Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
```diri sendiri```


__ADS_3

“Hah," Dean merasa lelah, kini dirinya sudah berada di dunia lain.


“apa yang akan kulakukan malam ini,” Dean memiliki waktu bebas malam ini apapun yang ingin dia lakukan.


sampai besok tiba.


“percuma rumah seluas ini apa yang ingin aku lakukan, tamannya saja seperti lapangan bola.”


“tapi kenapa pelayan nya tidak terlalu banyak.” pelayan yang Dean temui tidak lebih dari 20 orang.


makanan sudah selesai, Dean makan malam di dapur, Dean sudah mengetahui beberapa tempat penting dirumah tersebut.


“kemana pria itu pergi, dari tadi aku tidak melihatnya.”


“ternyata dia benar memberikan ku waktu bebas.”


“benar apa kata Alvi, aku harus jadi diriku, aku tidak seperti dulu lagi.”


“sekarang saatnya aku berubah.”


sekarang sikap Dean berubah 360° derajat, dari sifat pendiam, lemah, stress akibat masalah yang bertubi-tubi.


sekarang Dean sudah bersikap bijak, kuat, berpikir kedepan, untuk apapun masalah yang Dean akan hadapi kedepan.


Dean tidak peduli lagi, wanita ini harus kuat dan berjuang.


“ya meskipun sekarang aku di genggam pria kejam itu, aku harus keluar dari kehidupan nya.”


“ini hanya sebuah permainan Dean, semuanya akan selesai saat tiba waktunya.”


satu jam sebelumnya.


Dean dan Alvi sedang melakukan vedeo call.


setelah bercerita panjang lebar, Dean bertanya.


“terus gua harus gimana Vi.”


“Dean sadar de, lo harus sadar sekarang.”


Dean masih bingung menyimak.


“meskipun gua sendiri ga bisa ngadepin masalah yang gua alami, tapi kita harus berjuang de.”


“jangan sampai di tindas apalagi orang kaya dan berkuasa seperti mereka.”


“lo ga tau kan , maksud sebenarnya si Presdir itu ngikat lo dalam kehidupannya.”


Dean hanya mencerna kalimat Alvi.


“saat mereka senang, mereka akan memainkan kita seperti boneka, tapi saat mereka bosan, mereka akan membuang kita kemana saja yang mereka inginkan.”


“meskipun kita berdua hanya korban.”


itulah didikan keras yang sempat Alvi rasakan selama ini.


“Vi, gua ini bukan anak pintar, gua lemah dan bodoh Vi, gua , gua ga kuat untuk ngelawan.” Dean frustasi berterus terang.


meskipun di depan Nathan dan Rangga Dean bersikap biasa, namun Dean menyembunyikan stress nya sendiri kecuali dengan Alvi.


“de lo harus kuat sekarang, apapun penderitaan yang lo alami, apapun yang lo derita.”


“lo harus kuat, jangan sampai semua itu membuat pikiran lo stress, sehingga lo beranggapan semua sia sia saja.”


“tidak ada jalan untuk lo keluar dari kekangan pria brengsek itu.”


Dean masih menyimak apa yang Alvi sampai kan.


“gini, apapun ceritanya, lo harus kuat, jangan lemah ataupun menangis.”

__ADS_1


“lo harus bertahan, apapun derita yang lo alami.”


“sekarang tujuan lo dua.”


“dua,” ucap Dean kecil.


“seorang pembisnis kecil akan mengalahkan pembisnis kaya raya, jika dia bermain licik.”


“lo bisa fokus keluar dari masalah ini.”


“atau lo lakukan apa yang gue omongin.”


itulah sedikit pembicaraan Dean dan Alvi.


“sekarang aku bukan wanita lemah yang bisa kau tindas, aku tidak akan diam lagi.”


“aku akan melawan mu perlahan lahan, sampai kau akan menjadikan ku orang paling penting dalam hidup mu.”


“saat itulah aku akan menghancurkan dan membalas apa yang kau lakukan.”


disaat dia terdesak dengan berbagai masalah yang membuat dirinya hancur, serasa tidak punya tujuan hidup.


disaat itulah pikiran lain masuk.


mereka akan membalas dendam, mereka akan merubah diri mereka menjadi orang yang berbahaya.


kini pikiran Dean sudah terhasut.


meskipun Alvi dan Dean bertujuan hanya untuk kabur dari masalah ini, namun Dean berpikir lebih dalam.


untuk membuat Nathan bertekuk lutut, seperti dirinya yang menginginkan apapun.


“hah, apa yang akan terjadi pada ku sampai besok,” Dean masih berpikir.


“jika aku menurut, mamah dan papah pasti akan baik baik saja.”


“sebenarnya apa yang dia inginkan dari ku.”


“sudah lah, bagaimanapun tujuan ku sekarang adalah.”


“membuatnya jatuh hati kepada ku.” itulah rencana Alvi dan Dean sekarang.


“tapi bagiamana dengan keadaan Zulfa, pikiran ku tidak bisa tenang jika tidak bertemu dengan mereka,” keluarga merupakan nomor 1 yang terpenting dalam kehidupan Dean.


Dean masih kepikiran tentang keluarga nya.


Dean berada di dapur sekarang.


“hah, dapur yang sangat luas, memang nya disini sering diadakan pesta.” Dean heran melihat luas dapur rumah Dean.


Dean benar bingung.


“astaga, jika aku di suruh membersihkan seluruh rumah ini, tangan ku bisa patah,” Dean baru sadar.


“lakukan seperti biasanya, aku tidak mau terjadi sedikit kesalahan,” ucap Nathan sambil turun bersama Rangga.


“baik tuan,” jawab Rangga.


melihat 2 iblis sedang turun.


Dean menjauh agar tidak terlihat.


Dean berdiri di sudut, agar tidak terlihat oleh Nathan dan Rangga.


namun bukan Rangga namanya kalau tidak jeli.


Nathan berjalan ke ruangan lain.


“aku harus segera masuk kedalam kamar, jika aku bertemu mereka, bisa terjadi masalah besar.”

__ADS_1


“anda sedang apa disini nona, deg,” Dean terkejut mendengar suara Rangga.


“kenapa dia bisa melihat ku,” Dean berbalik perlahan lahan.


“uem, saya hanya mau mencari sesuatu untuk makan,” alasan dari Dean.


“apa tuan muda sudah memberi tahu anda,” tanya Rangga.


Dean bingung.


“ tidak.”jawab Dean biasa.


“aneh, dia lebih terlihat santai di bandingkan beberapa jam yang lalu,”


“ada apa dengan wanita ini, beberapa waktu lalu dia seperti anak kucing ketakutan. ”


“sekarang dia terlihat seperti kucing ingin memangsa tikus.”


Rangga memerhatikan perubahan Dean, dari sikap dan gaya berbicara.


“besok anda harus membuat masakan untuk tuan muda,” ucap Rangga.


“baik, apa cuma itu,” Dean kembali bertanya.


sekarang Dean benar sudah bertekad untuk berubah, Dean sudah tidak takut lagi.


apalagi gentar di depan Nathan dan Rangga.


“huh, apa kau hanya berpura akting saja. masih tidak percaya dengan perubahan Dean.


“baik kita lihat, sampai kapan kau akan berpura kuat,” Rangga mulai penasaran.


Rangga pergi.


“asisten Rangga,” panggil Dean.


“dia juga tidak canggung lagi berbicara dengan ku,” Rangga salut dengan akting Dean.


“apakah saya boleh menghubungi keluarga saya,” Dean tidak dapat menahan lagi kerinduan.


antara cemas dan kangen yang Dean rasakan sekarang.


sudah beberapa hari Dean di larang oleh Nathan untuk menghubungi kedua orangtuanya.


jika Dean tidak patuh, maka.


ayah Dean sendiri yang akan celaka.


“saya tidak bisa memberikan jawaban,” jawab Rangga.


“saya hanya ingin memastikan keadaan mereka,” Dean lebih serius.


“keadaan mereka baik baik saja, asalkan nona selalu menuruti perintah tuan muda.”


“nona tidak perlu khawatir.”


„cih, dasar pria sialan, mustahil untuk menyuruh nya, kecuali si monster itu.”


“baiklah.”


Dean sudah tau, seberapa keras dia membujuk Rangga, Rangga tetap tidak akan mendengar perintah dari siapapun selain Nathan.


“dan anda jangan lupa nona, adik anda yang terakhir dalam pantauan saya, sebaik nya anda tidak membuat masalah,” sadar dengan perubahan Dean.


“Zulfa, cih mereka memang sangat licik, menggunakan kelemahan untuk menundukkan seseorang.”


Dean tidak menjawab apapun. Dean hanya menatap Rangga.


“selamat malam, semoga kehidupan baru anda, bisa anda nikmati.”

__ADS_1


__ADS_2