Presdir Masuk Desa

Presdir Masuk Desa
Alasan


__ADS_3

Suasana hening sejenak, Nathan menatap ke arah Fu, masih lengkap memakai helm, bagaikan tukang ojek online yang akan menjemput penumpangnya.


"Untuk apa kamu kemari?" tanyanya penuh penekanan.


Nathan melepaskan helmnya dengan cepat."Untuk menjemput Hana..." jawabnya spontan, benar-benar masuk akal, mengingat helm yang baru dilepaskannya. Yang kurang mungkin hanyalah sepeda motor dan jalan raya.


"Hana tidak memerlukanmu lagi, kembalilah pada pergaulan bebasmu..." jawaban dari Fu tegas.


Pernah bertemu dengan Nathan? Tentu saja, pemuda arogan yang memecat pelayan di acara perjamuan. Didampingi banyak supermodel berpakaian minim, menenggak red wine-nya, walaupun kelakuannya minus namun kemampuannya dalam menghendel proyek-proyek besar tidak dapat diragukan. Tapi apa gunanya kepandaian tanpa adanya etika?


Fu sudah siap menghadapinya, bahkan jika pria ini menggunakan kekuasaan dan koneksinya. Tangannya mengepal, bersiap menerima sikap arogansi dari seorang anak muda, berkuasa dengan prilaku minus.


Namun...


"Aku hanya ingin memasak, agar kakek menyetujui kami," ucap Nathan tertunduk, kemudian mendekati Hana, memeluknya dari samping."Hana kakekmu marah padaku..." lanjutnya mengadu.


Kenapa kelakuannya jadi seperti ini? Ini tidak salah kan? Kemarin saat menemuinya masih sedikit memiliki kharisma. Tapi sekarang semakin aneh lagi.


"Usir dia..." perintah Fu memijit pelipisnya sendiri.


Nathan masih saja memeluk Hana menatap ke arah Fu."Kakek tidak bisa mengusirku, anakku sudah akan ada disini!!" ucapnya mengelus perut Hana yang masih rata.


"Hana kamu memaafkannya? Bahkan mengijinkannya melakukannya!?" tanya Fu pada cucunya.


"Kakek aku..." kata-kata Hana disela.


"Jangan menyalahkan Hana, aku memasukkan kunci kamarnya ke dalam boxerku. Ini kesalahan dan keinginanku..." ucapnya penuh kesungguhan.


Hana ikut-ikutan memijit pelipisnya sendiri, menatap kelakuan tidak tahu malu dari suaminya. Apa dari dulu Jonathan Northan memang seperti ini? Entahlah...


Fu menghela napas kasar."Hana sebaiknya tetaplah pada keputusanmu untuk bercerai. Shin akan bersedia menerimamu jadi..."


Hana tersenyum ke arah kakeknya."Shin masih mencintai mantan istrinya. Selepas apapun alasan perceraian mereka, Shin tidak akan dengan mudah melupakannya. Kami hanya adik-kakak, hanya status itu yang ada diantara kami..."


Fu menghela napas, tidak memiliki keluarga sama sekali itulah Shin. Mungkin karena itulah pemuda itu menurut pada Hana benar-benar melindungi dan menganggapnya saudarinya."Kamu mencintainya?" tanyanya pada Hana. Dengan cepat Hana mengangguk, membenarkan.


"Berikan alasan kenapa kamu menyukainya?" ucapnya menatap tajam.


"Dia lucu bisa membuatku tertawa, walaupun terkadang dapat membuatku menangis. Aku tidak tau Jono akan setia atau tidak, tapi setidaknya yang aku tau aku mencintainya. Sulit melupakan tingkah konyol tidak masuk akalnya..." jawaban dari Hana.


"Kamu tidak menyukaiku karena aku tampan dan kaya?" Nathan melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


Dengan cepat Hana menggeleng."Aku menyukai buruh angkut yang meminjam uang padaku. Selalu menghiburku setiap hari,"


Nathan tersenyum, semakin menyukai sosok istrinya saja. Minuman keras kwalitas tinggi? Kopi pahit di gudang terasa lebih enak. Banyak wanita cantik, bertubuh menarik? Dirinya bahkan tidak ingin disentuh menyentuh mereka. Satu saja cukup, hanya menyentuh seorang Hana. Memiliki kekuasaan, semua orang harus menunduk padanya? Orang-orang desa yang lebih mudah didekati, berbincang dengan mereka lebih menyenangkan. Hanya dengan kehadiran wanita yang dicintainya semua terasa lebih baik.


Dirinya yang mudah tersinggung, pekerjaan mudah sebagai pelayan hanya dapat bertahan selama 2 minggu. Berbanding dengan bekerja keras sebagai petani, mengakut pupuk dan gabah di gudang, dirinya dapat bertahan selama 2 tahun, sebelum menikah dengan Hana. Jika difikirkannya sekali lagi, hanya menemui Hana adalah hiburannya dapat membuat seorang Jonathan Northan bertahan.


"Nathan, kenapa kamu menyukai cucuku? Jangan pernah berbohong atau membuat alasan palsu..." geramnya, kesal setiap kali menatap pria tengil di hadapannya.


"Tidak tau, aku hanya mencintainya. Tanpa aku sadari aku sudah sejauh ini. Aku minta maaf..." ucapnya berlutut, di hadapan Fu."Aku tidak bisa tanpa cucumu. Aku baru menyadari setelah tinggal terpisah dengannya selama beberapa bulan,"


"Bukan karena dia sempurna, tidak sempurna pun aku tetap mencintainya. Mungkin karena sifatnya, dia adalah Hana satu-satunya wanita yang pada awalnya tidak tertarik padaku, wanita yang paling aku hindari. Setelah tiga tahun saling mengenal dia satu-satunya orang yang dapat membuatku berlutut seperti ini. Jadi... tolong maafkan aku..." pintanya.


Pengawal yang berada di sana bagaikan terhanyut akan suasana. Nathan masih berlutut, menonggakkan kepalanya menatap ke arah Fu. Perlahan Fu ikut berlutut, mensejajarkan tinggi mereka."Aku memberimu kesempatan kedua, karena cucuku menyukaimu...tapi..."


"Tapi apa? Aku akan melakukan segalanya, bahkan jika diminta mengalihkan asetku untuk Hana..." ucap Nathan antusias.


Fu menggeleng,"Aku sudah cukup kaya ... tapi ikanmu gosong, jika lebih banyak mengeluarkan asap lagi, pendeteksi asap pencegah kebakaran akan menyala. Air akan keluar dari atas..."


Baru saja Fu bicara, dan benar saja, air membasahi semua orang, mengucur bagaikan shower dari langit-langit ruangan.


"Aku lupa..." ucap Nathan tertawa segera bangkit mematikan kompor.


"Nathan!!" geram Fu yang kebasahan bagaikan mandi di pagi yang dingin. Sementara Hana hanya dapat mengusap wajahnya yang basah.


***


Hamparan bunga snow drop terlihat dari sana. Seorang kakek yang kesepian, seorang ayah yang kesepian. Dirinya benar-benar egois jika akan membawa Hana tinggal di kota bersamanya nanti.


"Siapa yang peduli..." ucapnya tersenyum, senyuman tengil yang benar-benar menyebalkan.


Hingga Hana memasuki kamar setelah mengambil dua cangkir coklat panas dari pelayan yang mengetuk pintu kamarnya. Wanita yang juga hanya mengenakan jubah mandinya saja, membawa dua cangkir coklat panas, meletakkan salah satunya di atas meja. Sedangkan satu lagi masih ada di tangannya berjalan mendekati Nathan mulai meminum sedikit coklat panas dalam cangkir.


"Hana besok kita pulang..." ucapnya memulai pembicaraan.


"Kenapa terburu-buru?" Hana mengenyitkan keningnya.


"Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan kita. Mengumumkan dengan bangga aku sudah terjual..." jawabnya.


"Hana..." panggil Nathan lagi.


"Em?" Hana kembali menyesap sedikit coklat hangatnya.

__ADS_1


"Boleh?" tanyanya merebut coklat hangat dari tangan istrinya. Meminumnya sedikit, perlahan memejamkan matanya, hendak merasakan bibir itu lagi.


Kecanduan? Anggaplah begitu, pintu balkon kembali ditutupnya membimbing istrinya ke dalam kamar.


Deru napasnya terengah-engah, lagi-lagi menikmati bibir itu dengan rakus. Sepasang lidah yang kembali saling membelit, harum dan rasa coklat menyeruak di tengah pangutan bibir mereka.


Siapa mengajari? Pasangan suami istri yang belajar bersama. Nathan mulai duduk di tepi tempat tidur, mengarahkan Hana agar duduk menghadapnya tepat di pangkuannya.


Sepasang jubah mandi yang tidak sempurna terlepas, hanya talinya saja. Menampakkan Hana yang menonggakkan kepalanya kala wajah Nathan tersembunyi di balik jubah mandi Hana."Sstthhh... Nathan..." desisnya, menjambak pelan rambut suaminya.


Pasangan yang benar-benar kecanduan."Akh..." pekik Nathan merasakan area intinya yang kembali menyatu.


Gelisah, tidak tau harus apa, hanya menikmati dua benda di hadapannya secara bergantian.


Ini sulit untuk di tahan, menikmatinya? Tentu saja. Perasaan terjepit dan bergesekan.


"Hana...Hana..." gumamnya menatap wajah istrinya yang berpacu, ini lebih memabukkan dari apapun.


Hingga Nathan membalik posisi, dengan dirinya yang menguasai tubuh Hana. Decitan halus tempat tidur terdengar. Dua orang yang tengah berciuman memainkan lidah di tengah menyatuan mereka.


***


Satu jam berlalu, dua orang yang kini tersenyum, hanya berbalut selimut.


"Hana, bagaimana jika kita tinggal di rumahku nantinya?" ucapnya.


"Kita tinggal di desa saja..." Hana menatap tidak suka.


"Tapi perusahaannya, walaupun diurus Joseph..." kata-kata Nathan terhenti, merasakan area paling sensitifnya disentuh dan dipermainkan. Memejamkan matanya menikmati sensasinya.


"Tinggal di desa, kita memperluas kebun mendirikan rumah sakit, mengembangkan kolam ikanmu," ucapnya mendekat berbisik di telinga Nathan.


Masa bodoh dengan perusahaan, ada Joseph yang akan menggantikannya memimpin. Dirinya dapat berlaku sebagai pemegang saham saja."Aku akan tinggal di desa bersamamu," bisiknya dengan suara berat kembali menikmati bibir Hana, memulai kegiatan mereka penuh senyuman, berharap benih kecil yang mereka semai akan berkembang.


...Jika ditanyakan dari kapan sejatinya aku mencintaimu. Sudah saat pertama bertemu, wanita yang membuatku kagum......


...Perasaan kagum yang aku tepis, tetap tumbuh menjadi cinta yang memiliki akar kuat. Mencengkram hatiku, yang akan terasa sakit saat tidak dapat melihat wajahmu......


Nathan...


Tamat

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀 Masih ada bonus chapter 😉 🍀🍀🍀🍀


__ADS_2