angel) kesayangannya bisa berkembang.


Suara motor bebek tua terdengar. Pria yang memakai pakaian ala koboinya itu turun. Menatap keberadaan Haikal disana, berjalan mendekat tanpa ada rasa canggung. Pasalnya Dirga juga dapat melihat ketulusan Haikal dan keluarganya untuk meminta maaf. Bahkan Sena sendiri mendatanginya, hanya untuk meminta kata maaf. Terlalu malu rasanya menggigit tangan orang yang menyelamatkan hidupnya dan anak-anaknya.

__ADS_1


Hingga bahkan menampar dirinya sendiri beberapa kali dengan cukup kencang seperti yang dilakukannya pada Hana. Kata maaf yang pada akhirnya diberikan Dirga.


"Bagaimana proposal pembangunan puskesmas pembantu, sudah selesai!?" tanyanya menepuk bahu Haikal.


"Sudah juragan, sudah saya berikan pada Hana," ucapnya tersenyum.


"Bagus, rencananya saya mau bangun klinik setelah puskesmas pembantu. Untuk mempermudah kalau ada orang yang terkena Stroke, penyakit jantung, atau operasi sesar darurat. Bagaimana menurut kamu?" Dirga tersenyum merangkul bahu Haikal membimbingnya berjalan ke tempat lain, bagaikan putranya sendiri.


Putranya sendiri? Jujur, Haikal yang sebelum pergi ke kota, buruh pekerja gudang yang satu sekolah dengan putrinya, memiliki banyak prilaku yang disukai Dirga, pekerja keras dan benar-benar menyayangi Hana. Namun, pergaulan kota merubahnya. Dan sekarang?


Entah ada keajaiban apa, Haikal yang dulu hampir menangis saat Hana memecahkan celengannya telah kembali, semua terlihat dari gerak-geriknya yang canggung. Tidak angkuh kala mengakui dirinya paling hebat sebagai dokter spesialis.


Bahkan benar-benar bertanggung jawab mengembalikan uang Hana. Mungkin pengalaman hidup yang membuat manusia semakin bersikap dewasa.


Jono menghela napas kasar, bagaikan kini ayahnya yang direbut,"Ayah bagaimana pembelian pakan ikannya. Apa perlu diganti?"


"Terserah kamu saja, Ayah jarang ke kolam. Kamu bisa atur sendiri..." ucapnya jujur, namun benar-benar menusuk perasaan Jono. Menatap Dirga yang kembali berjalan, menanyakan pendapat Haikal tentang mendirikan klinik di desa ini.


"Tidak sepenuhnya, Haikal dulu cukup membuat ayahku bangga. Selalu peringkat ke 2 umum di sekolah. Padahal dia sama denganku, bekerja sepulang sekolah ..." jawab Hana.


"Peringkat satunya siapa?" tanyanya menatap curiga.


"Tentu saja aku!!" Hana tertawa nyaring menggerakkan kursi rodanya pergi.


"Dasar narsis..." Jono tertawa kecil berjalan mengikutinya.


***


Beberapa bulan telah berlalu, dirinya tidak pernah memandikan Hana lagi. Sudah kali ke dua, ikan-ikan di kolamnya dijual, Hana dan dirinya mencari restauran-restauran ternama, untuk menjadi suplayer.

__ADS_1


Bagaikan sahabat? Pasangan? Suami istri? Entahlah apa hubungan mereka. Hanya tertawa bersama bahkan di tempat tidur. Sedangkan, Haikal sudah kembali ke kota beberapa bulan lalu, bahkan membawa Gio bersamanya, mencarikan sekolah favorit untuk adiknya.


Pernyataan cinta? Tidak pernah, Jono masih meyakini dirinya akan bercerai dari Hana.


Hingga inilah saatnya, hidupnya sebagai Presiden Direktur perusahaan besar akan kembali. Sudah seratus juta, bahkan lebih, hasil dari pembagian keuntungannya.


Dirinya akan kembali ke kota, mengurus surat perceraian dengan Hana sesegera mungkin. Jika perlu pembatalan pernikahan, karena menikah atas dasar paksaan.


Wajah wanita yang tengah membersihkan wajahnya, menggunakan susu pembersih murah ditatap bayangan pantulannya di cermin oleh Jono.


"Hana, besok aku akan ke kota selama beberapa hari..." ucapnya.


Hana terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Hanya mengangguk...


"Kamu tidak bertanya untuk apa?" tanya Jono penasaran.


Hana menggeleng,"Aku percaya padamu, pasti ada sesuatu yang penting,"


Sudah 100 juta, kamu akan kembali pada kehidupanmu. Melupakanku, mungkin kembali ke pelukan seseorang yang bernama Angel... gumamnya dalam hati, sudah dapat diduga olehnya hati Jono bukanlah miliknya.


"Kita saling mengenal bagaikan saudara, bagaimana jika aku membawakan dokter spesialis terkenal, agar kamu bisa berjalan..." ucap Jono berusaha agar tidak memiliki rasa bersalah, ketika mengajukan perceraian nanti.


"Tidak perlu," Hana menggeleng,"Ada kamu yang dapat menggedongku kemanapun..."


Satu kalimat yang langsung menancap di hatinya bagaikan duri yang tajam. Hana mengharapkan dirinya untuk terus bersamanya? Tapi tetap tidak bisa terus begini.


"Ada saatnya aku tidak bisa ada selalu disanpingmu..." ucap Jono.


"Iya kamu benar, ada saatnya aku harus sendiri," Hana hanya tersenyum, memendam segalanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2