Presdirku Cintaku

Presdirku Cintaku
```karma gosip```


__ADS_3

“hah....”


waktu istirahat pun kunjung, tidak ingin menunggu Dean langsung ke kantin.


“kopi,” pesan Dean.


“huem...”Dean melihat tempat yang kosong.


“hah.. nikmat,” Dean menikmatinya.


“Ting... Ting... Ting...”


“huem bosen,” Dean mengecek notifikasi hp nya. sayang tidak ada penting.


Dean menompang wajah nya, akibat bosan.


“hei.”


“astaga,” seseorang datang menepuk pundak Dean, membuat wanita itu terkejut.


“ouh , kau rupanya, kenapa kau mengagetkan ku,” Dean melihat siapa yang di belakangnya.


“hahah, kau sendiri malah melamun.”


“duduk sini,” menepuk kursi di samping nya.


“kau tidak ambil cuti.”


“ga , nanti sekalian pulang kampung, jadi punya waktu banyak.”


“lo tau sesuatu ga,” tanya wanita tersebut.


“ga , emang ada feb,” melihat wajah Febri serius.


“sini,” isyarat Febri agar Dean mendekat mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Febri.


“seluruh perusahaan menggosipkan tentang Presdir baru kita.”


”benarkah..!”


“lah, lo sih jarang bergaul sama anak anak, makanya ga tau tentang berita hot.”


“huem, seperti nya bukan perusahaan ini saja yang pegawai nya suka mengosip.”


“huem, kau ini.” Febri cemberut.


“memangnya ada apa dengan Presdir baru kita,” Dean langsung membisikkan sesuatu.


“huem, ogah gue, cari aja sendiri.”


“hehehe, please, tadi gue cuma canda, canda,” Dean mengangkat kedua alis matanya.


“jadi gini,” mereka berdua merapat agar orang lain tidak mendengar nya.


“gue denger, Presdir baru kita ini kejam, dingin, cuek.”


“dih,,ngeri banget, suka bentak bentak, gitu sih yang gue denger.”


“ouh. huem.” respons Dean.


“ah, oh , ah , oh, Lo kan yang paling deket sama Presdir,Lo kan pasti tau lah.”


“dih..! emang gua istrinya,” Dean meminum kopinya.


“emang bener apa yang lagi di gosipin,” Febri benar penasaran.


“huem ga tau,” jawaban singkat dari Dean.

__ADS_1


“ouh gitu okey, kalau lo perlu jangan bilang ya,” Febri kesal dengan ocehan Dean.


“canda, huem ya gitu seperti yang Lo denger.”


“berarti Lo sering dong kena semprot.”


“liat mata dia aja udah ngeri.” Dean membayangkan wajah Nathan yang dingin tidak berekspresi.


“udah lah, ga ada gunanya juga kita omongin Presdir,” Dean mencari topik lain.


Dean sangat tau bagaimana sifat teman satu nya ini, Febri pasti akan bertanya sampai ke akar masalah jika dia mengetahui sesuatu.


“Lo tau ga ,ada satu lagi, Lo harus tau kalau ya ini.”


“apaan....!,” penasaran.


“katanya Lo deket sama Presdir, dan ada yang bilang sama sekertaris Rangga juga, tadi ada yang liat kalo Lo naik lift khusus Presdir, bersama Presdir pula.”


“astaga, sudah kuduga berita seperti ini pasti ada yang nyebarin.”


“katanya, katanya ni , orang yang suka nyebarin berita hoax, dia bisa dalam masalah besar,” Dean memelototi Febri.


“puf, hahah,” Febri tertawa.


“kenapa ketawa, ada yang lucu,” Dean bingung kenapa orang yang ada di depannya ini tertawa.


“iya lucu, mata Lo lucu, pas Lo gini tadi,” Febri kembali memperagakan saat Dean memelototinya.


“haha.”


Dean sudah tidak punya minat lagi untuk meneruskan santainya di kantin.


“emang bener apa yang lagi diomongin.”


“hah, biar Lo ga nanya lagi, semua itu bener , cuma, denger ni denger, nanti pas Lo gosip ke orang lain ga salah informasi,” kesal Dean.


“hahha, iya iya.”


“gue sih tau, terus mana mungkin orang setampan dan sekaya dia deket sama kita.”


“sudah lah.”


“tut...tut...tut... ”panggilan masuk.


“siapa,” pikir Dean melihat nomor yang tidak dikenal.


“siapa,“ Febri di samping juga melihatnya.


“ga tau, ga penting, salah sambung mungkin.”


Dean dan Febri tidak memperdulikannya.


namun nomor tersebut menelpon kedua kalinya.


“siapa sih,” mereka berdua saling bertanya.


“angkat aja mungkin penting,” saran Febri.


“halo siapa ya, Dean langsung bertanya siapa yang menelepon nya.


“anda dimana nona, tuan muda sudah menunggu dari tadi.”


“hah, siapa ga jelas,” Dean belum sadar siapa yang menelepon nya, karena nomor tersebut tidak dikenal.


bisik mereka bingung.


“maaf mas salah sambung mungkin,” Febri langsung mematikan telepon tersebut.

__ADS_1


Dean masih memikirkan siapa orang yang menelepon nya.


“tuan, tuan , tuan, sepertinya aku pernah mendengar panggilan ini, tapi di mana ya,” Dean melihat kearah Febri sambil berpikir.


Febri mengangkat kedua alisnya , tanda kalau dia tidak tau apa apa.


mata Dean terbelalak seketika.


“astaga apa yang kulakukan, mati aku , aduh,” Dean langsung berdiri keluar dari kantin.


“hei kau mau kemana,” Febri heran dengan sikap Dean tiba-tiba pergi dengan terburu-buru.


“dimana dia,” muka Nathan sudah kesal.


“telpon saya dimatikan tuan,” jawab Rangga.


“cih, berani sekali dia mempermainkan ku, sepertinya dia harus kuberi pelajaran,” Nathan mulai marah.


Nathan membuka jendela mobil.


“seumur hidup ku , baru kali ini aku menunggu seseorang di dalam mobil,” Nathan sudah tidak sabar.


entah apa yang akan terjadi kepada Dean sekarang.


“dimana Presdir.” Dean bertanya kepada seseorang yang berada di depan pintu masuk ruangan Presdir.


“tuan muda sudah keluar bersama asisten Rangga.”


“tuan muda, tadi di telepon juga tuan muda, jadi..”


“mati aku ,” Dean menemukan kesialannya.


“kemana mereka pergi.”


“tidak tau nona, mereka baru saja keluar.”


“makasih,” Dean langsung pergi.


“jika mereka keluar, sekarang pasti sudah sampai di tempat parkir.”


di dalam lift Dean sedang memikirkan apa yang akan dia terima akibat kesalahan nya.


bulu kuduk Dean berdiri.


“apa yang akan terjadi,” Dean merasa cemas.


“berkas dan dokumen nya sudah kupelajari,” Dean melihat ke atas tas yang dibawanya.


“ada apa ini, rasanya aku gugup dan cemas,” tidak menunggu lama saat lift terbuka Dean langsung keluar menuju ke area parkir.


“jalan,aku tidak ingin menunggu lagi.”


“baik tuan,” 15 menit sudah berlalu.


“dia harus ku beri pelajaran agar tau bagaimana sifat ku yang sebenarnya.”


jika Nathan sudah menandai seseorang, orang tersebut sudah dalam bahaya yang tidak bisa dia elak.


“cepat Dean cepat,” Dean berlari.


“wanita sialan, awas kau, aku akan memberikan mu pelajaran, berani beraninya kau mempermainkan ku,” Nathan menghafal wajah Dean.


cih, ternyata kau hanya bersifat polos saja. Nathan mengingat kacamata dan penampilan Dean tidak seperti karyawan lainnya.


“*menarik, sebenarnya kau belum tau siapa pria ini, dia punya nyali besar di depan tuan muda.”


“sepertinya tuan muda mendapatkan mainan baru. meskipun penampilan dan tingkah nya aneh, kau berhasil membuat tuan muda kesal.”

__ADS_1


“menarik apa yang akan terjadi ,”Rangga tersenyum*.


baru kali ini Rangga menemukan orang seperti Dean, yang berhasil membuat tuan muda Nathan kesal dan menunggu.


__ADS_2