Pria Tuaku Yang Kaya

Pria Tuaku Yang Kaya
Episode 37 - Pelabuhan


__ADS_3

Beberapa Jam kemudian, Jia turun disebuah pelabuhan. Suasana tampak ramai dengan bersandar nya kapal disana. Jia menuntun Zizi menjauh dari sana.


''Tante? Kita dimana?'' Tanya Zizi heran, sekaligus ketakutan


''Tante juga ga tahu Zi. Tante belum pernah kesini. Tante coba tanya sama orang yang disana ya.'' Jia mencoba menenangkan Zizi yang tengah ketakutan, seraya sedikit berlari ke arah seorang wanita yang tengah sibuk memindahkan barang.


''Maaf Nona, boleh saya bertanya?'' Tanya Jia memelas kepada wanita yang tidak diketahui namanya itu.


''Tanya apa?'' Sekilas wanita itu menoleh ke arah Jia, wajahnya datar.


''Kalau boleh tau ini dimana?''


''Kau tidak tahu tempat ini? untuk apa kau kesini?'' Seringai wanita tersebut, dengan seulas senyum licik


''Menjengkel kan sekali orang ini. tapi aku harus tetap sabar.'' Jia membatin


''Aku diculik oleh seorang preman suruhan teman ku. aku bahkan tidak mengenali tempat ini.''


''Ini pelabuhan XX kota A. Haha, alasan bodoh macam apa itu? Teman tidak mungkin menyakiti temannya sendiri.'' Ujar wanita tersebut, sambil berlalu pergi meninggalkan Jia.


''Kota A? Kak Hongli... Oh iya! aku ingat alamat rumahnya, tapi bagaimana caranya kesana? aku bahkan tak memiliki uang sepeser pun.'' Gumam Jia dalam hatinya


''Nona, tolonglah aku. Ku mohon. aku sedang hamil. dan anak ini bersama ku...'' Jia menarik tangan wanita tersebut hingga wanita itu menoleh ke arahnya


''Sayangnya alasan bodoh semacam itu tak bisa ku terima. kau naik taxi saja lagi.'' Bantah wanita itu sekali lagi.


''Tapi Nona... aku tidak memiliki uang sepeser pun. aku sungguh-sungguh. Bahkan, orang yang mengirim ku kesini adalah keluarga ku sendiri. Dia tega memisahkan ku dengan suamiku.'' Ucap Jia dengan memelas.


''Tante... Tolong lah kami...'' Zizi membujuk sambil membulatkan kedua bola matanya.


''Kasihan sekali wanita ini. Aku orang yang masih punya perasaan.'' Wanita itu dibuat nya luluh.


Dia menghela nafas panjang dan tersenyum lembut kepada mereka. Rintikan air hujan tiba-tiba turun perlahan dari langit.


''Hei Nona. tunggu apalagi? ayo ikut dengan ku. keburu hujan deras.''


Jia menarik tangan Zizi berlalu mengikuti langkah wanita tersebut. Hingga tiba disebuah rumah kecil yang tak jauh jaraknya dari pelabuhan itu.


''Anggap saja rumah sendiri. Maaf kalau kecil. Kalau boleh tau siapa nama mu?'' Tanya wanita itu dengan lembut sembari menyiapkan secangkir teh hangat di dapur.


''Nama saya Jia. dan ini keponakan ku Zizi.''


''Wah nama yang bagus. Perkenalkan, nama ku nona Anne, salah satu penjaga pelabuhan itu. kau boleh memanggil ku 'Kak' atau nama panggilan saja.'' Anne menyodorkan tangannya ke hadapan Jia. Jia pun menyambut tangan itu, dan keduanya saling berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.


''Terima kasih kak Anne, telah memperbolehkan kami ikut dengan mu.''


''Tak masalah, ini teh mu.''

__ADS_1


''Sekali lagi, terima kasih kak.''


''Tante orangnya baik ya...'' Kata Zizi dengan seulas senyuman hangat dari bibirnya. membuat Anne tertegun.


''Ehm, kalau begitu kalian tinggal disini dulu. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku. Besok adalah hari Minggu, aku akan mengantar kalian kembali kepada keluarga.'' Anne memalingkan wajahnya, menepis bayang-bayang senyuman hangat Zizi barusan. Dan berlalu pergi meninggalkan keduanya.


''Sepertinya dia orang baik.''


***


Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.30, Tempat kejadian sudah dipenuhi oleh aparat kepolisian dan diamankab. Evakuasi korban berlangsung selama 30 menit lebih.


***


''Bagaimana keadaan Tuan Japhar!'' Seseorang dengan tergesa-gesa datang menerobos pintu ruang inap VIP Rumkit kota B. Yang tak lain adalah Ibu Tiri Jia. Jiao hanya menguntil langkah ibunya dari belakang.


''Om Japhar?''


Terlihat Tian yang setia menunggu Japhar disisi nya. Japhar belum juga sadarkan diri sejak oprasi satu jam yang lalu.


''Nyonya, tenanglah. Tuan Japhar baru saja selesai oprasi. Tapi dokter belum menjelaskan keadaan Tuan Japhar sekarang.'' Kata Tian setengah berbisik.


''Oh begitu.''


''Apakah nona Sera sudah dimakamkan?''


''Sudah.''


''Hoam.. Zi, bangun sayang.'' Jia bangun pagi-pagi sekali di salah satu kamar di rumah kecil itu. Dia mencoba membangunkan Zizi yang ada disampingnya.


''Iya Tante...'' Zizi menggeliat dikasur sebelum dia menegakkan seluruh tubuhnya.


''Ahoy kalian! Sudah bangun? Ayo buruan. biar nyampe nya cepat.'' Sentak Anne yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.


''Iya kak...''


Kebetulan, jarak antara kediaman Hongli dari pelabuhan cukup jauh. Butuh waktu 3 jam untuk tiba di sana. Oleh karna itu, Jia memutuskan untuk pergi pagi-pagi sekali.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, Anne telah menyalakan mesin mobil tuanya itu. Jia naik kedalam mobil diikuti oleh Zizi. dia membuka kaca mobilnya, dan membiarkan angin pagi yang sejuk menerpa wajahnya.


''Baiklah, kita jalan. Maaf kalau mobilnya tua seperti ini. sudah buruk. seperti nya kelihatan tidak nyaman.'' Kata Anne ragu yang tak sengaja melihat wajah Zizi di kursi belakang, kelihatan agak risih.


''Jangan hiraukan dia kak, tidak apa-apa. begini saja kami sudah bersyukur, masih ada orang baik yang mau menolong kami.'' Ucap Jia dengan seulas senyuman lembut menatap wajah kak Anne yang ragu.


''Sepertinya kalian orang kaya.''


.

__ADS_1


.


.


Setelah lama mengendarai mobilnya, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah mewah. Sesuai dengan alamat yang dituju.


''Beneran disini alamat nya? gede bet rumahnya.''


Jia mengangguk dan turun dari mobil. Sebelum Anne berlalu, Tak lupa Jia memberi ucapan terima kasih lagi.


''Terima kasih kak.''


''Ku harap kita dapat bertemu kembali setelah anakmu lahir. Dan anak itu, ku harap kita akan bertemu lagi, anak manis.'' Anne mengerlingkan matanya ke arah Jia, dan melajukan mobilnya pergi.


Jia menatap mobil Anne hingga hilang dari pandangan nya. Barulah dia melangkah kan kakinya ke halaman rumah yang luas tersebut.


''Tante ini rumah siapa?'' Langkah Zizi terhenti sejenak


''Ini itu rumah kakaknya tante. Paman yang sebelumnya pernah bertemu dengan mu itu loh.''


Rumah mewah itu tampak sepi, tak terlihat ada mobil yang terparkir dihalaman nya. Jia mencoba memencet bel nya. Namun lagi-lagi tak ada yang menjawab.


''Kak Hongli kemana? Ah iya, dia tinggal sendiri disini. pantas saja tidak ada yang menjawab.'' Jia menepuk jidatnya.


Terpaksa dia menunggu lagi di depan pintu rumah itu, Zizi sampai terduduk di lantai teras. Hingga seseorang datang menghampiri keduanya.


''Jia?'' Suaranya begitu familiar, Jia langsung mendongakkan kepalanya yang tengah tertunduk. Tak lain orang itu adalah Hongli.


***


11.00


''Urrhgg, sakit sekali kepalaku. Dimana aku?'' Gerutu Japhar kesakitan, sembari perlahan membuka matanya.


''Tuan Japhar! telah siuman! Syukur lah...'' Serentak Tian dan Ibu Tiri Jia.


''Hei, dimana aku?''


Tian menghela nafas lega, melihat tuannya sudah dapat sadar kembali.


--------------------------------------------------


''Dok? Bagaimana dengan keadaan tuan kami?'' Tanya Tian yang tak sabaran dengan hasil pemeriksaaan barusan.


''Tidak ada yang serius. Hanya beberapa luka berat. yang sudah kami tangani sebelumnya.''


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2