
Hari sudah sore hanya beberapa menit lagi langit akan gelap di gantikan malam.
wajah Dean berantakan sekarang.
“dimana rumah nona, saya akan mengantar nona.” ucap Rangga.
“tidak perlu ko, gak papa turunin di halte depan aja, saya udah di jemput.”
Dean menolak di antar ke rumah oleh Rangga.
sementara Nathan masih ada dibelakang duduk dengan santai sambil memejamkan matanya.
Dean hanya melihat dari kaca atas kalau Nathan sedang tidur.
“huh,,, untung saja meating hari ini berjalan lancar,jika sempat aku ga bisa memahami dokumen yang di berikan tadi,” seperti hidup ku sudah berakhir sekarang.
pertemuan meating dengan klien berjalan lancar sesuai yang diharapkan, namun beberapa saat sebelumnya ada insiden kecil.
“apa anda tidak apa apa nona,” tanya Rangga sekarang berhenti di depan halte.
“tidak apa tuan, terimakasih, selamat malam tuan,” Dean mengangguk ke arah Rangga, tanda dia ingin berpamitan.
setelah Dean turun, Rangga langsung menancap gas.
“hah,,, astaga,” Dean hampir terjatuh.
“kepala ku pusing, arkh kaki ku keram, arkk...” Dean mengernyitkan dahinya kesakitan.
serasa tidak ada tenaga lagi untuk menggapai kursi halte.
“ah....”Dean hampir pingsan.
“bagaimana tuan,” Rangga bertanya kepada Nathan.
“hah,,,” Nathan menghela nafas panjang.
“dia lumayan, tapi dia harus kuberi pelajaran,” Nathan tidak bisa menyimpulkan apa yang harus di katakan kepada Dean.
Nathan dan Rangga terpukau dengan kemampuan Dean dalam memahami dokumen, dan cara penyampaian.
“dia pegawai yang kompeten tuan, tidak salah lagi kalau dia di didik langsung oleh nyonya besar.”
“namun sikap nya yang aneh dan ceroboh yang membuat kita kesal.”
Nathan tidak bergeming masih memejamkan matanya.
Nathan dan Rangga sudah mengakui kemampuan Dean
apalagi saat mendengar Dean berbicara bahasa Inggris saat meeting di restoran, membuat Nathan sedikit serius.
“ark,,,,” kenapa tidak ada satupun taksi yang lewat.
“sekarang aku dimana,” Dean mencoba mengitari ke segala arah.
“astaga, hadeh kenapa disini, dasar kau Dean bodoh, kenapa pikiran ku hari ini terus ngelag.”
Dean tersadar kalau dirinya masih jauh dari rumah.
“aku harus menelpon Alvi,” Dean mencari hp nya di tas.
“kenapa ga ada, dimana,” Dean kehilangan hp nya.
“apa..! jangan jangan hp ku ketinggalan dalam mobil lagi, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan.”
“adu, malah udah malem lagi, sepi banget,” Alvi mulai kedinginan.
__ADS_1
“bagaimana sekarang, taksi belum ada yang lewat.”
“cih, kenapa ga diangkat sih, Dean lo kemana aja.”
“apa jangan jangan, ada sesuatu yang terjadi.”
“tadi di kantor bilang kalau Dean lagi pergi meting dengan Presdir, tapi kalau sekarang belum selesai, pasti tidak mungkin.”
Alvi curiga ada sesuatu yang terjadi kepada Dean.
“apa yang sedang anda pikirkan,” tanya Rangga melihat kalau Nathan memejamkan matanya.
“putar balik saja, aku ingin menemui mamah.”
Rangga hanya diam tidak mengatakan apa apa.
“aku harus merilekskan pikiran ku terlebih dahulu.”
“baik tuan,” Rangga langsung memutar arah ke arah Dean.
“apa yang sedang kau pikirkan Nathan.”
“mamah dalam kondisi tidak baik, dan dia tidak tau mengenai kondisi nya, Nathan berbicara dengan , diri nya sendiri.”
“dan mamah sekarang meminta hal yang gila, aku tidak sanggup jika tidak memenuhi nya.”
tanpa mereka sadari ternyata hp Dean tertinggal didalam mobil.
“ya tuhan, kenapa taksi belum ada yang lewat.”
“bes juga ga ada,” setengah jam sudah Dean menunggu.
“ah sudah lah, bagiamana cara ku mencari nya, aku saja tidak tau mereka kemana.”
Alvi memilih pulang tidak menemukan keberadaan Dean.
Dean tidak berani menyetop mobil sembarangan kecuali taksi.
jadi Dean hanya memandang mobil lewat.
“taksi taksi,” seketika tenaga Dean terkumpul melihat sebuah taksi lewat.
“mas tolong anterin saya ke jalan xxx blok d , di apartemen 10.”
“maaf nona saya ga bisa, saya lagi buru buru nona sambil pulang, saya sedang ga ambil rute kesana, kalau rumah nona searah dengan saya, saya bisa.”
“yah,,, terus gimana dong,ga bisa ni mas, tolong please.”
“maaf mbak saya ga bisa,saya lagi buru buru istri saya sedang sakit di rumah, saya harus buru buru membawa istri saya ke rumah sakit.” pak sopir tersebut tidak bisa membantu Dean.
“yah,” Dean merasa iba dengan cerita pak sopir.
namun dirinya juga sedang kesusahan bagaimana caranya pulang.
“sudah lah ga papa, maaf mengganggu,” Dean meminta maaf.
“iya non makasih, hati hati.” pak sopir langsung tancap gas.
“tuan,” panggil Rangga membuat Nathan terjaga.
“huem.”
“itu nona Dean, kenapa dia masih ada disini.”
“apa yang kau bicarakan,” Nathan tidak tau apa maksud Rangga.
__ADS_1
Nathan membuka mata nya.
“wanita itu.”
“kenapa dia masih ada disini,” Nathan juga heran melihat Dean sedang berdiri di samping jalan.
“bagaimana tuan,” Rangga bertanya.
“terserah kau saja,” Rangga faham maksud dari jawaban Nathan.
Rangga menghentikan mobil di depan Dean, pas saat Dean berbalik ingin duduk.
mendengar ada suara mobil Dean langsung berbalik lagi melihat.
“tuan muda,” Dean melihat Nathan dari jendela kaca yang tidak di tutup .
“kenapa mereka ke sini lagi.” Dean heran sendiri.
“kenapa kau masih disini,” tatapan dari Nathan membuat Dean gugup tidak bisa menjawab, karena kedinginan.
“sa..saya sedang menunggu taksi tuan,” jawab Dean mengangguk.
“45 menit,” Rangga melihat jam di tangan nya, menghitung saat menurunkan Dean sampai sekarang.
Nathan mendengar apa yang dikatakan oleh Rangga.
“huh,,,”dalam hati Nathan tersenyum.
“45 lama juga kau menunggu, apalagi cuaca sedang dingin.”
Nathan tampak senang melihat Dean tersiksa.
itulah yang dinginkan oleh Nathan, karena Nathan sendiri belum menghukum Dean secara langsung.
Rangga hanya diam tidak bergeming sedangkan Nathan juga belum mengatakan apapun.
hanya melihat kedua pria tersebut, membuat Dean kelelahan.
“sebenarnya apa yang mereka inginkan, dia tidak mengatakan apa apa, tapi dia berhenti di depan ku sekarang.”
tenaga Dean benar terkuras.
“kau kenapa,” Nathan melihat Dean yang terhoyong sambil berdiri.
“tuan saya tidak sanggup lagi berdiri,” Dean serasa ingin jatuh.
“berdiri kau harus kuat Dean,” Dean memaksakan tubuhnya untuk berdiri.
karena yang paling dekat dengan Dean adalah Nathan, Nathan langsung keluar.
“buk,” Nathan dengan sigap menangkap kedua lengan Dean dari belakang.
“kau kenapa,” melihat Dean mau terjatuh, Nathan langsung menangkap, Dean.
Dean lemas mata Dean sudah memejam.
“dia kenapa,” tanya Nathan kepada Rangga.
“sepertinya dia pingsan tuan, sebaiknya kita bawakan kerumah sakit,” Rangga juga keluar sekarang ada di sebelah Nathan.
“pingsan, aneh kenapa dia pingsan tiba tiba,” Nathan mengernyitkan dahinya.
“apa yang harus aku lakukan sekarang,” Nathan sudah terlanjur memegang Dean.
Rangga membuka pintu.
__ADS_1
“angkat dia tuan.”
“angkat, bagaimana cara ku mengangkat nya,” Nathan “tambah bingung.