Pria Tuaku Yang Kaya

Pria Tuaku Yang Kaya
Episode 6 - Sebatas Adik Dan Kakak


__ADS_3

"Tentu." Kata Hongli sembari mendekat, dan naik ke kasur Jia.


Agak canggung rasanya. Tapi Jia selalu berfikir hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik. Jadi tak ada yang perlu di fikirkan.


Saat Hongli mencoba mengobati lukanya, Jia sedikit kesakitan namun mencoba menahannya. Karna luka sekecil ini tak masalah baginya. Masih banyak luka luka lainnya Namun dia tetap terlihat sabar, Apalagi saat menghadapi Ibu Tiri dan Adiknya itu. Saat Hongli ingin mengoleskan salep pada luka di punggung yang cukup parah, Jia pun sedikit kesakitan dengan sedikit mendesah.


"A-Ah.. Pelan-pelan dong kak.'' Ucapnya.


Hongli sedikit geli mendengarnya, Mukanya langsung memerah bagaikan tomat. Jia sadar apa yang dia ucapkan tadi. Mereka berdua pun sama-sama tersipu malu, Tapi Hongli tetap melanjutkan tindakannya itu.


Ternyata ucapannya itu terdengar oleh Ibu tirinya dari luar kamar yang tak sengaja lewat.


"Apa yang di lakukannya?"


Tak lama kemudian Hongli keluar dari kamar, Dan Jia sudah tertidur pulas di kamarnya. Hongli tetap saja masih merasakan getaran dalam dirinya. Suara Jia membangkitkan gairahnya. Namun, Hongli juga sadar... Walaupun Dia Menyukai Jia, Tapi mereka hanya sebatas Adik dan Kakak.


''Sial.. Jangan berfikir yang aneh-aneh Hongli!"


Keesokan Harinya - -


Semua orang sudah berkumpul di meja makan pagi itu tak terkecuali Jia. Lukanya semakin parah. Punggungnya terasa terbakar. Kini dia hanya bisa terbaring di kasurnya. Dia meminta cuti untuk bulan ini. Padahal kalau dihitung-hitung pernikahan Jia akan dilangsungkan seminggu atau dua Minggu dari sini.

__ADS_1


" Ya tuhan... Apes sekali nasib ku, Dasar Adik bajing@n... Ah tidak, Bagaimana pun aku harus bisa mengontrol emosiku." Ucap nya kala itu sendiri di kamarnya.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya. Dengan tatapan penuh harapan dia melihat ke arah pintu Dan tampak sosok pria tua rapi mengenakan Jas. Dia mengira sosok itu adalah Ayahnya. Ternyata yang tak lain adalah calon suaminya.


Dia mendekat ke arah Jia yang tengah berbaring. "Ternyata kau..." Kata Jia.


"Gawat! Sejak kapan dia disini? Jangan-jangan di mendengar perkataan ku tadi!" Batin Jia sejenak dan terpaku.


"Iya..."


''Mau apa kau ke sini? Eh, Jangan mendekat. Jangan bilang kalau kau kesini ingin membahas soal pernikahan?" Kata Jia yang tak sabaran menunggu jawaban dari Japhar.


Japhar menarik nafas panjang, Lalu menghembus kan nya dengan kasar. Dia tampak sedikit kesal mendengar perkataan Jia itu. "Aku hanya ingin melihat kondisi calon istriku saja.'' Katanya


Tak lama kemudian seusai berbincang panjang Japhar pun pamit untuk pulang. Dia meletakkan sesuatu di atas meja.


''Ini untukmu. Kalau begitu aku pamit pulang dulu.'' Katanya.


''Terima Kasih.''


Saat Japhar hendak melangkah ke arah pintu, Tiba-tiba Jia berteriak. ''Tunggu!!!''

__ADS_1


Seketika Jia terduduk, walaupun rasanya sedikit sakit. ''Ada apa?'' Tanya Japhar heran.


Niat Jia untuk mengatakan sesuatu malah berakibat fatal. Kasurnya tiba-tiba di penuhi oleh darah yang mengalir dari punggungnya karna dia bangkit secara mendadak.


Japhar pun panik. ''Kau ini...Bagaimana bisa?! Kau masih belum bisa mengangkat tubuhmu!'' Katanya sembari mengangkat tubuh Jia dan menggendongnya dengan hati-hati untuk membawa nya ke Rumah Sakit. ''Maafkan aku, Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.'' Ucap Jia dengan penuh penyesalan.


Japhar tak menghiraukan ucapan Jia itu. Dia terus berjalan dan menuruni anak tangga perlahan untuk membawanya ke Rumah Sakit Walaupun tangannya sudah dipenuhi darah dari punggung Jia. Hongli yang melihat nya pun Lantas terkejut, Ia langsung bertanya kepada Japhar. Namun Japhar tetap saja tidak menjawab. Hongli pun mengikutinya.


''Mau kau bawa kemana adik ku?'' Tanya Hongli.


''Dasar Bodoh, Kau tidak lihat adik mu penuh dengan darah? Aku hanya ingin membawa nya ke Rumah Sakit.'' Jawab Japhar sambil masuk kedalam mobilnya.


Japhar melemparkan kunci mobil kepada Hongli. Karna saat itu dia tidak bersama supirnya.


Hongli melajukan Mobil dengan kecepatan tinggi namun tetap berhati-hati. Tak ada satu kata terucap dari bibir keetiganya. Sementara Jia hanya menahan sakitnya di pelukan Japhar.


Tibalah mereka di rumah sakit, Jia langsung dibawa ke UGD untuk menjalani pemeriksaan. Sementara Japhar dan Hongli menunggu dengan penuh cemas. Japhar yang melihat Hongli sedari tadi memutar seperti orang yang sedang kebingungan karna cemasnya. Dia pun memukul bahu Hongli dan menenangkannya. ''Berdoa saja, Semoga adikmu tak kenapa kenapa.''


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang UGD. Di ajaknya mereka berdua ke ruangan dokter untuk berbicara sesuatu. Sesampainya di ruangan dokter. Mereka berdua pun duduk di kursi yang tersedia.


''Punggung Jia harus segera di oprasi karna jika tidak, Akan mengalami pembusukan. Karna luka yang di alami cukup serius.'' Jelas dokter.

__ADS_1


Mereka berdua pun tercengang.


-Bersambung-


__ADS_2