
Seperti biasanya, sekarang Dean sudah kembali kehidupan nya.
Dean hari ini masuk kantor setelah 3 hari libur akibat pingsan di halte.
“hah,” Dean meregang kan kedua anak jari nya.
melihat tumpukan kertas yang menumpuk, membuat Dean sedikit lesu.
“hah sudah lah, salah ku juga tidak masuk 3 hari,” Dean dengan cepat memeriksa semua dokumen.
“tok, tok, tok, tok” seseorang mengetuk pintu ruangan Dean.
“masuk,”ucap Dean masih fokus.
“nona, anda di panggil ke ruangan Presdir.”
“ada apa lagi, hari ini entah berapa kali aku bolak balik keluar,” Dean merasa lelah dengan orang orang.
Dean menarik nafas dalam dalam.
Dean memasuki ruangan Nathan.
melihat Nathan seperti biasa sibuk melihat laptop, dan sekarang ada asisten Rangga yang sedang berdiri memegang sebuah berkas.
“siang tuan, anda memanggil saya,” melihat tidak ada yang menegur, Dean menyapa terlebih dahulu.
setelah beberapa menit.
“aku sudah selesai,” Nathan menutup laptopnya langsung tertuju ke arah Dean.
“silahkan duduk nona,” sudah tersedia kursi di depan meja Nathan.
“sebaiknya aku turuti saja apa permintaan mereka berdua, sepertinya ada masalah serius,” melihat ekspresi Nathan dan Rangga serius.
Dean duduk dengan tenang selama dirinya tidak bermasalah, tidak ada yang perlu Dean takuti.
Nathan mengisyarat kepada Rangga.
Rangga menyerahkan berkas yang ada ditangannya.
takut bercampur bingung yang Dean rasakan sekarang.
“ada apa ini, apa aku melakukan kesalahan,” Dean mulai merasakan suasana mencekam.
“baca,”ucap Nathan.
melihat kearah Nathan, lalu kearah Rangga, setelah itu Dean melihat keberkas tersebut.
Dean membuka dengan perlahan-lahan.
Dean mulai membaca.
“surat kontrak,” Dean merasa bingung melihat kearah Rangga.
“silahkan baca sampai ke bawah nona,”:ucap Rangga.
__ADS_1
“surat ini di buat untuk melakukan kontrak, di mana jika surat ini di tandatangani, maka kontrak akan on langsung terjalin.”
“apa kau tidak bisa membaca dengan benar,” mendengar bacaan Dean kecil terbata bata membuat Nathan sangat kesal.
“jika kontrak sudah terjalin tidak ada yang bisa membatalkan kontrak ini, jika salah satu dari kedua belah pihak ada yang melanggar, maka akan di kenakan denda yang besar.”
“*glek,” Dean menelan ludahnya.
“apa apaan surat ini , firasat ku tidak enak.”
“membuat ku takut,” Dean bisa menebak ada sesuatu yang akan terjadi*.
“pihak A : tuan muda Nathan adhesa Mahendra.”
“pihak B : nona Dean Ariesta.”
Dean masih belum faham apa maksud dari surat tersebut.
“pihak B akan menjalin kontrak dengan pihak A.”
“1.selama kontrak terjalin, pihak B tidak boleh melakukan apa pun yang tidak disukai, atau tidak diizinkan oleh pihak A.”
“2.jika pihak B melanggar pihak A akan menghukum dan mendenda pihak B dengan berat.”
Dean masih membaca isi surat tersebut.
“3. jika pihak B sudah setuju dengan kontrak yang dibuat, selama hidupnya, semua kebutuhan pihak B akan di penuhi, sebagai tanda jadi kontrak, pihak B akan menerima kompensasi yang besar.”
“4. pihak B tidak berhak mengetahui tentang kehidupan pihak A , baik itu kehidupan normal atau kehidupan lainnya.”
“6. mengenai kontrak tidak ada yang boleh mengetahui nya selain penjalin kontrak, jika pihak B tidak menjaga rahasia dengan rapat, pihak B harus menerima konsekuensinya.”
“7. yang dapat melanggar dan merubah kontrak hanya pihak A.”
“maaf tuan, saya benar benar tidak faham dengan isi kontrak ini, satu lagi apa hubungannya saya dengan kontrak ini.”
Nathan mengernyitkan dahinya.
“kau turuti saja perintah ku, tandatangani kontrak ini, dan tulis berapa nominal yang kau mau,” Nathan mengeluarkan sebuah cek.
“maaf tuan,”Dean merasa ada yang tidak beres.
“sebenarnya ini kontrak apa,” Dean bertanya dengan siaga sekarang.
“tanda tangani kontrak ini, setelah itu kau akan tau apa isi dari kontrak ini sebenarnya.”
“maaf tuan, saya tidak mau menandatangani kontrak ini, saya belum tau maksud dari kontrak ini,” Dean sekarang bersikap tegas.
“tugas nona hanya mendampingi tuan muda selama kontrak tersebut,” jawab Rangga.
“apa...! menemani dia, memang nya ada apa sampai harus ku temani.”
“bisa tolong jelaskan lebih detail.”
“huem wanita menarik, belum pernah ada seseorang yang berani tawar menawar dengan perintah ku, tapi wanita culun ini sedikit berani.” Nathan menemukan sesuatu yang menarik.
__ADS_1
“baiklah jika nona ingin mengetahuinya.” ucap Rangga.
“*apa yang mereka inginkan....” Dean mulai berpikiran negatif sekarang, bukan tidak mungkin orang Seperti Nathan seperti itu.
“dia adalah orang yang selalu menginginkan apapun*.”
“nona akan menjadi kekasih tuan muda,” jawaban singkat dari Nathan.
“huk, apa kekasih.”
“apa saya tidak salah mendengar nya tuan,” Dean tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Rangga.
“iya nona, nona anda akan menjadi kekasih kontrak tuan muda.”
“*apa apaan mereka ini, apa ini sebuah lelucon, sekarang aku harus bagaimana,” Dean tidak tau harus bagaimana, Dean ingin tertawa melihat kekonyolan ini, tapi Dean tidak berani.
“apa mereka sedang memeran adegan film,” Dean benar benar stres sekarang melihat kelakuan 2 orang dingin itu*.
Dean terbengong sekarang tidak tau mau menjawab apa.
“apa ada yang salah,” Nathan juga bingung melihat sikap Dean.
Nathan tidak tau tentang hubungan kekasih, atau kekasih kontrak, dia benar benar gila jika memikirkan hal tersebut.
“sekarang tanda tangan surat ini,” tidak mau menunggu Nathan langsung menyerahkan pulpen.
“maaf tuan, saya tidak mau menandatangani kontrak ini,” setelah berpikir keras, Dean tidak bermimpi semua ini nyata.
“maaf tuan seperti nya anda sudah salah sangka, saya tidak mengerti apa maksud dari kontrak ini, dan saya tidak ingin menandatangani kontrak ini, Dean faham namun bingung.
“glek,” Nathan tercengang mendengar jawaban dari Dean.
“kenapa kau tidak mau menyetujui nya,” Nathan mulai marah sekarang.
“apa dia marah,” kaki Dean bergetar lebih hebat sekarang.
sekarang Dean tidak canggung berbicara dengan Rangga atau Nathan.
tapi jika Nathan mulai marah, ketakutan Dean akan terangsang.
“maaf tuan, sepertinya tuan salah orang, sebaiknya tuan memilih wanita lain, saya tidak pantas berada di samping tuan.”
Dean tidak ingin berada dalam kehidupan Nathan, dan juga dirinya tidak pantas berdiri di samping Nathan mengingat statusnya.
“kau jangan membuat kesabaran ku habis, cepat keluar dan tandatangani surat ini, aku tidak akan mengulangi kata-kata ku untuk ketiga kalinya.”
“kau sudah tau kalau hal yang membuat ku marah adalah menunggu.”
“apa yang harus aku lakukan sekarang jika aku menolak dia pasti akan sangat marah, tapi aku juga tidak ingin menuruti keinginannya.”
“maaf tuan, anda tidak bisa memaksa kehendak saya,” Dean sudah mengumpulkan semua keberanian nya untuk menjawab seperti itu.
glek, Rangga tidak menyangka kalau Dean akan menjawab seperti itu.
Nathan mengambil berkas tersebut, langsung melempar nya kearah Dean.
__ADS_1