
“sekarang apa yang harus kita lakukan.”
“huem, tenang saja, dia tidak akan mengenali kita, sebaiknya kau cepat cepat.”
“jika kau terus ada disini, mungkin dia akan mengenali ku.”
“oke deh, ”Dean langsung melakukan perawatan wajah.
aku harap tidak ada si asisten itu disini,” tatapan dan ancaman nya waktu itu membuat ku geli.
“*hah, kenapa aku sekarang jadi khawatir, apa urusannya dia dengan ku.”
“sekarang kami bukan di kantor , jadi aku tidak perlu takut*.”
“arh, lama banget,” Nathan mengantuk sekarang.
“hari ini kemana tuan muda pergi, semuanya sudah ku selesai kan.”
“hah sangat merepotkan, setelah Nathan kau selanjutnya.”
“sekarang tuan muda sudah aman, bagaimana dengan ku sendiri.”
“merepotkan, pasti aku tidak akan bisa menghindari permintaan nyonya, bagaimana ini.”
“setelah membantu tuan muda keluar dari masalah, malah aku sendiri yang terjebak dalam masalah, Rangga berbicara pada dirinya sendiri.”
“hah, apa yang akan aku rencanakan selanjutnya.”
“jika tuan muda sudah mempunyai kekasih, nyonya akan segera menikah kan nya.”
satu sisi beban Rangga terlepas.
di sisi yang lain, timbul masalah.
kerena dia sendiri sudah seperti saudara sekandung dengan Nathan.
jadi setelah Nathan, Rangga harus mencari pasangan nya.
setelah semuanya selesai.
“oke arh, badan ku segar semua,” Alvi dapat merasakan sensasi yang sangat enak.
“bagaimana dengan mu.”
“lain kali kita kesini lagi yah,” Dean mengangkat kedua alisnya.
“idihh enak aja, lain kali lo yang harus bayar.”
“ko gitu.”
mereka berdua segera keluar.
“de, sebenarnya sih wajah lo cantik banget tau, putih berseri, cuma lo aja yang masih dandanan aneh.”
“masak,” Dean tidak mengakui nya.
“meskipun lo bilang gue ini cantik, tapi di tempat kerja atau di tempat yang ada kenalan gue, kek nya gue ga berani, ya bisa dibilang minder.”
“gua gak bohong ya, sebenarnya muka lo cantik, apalagi setelah perawatan gini, gua taruhan mana ada cowok yang ga mau sama lo.”
“arh ga usah ngomongin masalah cowok lah, jodoh lah.”
“enek, gue denger nya.”
meskipun wajah dan postur tubuh Dean sangat cantik, Dean lebih suka berpenampilan kaca mata culun.
“ya demi lo juga, ga cape kerja, cewek secantik lo, mana ada yang berani nolak.” Alvi benar benar mengakui kecantikan Dean bukan mengada-ada.
__ADS_1
namun disaat yang bersamaan Alvi merasa ada aneh dengan pandangan dan prinsip Dean.
“lo Vi temen akrab gue, pasti tau, kalau gue takut, ya ga berani di tempat keramaian dengan dandanan biasa.”
“entah itu kepribadian ganda atau ga, gue sih gitu.”
“susah ngomong sama lu, yaudah kita pulang aja,” Alvi lelah dengan Dean.
apa pun yang Alvi katakan, Dean akan tetap dengan pendirian nya.
“hah,” hanya berjarak beberapa meter lagi dari mobil.
Dean langsung terhenti kaget.
“ada apa sih,” Dean menarik tangan Alvi.
“tu liat,” Dean menyorot dengan mata nya.
“itu kan buk bos lu yang dulu, emang napa.”
“napa napa, buruan masuk.”
mereka berdua langsung masuk.
Mery mau keluar, tiba-tiba dia bertemu dengan teman nya.
“jadi maksud lo, si Presdir itu sama mamah nya gitu.”
“nah, itu dia maksud gua.“
mobil mereka berdua sejajar.
Dean dapat melihat dengan jelas Mery sedang mengetuk kaca mobil Nathan.
“dasar anak ini malah ketiduran.”
“mamah udah selesai,” tanya Nathan melihat ibu sudah ada disamping.
“udah dari tadi, mamah ingin pulang.”
Mery masuk kedalam mobil.
“nah gua bilang apa juga, dia pergi dengan ibunya.”
“jadi hari ini dia hanya mengantar ibu nya, dan tidak bersama si asisten itu, syukur lah, ”Alvi merasa lega.
“ternyata Presdir kejam dan dingin seperti dia masih punya hati nurani, dia masih tau kasih sayang,” ucap Alvi kesal.
mereka berdua terkejut melihat sisi lain dari Nathan.
“aku juga baru tau, eh mereka pergi.”
“emang kenapa,” tanya Alvi.
“ga papa sih, penasaran aja, dia mau kemana lagi, rumah nya aja gua gak tau.”
“huem tumben lo kepo, biasa nya sikap lo ga kayak gini,” mencium ada yang mencurigakan dari Dean.
“apaan sih,” Dean sendiri sekarang salah tingkah.
“apa jangan-jangan lo, mulai naksir ya sama si Presdir itu.”
“apa lo bilang, gua naksir sama si Presdir itu, jangan ngaco deh.”
“jangan ngomong yang gak gak.”
“tapi emang bener, sifat kepo lo sebelumnya ga ada.”
__ADS_1
“udah ah males ngomong sama lu, kita pulang aja.”
“cie, cie, katanya benci tapi rupanya suka,” entah benar atau tidak sekarang Alvi sangat senang bisa mengerjai Dean.
“ih, apa apaan sih, ga ga gak , siapa juga yang suka pria itu, kalau lu ngomong lagi, turun pulang pakek taksi sana,” sekarang Dean benar kesal terhadap Alvi.
“hahha,” tawa Alvi pecah.
“makanya hari ini lo ikut perawatan ya.”
“jangan ngomong lagi sama gua, awas ya,” Dean langsung melaju kan mobil nya.
“yah ngambek ni anak.”
Dean sekarang benar-benar kesal terhadap Alvi.
“*cih, siapa juga suka pria dingin kejam itu.”
“amit amit deh, meskipun kaya raya gua tetap ga akan mau*?”
entah apa yang ada di pikiran Dean sekarang, yang pasti Alvi sekarang sedang dalam mode peringatan.
“awas lo ya, kalau sampai rumah gua gak mau ladenin lagi.”
“jangan sentuh sentuh, turun ga,” Dean benar marah.
“hahaha,” Alvi tertawa puas setelah membelai paha Dean.
“kan boleh tuh sikat aja di Presdir itu, kali ketipu mungkin kan sama kecantikan lo.”
“puk,” Dean menepuk muka Alvi.
“gue heran ya lo selalu ngomongin tentang gue.”
“sana noh, ambil tu tetangga lo, masukin kerumah biar ga keluar lagi,” Alvi faham apa yang di maksud oleh Dean.
“idihh amit amit dah gua, sama dia ogah gua,” Alvi geli mendengar perkataan dari Dean.
“cie ga ngaku nie, haha sekarang gua tahu, apa mungkin lo mau bilang ke papah lo, kalau dia adalah pasangan yang pas, cocok tuh.”
“hah, udah lah jangan bahas mereka berdua,” Alvi sudah cape.
“huem bener juga, ngapain kita omongin mereka, sekarang kita mau kemana.” tanya Dean.
“huem, pulang aja deh, kepalaku dah pusing nih.”
“okey.”
sampai di rumah.
“makasih, tumben kamu perhatian sama mamah, biasanya ga.”
“ga Nathan perhatiin mamah marah, Nathan perhatiin mamah marah, mau mamah gimana.”
“hahha kau ini,” Mery menciumi pipi Nathan.
Rangga sudah menunggu dari tadi.
“tuan,” panggil Rangga.
“mamah mau istirahat dulu,” tidak seperti dulu sekarang Mery bebas bergerak, sekarang tenaga Mery sudah lelah.
Nathan menunjuk ke arah atas.
dalam sekejap 2 orang pelayan mengikuti Mery dari belakang.
setelah itu Rangga dan Nathan masuk kedalam ruangan kerja.
__ADS_1