
Pemuda itu terdiam dalam keterpurukannya mendapatkan pujian dari warga desa. Hingga sebuah kursi roda bergerak ke dekatnya,"Mereka benar, aku beruntung memiliki suami sepertimu," ucapnya tersenyum.
"Hana, kamu sengaja?" tanyanya geram, berusaha tersenyum.
"Jono, kamu sengaja?' tanya Hana balik, mengenyitkan keningnya.
"A...aku...aku... dasar si kursi roda!! Cerewet seperti bebek!!" teriaknya berjalan pergi, berharap dengan hinaannya Hana akan menyerah. Mendapatkan cibiran dari warga desa tentang suami yang sering menghinanya.
Dan benar saja ...
"Hana yang sabar ya? Mungkin Jono..." ucapan salah satu warga desa yang iba padanya terhenti, disela olehnya.
"Itu panggilan sayang dari Jono. Biasa, dia besar di kota, jadi semakin sayang, panggilnya semakin gemas, dengar sendiri kan? Saya dipanggil bebek kursi roda..." jawabnya tertawa.
"Astaga, dimana letak urat malu wanita ini, jika dia karyawan perusahaanku mungkin akan aku naikan jabatannya setingkat direktur untuk melawan saingan bisnis perusahaan. Tapi ini wanita dengan mulut berbisa ini adalah istriku. Aku jamin saat bercerai nanti, jika dia tau status sosialku. Dia akan meminta pembagian harta 50%, ke pengadilan..." gumamnya, menghentikan langkahnya, mendengar percakapan Hana dengan salah seorang warga desa.
Dirga yang baru saja sampai di gudang hendak menghampiri putrinya menghentikan langkahnya. Tidak sengaja mendengar keluhan Jono.
Pria itu terdiam, sudah diduga olehnya. Semenjak dirinya mengetahui nama lengkap Jono adalah Jonathan Northan, pemuda ini berasal dari kota dan dari perekonomian kelas menengah keatas. Namun, dirinya tidak ingin mengecewakan Hana, karena itu tetap melaksanakan keinginan putrinya.
Tapi ini? Ingin berpisah dengan Hana secepatnya karena takut harta miliknya di kota, akan dibagi dua setelah bercerai nanti. Dirga mengepalkan tangannya, memendam kekesalannya, ini juga kesalahannya membantu putrinya untuk menikahi Jono.
Hal yang dapat dilakukannya? Tidak ada, hanya menunggu dan memberi dukungan pada putrinya apapun yang terjadi nanti. Dirinya tidak memerlukan sedikitpun harta orang kota, perkebunan dan pertaniannya ini sudah cukup untuk menghidupi anak dan cucunya nanti.
Dirinya kini menyadari perbedaan memaksa ibu kandung Hana menikah dengannya dulu. Ibu kandung Hana bukanlah orang yang picik, berbudi pekerti luhur. Hingga dapat menerima pernikahan mereka perlahan.
Namun, berbeda dengan kondisi putrinya kini. Jono hanya memikirkan dirinya sendiri, berfikiran picik tentang istrinya sendiri. Setetes air mata Dirga mengalir segera diseka olehnya. Putrinya tidak kekurangan harta walaupun hanya wanita yang berasal dari desa.
Mungkin inilah alasan Hana menyembunyikan fakta dirinya sudah dapat berjalan. Ingin suaminya mencintainya dengan tulus.
Tapi apa ada ketulusan di makhluk picik ini? Orang yang menyangka putrinya akan merebut setengah hartanya nanti. Dirga hanya bisa menunggu, jikapun Hana berpisah dalam keadaan hamil atau sudah memiliki anak nantinya. Dirinya masih dapat membesarkan cucunya, tidak akan mengemis pada pria kota yang menyakitinya.
__ADS_1
Bibit rasa sakit hati itu sudah ada kini. Mungkin suatu hari nanti, Hana akan menyadari ada cinta yang tidak pantas untuk di kejar.
Dirinya akan berusaha menerima menantunya, hingga putrinya sudah merasa cukup sakit suatu hari nanti. Saat itulah dirinya sendiri yang tidak akan membiarkan seorang Jonathan Northan menemui putrinya lagi.
Senyuman itu terlihat, di wajah memendam perasaan sakit hatinyanya, mendengar gumaman picik menantunya, yang berfikiran buruk tentang istrinya sendiri,"Jono, bantu mereka menurunkan bibit ikan yang kamu pesan," ucapnya, mengejutkan pria yang tidak menyadari kedatangan Dirga.
Jono menghela napas kasar,"Menyebalkan! Kenapa bisa gagal..." geramnya, mengikuti kata-kata Dirga. Membantu orang-orang dari tempat pembibitan, memasukkan bibit ikan.
"Hanya sampai Hana menyerah untuk mencintai pria sepertimu..." gumam Dirga suaranya, yang tidak dapat didengar oleh Jono.
Bagaikan sebuah plot yang sudah dapat ditebak akhirnya oleh Dirga. Pria akan menyakiti hati putrinya suatu hari nanti. Memberikan pelajaran hidup yang paling menyakitkan bagi Hana. Bahkan memberikan luka yang lebih menyakitkan daripada yang diberikan Haikal.
***
Siang menyingsing, Jono tetap melakukan kewajibannya saat ini memberi makan ikan nan mungil. Beberapa kolam yang cukup besar, mungkin para pekerja gudang dan lahan bekerja dari siang hingga pagi membuatnya.
"Ini," Hana menyodorkan kotak bekal makan siang padanya.
Namun...
Kriuk...
Sialnya perutnya tidak dapat diajak kompromi, berbunyi tiada henti. Jono menahan malunya, memegangi perutnya sendiri.
"Ka... kalau kamu bersikeras memberikannya, aku mau makan," ucapnya, mengambil kotak bekal yang disodorkan Hana.
Wanita itu tersenyum, menyodorkan sebotol air. Kotak makanan mulai dibuka Jono, memakan makanannya dengan lahap.
Hingga seruling bambu dikeluarkan Hana, terlihat ukiran huruf kanji di bagian sampingnya. Entah apa tulisannya, Jono tidak begitu peduli.
Beberapa nada dimainkannya bukan seruling tradisional dari negara ini, didengar dari tangga nadanya yang berbeda. Melodi indah bagaikan merindukan seseorang, membuatnya yang tengah makan tertegun, diam.
__ADS_1
Cantik, istrinya benar-benar cantik, jika diperhatikan bahkan selebriti atau model internasional pun kalah jauh, mungkin...
Narsis? Tapi memang begitulah dirinya menatap Hana kini, wanita yang tidak dicintainya.
"Kamu dapat itu dari mana!? Itu impor kan? Katanya melestarikan budaya desa..." cibirnya dengan mulut penuh.
"Ini dari almarhum ibuku, pemberian kakekku pada nenekku saat nenekku hamil," Hana tersenyum, menghentikan permainannya,"Kakekku yang mengajari nenekku bermain seruling, sebelum kakek harus kembali ke Jepang. Meninggalkan nenekku yang sedang hamil. Kakekku, hanya seorang prajurit dengan pangkat rendah. Ketika pasukan ditarik kembali ke Jepang dirinya juga harus pergi. Meninggalkan seruling ini untuk nenek, untuk menghapus kerinduan istrinya yang tengah mengandung pada suaminya,"
"Kakekmu pasti sudah mati, karena itu tidak kembali untuk mencari istri dan anaknya..." cibir Jono dengan mulut penuh.
"Tidak tau, karena almarhum nenek berasal dari desa sebrang. Pindah ke desa ini, kemudian berhutang banyak pada ayahku, untuk melunasi hutang-hutangnya. Ayah memaksa ibuku yang memiliki darah Jepang menikah dengannya..." ucap Hana tertawa nyaring.
"Ayah dan anak sama saja," gumamnya.
Hana memutar kursi rodanya mendekati Jono,"Kamu yang mengelola kolam-kolam ikan ini. Belajarlah cara memeliharanya dari internet, gunakan komputer yang ada di koperasi. Keuntungan bersih, setelah pakan, gaji pegawai, dan keperluan lain, kita bagi dua. Kamu pernah berkata ingin mengumpulkan uang 100 juta kan?"
Jono menoleh pada Hana, mengenyitkan keningnya,"Kenapa kamu baik padaku?"
"Aku mencintaimu, jadi belajarlah mencintaiku..." jawabnya.
"Keuntungan bisnis 50%,50% aku terima tapi maaf, tapi sampai kapanpun, aku tidak akan mencintaimu," Jono meletakkan wadah makanannya yang telah tandas. Hendak pergi meninggalkan Hana.
"Tunggu!!" ucap Hana menghentikan langkah pemuda itu.
"Apa lagi!! Aku sudah bilang tidak akan pernah dapat mencintaimu. Ya, tidak akan pernah bisa!!" bentaknya, murka.
"Aku ingin pipis, bisa antar?" tanya Hana.
Jono memijit pelipisnya sendiri, kemudian berbalik,"Iya, aku antar..." ucapnya mulai mengangkat tubuh Hana ala bridal style, menuju kamar mandi."Tidak sekalian mandi? Hari ini lumayan panas..." tanyanya lagi, pada istri yang katanya tidak dicintainya.
Bersambung
__ADS_1