Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
```senasib```


__ADS_3

“kenapa Lo ga ngabarin gue sih.”


“mau ngabarin gimana, hp gue ketinggalan dalam mobil sekarang lagi di cas diluar.”


mengetahui kalau Dean di rumah sakit, Alvi langsung ke sana.


“udah mendingan.”


“iya udah, kita pulang aja , gue ga betah di sini,” seperti adik dan kakak begitu lah persahabatan mereka.


“oke,” Dean langsung turun dari kasur.


mereka berdua keluar sekarang.


“ngomong ngomong, beneran kalau Lo di tolongin sama Presdir jahat itu.”


“huem,”


“ini nona,” seseorang datang menyerah hp Dean.


“makasih mbak,” jawab Dean ramah.


setelah keluar.


di dalam mobil.


“ceritanya, gue mau di anterin ke rumah, jadi gue ga mau, Lo tau kan kalau gue bilang dimana daerah mana, sekertaris itu pasti tau kalau gue tinggal disana.”


“glek, dia udah tau, gara gara gue udah ngebocorin,” batin Alvi.


“jadi gue minta di turunin di halte.”


“Lo tau, pas gue nyadar ternyata masih jauh, gue nungguin taksi setengah jam ga ada yang lewat kesana.”


“tiba tiba mereka balik lagi, ya ngobrol sebentar selesai gue pingsan.”


“oh, lain kali kalau Lo mau kemana, ngomong atau chat ke gue, biar ga susah nyariin nya.”


“iya iya gue minta maaf.”


“hah.......”


“hah......


mereka berdua sekarang melepaskan nafas berat.


“asisten pribadi bos sekarang jadi tetangga,” Dean mulai mengeluh.


“yang bikin masalah restoran gue juga tetangga depan.”


“sekarang Presdir sering main ke rumah asisten.”


“dia juga yang nyuruh nutup restoran gue.”


“astaga kenapa hidup ku terjepit kedalam masalah besar.”


“ya tuhan kau mendatangkan orang yang bermasalah kedalam hidup kami,” sambung Alvi.


mereka berdua sedang merenung kehidupan mereka sekarang.


“Vi...Vi...Vi...”


“apa.”


“kaca mata gue mana.”


“kaca mana, ga tau, napa tanya gue.”


“lah ,ga ada.”


“ketinggalan mungkin.”


“gimana ni.”


“gimana apanya, kalau hilang beli yang baru aneh,” Alvi heran.


“pasti si tuan muda, ngeliatin gue ga pakai kacamata.”


”hah tuan muda, tuan muda siapa,” Alvi tidak pernah mendengar tentang tuan muda.


“itu Lo , Presdir.”


Alvi semakin bingung.

__ADS_1


“terus kenapa emang, Lo pikir si Presdir itu tertarik ama lo, jangan ngaco.”


“bukan gitu sih.”


“udah lah ga penting, jangan pikirin mereka.”


Dean masih tidak tetap.


”de, sekarang umur Lo berapa.”


“huem 23 , kenapa....”Dean penasaran.


“umur gue 25.”


“ya tau, kenapa emang.”


”gue udah janji sama ayah kalau umur gue pas 25 gue akan buktiin kesuksesan yang udah gue rintis selama ini.”


“terus...?” Dean belum faham maksud dari pembicaraan Dean.


“apa yang akan gue buktiin.”


”Lo tau kan ayah gue paling tepat sama janji, gue udah terlanjur minggat, jadi mau gimana lagi.”


“terus rencana Lo gimana, ehem huk, huk, huk, Dean terbatuk.”


“Lo ga papa.”


“ga ga papa, lanjutin aja,’ Dean meminum air.


kalau gue ga bawa pulang kesuksesan, gue bakalan tamat.”


“pasti ayah, ngekang gue lagi.”


“hah...pahit juga hidup Lo.”


“yang paling parah, ayah bakalan jodohin gue.”


“huem, kan bagus biar Lo cepetan nikah,” tawa Dean.


Alvi tidak menggubris nya.


“jadi apa yang harus gue lakuin.”


“jadi Lo harus bawa pulang pacar lo sendiri, yang sukses mempunyai bisnis atau aset yang setara.”


“kalau ga , Lo sendiri yang harus memiliki aset tersebut gitu maksudnya.”


“huem iya,“ Alvi merasa gelisah akhir akhir tertimbun beberapa masalah yang membuat kepalanya cenat cenut.


“gimana menurut Lo.”


“ga tau sih, ayah dan ibu gue bukan orang kaya jadi ga tau gimana perasaan nya.”


“gue sendiri harus berjuang keras agar punya pekerjaan tetap , apalagi sekarang ayah sedang sakit.”


“ya Lo sih enak hidup sebagai anak orang punya.”


“ya meskipun Lo ga bahagia.”


“kita punya kekurangan masing masing, Lo harus berusaha mati matian, sedangkan gue , hidup serba ada tapi ga bahagia.”


“ah... senasib ya.“


“eh Lo tau jarang jarang kita curhat gini ya kan.” tanya Dean memang benar.


“iya, suana hati dan pikiran gua lagi ga mod.”


“ya udah, krok... krok...krok. suara perut lapar Dean.


hehehe lapar, Dean tertawa.


...****************...


“arh.... ”seseorang menguap sedang menuruni tangga.


“pagi mah,” sapa Nathan di meja makan.


“Nathan...! kenapa kau ada disini, kapan kau pulang,” mamah Nathan terkejut melihat dirinya.


“semalam Nathan pulang, mamah sudah tertidur.”


ouh, hanya ada 2 orang di meja makan tersebut.

__ADS_1


hanya ada suara garpu dan sendok yang terdengar.


setelah makan.


“mamah ingin bicara serius.”


“mamah ingin segera kau menikah.”


“mah sudah berapa kali Nathan bilang.”


“apa gunanya Nathan menikah mah, Nathan masih fokus untuk perusahaan.”


“Nathan kau anak satu-satunya mamah dan papah, umur mu 26 sekarang, mamah ingin kau segera menikah dan menggendong cucu, agar pesan papah segera dapat mamah penuhi.”


“kau tau permintaan papah sebelum dia meninggalkan kita.”


“brak, cukup mah, Nathan tidak tega kalau menyakiti hati mamah, tapi tolong jangan memaksa apa yang ingin Nathan lakukan.”


“tolong mah, udah berapa kali mamah melakukan ini, dulu pas Nathan masih di luar negeri, mamah juga seperti ini.”


“cukup mah.”


“Nathan tidak ingin mengingat tentang papah, mamah sudah tau bagiamana sikap Nathan, jika bukan karena mamah Nathan tidak akan begini mah.”


Nathan merasa frustasi sekarang.


“hah...hah...”Merry seperti sesak.


“mah , mah, mah,” melihat mamah seperti itu, Nathan langsung memutar balik.


“mamah ga papa,” Nathan sangat cemas.


“ga ga papa,” mamah mau istirahat saja.”


“ni,” panggil Mery memanggil pelayan.


“anterin saya ke kamar.”


“biar Nathan aja mah,” Nathan merasa bersalah sekarang.


“ga papa, kau kekantor saja jangan sampai terlambat, mamah tidak apa apa ko.”


”hati hati buk.” seorang pelayan memapah Merry ke kamar.


Nathan langsung berjalan.


“cih apa yang harus aku lakukan, semua ini salah ku.”


Nathan sangat terpukul sudah terlanjur berbicara.


Nathan langsung ke kantor.


wajah Nathan semakin gelisah entah apa yang dia pikirkan.


****************


“kak sendiri bagaimana.”


“sehat, kau harus belajar dengan giat.”


“syit syit, ada hal penting yang ingin ara bilang.”


“apa...”


“minggu depan Ara mau kerumah kakak, boleh ya.”


“hah apa kau bilang, no no no, kamu ga boleh ke sini.”


“Kakak tau, kalau ara udah tamat SMP, rencana ara mau lanjutin SMA di sana.”


“ga...ga...ga... boleh you understan. ”


“no kak, Ara mau tinggal sama kakak, Ara bosen sendiri di sini.”


“sama juga, kalau kamu kesini kakak juga ga ada dirumah.”


“please, please, kakak gitu sih, disini Ara udah bosen.”


“ga papa tunggu selesai sekolah baru kamu kesini.”


“huem gitu okey. don't talk to Ara anymore . tut..”


telpon langsung di matikan.

__ADS_1


“hah... dasar anak ini,” Rangga kalah suhu jika berurusan dengan adik satu-satunya.


__ADS_2