Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
```takdir sebenarnya```


__ADS_3

Saat Rangga sedang bermain dengan Alvi, entah apa yang sudah di bicarakan oleh Nathan dengan Dean.


Dean sekarang siap menandatangani kontrak tersebut.


sebuah pulpen mewah ada di jemari nya, Dean tinggal menggerakkan tangannya saja.


tangan Dean bergetar sekarang.


“bagaimana dengan Alvi apa yang terjadi padanya.” Dean sangat khawatir.


sedangkan Nathan tersenyum licik dengan kemenangan nya.


“kenapa hidup ku sekarang sangat sial, apa yang aku lakukan sehingga hidup ku terjepit masalah.”


Dean sedang mengadu nasibnya.


“padahal selama ini aku tidak pernah menyakiti atau mengurus urusan orang lain.”


jiwa Dean benar benar terguncang akibat Nathan yang terus bertubi tubi memojokkan Dean.


“tapi kenapa hidup ku harus mendapatkan masalah seperti ini.”


“apa yang harus aku lakukan, ayah mamah, maafkan aku, karena diriku kalian sampai terlibat dalam masalah ini.”


Dean menyalahkan dirinya sekarang, karena dirinya kedua orang tua sendiri Dean terlibat.


“begitu bodohnya diriku, tidak mengetahui kondisi orang tua ku sendiri yang sedang sekarat.”


Dean benar benar menyesali perbuatannya.


Nathan hanya tersenyum licik.


“meskipun malam ini kau merobek berkas tersebut, kau tidak akan bisa lari lagi.”


“orang tua mu sudah mengikat janji dengan ku, sekarang mereka dalam perjalanan untuk pengobatan.”


“jika kau macam macam, aku bisa saja menyuruh bawahan ku agar bermain dalam pengobatan nya.”


“kau tau apa akibatnya,” Nathan sengaja membisikkan, agar jiwa Dean benar benar tergoncang.


Dean menatap kearah Nathan dengan nanar, kini dirinya tidak mempunyai motivasi lagi untuk bertahan.


“mungkin mereka tidak akan kembali lagi, atau pun.”


“cukup tuan, tolong jangan libatkan keluarga saya dalam masalah ini.”


“saya mohon,”Dean menunduk meminta belas kasihan.


“dalam hidup ku tidak pernah mengenal mata maaf, jika melawan tamat sudah riwayat,” Nathan semakin menekan Dean.


hanya mereka berdua saja di meja tersebut.


air mata Dean sudah kering, menangisi fakta yang Dean ketahui sekarang.


“jangan tuan, saya mohon,” Dean meminta mohon.


jika Dean wanita lemas dan bodoh, sudah pasti Dean sudah gila dari tadi.


“huh menarik, ternyata kau bisa bertahan sampai sejauh ini.”


Nathan mulai tertarik dengan Dean.


pasalnya belum ada seorang pun yang masih tetap bertahan, saat Nathan mulai membawa masalah dengan serius, apalagi bersangkutan dengan keluarga mereka.


semua orang yang pernah Nathan siksa dengan cara menekan keluarga, dan membawa keluarga terdekat dalam bahaya.


semua nya tidak ada yang bertahan, mereka menyerah, lari, bunuh diri, gila dan sebagainya.

__ADS_1


begitulah kekejamannya Nathan selama ini.


namun wanita didepan Nathan saat ini, membuat dirinya tertarik.


Dean masih bertahan sampai sekarang, dan Dean masih ragu dalam menentukan.


“sepertinya aku mendapatkan mainan yang sempurna, kau satu-satunya yang membuat ku sangat tertarik.”


“ternyata dugaan Rangga benar, ada sesuatu yang menarik dalam dirimu,” Nathan semakin tertarik dengan Dean.


ketertarikan Nathan bukan suka, hanya saja Nathan sedang mendapatkan mainan barunya.


Rangga sudah kembali sekarang, Nathan hanya melirik.


“apa yang sudah terjadi di sini, hah, tubuh ku benar benar panas sekarang,” Rangga menderita sendiri sekarang.


tubuh Rangga panas akibat anggur yang terlalu banyak.


“apa yang sudah kau lakukan,” tanya Nathan.


“saya hanya membuat dia patuh,’’ jawab Rangga mengeluarkan keringat.


“hmmm, jangan biarkan dia lepas, buat dia jadi bidak mu, suatu saat dia berguna,” kata tersebut di tunjukan kepada Alvi.


“baik tuan,” jawab Nathan.


tiba-tiba Nathan berdiri dan berpindah tempat.


duduk di samping Dean.


sementara Dean hanya diam dan pasrah mendengar cerita tentang Alvi.


Dean tidak bisa berkutik sekarang dirinya juga sedang dalam keadaan tidak mendukung.


membuat wanita itu terkejut menjauh.


“cepat tandatangani kontrak itu, aku tidak punya waktu untuk meladeni mu,” Nathan menarik rambut Dean.


Dean harus mendekat ke arah Nathan, karena rambutnya di tarik.


tubuh Dean gemetaran, pulpen tersebut tidak bisa dia gerakkan.


Nathan mendekat hidung nya ke leher Dean.


“dalam 10 detik jika kau tidak menandatangani nya, aku akan membuat orang tua mu tidak bisa melihat hari esok.”


“dan kau akan menjadi makan malam ku malam ini,” ancaman Nathan terakhir membuat Dean langsung patuh.


setelah tanda tangan, Dean meletakkan pulpen, tangan Dean gemetar.


Nathan tersenyum licik.


“dasar wanita keras kepala,” tarikan Nathan semakin kuat.


“ark,,!” Dean kesakitan.


“ampun tuan, saya mohon maaf.”


tarikan Dean sangat keras.


“apa kau sudah lupa kalau kau, harus menuruti apa kemauan ku.


“sekarang kehidupan mu ada ditangan ku, apapun yang kau lakukan harus menerima perintah dari ku.”


Dean tidak menjawab, masih diam syok.


“sekarang aku ingin kau melayani ku,” bisik kejutan dari Nathan.

__ADS_1


Dean semakin menjauh ketakutan.


“apa kau tuli hah,” kembali menarik rambut Dean.


“ark,” Dean kesakitan mengeluarkan air matanya.


Rangga kembali menyaksikan apa yang dilakukan oleh Nathan.


“jangan tuan, saya mohon,” Dean faham apa yang dimaksudkan oleh Nathan.


“kau tau, sekarang dimataku kau tidak lebih dari seorang wanita malam seperti mereka,” harga diri Dean sudah tidak ada lagi malam ini.


malam dimana ini dia datang bersama Alvi ke hotel tersebut.


ternyata adalah sebuah masalah yang sangat besar, kini harga diri mereka tidak lebih dari seorang budak.


jika malam ini mereka pingsan, maka tidak ada yang bisa menebak apa yang terjadi di dalam sana.


meskipun di tempat tersebut banyak hidung belang bersama wanita malam mereka masing-masing.


tidak ada satupun yang akan berani mendekati atau mencampuri urusan Nathan.


“mulai sekarang kau akan menjadi budak ku,” Nathan bermain main dengan rambut Dean.


Nathan melepaskan kacamata Dean.


“kecamatan ini membuat ku sakit mata, mulai sekarang kau jangan memakai kacamata.”


Nathan melepaskan kacamata tersebut, menjatuhkan kebawah.


dan...


"krack"...krack"...krack.."


kacamata tersebut rusak di injak oleh Nathan.


sekarang wajah Dean sangat mengerikan.


mata nya merah lembam akibat menangis.


“sudah tamat hidup ku, aku sudah tidak punya tujuan lagi.”


“sekarang diriku hanya sebuah alat saja, yang dapat di mainkan sesuka hatinya.”


“kenapa aku masih hidup, kenapa aku harus menerima kenyataan pahit ini.”


“kenapa semuanya tidak adil.”


“jika takdir ku hanya tertindas, lantas untuk apa aku hidup sekarang.”


“untuk apa aku menjalani semua kehidupan ini.”


Dean merenungkan nasib nya.


“kenapa dia masuk kedalam kehidupan ku, apa yang salah dengan mu Dean,” kini hanya pikiran dan hati Dean yang masih sadar.


sedangkan tubuh Dean sendiri sudah sangat lemas tidak sanggup lagi.


“apa yang harus aku lakukan, apa aku menyerah saja, percuma saja jika aku terus ada disini, diriku semakin tersiksa.”


“aku benar-benar bodoh, karena diriku, teman dekat ku terkena masalah berat.”


“karena diriku juga, kedua orang tua ku menderita.”


“cukup Dean, apa yang akan kau lakukan lagi. semakin kau bangkit, maka akan ada orang yang merasa penderitaan kembali.”


“kau sudah tidak punya tempat lagi,” tanpa Dean sadari tubuhnya sudah lemas, dan kesadaran nya perlahan menghilang.

__ADS_1


__ADS_2