Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Bukan Wanita Penggoda


__ADS_3

"Sangat menyebalkan," gumamnya, menghirup harum aroma tubuh Hana. Daster tidur tipis dengan tali kecil di kedua bahunya dimasuki tangan Jono.


Bibirnya masih menjelajahi leher istrinya, sedangkan salah satu tangannya bergerak memijat memainkan benda yang ditemukannya dibalik daster tipis.


Sungguh ini adalah mimpi yang indah baginya, dapat menumpahkan keinginannya? Apa ini imajinasi liarnya? Entahlah, dirinya hanya menginginkan perasaan berdebar kala menyentuh tubuh indah itu. Darahnya berdesir, tidak ingin menahan segalanya lagi.


"Hana, aku... apa aku mencintaimu?" tanyanya dengan mulut dipenuhi bau alkohol.


Udara yang tadinya panas kini berubah menjadi dingin. Bau tanah tercium kala tetesan deras air hujan menyapu tanah yang kering. Indah, ini benar-benar indah kala deru napasnya yang tidak teratur, mengakat tubuh Hana. Langkahnya gontai, tapi tetap berusaha bertahan membawanya ke tempat tidur.


Perlahan tubuh itu dibaringkannya, mata mereka saling bertemu sesaat. Bagaikan saling menyelami, "Aku mencintaimu..." ucap Hana penuh kesungguhan.


Tanpa aba-aba Jono mendaratkan bibirnya, rasa alkohol sedikit terasa dari bibir suaminya. Jono dalam keadaan mabuk, Hana baru menyadarinya. Tapi dirinya seakan membiarkan segalanya, tubuhnya benar-benar dikendalikan tangan pemuda itu bergerak tiada henti. Memberikan sensasi berbeda, jantungnya berdegup cepat. Tubuhnya bagaikan bergetar, ini nyaman, kala ciuman di bibirnya menjadi semakin liar.


Jono kembali menurunkan ciuman ke area lehernya, sedikit berbisik, dengan deru napas tidak teratur,"Kamu lebih dapat menggodaku dibandingkan dengan Angel. Benar-benar wanita penggoda..."


Wanita penggoda? Begitukah Jono melihatnya selama ini? Tubuh itu didorongnya sekuat tenaga, hingga pemuda yang dalam keadaan mabuk itu terjatuh di sampingnya.


Air mata Hana mengalir, berteriak menagis terisak. Harga dirinya tidak pernah direndahkan hingga seperti ini. Pemuda yang menggeliat memunggunginya itu mulai tertidur.


"Aku tau ini kesalahanku, memaksamu dalam pernikahan ini. Mungkin jika aku berusaha menjadi istri yang baik, kamu akan dapat mencintaiku. Tidak menganggapku seperti wanita penghibur..." gumamnya mulai bangkit, menghapus air matanya. Mengambil bantal dan selimut, memutuskan tidur di sofa ruang tamu.


Angel? Apa itu nama wanita yang dicintai Jono? Entahlah, dirinya yang merebut Jono dari Angel, berarti dirinya merupakan orang ketiga bukan? Jika Angel muncul, bisakah dirinya bertahan untuk tetap mencintai Jono?


Keinginan Hana tidak banyak, dirinya tidak menginginkan pria berwajah rupawan atau kaya. Hanya menginginkan pria baik yang menyayanginya dapat membuatnya selalu tersenyum.


Tidak akan menuntut apapun, hanya menginginkan sebuah kasih sayang? Apa itu sulit? Wanita penggoda? Mungkin istilah itu sesuai dengannya yang berpura-pura lumpuh. Membuat suaminya yang sejatinya tidak mau menyentuhnya harus memandikannya.


Namun sekali saja, dirinya ingin mendapatkan kesempatan. Hingga tiba saat dirinya harus melepaskan Jono karena terlalu banyak merasakan sakit.

__ADS_1


Hana meringkuk seorang diri di sofa ruang tamu, berselimutkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Matanya terlihat sembab, Angel mungkin kekasih suaminya, sering melakukan hubungan di luar nikah, mungkin juga calon istrinya. Sedangkan dirinya hanya wanita egois yang muncul merusak hidup seorang Jonathan Northan.


Dirga terbangun tengah malam mengambil air, berjalan melewati ruang tamu. Matanya menatap putrinya yang tertidur di sofa, sisa air mata masih berada di pipinya.


Pria paruh baya itu membelai rambutnya,"Katakan jika sudah cukup, ayah akan selalu menjagamu. Ini juga sebuah pembelajaran hidup, ada cinta yang tidak patut untuk dikejar..." ucapnya menghapus air mata putrinya.


Namun tanpa terasa air mata Dirga mengalir, apa putrinya akan dapat bahagia? Pasti dapat, karena Dirga akan menjaganya. Masih mengasihi Hana dengan sabar, menunggu kala putrinya sudah terlalu lelah menghadapi suami yang memiliki arogansi tinggi.


Jika itu terjadi, Dirga akan tetap berada disampingnya. Melindunginya agar tidak dapat disakiti atau bertemu dengan seorang Jonathan Northan lagi...


***


Hari ini, dirinya terbangun terlalu siang, kepalanya masih terasa sakit. Tangannya meraba-raba ke arah sampingnya, Hana sudah tidak ada disana.


Tubuhnya tidak tertutupi sehelai benangpun, mungkin handuknya terlepas ketika tertidur seorang diri. "Kenapa aku tidak memakai pakaian?" gumamnya, menggaruk lehernya sendiri, mengumpulkan kesadaran.


Bertanya pada Hana? Hanya itulah yang ada di fikirannya kini. Dengan cepat dirinya membersihkan diri, tergesa-gesa keluar dari kamar setelah memakai pakaian lengkap.


Matanya menelisik, menatap Dirga yang tengah sarapan bersama putrinya.


"Ayo kita sarapan," ucap Dirga, seolah-olah tidak terjadi apapun.


Jono mulai duduk dengan perasaan canggung, Hana masih duduk di kursi rodanya tersenyum padanya, bersikap seperti biasanya,"Ini kotak bekalmu, aku akan ke kota siang ini, membeli beberapa perangkat tambahan untuk koperasi, jadi tidak bisa makan siang bersamamu,"


"Hana, Jono, ayah berangkat ke kebun dulu, kalian hati-hati di jalan nanti," ucapnya mulai bangkit, mengambil topi besar ala koboinya di atas meja.


"Ayah juga..." ucap Hana masih dengan senyuman di wajahnya. Sementara Jono melirik ke arah istrinya, tanda keunguan ada di lehernya. Apa tadi malam dirinya benar-benar sudah meniduri Hana?


"Iya..." Dirga tersenyum di hadapan putrinya, perlahan senyuman itu berubah seiring langkahnya. Menjadi raut wajah datar tanpa ekspresi, tangannya mengepal. Hanya menunggu putrinya benar-benar lelah, saat itulah dirinya akan memastikan seorang Jonathan Northan tidak akan pernah dapat menemui Hana lagi. Pria yang sudah membuat putrinya terluka.

__ADS_1


Bahkan almarhum ibu kandung Hana, tidak pernah tega melukai hati dirinya, yang selalu berusaha menjadi suami yang baik, walaupun dulu menikah karena paksaan. Tapi setiap orang berbeda, mungkin arogansi seorang Jonathan Northan terlalu tinggi untuk melihat ketulusan Hana. Hanya wanita kota yang akan sesuai untuk bersanding dengannya...


***


Sementara Jono memulai pembicaraannya dengan canggung,"Hana semalam kita..." kata-katanya disela.


"Tidak terjadi apa-apa semalam, kamu menciumku, lalu tidur nyenyak hanya mengenakan handuk saja..." ucapnya masih tersenyum memakan sarapannya.


"Syukurlah, aku fikir tidak sengaja menidurimu..." Jono menghela napas kasar dengan perasaan lega.


Syukurlah? Dirinya dan Jono adalah pasangan suami istri. Tidak pernah melakukannya lalu bersyukur? Mungkin memang benar dirinya lebih rendah dari pada wanita penghibur di mata suaminya.


"Hana, apa kamu sudah mandi?" tanyanya mulai makan.


Hana menatap kearahnya,"Sudah, Sari yang membantuku. Mulai sekarang Sari yang akan membantuku mandi setiap hari seperti sebelumnya,"


Senyuman di wajah Jono menghilang,"Ke... kenapa harus Sari?"


"Tidak ingin menyusahkanmu, lagi pula kamu juga merasa tidak nyaman kan? Sari juga sudah bekerja bertahun-tahun disini. Tenaganya kuat hanya untuk mengangkatku. Dia seperti wonder woman..." Hana tertawa kecil, mengusir rasa canggung dengan candaannya.


"Aku suamimu, tidak merasa direpotkan. Lagipula..." kata-kata Jono disela.


"Tidak apa-apa, ini sup buatanku. Mungkin bisa meredakan efek sakit kepala. Lain kali jangan meminum-minuman berakohol. Aku berangkat duluan," ucap Hana mendengar suara mobil pickup, yang dikendarai pak Kirjo, menggerakkan kursi rodanya dibantu Sari.


Tidak ingin dianggap wanita murahan lagi, hanya karena dimandikan oleh Jono, mungkin ini lebih baik. Berusaha menjadi seorang istri yang baik. Berharap Jono menyadari perasaannya suatu hari nanti, sebelum dirinya terluka lebih dalam. Luka yang mungkin akan membuatnya tidak ingin melihat wajah itu lagi.


Sementara Jono tertegun diam, menjambak rambutnya sendiri, dengan raut wajah kehilangan. Bagaikan suami, yang mendengar istrinya mengatakan tidak akan memberikannya jatah lagi. "Bagaimana ini?" gumamnya tidak dapat memandikan Hana lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2