
Setelah Rangga mengantar Ara ke rumah nya, Rangga langsung ke kediaman Nathan.
setelah Rangga dan Nathan kembali kekantor, sedangkan Dean dia antar ke depan rumah Alvi.
sudah ada Alvi yang menunggu di depan.
sedangkan Nathan dan Rangga mereka langsung ke kantor ada hal penting yang harus mereka bicarakan terlebih dahulu.
di dalam rumah Dean.
“kemana saja kau, aku sangat menghawatirkan mu,” melihat Dean kembali Alvi sangat senang.
“Dean apa yang dia lakukan pada mu, meskipun kondisi Alvi sendiri tidak baik, Alvi sangat menghawatirkan kondisi Dean.
“apa aku harus menceritakan nya kepada Alvi, apa yang terjadi dengan tangan nya.”
ekpresi Dean sedang patah semangat sekarang tidak punya kemauan untuk bertahan.
“kenapa dengan tangan mu,” Dean berbalik tanya melihat tangan Alvi.
“jawab dulu pertanyaan ku, apa yang dilakukan pria itu pada mu.”
“semalam kemana dia membawa mu, apa dia melakukan hal menjijikan,” pikiran Alvi tidak bisa berpikir sekarang.
Alvi khawatir terjadi sesuatu dengan Dean.
“gak ko aku ga papa,” Dean tidak mengatakan yang sebenarnya, karena Nathan sendiri sudah mengancam dirinya.
“kenapa tangan mu di perban,’’ tanya Dean penasaran.
“si asisten itu orang yang mengerikan, sekarang aku terikat dengan nya, pergelangan tangan ku terkilir, karena dia menarik dengan kasar.”
“apa...!” terkejut tidak percaya.
“ternyata bukan aku saja, gara-gara ku Alvi dalam masalah besar sekarang.”
“jadi bagaimana sekarang,” tanya Dean.
“aku harus menuruti apapun keinginan pria itu, tidak apa, kau sendiri bagaimana, apa dia mengancam mu.”
“apa yang dia katakan, apa dia melecehkan atau melakukan sesuatu,” karena bisa menebak apa yang terjadi, Alvi tau kalau Dean berbohong.
“sekarang kita berdua tidak punya waktu lagi, sekarang kehidupan ku dalam genggaman nya, aku tidak bisa lari.”
“maafkan aku ,” Dean memeluk Alvi menangis.
“karena sudah membawa mu kedalam kehidupan ku, sehingga kau terjerat masalah yang besar.” Dean menangis di pelukan Alvi.
“*tidak mungkin Dean seperti ini, raut wajahnya seperti orang terguncang.”
“pasti dia melakukan sesuatu terhadap Dean,” Alvi sendiri mengingat perlakuan Rangga kepadanya yang menjijikan*.
Alvi bisa menebak kalau Nathan lebih dari itu.
“*cukup, cukup sampai disini, aku tidak boleh melibatkan Alvi lebih dari ini.”
“sekarang dia saja sudah mendapat masalah yang sangat besar.”
__ADS_1
“entah apa yang telah terjadi dengan nya, sepertinya dia lebih tersiksa, Dean tau kalau Alvi telah menderita dengan masalah nya*.
dean tidak tau harus berbuat apa.
mengingat apa yang telah terjadi padanya, Dean tidak tau harus menyebut dirinya apa lagi.
“aku sudah menghafal sikap mu, kau tidak akan menceritakan penderitaan mu.”
“sudah lah, aku sangat lelah, kau tau apa yang harus kita lakukan sekarang,” Dean berbicara serius.
Alvi masih mendengar apa yang akan Dean katakan.
“kita lakukan apa yang mereka inginkan,” Dean sudah menyerah.
“kita tidak bisa lari, ataupun kemana, kau tau kan.”
“hidup ku tidak berarti lagi, entah apa yang mereka inginkan, aku sungguh tidak mengerti dengan diriku sendiri,” Dean sudah berada di titik nol sekarang.
serasa mustahil untuk membantah perkataan Dean.
“apa kah kau akan menyerah begitu saja Dean, meskipun kita sekarang hanya sebagai bidak mereka, kita akan melakukan segala cara.”
meskipun sempat trauma, dia tetap Alvi, wanita yang tidak akan menyerah begitu saja.
“Vi, sudah lah, aku tidak bisa melawan lagi sekarang, jika kita berdua tidak bisa lari, sebaiknya salah satu dari kita harus keluar dari masalah ini.”
“Vi aku mau kau jangan terlalu ikut campur lagi masalah ini, gue mohon Vi,”“ Dean menangis.
gua tau kalau lo bermasalah dengan asisten Rangga akibat terlalu ikut campur masalah ku.”
“lanjutkan kehidupan mu sendiri.”
kata Dean tersebut benar-benar menusuk jiwa Alvi.
“bagaimana tidak teman nya sekarang yang paling akrab, sekarang sudah tidak punya tujuan untuk hidup.”
“Dean, apa kau akan diam begitu saja, Dean kau kembali ke titik nol.”
“apa kau hanya akan diam menuruti keinginan mereka, bagiamana jika mereka menginginkan kita untuk kepuasan hasrat mereka saja.”
“dan setelah itu mereka membuang kita dalam keadaan terlantar.”
“apa kau mau kejadian seperti itu terjadi.”
Dean sadar Dean, Alvi mencoba menyadarkan diri Dean sekarang.
Dean sudah tidak memilih atau mencerna.
Dean sudah benar benar berada di titik keputusasan.
“sudah lah Vi, aku mau istirahat dulu,” Dean berbaring.
“apa kau akan benar benar menyerah begitu saja Dean.”
melihat Dean yang sudah putus asa, Alvi semakin pupus harapan.
“untuk apa lagi Vi, hidup ku sudah tidak punya tujuan lagi.”
__ADS_1
“lagi pula dia sudah merenggut semuanya dari ku, jadi tidak ada celah untuk ku untuk lari dari nasib ini.”
“entah nasib ini adalah sebuah takdir baik, atau aku akan selalu menderita dalam genggaman dia.”
“Vi, gua serius sekarang, sebaiknya lo segera keluar dari masalah ini.”
“gua ga mau lo terlibat lebih dalam lagi, meskipun masalah lo tidak bersangkutan.”
“namun penyebab pasti adalah gara gara gua, lo sampai terkena masalah.”
“Vi gua ingin lo menjauh.”
“mungkin ini saat terakhir kita, meskipun nanti kita tidak lagi bersama saling menghibur, saling curhat, yang pasti lo satunya orang yang ada buat gua Vi,” Dean sudah memutuskan mutlak sekarang.
glek mendengar kata kata perpisahan dari Dean, serasa guncangan dalam diri Alvi hancur berkeping keping.
Alvi seperti kehilangan sebagian dari dirinya.
“gua ga setuju de, lo benar sudah stres sekarang.”
“gua ga mau meskipun apapun yang terjadi, meskipun masalah gua saat sekarang sangat berat, dan lo juga dalam masalah yang besar.”
“yang pasti apapun yang terjadi, apapun resiko nya, kita berdua akan tetap nyelesain masalah ini De.”
Alvi tidak setuju dengan pendapat Dean.
“sudah lah, tubuh ku sangat lemas,” sekarang siapapun tidak akan berhasil mengubah keputusan Dean.
tidak ada seorangpun.
****************
sementara Rangga dan Nathan.
“bagaimana sekarang,” tanya Nathan.
“baik tuan,” jawab Rangga.
“apa yang akan kau lakukan selanjutnya.”
“saya akan menyuruh wanita itu untuk menemani dan menjaga Ara tuan.”
Nathan tau siapa yang di maksud oleh Rangga.
yaitu Alvi.
“sejak kapan kau bermain di belakang ku,” Nathan penasaran.
“saya hanya memberikan beberapa penawaran,” jawab Rangga santai.
“cih, sudah lah, kau lebih licik dari ku,” Nathan tidak akan menang jika berdebat dengan Rangga.
Nathan sudah mengetahui bagiamana sifat kejam Rangga.
“aku setuju dengan ide mu,” Nathan setuju dengan ide Rangga, menjadikan Alvi sebagai penjaga Ara.
Nathan sendiri sudah menganggap Ara sebagai adik kandungnya, meskipun dirinya tidak terlalu akrab dengan wanita itu.
__ADS_1