
Seseorang keluar dari mobil, Jia memundurkan langkahnya karna ketakutan. Ternyata tak lain itu adalah Japhar, Dia mendekat membukakan payung dan melindungi Jia dari Hujan. Lalu Japhar menatap Jia iba. Dilihatnya matanya yang sudah bengkak karna sedari tadi menangis.
''Tak ada gunanya menangis dan berteriak keras seperti itu Ayo.'' Ajaknya dan seraya mengulurkan tangannya.
Jia bukannya menerima uluran tangan itu, Dia malah jatuh ke pelukan Japhar dan kembali menangis, Mukanya di pendam di dada bidang Japhar. Lelaki ini walau sudah tua tetapi dadanya tetap gagah dan keras pikirnya. ''Menangis lah semau mu..'' Kata Japhar mencoba menenangkan Jia sembari mengelus kepalanya dengan lembut.
Kini tubuh keduanya basah terkena rintikan hujan yang amat deras itu. Lalu Japhar membawa Jia masuk kedalam mobil, dan memberikannya sebuah handuk. Mereka pun kembali ke kediaman Japhar, Maksudnya ke rumah mereka.
- - -
Japhar menyuguhkan Teh hangat kepada Jia seusai mengganti pakaian nya. ''Terima kasih.'' Ucap Jia
''Maaf sudah merepotkan mu..''
''Maaf Untuk apa?''
''Untuk tadi...''
Japhar kelihatan sedikit kesal namun dia menahannya, Dan memukul dinding di depannya. ''Lain kali tidak usah pergi seperti itu, Itu bisa membahayakan dirimu di tengah malam seperti ini... Aku mengetahui maksud mu itu. Jangan takut, aku tidak akan menyentuh mu kalau kau belum siap atau tidak Sudi dengan pria seperti ku ini.''
Japhar pun berlalu pergi, Tapi tangan Jia menghadangnya pergi.
Japhar pun menoleh kearahnya ''Apa lagi, Kau butuh apa?'' Tanyanya.
"Tapi...''
''Sudah ku bilang, tidak apa-apa kan? Kau ber istirahat lah... Jika kau perlu apa-apa kau tinggal memanggil ku di kamar sebelah. Aku akan ada setiap saat.'' Ucapnya
__ADS_1
Diapun berlalu pergi meninggalkan Jia. Jia sedikit lega. Tak disangka dia begitu perhatian, tetapi... aku sudah menjadi istrinya. Aku tidak boleh melanggar sumpah pernikahan, bukan? Mulai sekarang aku harus menjadi istri yang sesungguhnya
''Aku kira ini malam pertama pernikahan.''
Keesokan Harinya --
Alih-alih memasak untuk suaminya di pagi hari seperti istri lainnya. Dia malah jatuh sakit karna hujan kemarin. ''Hachuuu''
Tubuh Jia sangat lemas. Bahkan dia tak dapat menggerakkan nya. Matanya masih memerah dan bengkak karna tadi malam. Dia bolak balik bersin hingga terdengar oleh Japhar yang pagi itu hendak pergi ke kantor.
Japhar yang penasaran pun pergi mengecek ke kamar Jia demi memastikan keadaan Jia. Dilihatnya muka Jia yang memerah, Dia pun menyentuh Jidat Jia. ''Aww panas sekali, Ini Jidat atau termos?'' Ejek Japhar mencoba menggoda Jia.
''Aku tidak sanggup bergerak.''
''Tunggu disini, aku akan membawa mu kerumah sakit.'' Ucap Japhar.
Jia menarik tangan Japhar yang hendak pergi. ''Jangan... tetaplah disini...'' Kata Jia memelas.
- - - - -
Sudah siang, Japhar masih tetap menemani Jia di kamarnya. Jia sudah tertidur pulas dan sudah diberi obat pereda demam. Japhar pun pergi ke kantor.
Petang pun tiba -
Jia mulai membuka matanya, dan bangkit. Lalu menguap dan mencoba meregangkan seluruh badannya yang merasa sudah enakan. ''Astaga! Aku tak berangkat ke kantor!''
Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 18.30 Dia segera ke dapur untuk memasak makan malam.
__ADS_1
''Emmm, Jadi dia yang merawatku? Sudah dua kali dia merawatku saat sakit.. Sepertinya kali ini aku harus membalas kebaikannya, Walau tak seberapa.'' Ucap Jia dan segera menyiapkan makanan.
- - -
Suara klakson mobil terdengar dari luar. Jia mengira itu Japhar. Memang benar, Japhar yang tampak kelelahan disambut oleh istrinya kala itu. ''Selamat datang.'' Sambutnya. Lalu mempersila duduk di meja makan.
''Ada apa denganmu?'' Tanya Japhar sembari menatapnya heran.
''Tidak ada, anggap saja ini ucapan terima kasih.'' Ucap Jia sambil tersenyum.
''Terima kasih untuk apa?'' Tanya Japhar kembali.
''Telah merawatku.''
''Mengapa harus berterima kasih soal itu? Aku ini kan suami mu.''
Jia tersontak kaget mendengar Jawaban Japhar itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung /•v•