Pria Tuaku Yang Kaya

Pria Tuaku Yang Kaya
Episode 22 - Rahasia Terbesar


__ADS_3

Alisa dibuat terlonjak mendengar jawaban dari Jia. ''Apa?! Dia suamimu?!'' Dia mengatakan nya dengan keras, Sehingga para tamu undangan melihatnya. Dan mulai lah... bisik-bisik berjamaah.


''Wanita ga jelas tuh, kenapa mau nikahin om-om gitu sih?''


''Pastinya cuma mau hartanya doang tuh, kayak di film-film itu loh.''


Jia memutarkan bola matanya jengah. ''Sudah ku duga.'' Batinnya.


Alisa masih saja tak percaya akan jawaban nya itu. Dia menatap keduanya dengan heran. Sekilas memang mereka pasangan yang cocok, tapi lebih ke Ayah dan Anak.


''Aku tidak mengerti dengan mu, Jia... bisa-bisa nya.''


Tiba-tiba Japhar menggerutu kesakitan, memegang dada kirinya dan tersungkur. ''Ukh... Sakit sekali, Tolong...''


Jia dibuatnya panik, dengan segera Tian dan Jia memapah nya masuk ke dalam mobil.


''Udah tua, Penyakitan pula.'' Begitu kata itu terucap dari salah seorang yang hadir disana, Jia langsung menoleh dan menatap tajam ke arahnya. lantas mereka di buat ketakutan.


''Aku akan menuntut kalian, Jika ada apa-apa yang terjadi pada Japhar!''


Setibanya di dalam mobil, Japhar langsung menenangkan dirinya dan meminum air mineral yang baru saja dibeli Tian.


''Kau ini kenapa...'' Tanya Jia dengan penuh khawatir, sembari menatapnya dengan lusuh.


Japhar kembali terduduk, dia menatap Jia seperti tak terjadi apa-apa bahkan wajahnya kelihatan sehat. ''Hehe, Bagus kan akting ku.'' Katanya sambil mengerlingkan matanya ke arah Jia.


Lantas, Jia dibuat kesal olehnya. ''Kau ini! Tahu ga, aku khawatir sekali denganmu! Malah bercanda, Lain kali aku ga akan menolong mu!'' Jia memekikkan kekesalannya seraya menarik kerah baju yang dikenakan Japhar.


Setelah lama Jia mengoceh akhirnya perdebatan pun berakhir, Japhar pun angkat bicara ''Maaf kan aku, Sayang... Aku hanya tak tega kau di permalukan di pesta itu. Banyak orang yang hadir disana. Sekarang, mereka menganggap mu seperti apa... setelah melihat mu menjalin hubungan denganku.'' Kata-kata Japhar itu membuatnya tersipu, Ternyata dia memikirkan perasaan ku, Pikir Jia.


''Aku sama sekali tak akan pernah malu, sudah kewajiban seorang istri untuk mempertanggung jawabkan statusnya, bukan?''


Japhar mengabaikan perkataan Jia.


''Tian, Ayo pulang.''


''Baik Tuan.''


Sebelum Tian melajukan mobil, Jia mengoceh kembali seraya menepuk pipi Japhar pelan. ''Lain, kali jangan lakukan itu lagi! Kau dengar, kan?''


''Iya, Iya...'' Ringis Japhar.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Setibanya di rumah, Keduanya saling tak bertatapan. Jia tampak acuh membuang mukanya dari Japhar. dia masih saja terlihat kesal. Bi Lyna yang melihatnya pun bingung, dan menatapnya keheranan.


''Aneh, Padahal tadi pas mau pergi akrab. Pulang-pulang kok gini. Anak muda, Jaman sekarang.'' Batin Bi Lyna


Keduanya masuk ke kamarnya masih masing, Jia membanting pintu kamarnya.


Bruk...


Keesokan Harinya - - -


Hari ini Jia kembali ke kantor. Namun kali ini, Suasana kantor tampak berbeda. Semuanya menatap Jia heran, dan berbisik-bisik Namun, Jia sama sekali tak terganggu.


''Presider Jia! Gawat! Bagaimana bisa, kabar pernikahan mu beredar luas.'' Kata seseorang dengan tergesa-gesa membuka pintu ruangan Jia, yang tak lain adalah Ze.


Jia menghembus kan nafasnya pelan. Lalu menjawab pertanyaan Ze dengan tenang. ''Pasti karna kemarin...''


''Kemarin?''


''Jangan khawatir kan aku, kemarin kan aku sudah bilang. Aku tak akan menyesal dengan keputusan ku. Aku lelah hidup sembunyi-sembunyi dengannya.''


''Masuk!''


Mendengar perkataan Jia dari dalam, Lelaki itu membuka pintu ruangannya dan melangkah masuk. Ternyata yang tak lain, itu adalah Tian.


''Permisi Nyonya, maksudnya Presider Jia.'' Kata Tian, sembari menundukkan kepalanya.


''Tidak usah seperti itu, bicaranya biasa saja. Santai, Aja~'' Ujar Jia


''Baiklah.''


''Ini untuk Nyonya, Sebagai permintaan maaf dari Tuan Japhar.'' Ucap Tian seraya menyerahkan sebuah bingkisan kepada Jia.


''Titipkan ucapkan terima kasih kepada Japhar.'' Kata Jia sambil tersenyum.


''Tadi pagi dia berangkat lebih awal, aku kira dia marah padaku.'' Gumam Jia


''Bukan begitu, Nyonya. Tadi pagi ada urusan mendadak. jadi Tuan segera ke kantor. Di kantor pun, Kelihatannya tak dapat konsentrasi. Dia tampak gelisah, dan memutuskan untuk memberi ini kepada Nyonya Jia. semoga nyonya suka.''


''Ternyata begitu...''

__ADS_1


''Sebentar, Bisakah kau menceritakan sebuah rahasia tentangnya? dia kan bos mu selama bertahun-tahun, masa ga tahu. Ayolah, ceritakan sedikit pada ku...'' Ucap Jia menggoda sembari menarik tangan Tian yang hendak pergi.


''Wanita ini... ternyata... ukh, aku harus tetap bersikap dengan tenang.'' Batin Tian


Jia mempersilahkan Tian duduk di sofa yang ada di ruangannya. Dan mereka pun duduk berhadapan. Tian pun mencoba membuka percakapan.


''Nyonya tahu tidak... kalau Tuan masih perjaka?'' Kata Tian setengah berbisik.


''Maksudmu dia... Perjaka tua?''


''Iyap, benar. Tuan kami tak suka bermain wanita, sejak muda dulu dia selalu menghindar dari wanita. Bahkan, hampir tak mau berbicara kepada wanita. Itu alasannya dia tak mau menikah.'' Ucap Tian sembari tersenyum tipis.


''Ah, sampai sini saja. menurut ku itu rahasia terbesar. Tidak usah dilanjutkan. Kau boleh pergi.''


.


.


.


.


.


Setelah Tian pergi, Dia disibukkan dengan perkejaan, Walaupun hanya sedikit. Setelah 30 menit dia menyelesaikan nya. Dia mencari kotak bingkisan pemberian Japhar.


''Duh, mana ya?''


Setelah lama mencari, akhirnya dia menemukannya di bawah lemari buku. Sengaja dia simpan disana. Di bukanya kotak itu perlahan, dan... ternyata isi kotak nya adalah coklat batangan yang lumayan harganya. Namun, sayang. Jia tak suka makanan manis ataupun coklat. Tapi, dia tetap menyimpannya dan akan memakannya lain kali.


- - - - -


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30


Saatnya pulang. Jia menunggu Japhar di belakang gedung kantor seperti biasanya. Tak lama kemudian, Sebuah mobil berhenti di depannya. Ya, itu Japhar. Jia masuk ke dalam mobil. Dan langsung memeluk Japhar erat dari samping.


''Terima kasih.'' Ucap Jia, Sekilas Jia mencium pipi Japhar lembut.


Japhar yang terkejut menjadi batu, dan menatap Jia bingung. ''Cuma dikasih coklat senangnya minta ampun, Hah? Melawak?'' Batin Japhar.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2