Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
```kehidupan baru```


__ADS_3

Dean kembali ke kantor seperti biasanya.


namun kini penampilan nya agak sedikit berbeda.


Nathan sudah melarang Dean untuk memakai kacamata, dengan sebuah alasan Nathan muak melihat nya.


sementara Dean sendiri kali ini, sudah bulat memutuskan untuk tidak melibatkan orang lain dalam masalah nya.


“nona anda di panggil ke ruangan pak Presdir,” panggil seseorang.


deg, badan dan tubuh Dean langsung terkontak, bergetar masih ketakutan.


“jika aku tidak mematuhi nya, maka,” Dean selalu terngiang dengan ancaman dari Nathan.


Dean yang dulu sudah berubah akibat trauma dan frustasi.


tok, tok, Dean mengetuk pintu ruangan Nathan.


langsung masuk, melihat hanya Nathan yang ada dalam ruangan tersebut.


Dean berdiri menunduk.


“apa yang harus aku lakukan selanjutnya,” Dean masih memikirkan apa yang akan Nathan lakukan.


setelah beberapa menit.


“mulai sekarang kau tinggal bersama ku,” hanya itu yang Nathan katakan.


sempat terkejut, namun bukan Dean namanya kalau tidak membantah.


“tapi tuan.”


sudah menjadi sifat alami Dean tersendiri.


“apa kau sudah lupa siapa dirimu sekarang,” tatapan intimidasi dari Nathan.


Dean hanya menunduk.


“satu lagi, penampilan mu itu membuat ku muak, sore ini kau pulang dengan ku,” Nathan adalah orang yang sangat memperhatikan stel dan gaya.


melihat dandanan Dean tidak seperti yang di inginkan membuat Dean muak.


“baik tuan,” Dean tidak dapat membantah lagi.


keluar sekarang.


“bagiamana dengan barang barang saya tuan,” Dean bertanya.


“apa kau sebodoh itu,” Nathan kesal.


deg.


“apa aku salah bertanya,” batin Dean.


“ambil barang barang mu yang penting, selain itu buang saja, aku tidak ingin kau mengotori rumah ku dengan barang rongsokan mu.”


deg, satu kali lagi.


tidak menjawab Dean langsung keluar.


masuk kedalam ruangan nya.


“tinggal di rumah dia, apakah serumit ini.”


“pikiran ku saja sudah stres dan gila dengan kontrak kontrakan tersebut, sekarang aku harus menuruti nya untuk tinggal di rumah nya,” Dean dapat membayangkan.


kesibukan dan masalah lebih rumit akan membuat pikirannya meledak.


“satu lagi,” Dean mengingat kata kata Nathan barusan.


mengambil hp, mengaktifkan kamera.


“astaga, wajah ku sangat buruk,” Dean baru sadar dengan wajahnya nya babak belur, lebih jelek dari hari biasa nya.

__ADS_1


karena tidak memakai kacamata, Dean agak risih.


dia tidak keluar ke kantin untuk sarapan.


'''kruk,''' kruk,''' suara perut Dean.


“arkh, perut ku sangat lapar,” Dean belum sarapan pagi,dan sekarang sudah hampir sore.


“apa yang harus aku lakukan,” Dean mondar mandir.


Dean sudah tidak memikirkan lagi tentang dirinya bermasalah.


“sudah lah, hidup ku hanya untuk menjalani masalah dan menderita, tidak ada gunanya aku memikirkan nya.”


“yang harus kupikir kan sekarang, diriku dan keluarga ku.”


“turuti apa saja kemauan nya, dan dia tidak akan menggangu.”


“hahaha,” tawa kecil Dean.


akhir akhir ini Dean tidak sadar banyak perubahan dengan sikap nya.


****************


“Vi gua malam ini gua ga pulang.”


“kenapa?”Alvi heran.


“mulai sekarang aku diminta tinggal di rumah nya.”


“what!, sekarang juga,” Alvi yang di seberang sana terkejut.


“terus apa yang bisa gue lakuin,” jawab Dean.


“gini gini, lo kan bisa bilang beberapa hari lagi, atau dengan alesan milih barang-barang penting dulu,” Alvi benar tidak setuju.


“ga bisa Vin,” Dean merasa sedih dan bersalah.


sedangkan Alvi.


mereka berdua sedang melakukan video call.


“bentar lagi kan jam kerja lo mau habis.”


“huem,” jawab Dean.


“gimana kalau gua jemput.”


“oh no no no, ga usah Vi, jangan jangan.”


“jangan ngelakuin hal hal yang bisa membuat masalah lebih rumit,” Dean benar benar tidak setuju.


“masuk,” tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.


Dean diam sebentar.


setelah itu langsung masuk asisten Rangga.


“asisten Rangga,” Dean terkejut dengan kemunculan Rangga yang tiba-tiba.


baru kali ini Rangga masuk kedalam ruangan Dean.


“tuan muda menunggu anda nona.”


“sekarang...?” Dean bertanya.


“halllllo, hello de, Dean lo bicara sama siapa sih ganggu aja,” kesalahan fatal dari Dean.


Dean lupa mematikan telepon nya , sedangkan Dean mengaktifkan speaker sehingga Rangga jelas mendengarkan nya.


“eh eh,”seperti tidak sempat lagi untuk mematikan.


Dean langsung memutuskan telpon.

__ADS_1


“lah ni anak ada apa sih, main putus putus aja,” Alvi kesal.


meskipun mendengar, Rangga tidak memperdulikannya.


“sepertinya aku harus segera menjemput Dean,” Alvi tidak berpikir panjang lagi, Alvi segera datang ke kantor Dean.


“maaf,” Dean meminta maaf.


Dean mengikuti Rangga.


di dalam lift.


“*apa yang akan aku lakukan disana,” kecemasan Dean tiba-tiba datang lagi.


“apa aku bertanya pada asisten Rangga saja, sepertinya dia lebih bisa di ajak berbicara,” Dean sendiri tidak bermasalah dengan Rangga*.


di sisi lain mendengar cerita Rangga dari Alvi, membuat bulu kuduk Dean bergendik ngeri.


“apa saya boleh bertanya asisten Rangga,” ucap Dean tidak terlalu besar.


Rangga menoleh.


melihat Dean sedikit lama.


“*sikap nya di depan tuan muda, takut, lemah tidak berani berbicara sedikit pun.”


“tapi dengan ku, dia tidak canggung ataupun merasa ketakutan, apa aku sebaik itu,” Rangga heran dengan sikap Dean*.


“boleh,” jawab singkat Rangga.


“apa yang akan saya lakukan di sana nanti,” pertanyaan yang sangat ingin Dean tanyakan.


“saya tidak tau nona,” jawab singkat Rangga.


“apa...!” “tumben biasa dia selalu tau apa yang dilakukan tuanya.”


“huem,” Dean ingin melanjutkan pertanyaannya.


“apa nona mau bertanya lagi,” tanya Rangga sudah bisa menebak.


“apakah dengan menyetujui kontrak ini, orang tua saya baik baik saja, dan keluarga saya tidak akan terlibat dalam masalah ini lagi.”


“*huem, wanita ini sangat menyayangi keluarga nya, meskipun nyawa taruhannya.”


“sepertinya sifatnya itu, berhasil menarik perhatian tuan muda,” Rangga sendiri sangat mengenal Nathan*.


sekarang Dean akan melakukan cara apapun, untuk melindungi keluarga nya.


“lebih baik anda bertanya langsung kepada tuan muda,” Rangga tidak menjawab pertanyaan Dean.


“glek,” Dean terdiam kaku.


“apa aku harus bertanya tentang Alvi,” Dean masih ragu ragu.


“ark, apa Dean masih ada di kantor, semoga aja aku tepat waktu.”


“tapi..!”


“bagiamana jika bertemu dia, ark,” Alvi merasa cemas bertemu dengan Rangga.


jika dia bertemu dengan Rangga, sudah pasti harinya akan berakhir tidak menyenangkan.


“semoga saja aku tidak bertemu dengan nya,” Alvi menyakinkan dirinya sekarang.


mobil mewah itu sudah tepat ada di depan gedung pencakar langit.


Dean masuk di depan, Dean tidak punya keberanian untuk duduk di belakang bersama Nathan.


“*astaga,” Dean terkejut melihat Nathan sudah ada di dalam.


“tenang tenang Dean tenangkan dirimu,” Dean menarik nafas dalam-dalam.


akhirnya mereka berdua masuk*.

__ADS_1


sementara Alvi baru saja sampai, Alvi membawa mobil dengan kecepatan maksimal.


“dimana mereka,” masih memantau keadaan.


__ADS_2