Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
```rumah baru```


__ADS_3

Tubuh Dean serasa kaku mati rasa.


bagiamana tidak, Dean yang tadi nya duduk di depan bersama Rangga.


sekarang duduk di samping Nathan.


Nathan menyuruh Dean duduk di belakang bersama nya.


entah apa yang dinginkan oleh Nathan, Dean tidak tau.


“kau cukup duduk saja Dean, jangan bergerak dan berbicara sedikit pun.”


batin Dean sendiri.


Dean melirik Nathan apa yang di lakukan pria itu.


Nathan merebahkan kepalanya, istirahat.


tiba-tiba.


cit.... Rangga mengerem mobil mendadak.


astaga, Dean reflek terpental ke depan, untung saja wanita itu memakai sabuk pengaman.


“sejak kapan kau tidak bisa membawa mobil,” Nathan langsung marah.


“ternyata bukan aku saja, asisten Rangga juga kena semprot jika melakukan kesalahan ,” baru kali ini Dean melihat Nathan memarahi Rangga.


“cih mengangu saja,” Nathan kembali memejamkan matanya.


Rangga masih santai tidak bergeming sedikitpun.


“tut,” suara hp Dean.


membuat wanita itu terkejut.


“cih, buang mainan mu itu, telinga ku sakit mendengar nya,” ucap Nathan namun masih tertidur.


Rangga melirik dari kaca atas.


Dean mendiamkan handphone nya, melihat siapa yang menelepon.


“Alvi, ada apa dia menelpon ku,” Dean penasaran dan khawatir tidak mengangkat telpon dari Alvi.


teng, sebuah pesan masuk.


“aku dibelakang mobil kalian.” sebuah pesan dari Alvi masuk.


“apa...!” mata Dean terbelalak melihat ke belakang.


“apa apaan wanita itu, kenapa dia malah mengikuti ku, dasar Alvi kenapa kau membuat masalah ini tambah rumit sih,” Dean benar khawatir sekarang.


memerhatikan ada yang aneh dengan Dean, Rangga fokus.


“wanita itu, dia mengikuti kami,” Rangga baru tersadar kalau ada yang mengikuti nya.


Rangga tidak Sadar kalau ada seseorang yang mengikuti nya dan tadi.


kerena lalu lintas cukup ramai, sehingga Rangga tidak terlalu fokus.


********


“mah kenapa kak Dean begini sih, kenapa dia ga ngabarin kita.”


ucap putri kepada Suryani ibu Dean.


“mamah juga ga tau,”Suryani sangat khawatir dengan keadaan Dean, jika terjadi sesuatu.


“intan mondar mandir, ga mungkin kak Dean ga ngabarin kita mah, coba mamah pikir, udah 3 hari kita disini, satu telpon ga Dean angkat.

__ADS_1


“tenang dulu intan jangan bikin mamah tambah cemas,” Suryani sangat cemas.


“bagiamana kita pulang saja,” intan merasakan ada yang aneh.


“mau pulang bagaimana, pasport kita ada di pria itu, terus kita mau pakai uang apa, kita tidak punya uang .”


Suryani semakin cemas saja, tapi pengobatan berlanjut seperti biasa, kondisi ayah Dean semakin membaik.


****************


“kemana mereka pergi sih,” Alvi masih mengikuti dari belakang.


sudah jauh dari kota.


“hah, gua ga bisa ngikutin terlalu jauh lagi, bisa bisa ketauan ni.”


“tapi Dean benar lagi ada di dalam sana,"Alvi tau kalau Dean ada di dalam sana.


“*dia masih berani mengikuti sampai sejauh ini, menarik ternyata dia lebih pemberani.


“kau akan kuurus nanti, kau akan dalam masalah lagi”, batin Rangga*.


Alvi masih mengikuti dari belakang, selang satu mobil dengan mobil Nathan.


“sudah cukup,” ucap Rangga sendiri.


“dengan cepat,” Rangga langsung menancap cas.


“eh ehh,” melihat mobil didepannya yang semakin kencang.


Alvi langsung mengejar.


tiba-tiba.


“crit, aduh dasar lampu merah, tiba-tiba saja lampu lalu lintas berganti merah, sedangkan mobil Nathan sudah duluan lewat.


“arh, bagaimana ini,” Alvi meletakkan tangan di kelapa bingung.


“huem, tersenyum.”


melihat ke belakang.


“apa yang akan terjadi nanti,” Rangga penasaran, apa yang akan terjadi dengan Dean saat dia sampai di sana.


tidak sanggup menahan lagi, akhir Dean tertidur.


saat ini Dean tertidur di dalam mobil Nathan.


setelah beberapa saat.


memasuki sebuah halaman luas, sangat indah.


sudah ada yang menunggu di sana, para pengawal berbaju hitam.


Rangga berhenti di sebuah rumah yang megah seperti istana, jika Dean melihat rumah ini, dia benar benar tidak akan percaya.


“cih, sialan kau, kau tidur nyenyak sekali.”


“ark,” Nathan menarik rambut Dean dengan keras.


“cepat turun,” ternyata Nathan tidak tertidur dari tadi.


“ awww,” Dean kesakitan memegang rambutnya.


antara bukan dan iya, Dean baru saja bangun.


Nathan menarik rambut Dean sekali lagi.


“cepat bangun atau aku akan menarik sampai kulit rambut mu terkelupas,” ucap Nathan langsung keluar.

__ADS_1


mendengar suara Nathan Dean seperti tersetrum kaget.


“arh,” memegang rambutnya kesakitan.


“di mana aku sekarang, apa sudah sampai,” Dean tidak teringat kalau dirinya akan tinggal di kediaman Nathan sekarang.


“anda sudah sampai di rumah tuan muda, dan semoga anda betah,” kalimat sopan namun bermakna kejam dan sadis.


Rangga juga keluar mengikuti dari belakang.


Dean keluar.


“apa, apa ini benar benar rumah,” melihatnya melihat rumah Nathan sangat mewah, menjulurkan tinggi berdiri dengan kokoh, melihat lebar saja.


membuat Dean tidak percaya.


mulut Dean hanya tercengang, melihat lokasi dan taman indah yang luas.


“gila, ini rumah apa istana,” bagi Dean rumah mewah milik orang kaya sudah biasa dia lihat.


namun lapangan luas dengan taman indah, si sungguhi istana besar dengan perpaduan putih, serasa dialam mimpi.


“aku bekerja di sini sekarang,’ masih tidak percaya.


“dasar wanita sialan, kenapa dia masih berdiri di sana,” melihat Dean tidak bergeming sedikitpun.


“hei kau wanita bodoh,” deg Dean tersadar, langsung berlari.


“apa kau mau kutenggelam kan kedalam kolam,” Nathan sangat kesal.


Dean hanya menunduk.


Nathan segera masuk.


“apa dia sekaya ini,” kagum Dean melihat punggung laki laki gagah dengan pesona tersendiri.


“tapi kenapa di sini terasa sangat sepi,” tidak melihat satpam ataupun pelayan.


pintu menjulang tinggi terbuka.


mata Dean terbelalak melihat suasana indah dalam rumah Nathan.


tidak ada waktu untuk kagum.


“mulai sekarang kau akan menjadi pelayan di rumah ku, mulai besok kau akan mulai bekerja, sekarang ambil barang barang mu."


hanya beberapa detik Nathan sudah memberikan tugas.


“ba, baik tuan.”


Nathan berbalik, mendekati Dean berdiri di depannya.


“sekarang pergunakan waktu mu untuk tidur, karena besok kau tidak akan punya waktu untuk tidur lagi.”


“mengerti,” bentak Nathan.


“ba, baik tuan,” Dean mundur kebelakang.


dag, dig dug, jantung Dean berdegup kencang.


Nathan naik keatas.


“aku harus pergi kemana,” Dean bingung ingin kemana.


“dimana kamar dan barang ku,” asisten Rangga, Dean melihat keseluruh arah.


“ehh, dimana asisten Rangga,” Dean tidak melihat Rangga lagi.


“astaga, apa yang harus aku lakukan, kenapa tidak ada orang satupun disini, susah dan takut.”

__ADS_1


Dean tidak tau harus kemana, melihat banyak ruangan, dibawah maupun lantai atas.


sedangkan Nathan dan Rangga sudah menghilang dari tadi.


__ADS_2