
ππππArea dewasa! Bocil menyingkir!ππππ
Penerangan yang benar-benar redup, pintu balkon terbuat dari kaca, terkunci rapat. Hanya sinar bulan yang dapat memasukinya, sepasang lampu tidur menyala di atas meja samping tempat tidur.
"Jono, hentikan," ucap Hana mengetahui suasana yang benar-benar tidak kondusif lagi. Pemuda itu bagaikan kehilangan pijakannya, bersandar menciuminya tanpa henti, entah telah berapa tanda keunguan yang berada di lehernya.
Deru napas tidak teratur, tangan-tangan dengan otot keras berbetuk proposional itu mendekapnya, membuat tubuh mereka benar-benar rapat."Hana, aku kalah, kamu menang. Kamu yang akan rugi, bukan aku. Aku akan melayanimu dengan baik, menjadi seorang gigolo tanpa dibayar..." bisiknya pada leher istrinya.
"Aku belum setuju, kita kembali..." jawabnya mulai ketakutan, akan permainannya sendiri.
"Kamu masih mencintaiku, begitu juga aku. Apa yang kurang dari pernikahan kita? Yang kurang hanya suami-istri aneh yang hingga kini masih perjaka dan perawan," kata-kata logis menurut teorinya keluar dari mulut Nathan.
"Kamu perjaka?" Hana mengenyitkan keningnya menipiskan bibir menahan tawanya.
Nathan mengangguk."Aku masih perjaka, tidak ada cara membuktikannya. Tapi aku memang benar-benar masih perjaka," kesalnya, melonggarkan pelukannya.
Hana menghela napas kasar."Berapa kali kamu berhubungan dengan Angel sebelum dan sesudah pernikahan kita?"
"Tidak pernah? Kamu tidak mempercayaiku?" tanyanya. Dijawab dengan anggukan oleh Hana.
"Mau aku minta kesaksian Kelvin dan kakakku agar kamu percaya aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain?" Nathan kembali bertanya. Hana menggeleng dengan cepat.
Dirinya saat ini benar-benar takut, saat dulu menjadi istri tidak dicintai dirinya menginginkannya menjadi seorang ibu, menjadi pasangan sempurna. Namun, saat ini setelah dihadapkan dengan kesatria berpedang siap berperang, nyalinya ciut.
Apa akan terasa sakit? Bagaimana jika setelah ini Nathan tidak berubah, tetap tidak mencintai dirinya dan ini hanya bujuk rayunya saja?
Entahlah, namun dirinya hanya harus mengulur waktu. Mungkin bukan malam ini.
"Jono, sebaiknya kamu pergi sebelum kakek..." kata-katanya terhenti, Nathan dengan cepat kembali membungkam bibirnya.
"Aku hanya mencintaimu, kenapa kamu tidak mengerti juga?" tanyanya, napasnya terengah-engah, dengan tangan mulai memijit salah satu area sensitif bagian atas milik Hana.
"Jono..." ucapnya, sebelum bibirnya kembali dibuai.
Lidah mereka bermain-main, seiring dengan sentuhan tangan Nathan yang mulai memasuki gaun tidur pendeknya dari dalam. Menyingkapnya, dengan tangan kembali bermain di kedua area yang sama. Tanpa sadar Hana membalasnya, meraba kembali otot-otot perut dan dada suaminya.
__ADS_1
Sungguh sulit menahan diri, dengan terburu-buru kancing, gaun tidur itu dilepaskan Nathan. Lidahnya tetap bermain-main ingin membuat Hana melupakan pakaiannya yang teronggok.
"Hana..." suara beratnya terdengar, menghirup napas dengan serakah. Kembali melanjutkan ciumannya. Hal yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya, sensasi yang sulit untuk diungkapkan.
Wanita ini tidak agresif sama sekali, namun membuatnya lupa diri terlalu mabuk dan limbung akan pesonanya, terus memuja tubuhnya, mencium aroma lembut yang terasa masih sama seperti dahulu.
"Hah...hh...hhh..." deru napas yang memburu, melepaskan celana panjang yang dipakainya. Kembali mendekap tubuh indah yang hanya ditutupi sepasang kain kecil itu.
Sensasi ini, benar-benar terasa gila baginya. Tidak pernah ada wanita yang menarik perhatiannya dapat membuat dirinya bertindak segila ini.
Hanya sebatas berciuman, dirinya mengikuti pergaulan bebas, namun tidak pernah tertarik untuk berhubungan badan dengan wanita. Sengaja menggodanya? Sengaja menjeratnya? Ada beberapa wanita yang melakukannya.
Berpakaian seminim mungkin, memasukkan obat ke dalam minumannya diam-diam. Tapi bukannya bernapsu, Nathan malah berakhir di rumah sakit.
Istrinya memang berbeda, tidak membuatnya menganggap tubuh wanita tanpa busana adalah hal yang biasa. Tidak membuat dirinya jijik akan bibir dan tubuh yang hanya miliknya."Hana, maaf..." lirihnya tidak akan menahan dirinya lagi.
Sensasi yang sulit diungkapkan, napasnya terengah-engah terus menerus. Menikmati setiap sudut tubuh itu tanpa henti. Membuat sang pemilik memejamkan matanya.
Entah sejak kapan, kedua orang itu bagaikan tidak sadarkan diri kala kedua tubuh itu menggapai tempat tidur dengan sempurna.
"Jangan ditahan, lepaskan, relakan saja ..." bisiknya yang telah berhasil melepaskan penutup daerah sensitif bagian atas Hana. Memainkan lidahnya bergantian tanpa henti, bertambah liar kala kala Hana mengangkat sedikit punggungnya menikmati sensasinya. Berkali-kali suara laknat itu keluar dari bibir istrinya.
"Jono hentikan..." pintanya tanpa perlawanan. Namun suara itu perlahan terhenti, kala Hana mulai menjambak rambutnya pelan, merapatkan dirinya bagaikan tidak ingin ini dihentikan.
Wanita itu mulai takluk akan perasaan dan sensasi pada tubuhnya. Wajah rupawan suaminya kembali terangkat.
Samar-samar suara kunci terjatuh di lantai telah terdengar. Pertanda Nathan melepaskan penutup terakhir tubuhnya. Setelahnya, melepaskan penutup terakhir tubuh istrinya.
"Aku ingin anak darimu, satu-satunya wanita yang membuatku sampai sejauh ini. Wanita yang aku cintai..." bisiknya, kembali mencium bibir Hana, bermain lidah dengan liar.
Sangat terasa baginya kala tubuh dengan otot-otot proposional itu bersentuhan dengan tubuhnya tanpa penghalang. Tanpa disadarinya, Nathan berusaha merenggut mahkotanya.
Sakit, ini sungguh menyakitkan, pemuda itu hanya menciumnya tanpa henti, tidak memiliki tempat untuk menahan rasa sakit. Kecuali punggung pemuda ini yang dicengkeramnya, dicakarnya menahan rasa sakit dan perih.
Tapi penuda ini seakan tidak peduli, tetap melakukannya. Seakan perih di punggungnya tidak terasa.
__ADS_1
"Akh... ssstt... Hana..." ucapnya kala melepaskan pangutannya, sulit mengatakannya namun sensasi ini untuk pertama kali dirasakannya. Kala tubuhnya menyatu dengan sempurna.
Sepasang mata yang saling menatap."Maaf..." ucapnya, menggerakkan tubuh mereka. Mengguncangnya tiada henti, kenapa rasanya dapat seperti ini? Dirinya untuk pertama kali merasakan sensasinya seakan tidak ingin ini berakhir. Tidak ingin ini terhenti."Hana..." panggilnya beberapa kali.
Wanita itu hanya menatapnya mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Apa mungkin masih terasa sakit? Tapi ini benar-benar tidak dapat dihentikannya. Hingga dirinya mulai mencium bibir itu lagi.
Menghujam tubuhnya tiada henti...
"Akh...hhh..." pekik mereka bersamaan, merasakan kenikmatan terakhir sebelum melepas penyatuan. Kembali berbalut selimut hangat.
Beberapa saat pasangan itu terdiam, saling mendekap.
"Aku bodoh dan murahan..." kesal Hana.
"Aku juga lebih bodoh dan murahan..." jawaban dari bibir Nathan tersenyum, mendekap tubuh tanpa penghalang sedikit pun lebih erat.
"Kenapa kamu tiba-tiba kembali?" tanya Hana menonggakkan kepalanya.
"Sudah aku bilang setelah 3 tahun bersama aku mencintaimu, tidak dapat berbuat apapun tanpamu. Jika tidak ada kamu, hidupku tidak menyenangkan..." jawabnya.
"Apa sakit?" Nathan mulai melonggarkan pelukannya mengusap pelan pipi Hana.
Wanita itu mengangguk, menatap wajah Nathan di hadapannya. Wajah yang terlihat iba padanya.
"Benarkan? Ularku mengeluarkan banyak bisa, itu tandanya aku masih perjaka..." kata-kata aneh keluar dari mulutnya lagi. Sebuah kalimat yang sejatinya tidak masuk akal.
"Aku tidak mau berbicara denganmu lagi!!" Hana membalik tubuhnya, memunggunginya. Suasana romantis yang hancur begitu saja.
Hingga bibir itu terasa menciumi punggungnya."Hana aku ingin lagi, besok aku akan membawamu berbelanja keliling Jepang. Aku boleh aku minta sekali lagi ya?" pintanya.
"Tidak!!" jawaban dari Hana menutup dirinya dengan selimut.
"Hana, kamu harus membuat banyak keturunan, penerus perkebunan dan pertanian ayahmu, penerus perusahaan kakekmu, dan penerus perusahaanku. Kita lakukan sekali lagi ya..." pintanya Nathan yang belum juga lelah, ketagihan akan tubuh istrinya.
Bersambung
__ADS_1