Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
```salah masuk lift```


__ADS_3

Kantor yang megah. gedung yang menjulang tinggi. dengan keamanan yang ketat.


setiap pegawai harus men scan kartu nama milik mereka atau sidik jari.


jika tidak terdaftar satpam akan langsung tau kalau di bukan perusahaan tersebut.


Dean baru saja datang ke kantor.


Dean masuk kedalam. raut wajah Dean masih tidak semangat.


entah apa yang masih ada di pikirannya. tidak ada yang tau.


tanpa memperhatikan Dean menaiki lift khusus Presdir.


“ah...tubuh ku sangat lelah.” Dean menguap.


“tidur ku tidak nyenyak semalam. bagaimana dengan Alvi.” Dean masih teringat dengan Alvi.


“saya sudah menyiapkan nya tuan.”


“huem baiklah. kumpulkan semua laporan. jika bisa atur jadwal nanti siang.”


“baik...tuan, waktu dan tempat pertemuan bagaimana tuan.”


“terserah mereka ingin bertemu di mana.”


“baik tuan.”


“ting...”lift sempat tertutup namun terbuka kembali.


Dean menunduk dari tadi bersender. pikiran nya belum tenang.


Nathan dan Rangga mematung di depan lift. melihat ada seorang wanita di dalam.


Nathan melirik Rangga.


“uhuem...uhuem...” batuk Rangga. membuat Dean menoleh.


Dean mendongak melihat siapa.


kemudian menunduk kembali.


“tiba tiba.”


“eh...” Dean langsung melihat lagi.


“astaga...” Dean tercengang melihat siapa yang ada di depannya.


“apa...gak salah...apa gak salah. itu kan..”Dean terkejut.


“sejak kapan pegawai menaiki lift Presdir.” intimidasi dari Nathan.


“apa.....” mulut Dean bergetar ingin mengucapkan sesuatu. namun tidak bisa.


Nathan dan Rangga langsung masuk tidak mempedulikan Dean.


“kau mau kemana lagi.”


“deg...” langkah Dean terhenti.


“*aduh apa yang aku lakukan. kenapa mereka masuk kesini. apa mungkin aku salah masuk lift. tapi tidak mungkin..”


“ini salah ku. mereka tidak sebodoh itu sampai salah masuk lift.”


“kenapa kau ceroboh sekali*.”


Dean bingung sendiri dengan kesialannya.


“bukan kah lantai mu di atas.” tanya Nathan bingung kenapa wanita itu ingin keluar lagi.


“i..iya..pak.” Dean mundur perlahan lahan kebelakang.


“aneh...”melihat tingkah laku Dean seperti orang ketakutan melihat macan.


“aduh bagaimana ini. kenapa bisa berpas pasan dengan mereka sih.” Dean melirik Nathan dan Rangga dari celah rambutnya.


“*hu...hu...hu.. santai santai Dean. lagi pula kau tidak melakukan kesalahan.”

__ADS_1


“tarik nafas buang....”


“tarik nafas buang*..”


Nathan dan Rangga sibuk mengecek hp masing-masing.


Rangga hanya melirik melihat Dean menunduk menggerai rambut ke depan.


“bukankah kau yang bertugas mengecek dan mengumpulkan laporan.”


Nathan teringat sesuatu.


Nathan melihat ke arah Dean.


“eh..iy..iya pak.” Nathan mengernyitkan dahi nya melihat tingkah laku Dean.


“serahkan dokumen tersebut pada wanita ini.”


“baik tuan.” Rangga mengambil dokumen di tas yang di bawanya. menyerahkan ke arah Dean.


“ini....apa tuan.” Dean lebih berani melihat kearah Rangga dari pada Nathan.


“nona bisa baca sendiri.” ucap Rangga.


“glek... sekertaris ini lebih pendiam dari pada si bos monster. tapi dia lebih cuek.” entah kenapa Dean sedang membandingkan 2 pria dingin tersebut.


“huh...”Dean kepanasan.


“kenapa lift ini lama sekali.”


“ting...” lift terbuka.


“maaf pak..” Dean langsung keluar menabrak lengan Nathan.


“dasar aneh.”


“apakah muka ku semengerikan itu. sehingga dia ketakutan melihat nya.”


“semua orang mengakui ketampanan anda tuan. tapi saat mengetahui bagaimana sifat anda....”


”huem... cukup kau tidak perlu menjelaskan nya.” Nathan langsung keluar.


“ahhh...” nafas Dean serasa sesak berada diantara 2 pria tersebut.


“kenapa kaki ku masih gemetar.”


“sadar Dean sadar. dia pria yang telah mengancam Alvi. kau harus hati-hati.”


“nanti aku harus ke restoran Alvi. aku harus bertemu dengannya. apa yang sudah terjadi.”


Dean memeriksa berkas dokumen yang di berikan oleh Rangga tadi.


“bilang pada wanita itu. dia ikut bersama kita di pertemuan.”


“baik tuan.”


Nathan sudah memeriksa biodata pegawai yang bekerja dibawah nya langsung.


melihat biodata Dean yang tidak bermasalah. Nathan menemukan orang yang dapat di percaya.


selama ini Dean berada di bawah. bimbingan mamah Nathan selama masih menjabat Presdir yang sekarang digantikan oleh Nathan.


fokus dengan dokumen yang ada di tangan nya. dean tidak sadar kalau ada yang mengetuk pintu ruangan nya.


“iya. silahkan masuk.” Dean baru tersadar.


“nona anda di panggil ke ruangan Presdir.”


“aku..”


“ada apa ini. apa ada masalah lagi.”


“kau harus kuat dan berani Dean.”


”tok..tok..tok..”


“masuk.” ucap Nathan.

__ADS_1


“huh... huh..” Dean mengatur nafasnya teratur.


“bapak memanggil saya,” tanya Dean melihat Nathan fokus melihat laptop.


“dih. aneh kenapa dia tidak menjawab,” Dean mulai kebingungan.


“pak...” panggil Dean.


“sebaiknya aku keluar saja.” Dean memilih keluar.


“siapa yang menyuruhmu keluar.”


“deg,” Dean kaget.


“hah,,,” Nathan melihat kearah Dean.


“menurut laporan yang kuterima, kau yang ahli dalam bidang mempresentasikan dan menarik minat para pengusaha untuk bergabung dengan perusahaan.”


“apa yang dia inginkan.” Dean tidak berani menatap kearah mata Nathan.


“nanti siang ikut dengan ku, dokumen yang diberikan oleh asisten Rangga, kau harus menguasai nya, dan kau yang akan bertanggung jawab di pertemuan ini dengan klien.”


“tapi pak.” Dean tidak berani menerima tawaran dari Nathan.


“aku tidak ingin ada sedikitpun kesalahan.” Nathan kembali fokus dengan laptop nya.


”saya tidak bisa.”


“keluar.” Dean belum selesai dengan kalimat nya.


“saya tidak bisa.”


“keluar,”suara tinggi Nathan.


Dean langsung keluar.


“menarik, dasar wanita aneh,” baru kali ini Nathan menemukan seseorang yang berani menegur perintah nya.


tidak seperti yang lain, disaat menerima perintah dari nya, mereka akan segera melakukan tanpa adanya bantahan.


“apa aku, bagaimana ini aku harus bagaimana.” Dean membolak-balik halaman dokumen tersebut.


“arh... pikiran ku lagi stres.” ucap Dean merebahkan dirinya.


“aku tidak ingin ada sedikit kesalahan apapun. deg.” Dean teringat kembali perkataan Dean.


“Dean ini pekerjaan, kau tidak bisa mencampurkan nya dengan masalah pribadi mu, dia pria sialan di malam itu, dan dia juga bos ku. aku harus bisa memilah masalah.”


“sedang berpikir.” Dean menerima telpon dari seseorang.


“halo nyonya. ada apa.”


“kau dimana sekarang.”


“saya di kantor nyonya.”


“kau sibuk.”


“ iya nyonya, saya sedang mempelajari beberapa dokumen.”


“aku ingin bertemu dengan mu.”


“ada perlu apa dengan saya nyonya.”


“ oh... ini bukan masalah kantor, aku cuma ingin mengobrol biasa.”


“bisa nyonya ,kapan..?”


“terserah kau saja, kapan waktu mu tidak sibuk.”


“huem baik nyonya.” Dean mematikan telepon.


“hah..” Dean sangat kelelahan.


“jadwal ku tidak pernah kendur.” Dean melepaskan kacamata.


menggerai rambut kegerahan.

__ADS_1


“mulai dari pertama kerja sama sekarang, aku terus menutupi diri ku dengan kacamata ini.” entah apa yang terlintas di pikiran dean.


“huem.. sudah lah lebih baik aku begini saja.” raut wajah Dean seketika tidak bersemangat.


__ADS_2