Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
``` masalah besar ```


__ADS_3

“hu...hu...hu...” Dean menangis tersedu-sedu.


“sudah lah ga apa apa ko. apa yang terjadi semua nya bukan salah lo. ini hanya sebuah insiden.” Alvi menenangkan.


“cih sialan pria itu.”


Flash back.


“berapa harga restoran ini. malam ini juga aku beli.”


“Rangga. urus semuanya. aku muak melihat ada pelayan yang tidak kompeten dalam bekerja.”


“maaf pak. sepertinya bapak sudah menghina pelayan saya. menghina restoran saya. dan seperti nya sikap bapak sudah keterlaluan.”


Alvi menarik Dean ke belakang. Alvi mulai terpancing.


entah kenapa membuat Nathan langsung naik.


“hadeh kenapa saat begini kau malah membuat kerepotan.” Rangga lelah menghadapi sikap Nathan.


Rangga sangat mengenal bagaimana sikap Nathan. jika pikiran dan kondisi Nathan sedang buruk. kesalahan sekecil apapun akan menjadi masalah besar.


“jika anda mengacau , silahkan keluar dari restoran saya. sebutkan saja berapa nominal kerugian anda” ucap Alvi. mata Dean mulai berair.


“Vi sudah Vi.” Dean takut kalau Alvi terkena masalah. karena Dean sudah tau rumor tentang siapa Nathan.


“kau belum tau siapa lawan bicara mu ini.” Nathan tidak menahan dirinya lagi.


“maaf pak. siapa pun anda saya tidak peduli. karena bapak sudah mengacau di tempat saya. saya harap...”


“Rangga aku ingin malam ini juga restoran ini tutup apapun yang terjadi.” Nathan langsung pergi.


“baik tuan.”


“maaf kepada nona nona. saya harap apa pun yang terjadi disini hanya sebuah insiden. dan kepada anda.”


“anda sudah terlalu kelewatan berbicara dengan lawan bicara yang belum anda kenal.” peringatan dari Rangga membuat Alvi terdiam mencerna apa maksud dari Rangga.


“cih sialan kalian. datang datang membuat keributan.” Alvi lelah hari ini.


“hei kau kenapa menangis. apa yang membuat mu menangis.”


“Vi...” Dean menarik tangan Alvi masuk kedalam sebuah ruangan.


sedangkan karyawan yang lain yang masih bekerja hanya menonton apa yang terjadi. tidak ada yang berani melerai nya.


“Vi Lo tau apa yang udah terjadi.”


“kenapa.. emang.” raut wajah Alvi bingung, masih bercampur kesal.


“dia itu bos gue yang gue ceritain ke lu.” Dean menghapus air matanya.


“apa..”Alvi kaget.


“huh..huh... gue pernah ceritain. siapa pun yang berurusan dengan dia pasti akan berakhir buruk.”

__ADS_1


Alvi fokus mendengar perkataan Dean.


“malam ini dia ingin menutup restoran kita Vi. gue... gue...” Dean menangis.


“jadi maksud Lo. Lo takut kalau restoran ini bener bener ditutup atau apalah, gara gara kita bermasalah dengan pria itu.”


Dean hanya mengangguk.


“cih. pria sialan.” Alvi juga tidak bisa melakukan apa apa.


“semua ini salah gue Vi.” Dean kembali menangis.


“sudah sudah. semua ini bukan salah Lo. jika dia adalah orang itu. sekarang aku harus memikirkan apa yang akan terjadi besok.”


“kita pulang sekarang. Alvi mengajak Dean pulang.


“bagiamana kalau kita bener bener dalam masalah.’


“tidak apa. sebaiknya kita pulang.”


“*semua ini gara ku. sedangkan Alvi yang mendapat masalah.”


“jika dia ingin menutup restoran ini. apa yang akan aku lakukan. mustahil Alvi bisa mempertahankan restoran ini.”


”restoran yang dia rintih sendiri. bermasalah dengan orang yang seharusnya tidak kami temui.”


Dean tau kalau Nathan adalah orang berbahaya. yang dapat merubah bisnis seseorang bangkrut. meskipun dirinya baru terlihat sekarang*.


“*apa yang harus aku lakukan. aku tidak bisa diam saja.” Alvi sekarang dalam masalah besar. sedangkan dia sedang tidak akur dengan ayahnya.


“apa yang bisa aku lakukan untuk menghentikan semua nya. dia si Presdir monster. aku pasti tidak bisa melakukan apa pun*.”


“apa aku harus bertemu dengan nya langsung. tidak tidak. jika aku bertemu dengan nya langsung. aku membutuhkan satu nyawa lagi.” Dean sedang kesusahan sekarang.


Dean tidak bisa diam diri. semua yang terjadi akibat kesalahan nya.


“tenang lah. semua nya baik baik saja. jika semuanya berakhir buruk. aku akan memulai nya dari awal. lagi pula hubungan ku dengan ayah sudah 3 tahun tidak membaik. hadeh apa boleh buat sih.”


Dean hanya tertunduk. mereka berdua sedang merenung. apa yang telah terjadi.


“cih... mereka pikir siapa mereka.” Nathan masih belum tenang. Nathan sangat menghafal 2 muka wanita di restoran tersebut.


“ini dia tuan.” Rangga sudah mendapat kan informasi.


“saya rasa. anda tidak tertarik dengan pegawai yang bekerja.” Rangga cuma menyerahkan biodata tentang Alvi.


Nathan menaikkan sebelah alis matanya. huem...


“sudah lah aku tidak tertarik dengan perusahaan itu. jalani saja bisnis kita. jika ada yang ikut campur, jangan biarkan lolos.”


“jangan sampai aku sendiri yang harus turun tangan.” Nathan beristirahat.


“dan satu lagi. siapapun wanita itu. tetap saja restoran nya harus kau tutup. atau beli saja berapapun yang dia jual.”


“dia pikir aku cuma menggertak.” emosi Nathan kali ini tidak bisa ditebak.

__ADS_1


akibat frustasi dengan permintaan mamah nya yang harus dia turuti.


“bagaimana kondisi mamah.”


“kondisi nyonya sampai sekarang masih sehat tuan. saya sudah mengkonfirmasi nya dengan dokter. nyonya harus banyak beristirahat.”


“jangan sampai dia tau. usahakan yang terbaik.” Nathan melihat keluar jendela. ekspresi nya gelisah.


“halo mah. ada apa.” Dean berbicara dengan seseorang di telpon.


“ga.. cuma kondisi bapak kurang sehat.”


“bapak. kenapa.” Dean cemas takut.


“gak papa ko. bapak cuma lemes sama ga enak badan. gimana kondisi kamu di sana.”


“baik. mah. Dean baik aja ko. mamah jaga kondisi di sana. Dean belum bisa pulang.”


“mungkin cuti depan Dean pulang.”


“ga papa kalau kamu lagi sibuk kerja ga papa. fokus kerja aja. mamah disini ga papa ko.”


“nah satu lagi. gak usah kirim uang ke mamah banyak banyak. nanti kamu sendiri gimana. biaya kamu disana lebih tinggi dari mamah dan bapak.”


“ga usah khawatir mah. pokoknya tenang aja Dean bisa mengurus diri sendiri ko. jangan khawatirin Dean.”


“lagi pula disini kan ada Alvi. jadi ga usah khawatir.ya kan Vi.”


“iya bun aman...soal Dean serahin aja sama Alvi aman ko.”


“kalian ini.”


“huem si adek masih sekolah kan. kalau butuh apa apa telpon Dean aja. biar Dean yang kirim dari sini. ga papa.”


“iya . sudah dulu ya. mamah mau tidur.


“oke bye mah...i love you.”


“bapak akhir akhir ini sering sakit. apa aku pulang aja ya.”


“huem... tadi bunda bilang kan ga papa. ya berarti ga papa dong.”


“iya sih. tapi gue khawatir tau.”


“huem cuti Lo gimana.”


“masih lama. baru gue ambil cuti kemaren.”


“ya udah cuti depan kita pulang berdua. boleh kan.”


“ya boleh lah. lebih ngirit duit.”


“idihh.. cari yang gratisan mulu.”


hahaha Dean tertawa.

__ADS_1


__ADS_2