
Seminggu berlalu, namun Japhar tak kunjung pulang. Seharusnya kemarin dia sudah tiba disini, tapi ternyata ada sedikit urusan yang belum selesai. Terpaksa dia harus tinggal disana sehari lagi.
''Hari cepatlah berlalu, aku tak sabar menunggu kepulangan nya.'' Dikamar nya, Jia bergumam sendiri. Seraya fokus menatap langit malam yang gelap dari bilik balkon.
Angin sayup-sayup menghembus kencang menambah dingin suasana malam itu.
''Aku harus jawab apa padanya? Tentu saja aku menginginkan anak ini. Tapi bagaimana dengan perusahaan Li?'' Jia membatin kebingungan. berulang kali menepuk jidatnya sendiri.
''Aku tidak punya pilihan lain. Kalau itu memang taruhannya, baiklah. Akan ku turuti kemauan Japhar. Anak ini lebih berharga dari sebuah perusahaan.'' Akhirnya pada malam itu Jia memutuskan pilihannya tanpa keraguan.
Keesokan Harinya - - -
''Hoam... Aku tidak bisa tidur dengan tenang setelah muncul bayang-bayang keputusan itu. Tapi ini pagi di hari Minggu yang indah.'' Jia membatin dan segera beranjak dari ranjangnya.
Dia berlari keluar kamar sebelum membersihkan dirinya. Hanya merapikan rambutnya saja. Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh Japhar yang telah tiba dirumah.
''Selamat datang kembali tuan.'' Sambut Bi Lyna di ambang pintu. Sementara Jia hanya memperhatikan dari lantai atas.
''Dimana Jia?'' Tanya Japhar sedikit kesal dia mengernyitkan kedua alisnya dihadapan Lyna.
Bi Lyna yang gugup langsung menunjuk ke arah Jia berada.
''Disana tuan...'' Ucap Bi Lyna dan menunjuk kan jarinya. Japhar langsung menoleh ke arah yang tertuju. Jia yang tersorot langsung kikuk tak tahu harus berbuat apa.
''Kamu mencari ku?'' Kata Jia lembut sembari menuruni anak tangga dengan semangatnya.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Sera ada dibelakang mengikuti langkah Japhar.
''Sera?''
''Mama!!! Papa!!!'' Teriak Zizi kegirangan berlari ke arah keduanya.
''Gila, aku jadi orang asing lagi.'' Rintih Jia dalam hatinya.
''Budu ah, aku juga belom mandi. Ke atas aja lagi. daripada lihatin ginian.'' Gerutu Jia kesal
Jia yang hendak berbalik meninggalkan mereka langsung di hadang oleh Japhar. Japhar menarik dan mencengkeram erat tangan Jia.
''Apasih, Lepasin. Sakit tau.''
Japhar mengabaikan ucapan Jia barusan dan hanya menatap tajam Jia. Pandangannya seperti seekor elang yang hendak memakan mangsanya.
''Bantu bawakan koper ku.'' Titah Japhar.
__ADS_1
Jia hanya mengiyakan suruhan nya. dan membawa koper yang lumayan berat itu, hingga kedalam kamar.
''Duh berat banget. Dia bawa apa aja sih?!'' Gumamnya kesal dalam hati.
''Kamu belum mandi ya?'' Ujar Japhar seraya membuang pandangannya dari Jia.
''Iya.'' Jia mengangguk
''Mandi dulu sana, baru kita bicara.''
Jia pun segera berlalu meninggalkan nya untuk mandi. Sementara itu... Japhar menyandarkan dirinya di sofa yang ada disana. sambil mengusap keningnya berkali-kali.
''Ternyata melelahkan juga ya.''
Tak lama kemudian, Jia keluar dari kamar mandi hanya sehelai handuk menutupi badannya. Japhar langsung memalingkan wajahnya.
''Kamu keluar dulu sana. Aku mau ganti baju.''
''Ga. aku tunggu disini saja.''
''Keluar!'' Tegasnya dengan suara lantang. Namun Japhar tetap mengabaikan nya.
''Ga usah khawatir. ganti baju disini aja. ga akan kulihat. Lagian bagian tubuh mu yang mana belum pernah ku lihat?'' Japhar sedikit menggoda Jia.
Seusai mengenakan pakaiannya, Japhar diperbolehkan kembali menatap dengan leluasa. Jia pun menghampiri Japhar yang tengah asyik memainkan jarinya.
''Kamu ini, suami pulang ga ada disambut.'' Celetuk Japhar kesal.
''Sebenarnya aku sudah niat untuk menyambut mu tadi. tapi saat melihat Sera keinginan ku langsung lenyap.''
''Kenapa? Cemburu? Aku ga sengaja ketemu dia di kota X. Jadi yaudah pulang bareng kesini.'' Jelas Japhar
''Oh.''
Japhar menarik tangan Jia hingga terjatuh bersamaan di sofa.
''Bagaimana keputusan mu, sayang?'' Japhar mendongakkan kepala Jia dengan lembut. sekilas keduanya saling bertatapan dari jarak kurang dari 1Cm
''Aku... aku... sudah memilihnya.'' Kata Jia setengah berbisik seraya menepis tangan Japhar. dan mulai tertunduk.
''Apa yang kau pilih? Heuh?''
''Anak ini.''
__ADS_1
''Angkat kepalamu, dan tatap aku. Jika kau benar-benar tulus dengan keputusan itu.'' Jia langsung mengangkat kepalanya kembali menatap Japhar.
''Bagus.'' Kata Japhar sambil berlalu pergi.
''Tunggu!''
Japhar menoleh kembali ke belakang menatap wajah kepenasaran Jia. dia sudah menerka dia akan menanyakan sesuatu.
''Tanya apa?''
''Sebenarnya apa tujuan mu dengan taruhan seperti ini?'' Jawab Jia dan bertanya balik
Japhar memundurkan langkahnya kembali ke tempat dimana Jia berada.
''Aku hanya ingin kau fokus merawat anak itu. dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Aku lihat kau terlalu sibuk setiap hari. bahkan mengurus dirimu saja jarang. Soal kebutuhan hidup. Aku yang menanggung semua''
''Begitu.'' Kata Jia dengan lega
''Dan satu lagi... mulai detik ini kau tidak memiliki apa-apa lagi, dan hanya akan terikat dengan ku. mustahil bagimu untuk berpisah dengan ku.'' Gumam Japhar. Itu juga salah satu kecemasan terbesar nya terhadap Jia.
Malam Harinya ---
''Sera nginap disini malam ini? Lagi?'' Gerutu Jia dengan kesalnya.
Di sela itu, Japhar datang kehadapan Jia yang tengah terduduk di sofa dalam kamar. Japhar menyodorkan sebuah kotak berwarna abu-abu itu.
''Apa ini?''
''Buka saja.''
Jia yang penasaran langsung membuka isi kado tersebut. Betapa terkejutnya dia setelah melihatnya. Ternyata sebuah baju yang biasa dipakai untuk di rumah. bermotif bunga Daisy, lumayan indah. Tapi di benak nya muncul sebuah pertanyaan.
''Mengapa dia memberikan ini untuk ku?''
''Itu untuk kamu, pakai di rumah. Harus dipakai. Sengaja aku berikan untukmu, itu baju cukup istimewa. cocok dipakai ibu hamil.'' Seringai Japhar.
''Aku mengerti maksudnya.''
.
.
.
__ADS_1
Bersambung