
“mah pah, tapi kenapa kak Dean ga ngabarin kita aja ya.”
“diakan bisa langsung telpon, ga usaha ngirim orang seperti pria itu.”
“mamah juga heran, tapi entah lah.”
“kau tau sendiri kan, kakak mu itu, dia tidak bisa ditebak.”
“aneh aja sih, ga seperti biasanya.”
“biasa kak Dean langsung telpon,” merasa ada yang aneh dengan kakak nya itu.
“ah sudah lah, kita harus bersyukur karena kakak mu sudah melakukan yang terbaik buat keluarga ini.”
“yang tidak bisa mamah dan papah lakukan.”
“huem bener, jadi kangen kak Dean, sudah lama kak Dean ga pulang.”
“dia sangat sibuk dengan pekerjaan nya,” Zulfa merasa sedih, wanita itu sangat merindukan kakak nya.
“makanya kau harus rajin sekolah, belajar,” Suryani sangat bangga terhadap anaknya sendiri yaitu Dean.
dia juga sangat sayang terhadap Zulfa.
Suryani merapikan rambut Zulfa sekarang.
“jadi mamah papah mau keluar negeri,” Zulfa kembali sedih.
“mau gimana lagi, papah dan mamah baru kali ini keluar negeri.”
“itu juga atas perintah kakak mu sendiri, dia yang membiayai pengobatan ayah.”
“jadi bagaimana dengan Zulfa.”
“ya kau mau sekolah di SMA, kau juga belum mendaftar.”
“jadi Zulfa tidak bisa ikut sama mamah papah,” Zulfa sangat sedih sekarang.
“ga papa kamu tinggal di rumah nenek aja ya,” Suryani membelai kepala putri nya.
“jadi cuma kak intan yang pergi,” tanya Dean.
“kak intan buat keperluan papah dan mamah nanti, kalau papah mamah butuh sesuatu udah ada kak intan.”
“kau baru saja mau masuk sekolah, dan mungkin disana juga lama.” sambung intan.
“nanti biar kakak yang hubungin kak Dean.” intan masih menenangkan adiknya.
mata Zulfa berbeling beling sekarang.
“yah, kenapa nangis.”
Zulfa menangis sedih sekarang.
“sini,” ayah Zulfa duduk di sebelah Zulfa sekarang.
“kenapa nangis, papah ga akan pergi lama ko, ya nangis kayak anak kecil.”
“jangan nangis lagi oke, lusa kamu kan mau daftar ke SMA, sekarang fokus ke belajar dulu.”
“papah usahain jika Zulfa tamat SMA nanti, kita bakal pergi keliling keluar negeri bareng kak Dean gimana,” bujuk nya agar Zulfa tidak sedih.
”papah mamah juga gak bisa nolak lagi, besok mamah sudah diantar ke bandara.”
“jadi malam ini mamah dan papah harus berkemas dulu, udah jangan nangis lagi,” melihat anak sulung nya menangis, Suryani tidak tega.
__ADS_1
“huem iya, Zulfa masuk kamar dulu,” Zulfa lebih memilih masuk kamarnya.
sementara Suryani dan suaminya hanya saling pandang sedih melihat putri mereka menangis.
Zulfa tidur tengkurap memeluk bantal.
sambil melihat foto dirinya bersama Dean waktu kecil.
“liat aja kak, nanti Zulfa bakal sukses, lebih sukses dari kakak, Zulfa bakal bawa kakak, mamah papah, kemanapun kalian ingin pergi.
pikiran Zulfa mulai terbuka sekarang, keinginannya sangat tinggi.
****************
malam tiba, malam Dean memutuskan ingin menandatangani kontrak atau tidak.
“dag, dig, dug.” jantung Dean berdetak kencang.
Dean tidak menyangka selarut ini mereka akan bertemu seorang yang sangat berbahaya.
Dean menerima pesan dari Rangga , mereka akan bertemu pukul 00.00.
“apa kau takut Dean,” melihat temannya dari tadi tidak tenang.
“aku cemas Vi, takut,” Dean tidak bisa mengatakan apapun lagi.
“jangan cemas, malam ini ada gua de,” belum menghabiskan perkataan nya, Dean sudah menyahut.
“tapi kita wanita Vi, kita ga tau apa yang ingin mereka lakuin, kita juga ga kenal tempat itu.’
Dean sangat cemas sekarang.
Alvi tidak bisa membantah, dirinya juga cemas.
mereka berdua sudah memasuki halaman hotel, pemandangan yang indah dan menggugah selera.
di parkiran.
“huh...huh...huh...” mereka berdua menarik nafas panjang.
Dean dan Alvi tidak memakai pakaian mencolok, mereka memakai pakaian bebas gerak.
“bagaimana Vi,” tanya Dean.
“jangan jauh jauh, sebenarnya gua juga takut.”
Dean membelalakkan matanya.
“ya udah gue sangat bodoh dalam hal pertemanan, jika itu tidaklah menyangkut dengan pekerjaan, gua ga bisa Vi.”
“jadi lo jangan kemana mana juga.”
“ya udah kita keluar sekarang, sudah nasib kita berdua sekarang, kalau ga datang kita juga akan kena masalah besar,” Alvi tau jika mereka tidak memenuhi janji malam ini entah apa yang terjadi.
“apa mereka sudah sampai,” tanya Nathan.
“sudah tuan,”tidak perlu melihat, Rangga tau apa yang mereka lakukan.
karena sekarang Alvi, terutama Dean dalam pantauan Rangga.
“ternyata wanita itu tidak berani pergi sendiri,” ucap Nathan tersenyum.
“malam ini aku ingin ada sedikit permainan,” perintah Nathan kepada Rangga.
“baik tuan,” Rangga seperti biasa.
__ADS_1
Dean dan Alvi sudah ada di depan hotel.
sudah ada satpam yang siaga.
Dean memperlihatkan sebuah file yang dikirim oleh asisten Rangga.
“silakan masuk nona,” Dean dan Alvi masuk.
“Vi kita kemana sekarang,” Dean berjalan dengan gugup.
“mana gua tau,” bukan hanya Dean Alvi juga gugup.
Dean melihat dalam hotel yang sangat mewah, seperti yang dikatakan oleh Alvi, hanya untuk tamu VIP.
“selamat datang di hotel purnama jaya,” ucap seorang resepsionis.
“ada yang bisa kami bantu.”
“maaf mbak, kami ada undangan malam dari tuan Nathan adhesa mehendra.”
“baiklah, silahkan,” seorang pelayan langsung mengantar Dean dan Alvi.
memasuki lift.
mereka berdua sama-sama menelan ludah, mulut mereka kering.
“de, kita mau kemana,” Alvi bertanya.
“ga tau vi,” serasa ingin pipis, Dean tidak bisa menahan gemetar kaki nya.
“kalau mereka ngapain ngapain kita gimana Vi,” Dean semakin takut.
“bukan lo doang yang takut de, gua juga,” Alvi tidak bisa menebak.
“jadi kita harus gimana,” tanya Dean.
“ga tau, silahkan mbak,” pelayan tersebut menemani Dean dan Alvi sampai di sebuah ruangan.
“tuan muda sudah menunggu di dalam, silahkan masuk,” pelayan tersebut meniggalkan Dean dan Alvi di depan ruangan tersebut.
“Vi,” Dean menarik tangan Alvi.
“gua takut,”
“sama de gua juga takut.”
“gimana ni,” Dean kesusahan sekarang.
“ga usah masuk aja,kita pulang aja ya,” Dean teringat perkataan Alvi tentang sisi gelap hotel tersebut.
“tempat para tamu besar memuaskan hasrat mereka,” Dean teringat sesuatu yang tidak mau Dean ingat.
“de, sebenarnya gua sekarang udah ngeri dan jijik masuk kesini, apalagi nanti jika ketemu orang yang tidak dikenal.”
Alvi menceritakan pengalamannya.
“jadi kita harus gimana,” Dean ingin pulang sekarang.
“jika ada yang nawarin lo minum, jangan ambil, kita ga tau apa yang ada di dalam minuman itu, bisa jadi ada obat."
“jangan menatap atau melihat pria pria tua menjijikan, biasa mereka akan mendekat agar kita mau tidur bersama mereka.”
“Vi gua gak mau masuk,” Alvi sendiri adalah anak orang kaya, tentang perhotelan Alvi sudah tau seluk beluknya.
“terserah lo de, gua kesini mau nemenin lo, kalau terjadi sesuatu ada gua nanti.”
__ADS_1
“gimana, kita pulang aja ya, gua takut kenapa napa,” Alvi sangat cemas.