Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
```kebetulan```


__ADS_3

“Vi gue mau ambil sesuatu ya, hp gua ketinggalan di dalam mobil.”


“oke.”


Dean keluar mengambil sesuatu.


sementara Nathan.


“mamah terapi saja, Nathan tunggu di luar.”


Nathan tidak betah di dalam, Nathan lebih baik memilih di luar.


di saat yang bersamaan Dean juga keluar, membuka mobil.


sebelum sampai di mobil, Dean terkejut melihat sesuatu.


“*apa, apa itu tuan muda,” Dean kaget melihat seseorang berdiri di samping mobil.


“tidak mungkin, tidak mungkin dia ada di sini, memang nya ada urusan apa dia di sini, Dean mulai ragu ragu melangkah sekarang*.”


“hah, sepertinya mamah sangat lama, membuat ku bosan,” Nathan mengitari bola matanya.


melihat seseorang yang berdiri, Nathan tidak memperdulikan nya.


“huem seperti nya wanita itu tidak asing,” tatap Nathan sekilas.


“dia, dia melihat ku sekarang, aku harus bagaimana,” Dean kikuk sendiri.


Dean langsung masuk ke mobil dengan cepat.


Dean memegang dadanya.


“dag, dig, dug, dag, dig, dug, arh kenapa jantungku berdetak kencang.”


“lah kenapa kaki ku juga bergetar.”


“aduh gimana nih.”


Nathan hanya melihat sekilas Dean masuk ke dalam mobil.


“ngapain dia disini, huh,,,huh,,,huh,,, tenang Dean tenang kan dirimu.”


“nah sekarang dia sudah masuk kedalam, haduh gimana sekarang, apa dia mengenali ku.”


sekarang Dean tidak berani kemana mana.


Dean menggigit jempol nya.


“tidak mungkin juga dia mengenali ku,” Dean sangat cemas sekarang.


“apa yang harus aku lakukan sekarang, puk”. Dean memukuli paha nya agar tidak terus bergetar.


“huhhhhh...apa aku harus keluar, apa dia mengenali ku.”


“arh kenapa dia harus ada disini sih, apa yang mau dia lakukan tidak mungkin dia mau rapat di sini.” Dean sangat cemas sekarang.


“hah,” Dean memukuli setir mobil.


Dean melihat ke kaca atas.


“apa dia mengenali ku, arh tidak mungkin kan dia mengenali ku,” Dean melihat wajah perbedaan nya memakai kacamata.


“huhhhhh,,,” Dean merintih sendiri didalam mobil.


Nathan.

__ADS_1


“sebaiknya aku tidur saja,” Nathan sudah merasa bosan sekarang.


“dean,,,dean,,,dean,,,” Dean. Dean menepuk pipi nya sendiri.


“dasar bos penguntit, kenapa dalam hidupku selalu ada dia.”


Dean tidak tau mau berbuat apa.


“apa dia bersama si asisten itu, tapi di mana dia.”


“tidak mungkin mereka berdua kesini kan, mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan pekerjaan dalam hidup nya.”


Dean antara takut dan tidak keluar dari mobil.


selain Alvi tidak ada yang pernah melihat penampilan ku seperti ini, jadi aku tidak perlu khawatir.


“aduh ngapain sih si Presdir monster itu kesini, bikin takut aja,” Dean masih khawatir Nathan mengenali wajahnya.


“kalau dia perawatan kenapa dia ada luar.”


“apa jangan jangan dia menunggu pacar nya, arakh pikiran ku pusing tidak bisa berpikir.”


“apa jangan-jangan dia menunggu seseorang.’


“tapi kenapa dia memakai pakaian kantor, seharusnya sekarang masih jam kerja.”


“haduh,,,”Dean menyeder kepala di setir mobil.


“tut...”sebuah panggilan masuk.


“kenapa lama banget sih, Lo udah pulang ya,” lelah menunggu di dalam, Alvi langsung melakukan perawatan wajah.


“ga sebentar, ni gua mau masuk,” Dean langsung mematikan telepon.


setengah jam sudah berlalu.


“hah aku tidak bisa tidur”, Nathan kembali bangun.


“apa yang harus aku lakukan sekarang, tidak mungkin juga aku meninggalkan mamah sendirian di sini.”


Nathan sangat bosan sekarang.


“kenapa dia tidak pergi pergi sih, sudah setengah jam dia di dalam mobil.”


“aku harus segera masuk ke dalam.”


Dean membuka mobil dengan hati hati, langsung berlari ke dalam.


“wanita aneh,” Nathan hanya melihat Dean berlari tanpa mengenalinya siapa wanita tersebut.


“jika aku ketahuan tamat riwayat ku dikantor.”


“jangan sampai aku berpaspasan dengan nya, matanya itu seperti mata elang pasti dia akan langsung mengenali ku.”


“apa aku masuk ke dalam saja.”


“inilah kehidupan normal, tidak seperti kehidupan mu yang selalu sibuk dengan pekerjaan,” tiba-tiba kata kata itu terlintas dalam pikiran Nathan.


“apakah selama ini kehidupan ku tidak normal, aneh kenapa orang orang sangat aneh sekarang, padahal aku hanya mengurus perusahaan, sedang kan yang lain untuk apa, tidak berguna.”


Nathan membantah pendapat orang orang tentang dirinya yang hanya mementingkan pekerjaan dari pada yang lain.


bagi diri Nathan sesuatu yang tidak menyangkut dengan perusahaan dan bisnis, merupakan hal yang tidak penting.


Dean masih kepikiran.

__ADS_1


“kenapa dia ada disini,” Dean belum menemukan jawaban kenapa ada Nathan tiba tiba.


“aku harus segera pergi dari sini.”


“haccuh, haccuh, haccuh,” Nathan bersin.


“kenapa tiba-tiba aku bersin,” Nathan heran tidak biasanya dia bersin tiba tiba.


“sepertinya aku sudah ketularan aneh.”


“*ini hanya sebuah kebetulan Dean, tidak mungkin dia ada dalam kehidupan mu, kau harus sadar dia bukan orang yang bisa kan sanding, dia konglomerat, sedangkan kau hanya pegawai biasa.”


“jangan khawatir, jangan cemas atau takut, lakukan saja sesuka mu, tidak ada yang bisa melarang mu*.”


Dean berbicara kepada dirinya sendiri


“kenapa akhir akhir ini aku jadi agak aneh, apa perasaan ku saja,” sadar dengan perubahan diri nya sendiri.


“pasti semua ini gara gara pikiran ku stress.”


“hah, dasar pria brengsek,” Dean kembali teringat kejadian di restoran Alvi.


“semua ini salah ku, pasti Alvi sekarang lebih stress dari pada ku.”


“dasar monster, kenapa pria seperti dirinya ada di dunia ini,” Dean mengingat apa yang sudah di lakukan oleh Nathan.


sikap dingin dan kejam Nathan, membuat Dean takut jika melihat atau membayang wajah Nathan.


“huem.” Nathan sedang memikirkan sesuatu sekarang.


“jika rencana yang Rangga buat berhasil, aku tidak perlu repot-repot lagi mengurus mamah, cara ini mungkin akan bertahan beberapa tahun.”


“sebelum mamah menyuruh ku untuk menikah,” Nathan sekarang lega.


“vi, Vi, Vi,” Dean belum melakukan apapun dari tadi.


“apa,” hampir tertidur Dean tiba-tiba membangunkan nya.


diluar ada si Presdir monster.


“hah,” Alvi bingung.


“apa yang kau bicarakan.”


“si Presdir itu, ada disini.”


“Presdir, Presdir yang mana,” karena Alvi masih terhayut tidak mengerti apa yang dia katakan.


“siapa juga Presdir kalau bukan si pria itu.”


“Presdir, aaaa., dia.”


“ngapain dia di sini,” Alvi juga penasaran.


“ga tau, makanya aku lama tadi, ketemu dia, gue ngumpet dalam mobil biar ga ketahuan.”


“ngapain dia kesini, mau rapat,” ekspresi terkejut dari Alvi.


“mana gua tau.”


“*jadi gimana sekarang, astaga pasti dia bersama si asisten itu.”


“kenapa aku harus bertemu dengan nya lagi, cih aku sudah di peringatkan agar tidak muncul lagi dalam kehidupan nya.”


“sekarang mau gimana, sebenarnya sih ini kebetulan, ark membuat ku frustasi saja,” Alvi masih mengingat bagaimana ekspresi Rangga saat memperingatkan nya*.”

__ADS_1


__ADS_2