
Keesokan Paginya - - -
Japhar telah terbangun dari tidurnya, Jia ikut terbangun dan langsung melihat wajah Japhar yang begitu berseri. Namun dibaliknya, Japhar menantikan penjelasan dari Jia.
''Kamu pagi sekali bangunnya...'' Kata Jia sembari meregangkan seluruh tubuhnya dan membuka mulutnya lebar-lebar menguap.
''Kamu tuh ga ada rapinya. Udah sana, buruan siap-siap. Baju kamu udah disiapin Tian tadi malam.''
Dia mengabaikan ucapan Japhar dan segera menuju kamar mandi yang ada di ruang itu.
''Dia mulai bawel ah.''
Ketika dia hendak mengganti pakaiannya, tampak gulungan perban membalut bahu kirinya yang terpantul di bayangan cermin.
''Huft, Untung saja Tian membawa baju lengan panjang. Jadi ga bakal kelihatan ini luka.'' Gumam Jia.
Dengan sengaja Japhar membuka pintu kamar mandi itu dan masuk kedalam nya karna Jia tak menguncinya. Dia mendapati istrinya yang hanya mengenakan pakaian dalam karna baru saja hendak memakai pakaiannya.
''K-ka...kamu udah bisa jalan...'' Ucap Jia terbata-bata yang terhenyak saat mendapati suaminya itu telah bisa berjalan sendiri ke kamar mandi walau botol infus masih menggantung.
''Kenapa emangnya? Kamu berusaha sembunyiin luka itu kan?'' Tanya Japhar dengan lirikan tajam sekaligus berjalan mendekat ke arah Jia.
Jia terus memundurkan langkahnya hingga menatap dinding yang ada di sudut kamar mandi. ''Kamu mau apa...'' Kata Jia dengan gugupnya seraya menempelkan baju yang ingin dia kenakan ke badannya.
Langkah Japhar terhenti saat dia hendak meraih tangan Jia. Mendadak kepalanya pusing, langkahnya mulai gontay. Jia yang terkejut segera menolong dan memapah nya kembali ke ranjangnya. Pakaian yang ingin dikenakan Jia terjatuh saat dia ingin memapah Japhar. kini dia hanya mengenakan celana sependek lutut tak lupa kaus kutang.
''Arhhh'' Gerutu Japhar kesakitan
''Makanya kalo belum bisa bangkit, ga usah dipaksa.''
Setelah Jia mendudukkan Japhar di kasur nya, Japhar bergerak cepat. Dia merangkul Jia dari belakang dan mencium lehernya.
''Ummm, Apaan si.''
''Wangi banget kamu.'' Ucap Japhar tersipu tanpa tersadar senyum manis tergurarat dari bibir Jia. Japhar menggigit bahu kanan Jia.
''Ammm''
''Kamu ini kucing atau apasih, kok gigit orang. Emmm lepasin!'' Gerutu Jia kesal, Namun dia sedikit bahagia karna melihat suaminya pagi ini begitu manja.
Tak lama kemudian, Japhar melepaskan pelukannya. Dan menarik kaus kutang putih yang tembus pandang, sekilas terlihat br@ abu-abu yang Jia kenakan.
''Lihat apa kamu!'' Jia menepis tangan Japhar yang hendak membukanya.
Jia tahu maksud Japhar sebenarnya. Namun Jia tetap mencoba menutupi lukanya itu. dan kembali membenarkan pakaiannya.
''Kamu kira, aku ga tahu? Aku cuma mau lihat aja... Ngapain ditutupin segala'' Kata Japhar menggoda seraya mengusap tipis bibirnya itu.
''Kamu udah tau? Maaf... Aku cuma ga mau kalo kamu khawatir. Luka segini doang, ga ada apa-apanya.'' Ucap Jia dengan senyum manis tergurarat dari bibirnya seolah tak terjadi apa-apa.
''Wanita ini... keras sekali hatinya.'' Batin Japhar
''Justru itu! Semakin kamu sembunyiin semakin khawatir diriku! Cuma segitu kamu bilang? Bercanda kamu? sampe di perban gitu? dan kecelakaan itu kamu anggap sepele?'' Oceh Japhar.
Jia hanya tertunduk dalam namun tetap tak mengakui kesalahannya. Hingga Japhar berhenti mengoceh
''Lebay banget, gitu doang.''
Begitu kata itu terucap dari bibir Jia, dengan cepat Japhar menarik tangannya hingga jatuh ke ranjang tersebut bersama Japhar. Tubuhnya menimpahi Japhar.
Jia membulatkan kedua bola matanya menatap Japhar yang kelihatan kesal dibuatnya.
__ADS_1
''Kamu nge khawatirin orang tapi diri sendiri ga dipikirin. Pikirin dirimu sendiri dulu baru orang.'' Gerutu Japhar kesal sambil menusuk-nusukan Jarinya ke hamparan jidat Jia yang luas itu.
''Maaf...''
"Lain kali jangan bahayakan dirimu seperti itu sayang....'' Gumam Japhar pelan seraya memeluk Jia erat
''Jadi dia mengkhawatirkan diriku, Begitu?'' batin Jia terpenjat.
Jia naik ke atasnya dan mencium bibir Japhar dengan tiba-tiba. Japhar yang terkejut hanya bisa merespon nya. Japhar mendorong kepala Jia dengan lembut dan mencium bibir Jia aktif. itu terjadi beberapa saat.
''Ini rumah sakit loh... aku belum pulih. Sekarang... aku mau mandi.'' Goda Japhar
''Kan masih gini, nanti aku bersihin badan kamu pake air hangat aja ya?'' Kata Jia dengan polosnya sambil mengerlingkan matanya ke arah Japhar.
Jia mengambil sebuah ember kecil yang berisi air hangat dan handuk kecil lalu perlahan membuka baju suaminya itu.
''Aku harus mulai dari mana...'' Gumam Jia
Jia mulai membasuhi tubuh suaminya dengan handuk kecil itu, lalu dikeringkan nya kembali. sesekali dia mencium aroma tubuh suaminya itu yang tetap wangi walau sedang sakit seperti ini.
''Aroma mu masih seperti biasanya...'' Kata Jia menggoda dan menghembuskan nafas hangatnya itu tepat di telinga suaminya.
''Kamu dari tadi aneh banget...''
Jia segera mengakhiri aksinya itu, dan membantu mengenakan baju Japhar lagi.
''Lihat aja kamu nanti, kalo aku udah sembuh...'' Batin Japhar
.
.
.
.
.
''Lain kali jangan gini lagi, ya....'' Ucap Jia seraya mencium kening Japhar
''Yah ga tentu''
''Kamu!'' Teriak Jia kesal setelah mengetahui perkataan suaminya itu hanya candaan.
''Hehe maaf.''
Sore itu, Jia dan Japhar tertawa bersama di ruangan itu. Melepas semua beban yang telah dirasakan selama ini.
Pagi Hari Tiba
Seperti hari sebelumnya, Jia terbangun di ruang inap VIP itu. Namun kali ini berbeda dari biasanya, Jia berberes pakaiannya untuk dimasuk kan kedalam koper hitam besar itu. Japhar juga sudah terlepas dari infus nya tadi pagi.
''Tian mana?'' Celinguk Jia yang sedari tadi tak melihat keberadaan Tian.
''Tian udah deluan di rumah, kita naik taxi aja.'' Kata Japhar lembut seraya mengelus kepala istrinya itu.
''Emm... Tapi kamu gimana?''
''Udah, Ga apa-apa. Ga ada pengaruh nya.''
Sesuai permintaan Japhar, kini Jia menghentikan sebuah taxi di depan RS. Keduanya membatu selama diperjalanan. Setibanya di rumah, Jia dibantu oleh Tian membawakan kopernya. Bi Lyna sudah menyambut nya dengan hangat di ambang pintu.
__ADS_1
''Selamat datang. Nyonya, Tuan.'' Sambut Lyna
Mi Sa sedikit iba melihat wajah Jia (Anaknya) yang lesu karna beberapa hari merawat Japhar disana. Namun Jia tetap memancarkan senyuman manisnya.
''Iya Bi. Terima kasih sudah jaga rumah.''
Jia melangkahkan kakinya kedalam rumah itu, walau hanya beberapa hari meninggalkan rumah rasanya sangat berbeda. Jia tersontak begitu mendapati Sera yang tengah duduk di sofa ruang utama dengan acuh sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Seolah dia yang berkuasa di rumah ini.
''Sera?''
''Papa!!! Akhirnya pulang juga!'' Sorak Zizi gembira seraya berlari ke arah pamannya itu.
''Iya sayang, Papa udah balik.'' Japhar mengangkat Zizi dan menggendong nya erat. Sera yang melihatnya pun segera menghampiri.
''Zizi, kamu ga boleh manja gitu dong sama Papa. Papa itu belum pulih total lho.''
Lagi-lagi Jia menatap mereka seperti keluarga bahagia. mereka terlihat sangat cocok. Dia merasa dirinya menjadi nyamuk di antara mereka. Jia memutuskan untuk naik ke atas daripada melihat pemandangan seperti ini. dengan kesal dia menapaki anak tangga.
''Sekarang yang istrinya, aku atau dia?'' Jia membatin.
Disusul dari belakang Japhar, Hingga keduanya berada di dalam kamar.
''Kamu kenapa?'' Tanya Japhar bingung, tatkala melihat istrinya sedari tadi murung sejak melihat keberadaan Sera.
''Ga apa-apa.''
Jia terlihat acuh, dan kembali membereskan semua pakaiannya ke dalam lemari.
''Beneran ga apa-apa?'' Jia hanya mengangguk menjawabnya.
Japhar merangkul tubuh Jia yang tengah berberes itu, walau dia sedikit kesal dengan Japhar tetapi tetap membalas rangkulannya itu.
''Makasih ya...'' Ucap Japhar
''Untuk?''
''Udah ngerawat aku selama sakit.''
''Kan memang kewajiban ku sebagai istri menemani suaminya dalam kesusahan maupun duka.'' Ucap Jia
Japhar tersentak mendengar perkataan Jia yang tulus. Dia mencium puncak kepala Jia dengan lembut.
''Aku tahu, kamu pasti ga suka kalo ada Sera kan?'' Gumam Japhar seraya melepaskan rangkulannya.
''Yaiya lah! Aku ngiri banget! Serasa kalian itu kayak keluarga gitu... Aku juga pengen gitu, pengen punya anak.''
Mendengar perkataan Jia yang blak-blakan itu, Pikiran Japhar meledak seakan dia memberi kode. Tapi Japhar menepis semuanya dan berlalu pergi meninggalkan Jia sendirian di kamar.
''Ka, Japhar. Ayo makan malam nya udah jadi lho.'' Terdengar dari luar suara Sera mengajak Japhar ikut untuk makan malam.
Sementara Jia tetap mengurung diri di kamarnya, dan meringkuk kan tubuhnya disudut kamar itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung