
Nathan membawa Dean kesebuah butik ternama di kota.
butik yang sudah melayani berbagai konsumen kelas atas.
“selamat datang tuan.” sudah ada yang menunggu mereka.
Nathan hanya mengangguk menyapa.
“tuan apa ini tidak berlebihan,” melihat baju baju kelas atas dengan harga fantastis.
membuat Dean agak minder.
“ternyata kau benar benar tidak pernah melihat dirimu dicermin.” Nathan berhenti.
Dean mengernyitkan keningnya.
“kau mau ke pesta menemaniku dengan stelan mu sehari hari, orang orang akan mengira aku membawa pelayan kepesta.”
“aku tidak mau harga diriku diinjak ijak.”
sedangkan Dean di belakang hanya bisa mencibir lewat gerakan bibir saja.
“Nyenyenye. kau raja nya, dasar monster.” Dean merasa kesal dihina setiap hari oleh Nathan.
“aku tidak pernah membayangkan untuk memakai pakaian berkelas semewah ini.”
Dean sendiri tidak suka dengan pakaian pakaian yang mewah.
mereka masuk kedalam sebuah ruangan luas, berbagai macam model baju mewah sudah terpampang rapi.
Nathan memilih duduk di sofa, diikuti oleh Dean.
“hei siapa yang menyuruhmu untuk duduk.”
“tuan bilang, saya harus mengikuti apa apa saja yang tuan lakukan.” jawab Dean tidak bersalah.
“dasar wanita bodoh.” kesal Nathan.
“bantu wanita bodoh ini untuk memilih baju, saking bodohnya. dia tidak bisa membedakan baju berkelas dengan baju murahan.”
Dean membelalakkan matanya.
“apa, dia mengataiku bodoh lagi, dasar pria tidak waras.”
“dasar pria aneh.” gumam Dean kesal.
“mbak mau pilih yang mana.” pelayan tersebut sudah memegang kedua baju.
“aku harus pilih yang mana.”
“saya tidak bisa memilihnya,” Dean benar bingung dengan pakaian tersebut.
“kedua duanya bagus dan cantik.” Dean hanya terdiam melihat baju tersebut.
“cih, dasar wanita bodoh.” Nathan langsung berdiri menghampiri Dean.
“pakai yang ini.” Nathan mengambil gaun putih.
“cepat ganti...!”
“cih, kenapa dengannya. padahal aku sedang menikmati keindahan gaun gaun ini.”
“baik tuan.” Dean tidak membantah lagi langsung masuk keruangan ganti.
“tuan mau kemana,” melihat Nathan mengikuti dirinya.
Dean was was sekarang.
“cih apa kau sudah gila Nathan. sampai kau mengikuti nya ganti baju.”
“dasar sialan.”nathan baru tersadar.
“memangnya kenapa?” Nathan menutupi kesalahannya.
__ADS_1
“ba... bagaimana saya mau ganti baju kalo anda masuk kedalam.” Dean mulai gelisah.
“apa yang kau takutkan.” senyuman terukir diwajahnya Nathan.
“aku sudah melihat seluruh tubuhmu, untuk apa kau tutupi lagi.”
“deg, dasar pria gila. apa dia tidak punya malu.”
wajah Dean pias dan memerah.
kejadian malam itu tidak akan Dean lupakan.
Dean tidak bisa berkutik.
antara marah, malu dan bersalah Dean tidak bisa mengekspresikan diri.
Dean membuang muka.
“huh, semakin menarik.”
“aku ingin bersenang-senang,” Nathan menang sekarang.
“tapi tuan tidak harus melihat saya mengganti baju sekarang juga kan.” suara kecil Dean.
“aku tidak punya waktu meladeni mu, cepat..!” Nathan menegaskan kalimat nya.
akhirnya Dean masuk sendirian.
bening bening sudah terlihat diujung mata Dean.
“cih, jangan menangis Dean. kau ingin berubah kan agar tidak tertindas.”
“jangan pedulikan pria itu.”
“sadar Dean.” Dean tersadar, apa dari tujuannya sekarang.
dengan cepat mengganti pakaian.
“hah apa apaan dengan pakaian ini, apa aku harus tampil begini.” bulu kuduk Dean bergidik ngeri.
“ihh. aku harus mengutuk diriku sendiri.” Dean jijik dengan penampilannya sendiri.
“dalam 30 detik kau tidak keluar, akan kupastikan kau tidak akan bisa keluar lagi dari sana.” suara diluar membuyarkan pikiran Dean.
“dasar pria gila, arkk kenapa aku harus memperlihatkan penampilan ku untuk pria monster seperti dia.”
“aku tidak sudi.” Dean membuka pintu.
“sudah kuduga dia pasti akan senang jika aku memakai pakaian sexsi.”
melihat tatapan mata Nathan membuat Dean berhati-hati.
“huh.” tersenyum ganas.
“apa sekarang kau ingin merayuku dengan menampilkan tubuh mu itu.”
“maaf tuan, saya tidak berminat.”
“anda yang menyuruh saya mengganti baju.” Dean tidak terima dirinya disalahkan.
“dan kau pikir aku tertarik dengan penampilan menjijikkan seperti ini.” Nathan terus menyalahkan Dean.
“ya sudah kalo tuan tidak ingin melihatnya, lebih bagus.” Dean masuk kedalam berniat menganti pakaian semula.
“kau mulai berani membantah ku hah...!” intonasi Nathan naik satu nada.
“ada apa sih dengan nya, apa dia punya gangguan jiwa.”
“cepat ganti dengan yang lain.” Nathan menunjuk baju yang lain.
“hah, ganti yang lain.”
“tuan ini saja.”
__ADS_1
“jangan banyak bicara, cepat lakukan atau kau mau aku yang menggantikannya.”
Dean langsung menuruti perintah Nathan lagi.
setelah beberapa saat.
“ganti dengan yang itu.”
“apa....! tuan saya sudah berganti pakaian sebanyak 4 kali.” Dean geram.
“kau berani membantah perkataan ku.” sorot mata tajam tertuju kepada Dean.
“cih,” Dean menghentak kaki beberapa kali.
“ark.... apa apaan baju ini. baju yang hanya menutupi bagian dada kebawah dan lutut keatas.”
Dean keluar lagi meskipun tidak rela dengan gonta ganti baju.
“huem, yang ini cocok.” ucap Nathan.
“tuan saya tidak mau memakai pakaian seperti ini.” Dean tidak setuju.
“ jika kau membantah sekali lagi. akan ku buat kau tidak memakai apa apa.”
Dean langsung berlari kedalam mengganti dengan yang lain.
“cih apa yang dia inginkan sih. dasar pria menjijikkan.” menuruti perintah Nathan.
“dia sengaja membuat ku gonta ganti pakaian, hanya untuk melecehkan ku saja.”
“tunjukkan baju yang paling bagus dan mewah.” Nathan meminta sesuatu kepada pelayan tersebut.
2 pelayan mendorong sebuah baju yang berada dalam kotak kaca.
“ini dia tuan, desain dan gaun yang tercantik yang kami miliki.”
“hanya didesain satu saja tuan.” jelas pelayan tersebut.
melihat sekilas.
“gaun ini cocok dipakai untuk nona tuan. ukuran nya juga pas.”
“hmmm.” hanya itu jawaban dari Nathan.
“sekarang ganti dengan yang ini.” belum sempat keluar Nathan sudah menyuruh Dean mengganti dengan yang lain.
“hah.... ganti lagi.” Dean benar benar kelelahan dan pusing Sekarang.
“jika setelah ini dia menyuruh ku lagi, aku tidak akan menuruti nya.”
Dean tiba-tiba terdiam dan terpana.
“gaun ini benar-benar cantik.” Dean terpesona dengan gaun yang terakhir sekarang.
“ini benar benar menawan.” Dean terpukau melihat gaun dan dirinya sendiri.
“bagaimana dengan yang ini.” Nathan bertanya melihat Dean keluar dengan gaun yang terakhir ini.
Dean tidak bisa berbohong.
“saya menyukai nya tuan.” rasa lelah tadi terbayar kan dengan kecantikan gaun tersebut.
“kalo begitu, itu saja cepat ganti baju mu. kita akan ketempat lain.”
“kemana lagi tuan.”
“astaga ya tuhan....dia mau kemana lagi, yang ini saja sudah membuat kaki serasa patah .”
Dean harus menuruti apa yang dikatakan Natan sekarang, jika tidak dirinya sendiri yang akan bertambah masalah.
“dasar pria aneh,” Dean terus memaki Nathan dari dalam hati.
itulah beberapa resep yang Nathan pelajari dari mamah nya sendiri, saat menghabiskan waktu.
__ADS_1
mulai dari kesalon, berbelanja dan lain lain. Nathan sudah tau apa yang dibutuhkan oleh wanita.