
Tak lama kemudian Jia mengakhiri aksinya itu dan segera bangkit dari tubuh Japhar. Japhar yang masih terkejut langsung bangkit dan mengusap bibirnya dengan tangannya.
''Kenapa tiba-tiba?'' Tanya Japhar kikuk
''Biarin, Katanya mau buat aku bahagia kan? Yaudah.'' Kata Jia seraya mendekat kan wajahnya ke wajah Japhar. Japhar segera menepis wajah Jia. Dan berlalu pergi meninggalkannya.
Sementara Jia hanya duduk manis dan terus memperhatikan Japhar yang hendak membuka pintu ruangan itu sembari menyentuh mulutnya sendiri berkali-kali.
Japhar terduduk di ranjangnya. Masih saja teringat akan kelakuan Jia yang diluar pikirannya. Tiba-tiba, Jia membuka pintu kamar. Dan melangkah masuk, Lalu menaiki ranjang dan menyelimuti dirinya tanpa sepatah katapun. Japhar hanya melihatnya dan mendekat ke arah meja kamarnya. Diambilnya sebotol obat tidur, dan meneguk semua tablet yang ada didalamnya.
Jia yang penasaran pun segera membalikkan badannya dan menoleh ke arah Japhar dengan penuh selidik. ''Untuk Apa kamu minum itu?'' Tanya Jia
''Engga, Cuma obat tidur. Aku cape.'' Jawabnya singkat seraya berlalu pergi meninggalkan kamarnya.
''Sebentar! Coba lihat dulu itu obat apa! Kok udah habis? Bukannya tadi kamu juga beli obat?'' Kata Jia dengan lantang yang membuat Japhar berhenti melangkah
''Obat tidur yang ku beli bulan lalu, makanya udah habis. Jadi tadi aku beli stok.''
Mendengar itu, Jia sedikit lega dan kembali tertidur. Sementara Japhar menyusul masuk ke dalam selimut.
Keesokan Paginya - -
Cucuran air dari kran membasahi muka Jia di pagi hari itu. lalu dia menggosok giginya sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin, Dia masih saja bingung dengan tingkah Japhar kemarin. Mulai dari memberinya hadiah sampai meneguk obat tidur itu. Dia menepis semuanya dan segera mengusap wajahnya dengan handuk yang tergantung.
''Sepertinya aku terlalu berlebihan memikirkannya.''
Jia mengambil kemeja nya dan memakainya. Lalu Menyisir rambutnya dengan rapi, Mengenakan kalung pemberian Japhar kemarin. dan segera turun kebawah. Dia tak melihat sosok Japhar sejak ia bangun tadi. Mungkin dia sudah berangkat lebih awal, Pikir Jia.
''Nyonya.. sudah mau berangkat?'' Tanya Bi Lyna dengan senyuman manis tergurat dari bibirnya.
''Iya bi, Bibi kapan balik?''
''Tadi pagi, Non.'' Jawabnya
Jia langsung pamit pergi dan melajukan mobilnya. Sesampainya di kantor, semua karyawan menunduk memberi hormat kepadanya.
__ADS_1
''Selamat Pagi Presdir.''
Jia hanya mengerutkan keningnya dan berjalan ke kantornya. Lantas semua karyawan pun heran dan mulai bergunjing.
''Kenapa tuh dia?''
''Gatau tuh, sifatnya bisa berubah-ubah.''
.
.
.
.
.
Jam makan siang pun tiba, Jia yang hendak meninggalkan ruangannya dikejutkan dengan seseorang yang membuka pintu ruangannya dengan tergesa-gesa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ternyata itu Tian, yang diikuti dengan sekretaris Ze dibelakang nya.
''Dimana sopan santun mu?''
Tian yang tengah ngos-ngosan sehabis berlari itu, menarik nafasnya terlebih dahulu. ''Nyonya! Tuan Japhar! Tuan Japhar... Dilarikan ke rumah sakit.'' Jelas Tian dengan paniknya.
Tanpa sepatah katapun, Jia menarik tangan Tian dan segera pergi meninggalkan kantor menuju Rumah sakit. Sementara, urusan kantor diserahkan semuanya kepada Ze.
''Tampaknya, dia sangat khawatir.'' Batin Tian seraya fokus melajukan mobilnya.
Setibanya di rumah sakit, Jia berlari ke UGD. Namun tak mendapati Japhar ada disana. Tian menepuk bahu Jia yang bergetar di ambang pintu UGD.
''Nyonya... Tuan Japhar sudah dipindahkan ke ruang ICU dalam keadaan Koma.'' Kata Tian setengah berbisik. Jia menarik tangan Tian ke dalam Lift menuju ICU yang ada di Lantai 5 Rumah Sakit.
Setibanya di Ruang ICU, dia hanya bisa meratapi nya dari luar ruangan. Lalu dia tersungkur jatuh ke lantai. Rintikan Air mata mulai terjatuh dari pipinya.
''Hiks, Bagaimana ini bisa terjadi! Apa sebenarnya yang terjadi padanya?! Jelaskan padaku, Apa yang terjadi?!'' Tanya Jia panik sembari menarik kerah kemeja yang di kenakan Tian. Jia terus menangis.
__ADS_1
''Nona, Tenanglah... Kata dokter, Tuan Japhar overdosis obat tidur. Dan sekarang... dia tengah koma. Tadi pagi dia jatuh pingsan diruangannya.''
''Bagaimana aku bisa tenang?! hiks.. pasti semua salahku, seharusnya tadi malam aku melarangnya meneguk obat itu...''
Tian berinisiatif memberinya sebuah pelukan hangat dan mencoba menangkan Jia yang tengah terisak, Jia pun jatuh ke pelukannya.
''Tenanglah Nyonya... Kita berdo'a saja kepada Tuhan...'' Kata Tian pelan, Senyum tipis menyeringai tergurat dari bibir Tian.
.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, Jia masih saja setia menunggu Japhar di luar ruangan ICU. Walau belum diperbolehkan untuk masuk. Wajahnya tampak tak tenang, sedari tadi dia berjalan bolak-balik tak jelas arahnya. Tian yang melihatnya pun, menghampiri dan menepuk Bahu Jia.
''Nyonya, Berdo'a saja. Semoga Tuhan mengangkat penyakitnya.''
''Aamiin.'' Gumam Jia dan tertunduk dalam.
Sampai seorang wanita datang, Membawa seorang anak laki-laki kecil. dengan tergesa-gesa bertanya kepada Tian tentang keadaan Japhar.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersumbang Bersambung
Kira-kira siapa itu ya?