
Salah seorang suster dari belakang menghampiri Hongli yang tengah sibuk menggendong bayi tersebut. Suster itu juga membawa seorang bayi di tangannya.
''Pak, ini anaknya satu lagi...'' Kata suster itu dengan lembut, seulas senyuman hangat menyambut.
''Kembar?'' Tanya Hongli kebingungan, seraya memperhatikan bayi yang tengah digendong oleh seorang suster itu.
''Iya pak, anaknya kembar keduanya laki-laki, selamat ya pak. kalo ibunya sebentar lagi dipindahkan keruangan biasa.'' Kata suster itu sekali lagi.
''Ya! Aku punya keponakan kembar!'' Batin Hongli bahagia.
Satu jam berlalu dari situ, akhirnya Jia terbangun dari tidurnya. Dia memperhatikan sekeliling dengan kikuk. Dilihatnya ada dua box bayi yang ada disampingnya. Dia yang belum bisa bangkit hanya dapat menoleh memperhatikan nya.
''Tante udah bangun?'' Tanya Zizi menghampiri.
''Iya sayang, Tante penasaran lihat adek nya.'' Ucap Jia dengan suara pelan, senyuman manis tampak menghiasi bibirnya yang pucat.
Hongli langsung bangkit dari duduknya, dan mendekat ke arah box bayi yang ada di samping Jia.
''Kembar lho. keduanya laki-laki.''
''Hihi, aku punya keponakan kembar.'' Kata Hongli sekali lagi. wajahnya tampak berbunga-bunga.
''Kelihatannya kakak bahagia sekali.''
Hongli mengangkat salah satu bayi yang tengah tertidur pulas, keluar dari dalam boxnya. dan memperlihatkan nya kepada Jia yang tengah terbaring lemas. Seketika wajah Jia berubah.
''Wah, mirip sekali dengan Japhar. wajahnya agak tirus. Pipinya gumush. rambutnya kemerahan. bulu matanya lentik.'' Gumam Jia kala itu.
''Tante, anaknya ganteng ya!'' Sentak Zizi bahagia. Diperhatikan nya anak bayi itu sekali lagi. kalau di lihat, usia mereka hanya berbeda 6 Tahun.
''Andai saja ada Japhar yang menemani disini...''
-------------------------------------
2 Minggu berlalu dari hari itu. Jia sibuk mengurus kedua bayi kembar itu dirumah. Walaupun rasanya masih agak sulit berjalan karna bekas operasi yang belum pulih total. Biasanya Hongli membantu Jia sesudah dia pulang dari kantor nya.
Malam itu mereka berkumpul di ruang utama, menyaksikan salah satu acara televisi. Ketiganya tampak bahagia. Kedua bayi Jia sudah tertidur lelap dikamar nya.
''Kak, aku ke atas dulu ya. Cek baby nya.'' Kata Jia seraya menapaki anak tangga.
__ADS_1
Sementara anak perempuan kecil berkepang dua itu masih sibuk melihat acara kesukaannya. Tak sadar Jia, Hongli mengikuti nya pelan hingga masuk kedalam kamar.
''Kakak mau ngapain?'' Jia menoleh kearahnya.
''Ah iya... cuma mau lihat baby nya doang.'' Hongli menggaruk-garuk kepalanya.
Setelah dirasa cukup untuk mengecek kedua bayi itu, Jia langsung sedikit berlari mendekati balkon. Seperti biasa, dia menatap langit malam yang hampa itu.
"Kamu mau kasih nama apa untuk anak kamu?'' Tanya Hongli sembari mendekat kearah nya.
''Yang pasti ikut marga ayahnya.''
''Mi?''
''Jauh hari, aku sudah menyiapkan nama untuknya.''
''Jun Mi, Dan Jian Mi.'' Kata Jia seraya menatap Hongli dari samping.
''Nama yang bagus.''
''Kamu ga niat ketemu sama Japhar?'' Tanya Hongli penasaran, sembari menatap balik Jia.
-----------------------------------
Pagi menjelang siang. Sekitar pukul 10 Pahi, Jia membawa bayi nya berjemur di halaman depan rumah. di letakkan nya bayi itu di baby stroller. sementara Jia terduduk di teras rumah. Zizi yang penasaran langsung menghampiri nya.
''Mama, adeknya siapa namanya?'' Tanya Zizi penasaran. Belakangan ini dia sudah terbiasa memanggil Jia dengan panggilan ''Mama'' Jia sama sekali tidak merasa keberatan. Mereka bisa dibilang sudah dekat, semenjak kejadian hari itu.
''Yang ini namanya Jun Mi. Dan yang ini... Jian Mi.'' Kata Jia dengan lembut, sambil menunjuk ke arah bayinya.
Zizi memperhatikan keduanya. Sekilas mereka berbeda jauh dari tampang wajahnya. Jian sedikit menjukkan aura dingin sejak dini. Matanya lebih sipit dibanding kan dengan Jun yang wajahnya lebih manis, dengan bibir tebal. Sementara Jian rambutnya lebih hitam dibanding kan dengan Jun. walaupun begitu, keduanya masih mirip layaknya kedua bayi kembar pada umumnya.
--------------------------
Sore itu, Jia termenung di depan televisi seusai memandikan kedua bayinya itu. Dia menunggu kepulangan kakaknya itu. Di sela itu dia teringat akan sesuatu.
''Lah handphone ku kemana ya? perasaan kemarin ku bawa deh. Ku taroh dimana ya?'' Tanya Jia kikuk kepada dirinya sendiri.
''Handphone mana?'' Tanya Hongli balik sekaligus mendekat kearahnya.
__ADS_1
''Lihat Handphone ku ga kak?''
''Itu, kakak simpan di kotak dalam lemari. Kemarin mati karna kena air. kayak nya udah bisa nyala, lihat aja sana.'' Tunjuk Hongli ke salah satu lemari yang ada disana.
Setelah lama Jia mencari, akhirnya dia menemukan kotak yang dimaksud kakaknya itu. Dia segera menyalakan handphone nya yang mati. Berharap ada panggilan tak terjawab dari Japhar. Karna itu akan membuatnya sedikit lega.
''Dia ga ada nelfon? Dia ga ada niat nyari aku?'' Celetuk Jia kesal saat mendapati daftar panggilan nya itu kosong.
***
Sementara Itu..
''Tuan! Perangkat ponsel nyonya tersambung kesini! kita bisa melacak keberadaan nyonya!'' Sentak Tian dengan semangat menghampiri Japhar yang tengah berkutat pada layar komputer.
''Lacak sekarang.'' Di sela itu Japhar hanya menjawab singkat, wajahnya datar. Tian kira tuannya itu akan senang mendengar kabar bahagia tersebut. Dengan cepat, Tian langsung melaksanakan titahnya.
Tak butuh waktu lama Tian mencari, dia sudah menemukan jejak Jia. Namun sebelum ditelusuri lebih lanjut alamat pasti, sambungannya terputus karna Handphone Jia kembali mati.
''Shit! Maaf kan aku tuan.. tiba-tiba sambunganya terputus. Tapi yang jelas nyonya Jia berada di kota A.''
''Kota A?''
''Bagaimana Tuan? besok saya akan menyiapkan jadwal penerbangan ke kota A.''
Japhar mendadak mencegat niat Tian. dengan santai dia menjawab.
''Engga usah buru-buru, kamu ga mikirin perusahaan Mi? Tunggu masalah ini selesai dulu. baru saya akan mencari Jia. saya yakin, dia baik-baik saja. Dia wanita yang kuat. lagipula dia ingin menjauh dari ku, bukan?''
Tian sedikit ragu dibuatnya, namun dia langsung beranjak pergi meninggalkan Japhar sendiri disana.
Japhar menyandarkan kepala nya kembali di kursi, perlahan mengembuskan nafasnya. Sebenarnya perasaan nya tak dapat tertipu. Dia sangat senang mendengar kabar dari Jia. Walaupun sedikit kecewa dengan Jia.
''Kenapa kamu mencoba menjauh dariku? Tidak perlu menjauh seperti itu. Seharusnya kamu berkata sejujurnya kalau kamu mau berpisah dengan ku. Tapi mau bagaimana pun, kamu masih istriku. Aku akan menemui mu Bulan depan. bersabar lah sayang...'' Gumam Japhar kala itu. Pikirannya telah bercampur aduk.
Untuk sementara ini, Japhar mencoba mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Jia. Walaupun rasa nya sangat berat. Tapi terpaksa karna diri nya masih di sibukkan dengan urusan lain.
.
Bersambung
__ADS_1