
Malam Itu, Di ruang utama dikediaman Hongli, Jia menjelaskan semua yang terjadi padanya kemarin. Hongli yang mendengar nya terkejut sekaligus tak tega melihat adiknya di perlakukan seperti itu.
''Jadi... anak ini bersama mu?''
''Mau bagaimana lagi?''
-------------------------------------------------------------------
''Hey, apa kau punya kabar soal Jia?'' Tanya Japhar pada Tian. Kala itu hanya mereka berdua yang ada di ruang inap tersebut.
Tian yang memandang langit malam kosong, langsung mendekat ke arah Japhar yang tengah terbaring.
''Maaf Tuan, tapi aku tidak dapat kabar darinya. Dia bahkan tak menelfon. kenapa harus menanyakan kabar dia? dia bahkan tak peduli denganmu.'' Ujar Tian
''Hei. mau bagaimana pun, dia itu istriku.'' Seringai Japhar
''Kalau dia istrimu. kenapa dia sama sekali tidak peduli denganmu? Seharusnya kalau dia mencintai mu, dia akan sangat khawatir akan keadaan mu.''
''Anak muda... kau tidak mengerti.'' Ucap Japhar terkekeh sambil menepuk kepala Tian.
----
''Dimana Japhar sekarang? kenapa dia tidak mencari ku? apa dia memang menginginkan ku untuk pergi?'' Jia merenung sendiri di balkon kamar, menatap langit malam yang gelap. deruhan angin menambah sejuknya suasana malam itu.
''Jia? kenapa bengong? Udah malam loh, dingin kalo disini.'' Hongli menghampiri dirinya. Sekejap Jia terjaga dari lamunannya.
''Ah kakak, kenapa ga tidur? udah malam loh...''
__ADS_1
''Kamu yang seharusnya kakak tanya.''
''Engga, aku senang aja natap langit gini,''
Hongli mendekat ke arahnya, sembari memejamkan matanya sejenak menghadap jendela.
''Kalau begitu, biar kakak temanin.''
Jia tersipu dibuatnya, sekilas wajah Hongli terlihat tampan. ditambah hempasan angin menerpa rambut hitam pekatnya itu.
''Kenapa bengong?''
''Engga, ah. aku mau tidur aja.'' Ucap Jia sembari berlalu meninggalkan Hongli sendiri disana.
.
.
.
.
''Tuan, kami belum dapat menemukan keberadaan nyonya.'' Pagi-pagi sekali, dengan lusuhnya Tian membawa kabar buruk untuk Japhar.
Japhar yang baru saja bangun dari tidurnya langsung membulatkan kedua bola matanya mendengar ucapan Tian barusan.
''Serius kamu?''
__ADS_1
''Iya tuan. kami tak dapat melacak keberadaan nyonya.''
''Ah si@l, bagaimana bisa ini terjadi? ga mungkin dia menghilang begitu saja. Palingan juga bakal balik ke rumah.'' Gumam Japhar dalam hatinya. Pikirannya begitu tenang, namun hatinya risih dibuatnya. Kini pikirannya telah bercampur aduk
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00
waktunya untuk Ibu Tiri Jia mengunjungi Japhar ke rumah sakit.
''Bagaimana? Kondisi mu sudah lebih baik?'' Tanya Ibu Tiri dengan lembut
Japhar menepis tangan Ibu Tiri Jia dengan kasar saat tangan itu hendak mengelus kepala Japhar.
''Katakan. Apa mau mu sekarang? Apa yang kau rencanakan dari Jia? Kau pikir aku bodoh?'' Seringai Japhar
''Hei tuan Jiang Mi. Kau jangan belagak deh. belum juga sembuh. Aku ini mertuamu.'' Celetuk Ibu Tiri kembali dengan seutas senyuman licik. Perkataan nya berbeda dengan isi hatinya sekarang. Penuh dengan rencana jahat.
''Aku tetap curiga...'' Japhar membatin.
Seusai melihat keadaan Japhar, dia berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Dan tak sengaja berpapasan dengan Tian diluar ruangan. Tian tampak memperhatikan nya dengan detail.
''Itu tadi mertua Anda?'' Tanya Tian penuh selidik saat tiba dalam ruangan Japhar.
''Kau baru saja tiba. dan menanyakan hal seperti itu. dimana sopan santunmu? sapa dulu kek.''
''Maaf Tuan...'' Kata Tian gugup sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Dia menaruh semangkuk bubur hangat dimeja yang ada di sana. Dipikirin Tian masih saja ada bayang-bayang wajah licik dari Ibu Tiri Jia.
__ADS_1
''Tuan, aku merasa... aneh dengan nyonya besar Li.'' Ucap Tian ragu.
Bersambung